[ SEDANG REVISI ]
Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kamu menikah dengan seorang pria pemarah dan sangat egois?
Kalista, seorang wanita smart dan penuh prestasi, terpaksa menerima pahit takdir hidupnya, ketika ia tahu jika pria yang menjadi suaminya ternyata sosok pria pemarah dan sangat egois.
Kalista bahkan seperti tidak pernah melihat cinta dan kasih sayang dari diri suaminya itu. Sampai pada suatu hari, dia berada di ujung kesabarannya saat mengetahui jika suaminya punya hubungan dengan wanita lain.
"Aku minta cerai! " Ucap Kalista
Tiga kata yang keluar dari mulut Kalista yang sudah sejak lama ia pendam dan bungkam.
Apakah keputusan Kalista untuk berpisah dengan suaminya merupakan keputusan yang tepat?
Benarkah jika suaminya, berselingkuh dengan wanita lain seperti dugaan Kalista?
Dan benarkah jika Raditya Gunawan, pria yang sudah memberikan Kalista dua orang anak perempuan itu, sama sekali tak menaruh hati kepada Kalista?
Siapkan kesabaran dan tisu sebelum me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lv Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU PERGI MAS
SARAN PENULIS SAAT MEMBACA BAB INI SAMBIL DENGAR LAGU MILIK VIONITA YANG BERJUDUL ' DIA MASA LALUMU, AKU MASA DEPANMU '
Happy Reading Guys 😊
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"MAS!" Teriak ku saat melihat mas Radit sedang menghajar Demian dengan sangat brutal. Demian sampai tergeletak di lantai karena mendapatkan pukulan yang begitu keras dari kas Radit. Aku segera membantu Demian untuk bangun. Tapi nampaknya mas Radit belum puas sudah membuat Demian jatuh, dia kembali ingin menghajar Demian. Beruntung papa datang dari dalam rumah.
"Raditya! Berhenti!" teriak papa. Papa datang dan langsung memisahkan mas Radit dan Demian.
Aku melihat Kinan dan Kaila menyaksikan kelakukan ayah mereka. Dengan cepat aku pun langsung menyuruh Sintya untuk membawa Kinan dan Kaila masuk ke dalam rumah.
"Sin, tolong Lo bawa Kinan dan Kaila ke dalam rumah ya." pinta ku. Sintya mengangguk cepat.
"Ikut tante ya kita main di dalam." ucap Sintya yang dipatuhi oleh anak-anak ku.
Aku menarik nafas dalam dan berjalan mendekati mas Radit.
"Kamu apa-apaan sih mas? Demian salah apa?" Tanyaku dengan emosi ku coba untuk tetap ku kontrol.
"Laki-laki ini kan, yang udah menghasut kamu supaya mau pisah sama aku? Dasar bajingan lo... " maki mas Radit kepada Demian. Mas Radit mencoba untuk memukul Demian lagi namun kembali di tahan oleh papa.
"Radit! Kendalikan diri kamu. Kamu nggak malu apa, berperilaku seperti anak kecil begini. Semua masalah bisa dibicarakan dengan baik-baik. Tidak perlu pakai kekerasan." ucap Papa.
"Tapi laki-laki bajingan ini sudah merusak rumah tangga Radit dan Kalista, Pa. Gue hajar lagi Lo." Mas Radit sama sekali tidak bisa berpikir jernih saat ini. Emosinya sangat meledak-ledak seperti bom yang menghancurkan semua yang ada disekitarnya.
"Radit... sudah nak. Kamu harus menahan emosi mu. Mama nggak mau kamu seperti ini. Mama mau lihat Raditya, anak mama yang dulu. Yang orangnya penyabar dan penuh kasih. Bukan Raditya yang seperti ini. Istighfar Dit... istighfar... Ingat Allah." Mama menangis sambil mengelus-elus dada mas Radit. Ruqiyah aja ma, biar setannya lari. Bisikku.
"Radit tidak bisa diam jika ada orang lain, apa lagi orang ini itu adalah Laki-laki brengsek ini...yang mau mencoba menghancurkan rumah tangga Radit, Ma. Habis Lo sama gue." Kemarahan mas Radit terhadap Demian sudah sangat membara. Dia bahkan tak dapat mengendalikan ucapannya apa lagi sikapnya. Benar-benat diluar akal sehatku.
Demian hanya diam tidak menjawab ocehan mas Radit sepatah kata pun. Dia hanya mengelus-elus pipinya yang lebam akibat daratan tinju mas Radit tadi. Aku yakin Demian bukan tidak mampu untuk membalasnya, namun mungkin dia berpikir tak akan ada gunanya melawan manusia yang sedang kerasukan setan.
"Cukup.... cukup! Aku capek mas! Jangan selalu kamu menyalahkan orang lain atas masalah rumah tangga kita mas." Teriak ku.
"Oh, jadi sekarang kamu lebih milih belain laki-laki ini, ketimbang suamimu sendiri, iya?! Karena dia rumah tangga kita hancur, Kalista! Apa kamu tidak sadar?" Mas Radit sama kerasnya berbicara denganku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sangat luar biasa egois manusia di hadapan ku saat ini. Sangat luar biasa.
Aku melangkah maju mendekati mas Radit. Dua bola mataku tak putus dalam menatapnya. Dua bola mata yang sedari tadi memang sudah berkaca-kaca.
