"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ketegasan Alin
Elang meletakkan gelas air putihnya kembali ke atas meja marmer dengan sebuah dentuman yang cukup keras hingga airnya sedikit memercik keluar. "Jangan berani-berani membawa nama Cindy di meja makan ini, Alin! Hubungan pernikahan kita tidak ada sangkut pautnya dengan kehadiran dia!"
"Oh, tentu saja ada dan sangat berkaitan, Mas Elang," tawa Alin pecah pelan, sebuah tawa hambar yang menyayat hati namun disampaikan dengan nada suara yang teramat santai dan dingin.
"Wanita itu ada di bawah atap yang harusnya menjadi tempat privasi saya. Menu sarapan kesukaan Mas pagi ini disiapkan olehnya menggunakan apron milik saya. Dan sekarang Mas dengan tidak tahu malunya mau bilang tidak ada sangkut pautnya? Mas Elang, tolong jangan membuat saya tertawa lebih keras lagi di siang bolong begini."
"Cindy berada di rumah itu murni karena terpaksa! Ia sudah tidak punya tempat tinggal lagi, dan Ega adalah anak kandungku!" Elang kembali membela diri dengan kalimat yang sama, egonya terusik hebat karena merasa kian terpojok oleh ketenangan argumen Alin. "Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang pria yang bertanggung jawab!"
"Dan dengan bangganya mengabaikan kewajibanmu sebagai seorang suami pada hari pertama pernikahan kita, begitu?" tanya Alin, menatap Elang lurus-lurus tepat di manik matanya, membuat pria itu mendadak kehilangan kata-kata dan membeku selama beberapa detik.
Alin menyeka sudut bibirnya menggunakan selembar tisu dengan gerakan perlahan yang anggun. "Mas Elang, saya tegaskan satu hal kepadamu agar tidak ada salah paham. Saya akan kembali ke rumah baru itu nanti setelah keadaan fisik dan mental Nenek Aisyah di kamar bawah benar-benar sudah dinyatakan pulih dan stabil oleh dokter."
Elang menegakkan punggungnya, menatap Alin dengan pandangan mengancam. "Bagus kalau kamu sadar. Memang sudah seharus—"
"Jangan memotong kalimat saya, Mas," potong Alin cepat, suaranya beralih menjadi sedingin es. "Saya tegaskan, saya kembali ke rumah itu sama sekali bukan karena mematuhi perintahmu, bukan karena takut pada ancaman konyolmu tadi pagi, dan bukan karena mengalah pada keputusan egoismu membawa mantan kekasihmu tinggal bersama. Saya kembali murni, seratus persen, hanya agar jantung Nenek Aisyah tidak kembali kambuh akibat memikirkan pernikahan ini. Hanya demi Nenek, tidak lebih."
Elang terdiam, rahangnya mengatup rapat menahan gejolak amarah batin yang kian membubung tinggi mendengar penegasan istrinya.
Alin bangkit berdiri dari kursinya, merapikan ujung tunik abu-abu gelapnya yang sedikit terlipat, lalu menatap Elang dari posisi atas dengan pandangan mata yang teramat dingin dan merendahkan. "Saya tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. Jadi, silakan Mas nikmati makan siang penuh ketegangan seperti ini. Jangan pernah berharap saya akan menyentuh piringmu, melayanimu, atau menganggapmu ada di rumah itu nanti. Selamat menikmati makan siangmu yang hambar dan penuh kepalsuan ini, Mas Elang."
Tanpa menunggu balasan atau makian dari suaminya yang kini hanya bisa menatapnya dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam menahan sisa kejengkelan yang luar biasa, Alin memutar tubuhnya dengan anggun. Ia melangkah santai meninggalkan ruang makan menuju ruang tengah lantai bawah, meninggalkan Elang sendirian di meja makan yang luas bersama rasa kekalahan beruntun yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya dari seorang wanita mana pun.
***
Alin melangkah pelan memasuki kamar tamu yang terletak di sudut lantai bawah, tidak jauh dari kamar utama Nenek Aisyah. Setelah perdebatan sengit yang menguras energi di meja makan bersama Elang tadi, ia butuh ruang untuk bernapas sejenak mumpung sang nenek masih tertidur pulas di bawah pengaruh obat dokter. Alin menutup pintu kamar tamu dengan rapat, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rambut panjangnya yang terikat *high ponytail* kini ia lepaskan, membiarkan helai-helai hitamnya tersebar bebas di atas bantal putih.
