Anandi soraya, seorang yatim piatu dan sekaligus pewaris tunggal perusahaan Digital tecno group. Wanita cantik dan kaya pemilik perusahaan terbesar nomor 2 di Indonesia itu, tak pernah menyangka jika ia akan di hadapkan dengan sebuah tragedi kelam di malam pertamanya. Ia tak pernah menyangka, jika pria yang ia cintai akan menghianatinya dan mempermalukannya.
Setelah malam itu, ia tak akan pernah lupa, penghianatan sang suami, di malam pertamanya... Pria yang ia cintai, nyatanya hanya memanfaatkan pernikahan hanya demi ke untungan pribadinya. Akankah Anandi kembali untuk mengambil seluruh adet miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geerqiasilatusiluchen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpuruk dan jatuh
***
Di saat Anandi menduduki kembali posisinya, Rega malah kian terpuruk. Kondisi Naffasya kian buruk, vonis yang diberikan dokter atas penyakit Naffasya membuatnya sulit bertahan dan cenderung drof berat "Sayang. Bertahanlah... Aku akan segera kembali" Tegas Rega.
Naffasya terbaring tak berdaya di kursi brankar rumah sakit dan wajahnya sangat pucat, Naffasya meraih tangan Rega sekaan menghentikan langkahnya.
"Sayang. Jangan pergi aku takut!" Panik Naffasya menangis pilu.
Rega tak tega dan berusaha menenangkannya "Jangan takut, aku akan kembali setelah menyelesaikan administrasi" Tegas Rega.
Naffasya pun perlahan melepas suaminya dan mengangguk "Sayang. Jangan lama lama... Aku sudah tak kuat, rasanya sangat menyakitkan" Ringis Naffasya, kata kata itu membuat Rega gelap mata.
"Bertahanlah... Aku pasti akan menyembuhkan mu! Tunggulah aku kembali" Rega memalingkan wajahnya dan menjauhi ranjang Naffasya.
"Aku akan segera mencari uang agar kamu bisa di operasi di luar negri..." sambung Rega.
Naffasya menaruh harapan besar pada suaminya itu, sampai sampai dia terharu pada perjuangan Rega "Berjuanglah sayang... Dan tolong beritahu ayahku tentang kondisiku ini" ujar Naffasya.
"Baik nanti aku akan kabarkan... Kamu bertahan ya sayang. Kamu harus kuat!" Tegas Rega mulai keluar dari kamar rawat istrinya.
Blam!
"Nak. Bagai mana kabar istrimu?" Tanya Ny Mae menghampiri Rega dengan pertanyaan bertubi tubi.
Rega sungguh panik kali ini "Celaka bu. Kita harus segera mendapatkan uang banyak untuk operasi kanker servik istriku. Obat yang ia konsumsi tidak menyembuhkannya melainkan meredakan rasa nyeri nya saja bu. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu?" Panik Rega, ia tak tahu harus bicara pada siapa, hingga ia curhat pada ibunya.
"Astaga Rega, Operasi kanker servik itu sangatlah mahal nak... Lagi pula di mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" Tanya Ny Mae pada Rega, bukannya membantu. Ny Mae malah menambah beban Rega.
"Kita telpon ayah mertua saja, lalu bilang padanya bahwa Naffasya kritis" Ujar Rega.
"Kau benar... Lagi pula, sudah ibu bilang kan... Jangan menikahi Naffasya, kamu sih ngotot! Beginikan jadinya..."
"Sudahlah bu. Jangan memperkeruh suasana, lagi pula... Dulu ibu sendiri yang punya rencana ini. Ingin memiliki menantu dari anak seorang pejabat negara. Dan inilah jadinya karna ibu terlalu serakah!" Tegas Rega membalikan keadaan.
"Heh. Jangan ngarang kamu... Ibu sama sekali tak tahu menahu tentang pernikahan ini. Jadi jangan libatkan atau salahkan ibu!"
"Sudah sudah. Aku jadi makin pusing bu! Yang jelas ibu musti beri aku solusi, gimana caranya dapat uang banyak untuk operasi istriku. Itu saja, dan jangan berkelit... Bisa bisa kepalaku meledak nih!" Rega sudah tidak bisa berfikir lagi hingga ia membentak ibunya.