"Denger ya mas, ada atau tanpa hadirnya Demian, rumah tangga kita memang sudah hancur sedari awal. Dan itu... sejak aku menjadi istrimu. Istri dari seorang Raditya Gunawan."
"Sekarang coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri mas, pernahkah... kamu menjalankan peranmu sebagai suami selain memberikanku nafkah lahir dan batin? Pernahkah, kamu... menjalankan peranmu sebagai bapak yang baik untuk Kinan dan Kaila, dengan memberikan mereka kasih sayang dan kehangatan keluarga? Pernahkah mas, kamu.. mengerti akan perasaanku walau hanya sedi... kit... saja. Perasaan ku saat kamu berbicara kasar padaku, kamu marah-marah tanpa alasan yang jelas, kamu teriak-teriak setiap pagi padaku bahkan hanya karena kaos kaki yang tidak kamu temui di dalam lemari. Pernah?"
"Aku, selama tujuh tahun mas. Tujuh tahun... sudah berusaha menjalankan peran ku untuk selalu menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku bahkan menutupi semua kelakuanmu dari mama dan papa, hanya karena aku... masih mengingat kalau kamu itu, adalah suamiku. Suami sahnya aku!" Aku membesarkan suaraku.
"Meski pada akhirnya aku tahu alasan kenapa kita menikah, tapi itu tidak bisa kamu jadikan alasan untuk terus menyiksaku bukan? Aku bukan boneka yang tidak punya hati. Yang bisa kamu bentak-bentak setiap hari. Kamu teriak-teriakin tiap waktu. Kamu salahkan selalu. Sampai aku sekarang mendengar suara sendok jatuh aja...sering ketakutan sendiri, mas." Suaraku kian bergetar dalam mengucapkan tiap kata yang keluar dari mulutku.
"Kamu bisa bayangin gimana hancurnya mental aku, kan? Tapi kamu, masih bisa-bisanya menyalahkan orang lain atas rumah tangga kita saat ini." Aku menggeleng-gelengkan kepala diikuti dengan air mataku yang memang sudah dari tadi membanjiri wajahku.
"Kalista.... sabar.... " Mama mengelus kepalaku.
"Sudah ma, Kalista sudah bersabar selama ini. Jadi Kalista rasa tak ada lagi alasan untuk bertahan." Ucapku.
Aku kembali mengarahkan pandanganku kepada mas Radit yang berdiri mematung tanpa sepatah kata pun lagi.
"Surat gugatan sudah keluar. Sekarang tinggal kita kerja sama aja dalam mengikuti setiap proses perceraian ini, supaya cepat selesai, oke? Ucapku yang tak mendapatkan jawaban apa pun darinya.
Aku melangkah pergi ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang ku dan anak-anak yang sudah aku siapkan sejak semalam.
Tak lama kemudian aku, Sintya dan anak-anak keluar lagi. Aku menderek dua buah koper dan Kinan siap dengan ransel sekolahnya. Sementara Sintya menjinjing sebuah tas seraya menggendong Kaila.
"Kalista... Kalista...Jangan begini. Jangan tinggalin Radit Lis. Dia butuh kamu. Mama mohon. Mama mendekatiku dan memegang tanganku sambil terus menangis terisak. Memohon agar aku mengurungi niatku untuk bercerai dari anaknya.
"Kamu mau kemana bawa Kinan dan Kaila, Lis? Sayang mereka Lis... Kalau kamu benci pada Radit, atau kamu marah sama mama dan papa, itu hak kamu. Tapi jangan libatkan anak-anak mu Lis. Mereka masih sangat kecil."
"Papa dan mama tenang aja, Kinan dan Kaila tak akan kekurangan apa pun. Oh ya, kunci toko papa. Aku kembalikan." Ucapmu seraya menyerahkan kunci toko kue pada Papa.
"Kalista pa... Tahan dia pa jangan biarkan dia tinggalin Radit. Radit butuh dia, pa. Radit!!! Cegah istrimu. Kenapa kamu diam aja? Radit... dia bawa anak-anakmu. Kamu ini bagaimana? Tahan Kalista, Dit... " Mama memukul-mukul tubuh mas Radit yang masih tidak bergeser sedikit pun dari tempat dia berdiri.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi satu hal yang aku tahu, dia sudah tahu jika aku selama ini terluka saat hidup bersamanya. Apakah dia mulai berpikir jika dia memang salah?
Dalam keadaan tegang seperti ini, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku meletakkan koperku di dekat mobil Demian. Lalu mengeluarkan ponselku. Ternyata panggilan masuk dari Ratna. Dia adalah sepupu ku dikampung. Rumahnya dengan rumah ibu tidak jauh. Hanya berselang beberapa rumah saja.
Aku segera mengangkat telepon Ratna. Sebab biasanya jika dia menghubungi ku, pasti ada hal penting yang ia ingin sampaikan perihal ibu.
"Ya Na... " Kataku seraya menstabilkan kembali emosiku.
"Lis... Kamu pulang ya... Ibu mu.. "
"Ibu? Ibu kenapa? "
*Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apakah Raditya mulai sadar atau dia justru semakin membenci Kalista? Laki-laki emang seegois itu ya? Istrinya mau minggat aja masih gengsi buat dia tahan. Suami kalian gimana guys? Mudah-mudahan nggak kayak mas Radit ya? 😁
Jangan lupa komen dibawah 👇🏻