"Pergi kamu dari rumah" Usir Bianca, ibu tiri Sarah. Begitulah, Sarah terpaksa pergi dari rumah sendiri. Bukan hanya Bianca yang kejam, tetapi adik tiri Sarah pun selalu mengganggu hubungan percintaan Sarah dengan Rafi sang guru SMK di sekolah.
Di tengah perjalanan, Sarah bertemu dengan gadis tengil yang bernama Salma. Wajah Sarah dengan Salma mempunyai kemiripan 100 persen. Namun, jika Sarah wajahnya glowing, Salma berwajah kusam.
Rupanya, Salma pun kabur dari rumah lantaran menolak ketika dipaksa menikah dengan guru matematika yang bernama Haris. Salma lantas mempunyai ide gila, mengajak Sarah tukar tempat. Tukar tempat, itu artinya Sarah sudah siap menggantikan Salma menikah dengan Haris.
"Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintaku Ditukar Siswi Kembar. Bab 27
"Bagaimana kabar Pak Rafi?" Tanya Haris ketika mereka sama-sama berjalan menuju aula. Haris melirik wajah Rafi tidak sumringah seperti 6 bulan yang lalu.
"Alhamdulillah Pak Haris,"
Rafi dengan Haris bukan sahabat dekat, tetapi mereka pernah beberapa kali bertemu ketika mendapat undangan acara seperti sekarang. Mereka berbincang-bincang akrab, menanyakan tentang pribadi masing-masing.
"Pak Rafi sudah menikah?" Tanya Haris. Seperti kebanyakan teman jika lama tidak berjumpa, pertanyaan seperti yang sering terlontar.
"Belum Pak Haris, belum laku. Hahaha..." Rafi tertawa sumbang, beberapa detik kemudian tersenyum kecut.
"Pak Rafi ini ada-ada saja, mana mungkin orang seganteng Pak Rafi tidak laku," Gantian Haris yang tertawa.
"Kalau Pak Haris sendiri?" Rafi balik bertanya. Melirik Haris yang masih ragu-ragu untuk menjawab. Karena pernikahannya dengan Sarah masih abu-abu.
"Baru pendekatan Pak Rafi, doakan ya,"
"Aamiin..." Rafi menutup pembicaraan, karena mereka sudah tiba di dalam aula. Haris segera bergabung dengan guru yang lain, sementara Rafi sebagai panitia segera menyambut kedatangan para guru yang baru tiba. Acara berlangsung hingga siang, Haris pun akhirnya pulang. Ketika hendak pamit Rafi, pria itu tidak Haris temukan.
Jalanan sepertinya bersahabat dengan Haris lancar dan cepat tiba di kediaman nya. Komplek tanpa pagar di depan sudah ada motor Matic, Haris tersenyum lantaran Sarah sudah tiba lebih dulu.
Segera dia ucap salam, hanya dalam hitungan detik pintu pun sudah dibuka. Muncul wanita cantik jelas Sarah orangnya. Entah ada angin apa tiba-tiba tangan Haris diraih kemudian di tempelkan ke hidung. Jelas Haris tersenyum senang. Jika di sekolah hal seperti ini sudah sering Sarah lakukan. Namun, ketika di rumah baru sekali ini.
"Pak Haris, di sana bertemu siapa saja? Kenal guru lain tidak, terus... ada siswi yang Bapak kenal tidak?" Sarah menodong dengan banyak pertanyaan begitu Haris masuk.
Haris mengulum senyum, tanganya ingin menarik hidung bangir wanita yang mampu merebut hatinya itu, tetapi Haris tidak punya keberanian.
"Pak Haris kenapa malah senyum-senyum sih..." Sarah sudah tidak sabar. Di sekolah tadi tidak konsentrasi belajar, lantaran memikirkan bagaimana jika Haris bertemu Salma dan juga Rafi. Tidak segera mendapat jawaban, Sarah mengejar langkah Haris hingga masuk ke dalam kamar.
"Pegang dulu, nanti aku kasih jawaban," modus Haris.
"Pak, jawab dong..." tanpa Sarah sadari tanganya memegang tangan Haris.
Haris menatap kedua tangan Sarah yang memegang pergelangan nya ingin seperti ini selamanya. Padahal hanya di pegang saja tetapi tubuhnya terasa tersengat aliran listrik.
"Kan! Malah lihatin terus," Sungut Sarah lalu duduk di pinggir ranjang, dengan wajah merengut.
"Jelas bertemu banyak orang Salma, kamu ini aneh," Haris geleng-geleng kepala.
"Hai... kamu pasti cemburu ya? Takut kalau aku sampai kecantol siswi-siswi negeri Kartini," Haris tertawa.
"Idih, gr" Sarah melengos lalu ke luar kamar. Tetapi Sarah lega, sikap Haris biasa saja, itu artinya di sana tidak bertemu Salma. Jelas tidak bertemu karena murid hari ini diliburkan.
Sarah ke dapur tidak lama kemudian kembali menyiapkan air minum untuk Haris. Dia letakkan di meja, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Mungkin karena lelah Sarah lantas tidur.