Baru saja ia memejamkan mata untuk menenangkan gemuruh di dadanya, ponsel di dalam tas selempangnya bergetar nyaring. Layar gawai itu menampilkan sebuah nama yang sangat familier.
Tia.
Sahabat karibnya sejak masa kuliah, sekaligus wanita yang menjadi saksi hidup bagaimana hancurnya martabat Alin saat Cindy tiba-tiba mengacaukan acara resepsi pernikahan megah mereka tadi malam. Alin menggeser layar ke atas, menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Kebetulan sekali, di saat dunianya sedang jungkir balik seperti ini, Alin memang membutuhkan seorang teman bicara yang bisa ia percayai.
"Waalaikumsalam, Tia," lirih Alin, mencoba menahan sisa rasa lelah yang menggelayuti suaranya.
"Alin! Ya ampun, akhirnya kamu angkat juga!" suara Tia langsung menggelegar dari seberang sambungan, penuh dengan nada panik sekaligus rasa penasaran yang membuncah. "Gimana keadaan kamu sekarang, Lin? Sumpah, dari semalam perasaan aku nggak enak banget mikirin kamu. Kamu di mana sekarang? Masih di rumah baru si Elang itu? Ketemuan yuk sore ini di kafe biasa, aku jemput kalau kamu nggak bawa motor!"
Alin mendesah pelan, menatap langit-langit kamar tamu yang bercat putih bersih. "Aku nggak bisa keluar sore ini, Ti. Aku lagi ada di rumah besar Nenek Aisyah sekarang."
"Lho? Kok di rumah Nenek? Bukannya harusnya kalian lagi menikmati masa-masa pengantin baru di rumah yang baru dibeli Elang?" tanya Tia heran, namun sedetik kemudian nadanya berubah curiga. "Jangan bilang ... si Elang berengsek itu berbuat ulah lagi setelah kejadian semalam?"
"Nenek Aisyah mendadak drop, jantungnya kumat siang ini. Makanya aku ada di sini untuk menjaga beliau sampai kondisinya benar-benar stabil," jawab Alin jujur. "Walaupun ada Mas Elang di sini, aku tetap nggak tega kalau harus meninggalkan Nenek sendirian. Jadi maaf ya, kita nggak bisa ketemuan sore ini. Aku curhat lewat telepon saja, nggak apa-apa kan?"
"Ya ampun, Nenek sakit? Turut prihatin ya, Lin ... tapi tunggu dulu, mumpung kamu lagi luang, ceritain ke aku sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi setelah acara semalam selesai? Perempuan ular itu ... dia beneran dibawa ke rumah kalian?"
Alin menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatannya sebelum menceritakan seluruh kronologi pahit yang ia alami sejak subuh tadi. Ia menceritakan bagaimana dinginnya sikap Elang, bagaimana Cindy dengan tidak tahu malunya memakai apron miliknya di dapur, hingga konfrontasi panas di kamar utama di mana Elang dengan lantang mengakui di depan wajahnya bahwa pria itu tidak pernah mencintai Alin dan masih sangat memuja masa lalunya karena alasan keberadaan Ega.
Mendengar rentetan cerita itu, seberang telepon mendadak hening selama beberapa detik sebelum akhirnya suara Tia meledak dengan caci maki yang tak tertahankan.
Bersambung ....
Assalamualaikum Kakak Cantik semuanya, pagi ini tak disangka retensinya naik walau tidak banyak, tapi setidaknya memenuhi standar di NT. Jadi, kalau kakak semuanya ingin karya ini tetap dilanjutkan di sini, saya mohon sekali lagi kerja samanya karena ini menyangkut retensi. Please jangan skip bab dan tabung bab. Setiap bab tinggalkan like dan komentarnya, semua ini sangat berarti buat menjaga retensinya. Itu saja yang saya minta, jujur saja saya menulis di sini tidak dapat banyak seperti di tempat lain, tapi setidaknya retensi di sini memenuhi standar saja. Demi Kakak semuanya saya menyempatkan waktu untuk nulis di sini.
Terimakasih sebelumnya, mohon dimaklumi ya Kakak 🙏🤗