"Baiklah, ibu akan telpon ayah mertuamu dan meminta uang padanya!" Ny Mae lekas menarik telpon dari dalam tas yang ia gandeng itu.
Namun beberapa kali ia mengetik ponselnya. Tak ada jawaban dari besannya itu "Tidak aktif, kenapa tiba tiba sulit sekali di hubungi"
"Sial. Kenapa di saat begini ayah mertua ku malah sibuk! Nggak aktif lagi. Apa perlu aku ke rumahnya dan meminta bantuan padanya"
"Anakku. Itu sungguh memalukan, derajatmu bisa turun nanti... Pakai saja uang perusahaan, gampangkan?" Ujar Ny Mae.
Lagi lagi Rega di buat pusing oleh ibunya "Tidak bisa bu!" Rega menjatuhkan dirinya ke kursi ruang tunggu pasien yang keras karna terbuat dari baja.
"Kenapa? Itu kan uang mu... Kau bisa memakainya semaumu" Tegas ibu Rega ikut duduk di sisi Rega dan menyulut emosi anaknya.
"Ah. Percuma cerita pada ibu, lagi pula ibu tak akan mengerti!" Amuk Rega.
"Lho kenapa? Tidak mengerti apanya maksudmu?" Ny Mae bersikeras.
"Aku, telah di depak dari posisiku... Dan sekarang aku hanyalah staff kantor biasa di bagian pendataan karyawan bu!" Jelas Rega frustrasi.
"Apa? Kenapa bisa? Siapa yang sudah melakukannya? Kau kan pemilik perusahaan itu? Mana boleh mereka melakukan hal tersebut " Tanya Ny Mae tersentak kaget, begitu tahu jika anaknya tidak memiliki jabatan tinggi di perusahaannya sendiri.
"Tentu saja, aku sendiri tak paham... Bagai mana ini bisa terjadi" Keluh Rega.
"Ibu akan menggugat orang baru itu agar dia mau turun dari posisi itu!" Tegas Ny Mae marah besar.
"Mana mungkin ibu mampu melakukannya, sedangkan sahamku saja sangatlah kecil di perusahaan itu... Karna aku menjual sahamku pada pihak asing dan mereka jadi semena mena berkuasa. Jika aku tidak mengikuti alur mereka, perusahaan kita akan bangkrut" Keluh Rega pasrah.
"Ya ampun nak. Kenapa kamu tidak bicara dulu pada ibu mu ini sebelum bertindak? Jadi rumit begini kan?! Dasar kamu ini" Ny Mae sungguh kecewa.
"Percuma, bilang pada ibu juga tak akan membantu... Lagi pula, selama aku menjabat beberapa bulan ini. Ibu paling sibuk menta duit melulu, sampai sampai hutang perusaahaan membludak. Dan hanya itulah cara yang tepat menyelamatkan perusahaan kita bu"
"Cih. Kenapa kamu salahkan ibu, ibu meminta uang juga kan untuk keperluan kita!"
"Sudah lah bu aku pusing... Hah! Di mana kita bisa cari uang untuk operasi Naffasya?" Rega sunguh pusing.
"Tenanglah nak, pasti akan ada jalan keluar
.. Tapi, kenapa ibu merasa kita sial sekali akhir akhir ini, dan lagi neski saat ini kamu turun jabatan, tapi kamu tak boleh lengah nak"
"Apa maksud ibu, jangan bicara hal hal yang membuatku makin pusing" Gumam Rega memijat kepalanya yang sakit itu. Ocehan ibunya kian membuat kepala Rega sangat sakit.
"Kau harus segera merebut kembali posisi presdir itu, rebutlah kembali, kau pasti bisa Menegermu itu" Hasut Ny Mae.
"Hentikan bu! Ini bukan saat nya membicarakan harta, tolong pikirkan keselamatan istiku! Karena bagiku istriku lah yang terpenting bagiku untuk saat ini" Rega Memeringatkan ibunya untuk sadar.
