"Kamu tidak perlu bertanggung jawab. semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan malam hari
Levin duduk di balkon besar kamarnya. Ia menghembuskan asap dari nikotin yang di cecapnya. Semilir angin terasa membelai lembut wajah Levin.
Merasa diacuhkan oleh Istrinya, Levin memilih untuk menyendiri di sana. Levin memikirkan sikap apa yang harus di ambilnya dalam menghadapi Alona.
"Aku tidak pernah melihatmu merokok,"
Levin langsung menoleh ketika suara Alona tepat berada di belakangnya. Perempuan itu sudah tampak siap untuk tidur. Wajahnya benar-benar segar membuat Levin gila.
Levin menepuk kedua pahanya. Mengisyaratkan Istrinya untuk duduk di sana. Namun Alona menggeleng. Kehadiran senyumnya berusaha di tahan. Alona tidak bisa berada di situasi seperti ini terlalu lama. Oleh karena itu, Ia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Namun, tarikan kuat di tangannya berhasil membuat Alona duduk di atas tubuh Levin.
Ia memukul dada Levin cukup keras. Namun anehnya, lelaki itu hanya tersenyum miring.
"Pukulanmu tidak terasa," ledek Levin sebelum akhirnya Ia mengigigit lembut pucuk hidung Alona.
"Hidungku akan semakin maju nanti,"
Levin mencibir. Ia kembali menatap ke depan. Seraya meletakkan kepala Alona di dadanya. Mengusap lembut surai harum itu. Hidungnya tak henti menghirup aroma yang menguar dari rambut Alona.
"Kenapa aromamu tidak pernah hilang?"
"Maksudmu? aku bau?"
Mata Levin menatap Istrinya lekat. Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Alona, lantas kenapa Levin sangat suka dengan aroma itu? bahkan Levin ingin selalu menghirupnya.
"Kamu memakai shampo apa?"
Dahi Alona berkerut dalam. Tangan Levin yang mengusapnya. Lagi-lagi Alona berusaha menahan semburat di wajahnya.
"Kita memakai produk yang sama, Levin,"
"Benarkah? tapi rambutku tidak seharum kamu,"
"Memangnya kamu bisa menghirup aroma rambutmu sendiri? orang lain yang dapat melakukan itu,"
"Ya sudah, coba nilai aroma rambutku sekarang! apakah aromanya sama dengan rambutmu?"
Levin menunduk untuk mendekatkan kepalanya namun Alona memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melakukan itu. Apa-apaan Levin ini?"
"Aku tidak mau melakukannya," ucap Alona seraya mendengus.
Levin kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap protes pada Alona.
"Kenapa? hanya orang lain yang bisa menilai rambutku bukan? aku ingin kamu yang melakukan itu,"
Levin merangkum wajah Istrinya untuk mengecup dahi Alona kemudian mendekatkan kepalanya lagi pada Alona.
Alona menghirupnya sangat singkat.
"Wangi," jawabannya pun singkat.
Raut wajah Levin terlihat tidak percaya.
"Terserahlah, yang jelas aku sudah menilainya,"
Alona memutuskan untuk mengacuhkan suaminya. Ia menatap langit yang dipenuhi oleh ribuan bintang ditemani cahaya rembulan.
"Aku ingin bertanya," ucap Levin setelah mereka terdiam beberapa saat. Tangannya tetap aktif menyentuh rambut Lovi.
Alona menjawabnya dengan bergumam. Matanya masih fokus dengan keindahan yang sedang dinikmatinya.
"Yang tadi siang datang ke sini, Vina dan Ibunya?"
Alona memggerutu dalam hati. Ia kesal ketika Levin kembali membahas gadis itu. Alona kira ada hal penting yang akan dibahas.
Alina menghela napas panjang.
"Tidak hal yang lebih menarik untuk di bahas?" tanya Alona pada Levin. Lelaki itu malah menggeleng. Semakin membuat Alona diterjang emosi.
"Memang apa sih hubungan kalian? kalian pernah bertunangan, benar?"
Alona tidak menyangka kalau pertanyaan konyol itu akan keluar juga dari mulutnya.
'Benar-benar sialan!' rutuk dirinya sendiri yang bodoh.
"Dia mengatakan itu padamu?" tanya Levin dengan ekspresi kaget yang sangat terlihat.
Alona menghela bahunya tanpa ingin menjawab. Mungkin dengan bahasa tubuhnya, Levin bisa mengerti kalau Ia benar-benar tidak ingin membahas perkara itu.
Ia baru saja membangun moodnya dengan baik. Dan sekarang, Levin meruntuhkannya dalam sekejap.
"Dia bohong," ucap Levin tegas.
Alona masih belum mengeluarkan suaranya. Ia tidak tahu harus menanggapi kalimat Levin seperti apa.
"Kami hampir melakukannya,"
Hanya angin yang seolah menjawab perkataan Levin. Suasana sunyi tercipta di antara mereka.
"Kami sepupu, Alona,"
Secepat kilat Ia berbalik untuk menatap Levin yang masih memeluknya dari belakang. Ia terlalu cepat melakukannya hingga Levin merasa kesakitan ketika dagunya beradu dengan kepala Alona.
"Hm?!"
"Sakit daguku,"
Kenapa saat ini Alona mendengar Levin seperti merengek? Benarkah?
"Maaf aku tidak sengaja," ringis perempuan itu lalu mengusap lembut dagu suaminya.
"Cium sebagai obatnya!" titah Levin.
Mata Alona membulat lalu menepuk dada bidang suaminya kesal.
"Pintar sekali cari kesempatan,"
Alona mendengus lalu kembali berbalik.
Tangan Levin meraih dagu Istrinya lalu mengecup di bagian yang menjadi favoritnya.
"Kami sepupu tapi karena satu dan lain hal, keluarga menjodohkan kami,"
"Karena harta?"
Levin hanya terkekeh tanpa menjawab. Dan Alona tahu kalau itu semua memang benar adanya.
"Yang penting, aku milikmu sekarang,"
************
Yihaaaa up cepaddd niyy. Jgn lupa dukungannya yaaa. Tencuu
mampir jg di bukalah hatimu untukku
Gabungin ja thor sm MCH biar bareng sm triple A.
Khadziya ketinggaln jauh dech si triple A udh pd gede si dziya mlh msh baby 😂