Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB26 - MELINDUNGI
"Sudah ... naiklah ke atas. Aku mau masak dulu," kata Davina menghindar dari tatapan Dave.
Dave tersenyum.
"Hemmm ... aku kenapa benaran berasa punya istri ya?" sindir Dave.
"Ya ... selama ini aku bukan istri dong?" Davina berjalan ke arah kulkas.
Dave masih sibuk memperhatikan Davina.
"Gak gitu juga maksudnya. Aku berasa aja, di sini kita hanya berdua. Dan kamu, sekarang akan memasak untuk suami. Bukankah sangat terlihat jelas. Kalau kau dan aku memang suami istri?" Dave tersenyum.
"Ya jelas. Memang kita suami istri. Apa aku perlu menampar pipimu, Dave?"
Dave terkesiap.
"Kenapa jadi ingin menampar pipiku?" tanya Dave.
"Ya ... siapa tahu aja kan. Biar sadar gitu," balas Davina dengan terkekeh.
"Kau sengaja sekali. Apa yang ingin aku bantu?" tanya Dave.
"Tidak perlu. Mandilah. Aku sudah mempersiapkan pakaianmu di ruang pakaian." Davina sibuk mengurusi barang belanjaannya.
"Aku tidak mau. Aku mau di sini menemanimu. Lagi pula ini hari libur. Aku punya waktu untukmu," balas Dave. Tangannya menarik salah satu bangku, tepat di depan Davina dan duduk di atasnya.
"Jika kau di sini. Bagaimana aku bisa bekerja, Dave." Davina berhenti. Kedua manik matanya menatap pada Dave.
Dave dia tersenyum mendapati tatapan dari bola mata coklat milik Davina. Sangat cantik dan menawan. Tatapan tulus milik Davina, seakan mampu membuat dirinya terbuai.
"Aku sangat menyukai momen pagi ini, sayang." Dave bertopang dagu. Davina gelagapan mendengar kata sayang dari Dave.
"Terserah kau saja! aku mau memasak dulu," kata Davina mengalihkan pandangannya.
Dave semakin senang melihat Davina salah tingkah. Meskipun mereka tak pernah mengucapkan kata cinta. Tapi, perlakuan nyata dari Dave, terkadang mampu membuat Davina serasa diccintai oleh Dave.
Hening ....
Hening ....
"Aku bantu kupas bawang ya?" Dave memecahkan keheningan.
"Nanti matamu perih. Aku saja, Dave," kata Davina mendekati Dave.
"Tidak apa-apa, istriku. Kau aturlah yang lain. Aku bantu kau melakukan ini," balas Dave menunjuk segala jenis bahan untuk di olah menjadi masakan.
"Terima kasih, Dave," balas Davina.
"Tidak masalah. Kau dan aku hidup bersama," kata Dave sambil senyum.
"Semoga aku tak mengecewakan Davina. Seumur-umur, baru kali ini aku mengupas bawang merah dan kawan-kawannya."
Beberapa menit kemudian, suara bel pintu berbunyi. Keduanya saling memandang bingung. Ya, keduanya berpikir. Siapa yang bertamu pagi-pagi begitu ke rumah mereka.
"Aku saja yang bukakan, Dave." Davina beranjak pergi dari dapur.
"Siapa ya?" gumam Davina. Kedua kakinya berjalan menuju pintu depan. Sesampainya di depan pintu, tangannya menarik handle pintu. Perlahan pintu terbuka, kedua mata Davina menemui sosok pria tampan di depan pintu rumahnya.
"Good Morning," sapa Williams.
"Kak Will. Selemat pag. Ayo masuk," ajak Davina.
"Jangan panggil aku, Kakak. Kan sudah aku katakan, panggil Willi saja."
"Kalau situasi seperti ini, izinkan Davina memanggil, Kakak." Williams tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau sangat menggemaskan sekali," balas Williams terang-terangan.
Davina cuma tersenyum.
"Silahkan masuk, Kak," kata Davina sekali lagi.
"Agh Terima kasih. Ini untukmu," balas Williams memberikan buket bunga.
"Wah ... indah sekali. Terima kasih, Kak," ucap Davina senang. Davina mengarahkan indera penciumannya ke buket bunga.
"Kenapa kau memberikan bunga ke istriku," ucapa Dave dari arah belakang Davina.
Williams tertawa.
"Mana mungkin aku memberikan kau bunga. Gilaaa! ini untukmu," kata Willims memberikan bawaannya di dalam kantung kertas coklat ke Dave.
"Apa ini?"
"Kesukaanmu!"
"Wine?" ucap Dave senang.
"Huuum ... kesukaanmu."
"Okey Bro! Terima kasih. Ayo masuk," ajak Dave dengan merangkul pundak Williams. Keduanya berjalan menuju ruang tengah.