"Kamu ini, di kasih tahu malah ngeyel... Lagi pula. Mau bagai mana lagi..." Marah Ny Mae.
Nya Mae belum mendapat jawaban dari anak nya "Oh ia, Kenapa kau tidak meminta tolong saja pada menegermu, pinjamlah dana gawat darurat darinya, agar istrimu bisa selamat!" Tampaknya ujaran Ny Mae tak di respons oleh Rega dan ia cenderung diam dengan kerutan tebal di jidat.
"Nak kenapa kamu malah diam. Ini adalah solusi terbaik agar istrimu bisa selamat kau tidak mengerti!" Tegas Ny Mae kembali memperingatkan anaknya agar memohon pada meneger perusahaan itu.
"Ini membuatku sakit kepala!" Bentak Rega mengamuk.
"Heh. Kenapa kamu malah pusing, kalau begitu... Biar ibu saja yang meminta bantuan pada ceo mu itu!" Ny Mae berdiri dan mulai melangkah dengan angkuhnya.
"Jangan bu! Jika ibu pergi, maka ibu akan menambah bebanku... Jantung ibu bisa kumat nanti!"
"Apa maksudmu. Kenapa kau malah mengolok olok ibu begitu?" Komen ny Mae tak terima kala di kata katai oleh anaknya.
"Maksudku adalah, orang yang berkuasa dan mendepak ku dari jabatanku itu adalah Anandi bu, mantan istriku. Dan mana mungkin aku meminta bantuan mantan istriku untuk menolong istri baruku... Ini sungguh terdengar ironis sekali dan menjijikan!" Tegas Rega.
"Apa? Tapi, bagai mana bisa... Dia kan sudah, sudah mati!" Ny Mae jadi pusing hingga ia kembali duduk di samping anaknya.
"Dengar bu. Sebaiknya kita pinjam uang saja ada ayah mertua. Lagi pula, Naffasya adalah anak satu satunya dan itu sangat menguntungkan bagi kita"
"Ibu sedikit pusing, jadi kau sajalah yang pergi. Mendengar wanita itu kembali, ibu jadi takut... Jangan jangan dia menuntut balas pada kita Rega! Kenapa dia semujur itu?" Gumam Ny Mae.
"Baiklah aku pergi! tolong jaga Naffasya!" Pinta Rega.
Nya Mae hanya mengangguk diam, Rega pun enyah dari sana, jarak tak membuat Rega resah, ia sengaja mengambil cuti dan pergi ke jawa tengah untuk meminta pertolongan pada ayah mertuanya. Namun nasib buruk justru menimpanya...
Sesampainya di kediaman Gubernur jawa tengah itu, ia malah di suguhkan penampakan mengerikan, rumahnya telah di segel dan di sita oleh negara.
"Ada apa ini pak?" Rega bertanya pada salah satu scurty komplek elit itu.
"Oh. Ini, ini adalah tim penyidik kpk, mereka sedang menyita seluruh aset milik bapa Gubernur" Tegas sang scurty komplek itu.
"Apa? Di sita? Kenapa?"
"Oh itu. Bapa gubernur terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang dan suap jabatan, jadi... Dia sedang di periksa, tapi saya kurang tahu juga sih den. Yang jelas semua aset berharga termasuk tanah dan bangunan juga kebun telah di sita oleh negera. Jika aden ingin tahu lebih jelas silahkan tanya pada para penyidik"
Celaka... Aku tak mau ikut ikutan, lagi pula aku sama sekali tidak peenah menerima glontotan dana dari mertuaku. Aku mending kabur saja... Bathin Rega menggumam.
Rega kembali tancap gas menuju ibu kota dengn tangan hampa. Hidupnya kali ini sungguh lebih menderita lagi, sebab dulu ketika ia sengsara. Anandilah yang selalu berusaha mencukupkan segala ke kurangannya. Namun kali ini, ia seperti telah mendapatkan teguran atas perbuatan keji nya pada wanita yang telah ia lukai itu.
"Sial! sial! sial! Kenapa akhir akhir ini aku sungguh sial..." Gumam Rega.
sungguh mantap
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