NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:118.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertandingan Futsal

Aku sedang membaca novel saat adikku dengan heboh masuk ke dalam kamar.

" Ada cowok ganteng depan rumah nyariin kamu", kata adikku.

" Hah? Siapa? ", aku langsung bangun dari tempat tidur.

" Namanya Keanu ... Eh .... Keen... Siapa ya? pokoknya lagi di interogasi papa. Siap-siap di nikahin kamu", adikku mulai ngaco.

" Hus... Sembarangan", aku menghardik adikku. Dengan cepat aku turun ke lantai satu dan melihat Kana sedang duduk di ruang tamu bersama papaku. Aku menguping percakapan mereka.

" Namanya siapa tadi?", tanya papaku.

" Nama saya Arkana om", jawab Kana tenang.

" Hmmm... Pernah datang ke sini ya? Kapan tuh?", tanya papaku lagi.

" Pernah om. Waktu ngerjain tugas kelompok sama Awan", jawab Kana jujur.

" Oh iya iya... Jadi malam-malam ke sini ada keperluan apa sama anak saya?", tanya papaku.

Sebenarnya papaku tidak galak. Hanya saja pasti menjadi protektif sama anak gadisnya. Apalagi Kana anak laki-laki pertama yang berkunjung ke rumahku tanpa alasan yang jelas.

" Saya ada perlu sama Awan om sama amu anterin sesuatu", jawab Kana sopan.

" Okee... Jangan lama-lama ya", jawab Papaku.

" Baik om. Tapi...", Kana masih melanjutkan.

" Tapi apa?", papaku menyipitkan matanya.

" Saya boleh sering main ke sini gak om?", tanya Kana berani.

Seperti berpikir lebih dulu, papaku lalu mengajukan tantangan.

" Bisa main catur?", tanya papaku.

" Bisa", jawab Kana yakin.

" Kalau bisa kalahin om. Kamu boleh main ke sini lagi", tantang papaku.

" Oke. Setuju" , Kana menyetujui tanpa protes. Lalu dia dan papaku bersalaman tanda kesepakatan telah di setujui.

Papaku juga kadang-kadang suka bercandanya kelewatan. Papa kan jago catur gimana Kana bisa menang. Aduh pusing deh kepalaku melihat kelakuan papaku. Lagian Kana juga mau aja di kerjain, di tanggapi pula dengan serius.

" Awan... Awan...", papaku memanggil.

" Yaaa paa... ", aku datang sambil melambai ringan ke Kana. Kana tersenyum melihatku.

" Ambilkan papan catur papa. Papa ada tanding. Sekalian tolong bikinin kopi", kata papaku." kamu minum apa?", papa menawarkan kepada Kana.

" Apa saja om", jawab Kana sopan.

" Ya udah air putih saja. Gak usah yang warna-warna", papaku kumat jiwa ngeselin nya.

Kana hanya tertawa mendengar itu. Untung Kana tidak mudah tersinggung, kalau gak mungkin aku sudah di musuhi sama Kana.

Dan pertandingan catur pun di mulai.

***

Aku mengantar Kana keluar pintu gerbang rumahku. Hari ini dengan penuh kecewa Kana harus pulang setelah bermain catur, karena dia kalah telak dari papaku

" Maaf ya. papaku memang suka jahil. Sama kita juga begitu", aku tersenyum ringan.

" Tidak apa-apa kok. Aku malah senang di ajak tanding. Yaa buat refreshing", jawab Kana.

" Main catur refreshing? Refreshing itu pergi piknik, makan enak", sempat-sempatnya aku protes.

Kana tertawa mendengar jawabanku lalu mengacak rambutku pelan.

" Hari ini kamu dari mana?", tanya Kana mulai menginterogasi.

Aku berpikir sejenak ke mana arah pembicaraan Kana. " Dari sekolah, terus ke bazar lalu pulang", jelas ku polos.

" Ke bazar sama siapa?", tanya Kana lagi.

" Sama Inka.. Sama Tian", aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Kana.

" Oke... Ini aku bawain sesuatu untuk kamu. ", Kana menyerahkan sebuah plastik besar untukku.

Aku menerimanya dan betapa kagetnya aku begitu melihat isi di dalamnya. Permen kapas 3, coklat sekotak penuh dan berbagai macam cemilan.

" Ini untuk aku?", aku tidak percaya.

" Iya. Untuk kamu. Semuanya untuk kamu. Habisin", perintah Kana.