Sementara Haris sudah selesai dari kamar mandi memindai luar kamar tampak sepi. Melihat Sarah sudah pulas lalu inisiatif ambil bantal. Dia angkat kepala Sarah perlahan-lahan, khawatir mengganggu tidurnya, mengganjalnya dengan bantal.
**************
Seminggu kemudian, Sarah murung memikirkan Salma yang tidak ada kabar. Banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Tentang hasil ulangan, jika tidak segera ambil tindakan menukar dokumen bisa-bisa dia tidak lulus.
Bukan hanya itu, tinggal bersama Haris terlalu lama juga membuatnya ngeri. Tidak Sarah pungkhiri Haris pria yang baik, walaupun jahil tetapi tidak melanggar norma. Namun, yang Sarah khawatirkan yang namanya kucing ada ikan di depan mata sebaik-baik nya kucing pasti akan mencuri.
"Kamu kenapa dari tadi aku perhatikan gelisah terus Sal?" Haris yang berada di meja belajar yang sama memperhatikan Sarah.
"Pak, besok kan pulang sekolah cepat, saya boleh main sama teman-teman tidak?" Sarah mencari-cari alasan. Tidak ada nilai tawar lagi, ia akan menemui Salma ke sekolah.
"Teman siapa? Teman-teman sekolah?" Selidik Haris.
"Bukan sih Pak, teman-teman SMP. Boleh ya Pak, saya kan sudah lama tidak berjumpa mereka," rengek Sarah.
Haris menatap Sarah sekilas lalu memandangi buku. Benar yang di katakan Salma. Sudah hampir sebulan menikah tetapi tidak pernah mengajaknya jalan-jalan. Di samping Sarah menolak alasan kepergok teman, Haris tidak mempunyai dana yang cukup untuk menyenangkan hati Sarah.
"Pak, kok diam sih..." Sarah menanti jawaban Haris merasa lumutan.
"Boleh... tapi pulangnya jangan lewat magrib ya,"
"Tentu tidak"
Keesokan harinya pulang sekolah masih jam 10 pagi, sebab pihak sekolah akan ada rapat. Sarah ke toilet sekolah mengganti seragamnya dengan baju gamis dengan cadar yang selama ini tidak pernah Sarah kenakan.
Di sekolah Pertiwi dengan kostum yang berbeda, Sarah berjalan santai rupanya tidak ada yang mengenali penyamarannya. Entah di SMK Kartini nanti. Dengan motornya, Salma melesat pergi ke sekolah Kartini.
Jarak dari sekolah Pertiwi dengan Kartini, berbeda wilayah tentu saja makan waktu hampir satu jam.
Gedung sekolah yang sama besar dengan sekolah Pertiwi, itulah sekolah Kartini. Dengan baju muslim tersebut Sarah memijakkan kaki ke halaman. Ya sekolah yang sudah mengantarkan dirinya dari kelas satu hingga kelas tiga, dan keadaanlah yang membuatnya enyah.
Sekolah hanya ada beberapa siswa yang sedang olahraga. Wajar, saat ini sedang berlangsung jam pelajaran.
Di kursi panjang depan kelasnya dulu dia duduk sambil memperhatikan anak kelas 11 tengah main basket. Menunggu Salma keluar itulah yang Sarah lakukan. Sarah tidak mau membuang waktu lagi, karena waktu terus berjalan. Hanya dalam hitungan minggu ujian akan di laksanakan.
Jam dua 12 siang saat istirahat kedua tiba. Sarah memperhatikan satu persatu teman sekolah yang tidak lagi asing baginya.
...~Bersambung~...
bagus banget ceritanya Buna..
jujur menurut aku, ini cerita Buna yg paling aku suka dari sekian novel Buna yg udah aku baca..
setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing2, tugasnya ada mencari tahu biar bisa mengembangkan kelebihannya dan jg memperbaiki kekurangannya..
garis besar cerita masih mirip2 dg novel2 Buna lainnya ya..
cinta guru dan murid, perpisahan dan pertemuan kembali pasangan suami istri, penolakan karena perbedaan status sosial..
walopun garis besar ide ceritanya mirip, tapi cerita kali ini seru banget menurut aku..
dan yg paling penting, finally happy ending for all characters.. 🎉🎉🎉
Terima kasih Buna sudah bikin cerita sebagus ini..
walopun hasilnya tidak sesuai harapan, jangan sedih ya Buna..
setidaknya ada doa2 tulus dari para reader setia untuk Buna..
semoga selalu diberi kesehatan..
tetap semangat berkarya dan jangan pantang menyerah..
semoga sukses selalu Buna..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
di dunia ini tugas kita hanya ikhtiar dan berdoa, sedangkan hasil bukanlah ranah kita..
jadi tak perlu terlalu merisaukan hasilnya bagaimana, tapi cukup terus berusaha dg niat yg baik dan tak lupa terus berdoa..
Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha kita sekecil apapun, semua pasti ada balasannya..
hanya saja kita tidak tau kapan waktunya balasan itu akan tiba..
kita hanya perlu terus bersabar, berusaha, dan berdoa..
semangat Buna.. 💪🏻💪🏻💪🏻💕💕💕