Dinikahi oleh seorang pria yang menjanjikan kebebasan dan perceraian. "Hmm, ini tidak buruk. Setidaknya aku bisa bebas dari keluarga ini dan berhenti merepotkan mereka."
Ava Ashalina.
Seorang gadis yatim piatu yang diasuh oleh paman-bibinya sebagai orang tua angkat, ia dipaksa untuk mengorbankan dirinya sebagai penyelamat bisnis keluarga dengan cara menikah dengan seorang pria berdarah biru bernama, Elang.
"Setelah menikah kita tidak akan tinggal serumah, kau bisa hidup bebas dari keluarga yang selama ini menyiksamu. Hiduplah sesuka hatimu, kau akan mendapat uang yang banyak dariku untuk menyokong kehidupanmu," janji Elang pada Ava sebelum pernikahan.
Semudah itukah?
Apa benat tidak ada hal lain yang Elang inginkan dari pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minum Obat
"Nona!" Asisten Choi langsung histeris begitu melihat Ava dengan wajah memerah yang meringkuk di balik selimut.
"Minggir!" Elang menyingkirkan kedua pengawal dan Asisten Choi yang menghalangi jalannya, ia melangkah dan mendekati Ava.
Pria bermanik coklat kehitaman itu menatap Ava yang sedang tertidur miring memeluk guling. Tangan kekarnya membelai kening Ava, kini wajah seputih susu itu begitu merah. Elang mendekatkan telunjuknya pada kedua lubang hidung Ava, uap panas terasa meniup jarinya.
"Dia demam, panggil dokter!"
"Baik Tuan Muda!" Asisten Choi langsung meninggalkan kamar Ava dan mengeluarkan ponselnya untuk segera menghubungi dokter.
Tak lama berselang, seorang dokter wanita dengan jas snelli putih yang khas, datang ke kamar Ava. Elang masih duduk di samping Ava, dan telah membetulkan posisi tidur gadis itu menjadi berbaring telentang.
Dokter segera memeriksa kondisi Ava, dengan menggunakan stetoskop dan pengukur suhu.
"Istri Tuan, hanya kelelahan. Saya dengar, dia berasal dari Indonesia? Mungkin dia belum bisa beradaptasi dengan cuaca musim panas di Jeju," jelas sang dokter.
"Ini bukan sesuatu yang berbahaya?" tanya Elang dengan mengerutkan alisnya.
"Tidak Tuan, saya akan beri Nona obat penurun panas dan beberapa multivitamin, seharusnya ia akan segera pulih." Sang dokter pun menuliskan sebuah resep pada secarik kertas yang telah berlabel dengan nama dokter tersebut.
"Biar asisten Choi yang menyiapkan!"
Dokter itu pun langsung mengerti dan menyerahkan kertas tersebut pada asisten Choi. Setelah itu, perempuan bersnelli putih itu pun berlalu dari pandangan mereka.
"Eeemh." Ava menggeliat dan merubah sedikit posisi tidurnya.
Elang melihat bagaimana leher jenjang Ava itu begitu mulus dan putih. Entah bagaimana di pikiran Elang, meski gadis ini sedang sakit pun tetap terlihat menggoda.
Elang mengalihkan pandangannya, ia tak kuat menahan sesak gairah dalam hatinya. Pria itu berdiri dan keluar dari kamar Ava.
"Pelayan!" panggil Elang ketika ia berada di ambang pintu.
"Ya Tuan Muda!" Beberapa orang pelayan yang berada dalam posisi terdekat menghampiri Elang.
"Tolong bangunkan dia, dan bantu dia untuk makan. Setelah itu, berikan obatnya!" Elang pun pergi meninggalkan para pelayannya.
***
Para pelayan telah menyelesaikan tugasnya, asisten Choi juga telah mendapatkan obat untuk Ava sesuai dengan resepnya. Satu lagi masalah yang mereka hadapi, Ava tidak mau minum obat.
"Paksa dia, jangan sampai dia sakit!" Elang membentak pada para pelayan yang melapor bahwa Ava menolak obatnya.
"Menangani begitu saja, tidak becus!" umpat Elang. Pria berjambang tipis itu pun melangkah pergi dari ruangannya dan menuju ke tempat Ava.
Para pelayan semakin menunduk lebih dalam, satu di antara mereka menggigit-gigit bibirnya, satu yang lain kakinya gemetar tak karuan, sementara satu orang lagi hampir menangis menitikkan air mata.
Mereka sama sekali tak berani mengangkat kepala hingga Elang hilang dari pandangan mereka.
***
"Ku dengar, ada yang menolak minum obat?" Elang masuk ke kamar Ava.
Seorang pelayan yang sedang berdiri di samping ranjang Ava, langsung menunduk dan meninggalkan tempat tersebut saat melihat sang tuan muda datang.
Ava menoleh melihat siapa yang datang. Ia membuang mukanya dan berpura-pura tidak melihat orang tersebut.
"Ada yang sedang mencoba mengabaikanku rupanya?" Elang duduk di pinggir ranjang tempat Ava berbaring. Ia duduk menghadap ke arah Ava, satu kaki ia lipat dan naikkan ke atas ranjang.
Elang meraih obat yang berada di nakas, dan mengeluarkan satu butir dari salah satu bungkus obat yang bermacam-macam.
"Kau mau minum obat dengan caraku?" Seringai Elang pun keluar.
Ava diam tak menjawab, ia terlalu lemas untuk bereaksi. Lagipula ia sudah terbiasa dengan tatapan intimidasi dari pria yang duduk di sampingnya ini.
Elang pun mulai mengungkung tubuh Ava yang sedang terbaring lemah. Gadis itu hanya menatap sayu saat Elang memegangi bibirnya. Ava berpikir bahwa Elang akan memaksanya untuk meminum obat, ia sudah merapatkan bibirnya mencegah Elang untuk memaksanya meminum obat tersebut.
Tanpa Ava pernah pikir sebelumnya, Elang memasukkan itu ke dalam mulutnya sendiri. Dan hal itu membuat Ava ternganga.
Elang memanfaatkan momen saat mulut Ava sedang menganga dengan lebar, tanpa menunggu lama.
Cup
***
Bersambung ...
Salam deg-degan dari author labil.
Terserah, biar kalian kebawa mimpi semalaman.
baru kali ini aku baca novel full sampai habis, gak pakai kata 'capek...
ceritanya ku nikmati thorr...
mantaff la pokoknya....
sukses selalu ya KK author....💕💕💕