Davina tersenyum, melihat sahabat dari suaminya. Agak aneh sih pikir, Davina. Williams memang sangat baik ke padanya. Tapi, di satu sisi, ada Dave yang sangat memperhatikan dirinya. Keduanya memang pria baik-baik.
"Ada apa kau datang pagi-pagi begini?" tanya Dave ke Williams.
"Aku? mau menumpang sarapan kali," celetuk Williams.
"Kau memang gila! bukanya di rumahmu sendiri, banyak yang menyediakan makanan?" gerutu Dave.
"Hahaha ... tentu saja aku ingin berkunjung. Kalian pindah ke rumah baru. Bukankah harus di kunjungi. Sahabat macam apa kau ini. Pindah ke rumah baru, tapi tak sedikitpun mengabarkan ke aku," kata Williams.
"Silahkan di minum, Kak." Davina memotong pembicaraan keduanya. Mata Williams memperhatikan setiap gerak dari Davina. Dave tersenyum ke Davina.
"Terima kasih, Vin," balas Williams.
"Jangan sungkan, Kak. Aku ke dapur dulu," balas Davina.
"Aku sudah mengupas semua bahannya. Kau bisa sendiri kan?" Dave menimpali.
"Iya ... aku bisa sendiri. Tidak perlu khawatir. Kalian ngobrol saja," balas Davina.
Kedua kaki Davina kembali berjalan menuju dapur. Ia pun tersenyum, saat mengetahui Dave memang benar-benar membantunya dalam hal kecil. Benar saja, bukankah suami istri itu saling membantu. Begitu pula, Davina merasakan perlakuan Dave padanya.
"Kau mengupas bawang?" tanya Williams.
"Hemmm ... kenapa?"
Williams tertawa seakan ada yang lucu. Dave mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Dave.
"Lucu saja. Kau benaran serius membantu Davina mengupas bawang dan yang lainnya?"
"Iyaaaa. Apa ada yang salah?"
"Seorang Dave?" Willims mencoba memperjelas.
"Kenapa memangnya? apa yang aku lakukan itu salah? Davina itu istriku. Tentu aku harus membantunya, selagi aku bisa membantu. Contohnya hari ini weekend. Waktuku ada untuknya. Jadi, ya sedikit banyak. Aku harus memberikan waktuku untuknya kan?" Dave berniat sekali menjelaskan perasaannya ke Williams.
"Apa kau jatuh cinta dengannya?" Williams langsung ke sasaran.
Dave terdiam. Kedua matanya menatap Williams tanpa berkedip. Williams yang melihat respon wajah Dave, seakan mengerti.
"Agh ... diam berarti iya," sindir Williams seraya tersenyum.
"Jangan sembarangan!" kata Dave.
Williams terkesiap.
"Maksudmu?"
"Jangan sembarangan bicara! Aku mana mungkin jatuh cinta. Aku menghargai Davina sebagai istriku," balas Dave.
"Hemmmm ... kalau begitu, kau mulai tertarik," kata Williams lagi.
"Itu juga tak mungkin, Will. Kau tahu sendiri kan bagaimana aku?"
"Lupakan masa lalu! Kau harus mencintai Davina seperti kau mencintai mantan kekasihmu," balas Williams.
"Tidak mungkin bisa," balas Dave.
"Kenapa tidak mungkin! apa kau ragu sekarang?"
"Bukan seperti itu, Will. Aku dan Davina masih sebentar bersama. Aku hanya merasa kasihan dengan kehidupannya. Kau tidak tahu, betapa sedihnya hidup Davina. Jadi, aku berniat untuk menjadi pelindung baginya. Meskipun tidak ada cinta di antara kami," balas Dave.
"Setidaknya, kau belajar untuk mencintainya, Dave," kata Williams dengan tegas.
"Kenapa? aku sudah pernah katakan saat itu di rumah sakit. Apa kau tidak ingat perkataanku? Tidak mungkin aku bisa jatuh cinta dengan wanita seperti Davina, Will. Aku cuma ingin melindunginya dari apapun. Gak lebih," balas Dave.
"Kau salah! seharusnya kau harus membuka hatimu untuknya. Mungkin, saat ini mulut dan hatimu bertolak belakang. Tapi, jika di saat kau mencintainya dan Davina menyadari dirimu hanya ibah kepadanya, jangan pernah menyesal Dave. Apa lagi, ada pria lain yang mencintainya dengan tulus," balas Williams.
Dave merasa tertampar. Ia pun salah tingkah.
"Kenapa kau jadi berkata seperti itu," kata Dave. Lalu, tangannya mengusap air mukanya. Tak sengaja, Ia mendapati Davina di belakang Williams. Dave kaget bukan main.
Bersambung.
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