Aku hanya mengangguk. ' Duh cowok ini ... Kok malah bikin baper lagi sih', batinku.

" Mulai besok kamu tidak boleh makan pemberian cowok lain selain aku", kata Kana.

" Kenapa?", aku bingung.

" Pokoknya gak boleh. Haram. Kecuali dari aku", kata Kana serius.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum salah tingkah. ' Maksudnya apa ya? aku udah bilang putus, kenapa masih gini sih. Mungkin sebagai sahabat Kana masih baik padaku', batinku bingung sendiri.

" Besok aku tanding. Kamu datang ya. Pakai baju ini", Kana menyerahkan sebuah baju untukku.

" Kamu mau aku datang?", Aku mengoreksi lagi.

" Iya dong. Kamu harus datang", kata Kana.

" Oke sebagai sahabat aku akan datang", aku menjawab sekaligus mengingatkan Kana soal mundurnya aku dari status palsu kami.

Kana mengangguk pelan. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi suara batuk pelan papaku mengurungkan niatnya.

" Sudah ya.. Besok aku tunggu kamu di lapangan", kata Kana.

Aku mengangguk ringan, menyetujui ajakannya. Lalu Kana berpamitan dan berjalan cepat menuju rumah mamanya. Saat dia menghilang dalam kegelapan malam aku menutup pintu pagar.

" Iss..Awan jangan baper.. Plis ... ", aku mengeluh sendiri lalu masuk ke dalam rumah.

***

Gor di penuhi siswa siswi dari dua sekolah yang berbeda. Hiruk pikuk para suporter menggema di gedung ini. Aku dan Inka duduk di pinggir lapangan dengan membawa pom pom yang entah di dapat Inka dari mana.

" Kamu baju darimana?", Inka bertanya.

Aku melihat ke arah baju futsal yang aku pakai. Dengan nomor punggung 7 bertuliskan namaku AWAN.

" Kana yang kasih", jawabku.

" Oohh.... eh nomor punggungnya sama kayak punya Kana ya", Inka menunjuk ke arah lapangan tempat Kana berdiri.

Aku melihat ke arah Kana. Benar dia memberikan baju dengan nomor punggung yang sama dengan miliknya.

" Kayaknya Kana suka sama kamu deh", Inka menyenggol lenganku sambil berbisik.

" Gak... ini supaya lebih meyakinkan saja kali", aku berkilah. Belum memberitahu Inka apa yang sebenarnya terjadi.

Pertandingan di mulai, suporter kami berteriak heboh setiap cetakan gol yang di lakukan pemain futsal sekolah kami. Aku dan Inka juga ikut melompat senang di setiap momennya.

" Lihat-lihat Helmi dan anteknya datang", Inka menyenggol lenganku.

Aku melihat ke arah Helmi yang mengambil duduk paling bawah. Tanpa malu-malu dia duduk di sana tanpa beban.

" Ya gak apa-apalah, kan dia yang kasih sponsor", kataku lagi.

" Siapa? Helmi? Bukan. Kamu belum tau ya? Padahal beritanya sudah tersebar loh", kata Inka.

" Apa? ", Aku penasaran.

" Futsal kan dapat sponsor sendiri. Anak basket juga kembaliin sponsor dari Helmi. Mereka pada nyari sendiri",Inka menjelaskan.

" Maksud kamu gimana? Aku gak paham", aku tidak mengerti.

" Jadi karena Helmi narik sponsornya untuk anak futsal, anak basket akhirnya kembaliin dana dari Helmi itu. Mereka kecewa karena Helmi gak profesional. Padahal sponsor itu bukan anak futsal dan basket yang minta. Helmi sendiri yang berniat memberikan sponsor", jelas Inka.

" oh... Terus mereka dapat sponsor darimana?", aku penasaran.

" Entah... Kerjaan cowokmu itu. Dia yang nyari sponsor dalam waktu 2 hari. Hebat gak tuh", Inka memuji Kana.

Aku mengangguk dan melihat Helmi dari atas. Tampangnya tidak ada beban di wajahnya. Aku sampai tidak mengerti ada orang yang seperti ini.

Aku melihat Kana yang berlari di tengah lapangan, tampak serius dan tampan. Jadi kejadian kemarin itu tidak berpengaruh apa-apa untuk Kana. Sekarang statusku dan Kana seperti apa?

Aku mengigit bibir bawahku sedikit gelisah. Aku tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Untuk tetap menjaga hatiku, aku akan menganggap Kana sebagai sahabat. Ya.. Kami adalah sahabat.

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!