“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. The Healer
Selain kesulitan mempercayai keajaiban bahwa mereka bertiga berhasil kembali hidup-hidup, Zeze juga tak sanggup mempercayai kenyataan yang terpampang di depan matanya.
Norofi terbaring sekarat di atas tanah dengan perut sebelah kanan yang rusak parah. Bahkan itu sudah tidak bisa lagi dikenali sebagai perut. Dagingnya terkoyak dan sebagian ususnya yang berkedut nyaris menjuntai keluar tempat.
Zeze mematung tak bergerak di tempatnya berdiri, matanya perih karena terus terbuka. Mustahil, ini mustahil untuk disembuhkan. Apa yang bisa diperbuat bahkan jika kami berhasil membawanya ke rumah sakit?
"Zeze!"
Panggilan keras itu menyentaknya. Matanya bergeser pada Rhea yang sedang berjongkok di samping Norofi, berupaya keras menutupi pendarahan hebat dengan tangan-tangan kecilnya itu. Sia-sia.
"Jangan panik!" Rhea menegaskan dengan suara gemetar.
Zeze meneguk ludahnya. Rhea memang selamat, tapi, Norofi...
Pada akhirnya salah satu dari kami memang harus mati.
Dengan pikiran kosong, Zeze berjongkok di sebelah kiri Norofi, berseberangan dengan Rhea, menyaksikan laki-laki itu terengah-engah menahan sakit.
“Noro... tetaplah bersamaku,” pinta Zeze, mengambil tangan kiri Norofi dan membungkusnya dengan kedua tangan. Di luar dugaan, laki-laki itu membalas genggamannya. Bukan hanya itu, bibirnya yang bertindik pun mengukir senyum.
"Ma... maaf... Ze. A—aku tidak bisa, ini... sakit sekali," Norofi merintih hebat.
"Apa yang kau katakan? Kau sudah berjanji, ingat? Kalian semua sudah berjanji—di malam itu—di malam Afrodi pergi. Kalian berjanji tidak akan meninggalkanku dan akan tetap bersamaku, menemaniku, untuk melihatku tumbuh dewasa! Apakah kau akan mengingkarinya persis seperti yang Sageta lakukan?"
Hanya ada satu alasan mengapa Zeze bersikeras memaksanya bicara, yaitu untuk membuatnya tetap terjaga. Karena bila seseorang yang sedang terluka parah kehilangan kesadaran, akibatnya bisa fatal. Hanya ada dua takdir yang menunggu. Koma atau mati.
“Aku sudah cukup melihatnya... k—kau tumbuh dengan sangat baik... menjadi seorang gadis yang sangat mengagumkan, sangat cerdas, sangat mandiri. Tidak seorang pun yang pantas mendapatkanmu," ujar Norofi dengan senyuman berkedut-kedut, berjuang membuka mata untuk menggapai wajah Zeze yang semakin memudar.
"Kau tidak ingin melihatku menikah? Kau bilang kau ingin mengantarku ke atas pelaminan. Kau bilang kau ingin menjadi orang pertama yang menggendong anakku!"
Norofi terkekeh miris, "Maaf... aku ini pembohong besar." Ia mulai kesulitan mengambil napas. "A—aku berharap... siapa pun yang kau pilih... dia bisa menyayangimu sebanyak kami menyayangimu. Titip salamku kepada Zeze-kecilmu. Sampaikan maafku kepadanya... maaf karena Paman Norofi tidak bisa menjadi yang pertama menggendongnya."
“Omong kosong! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Afrodi, Tera, Sageta, dan semua orang yang telah meninggalkanku, bahkan jika aku mati sekalipun! Orang jahat... pembohong besar seperti kalian—” Zeze mulai kalut, darah mulai meluncur dari lubang hidungnya tanpa ia sadari. “Kakak... tetaplah bersamaku!” Pada akhirnya, makiannya menjelma menjadi sepenggal permohonan.
Hening, bibir pucat Norofi telah mengurung jawabannya. Zeze meneguk salivanya kasar. Pikirannya benar-benar kusut dan ia bersumpah akan berteriak.
"Dia pasti kelelahan karena tubuhnya harus dipaksa memproduksi banyak trombosit dalam waktu singkat. Biarkan dia beristirahat." Suara lembut Rhea datang dan membawa Zeze keluar dari kesengsaraan. Gadis bernuansa musim semi itu tersenyum tipis kepada Zeze. "Kerja yang bagus, Ze."
Bahu Zeze merosot, "Apakah... berhasil?" Bisiknya. Anggukan Rhea langsung menjawab.
Mata biru seretak kaca itu turun ke arah tangan Rhea yang hinggap di atas luka besar Norofi. Dalam darah yang terus memancar, untaian benang-benang putih kusut tampak berdansa di atas luka. Lambat-laun, benang-benang itu memperbesar ukurannya, hingga Zeze dapat melihat jelas bahwa mereka saling menganyam, menjahit luka Norofi. Darah yang semula mengalir menjadi beku, membantu benang-benang itu menutup lubang lukanya.
Pemandangan itu merupakan jawaban mengapa Rhea adalah salah satu komponen penting dalam komplotan mereka. Ia adalah satu-satunya healer yang mereka punya. Penyandang jenis bakat paling langka di antara pengguna dýnami: kemampuan untuk menyembuhkan.
Di umur 13 tahun, Rhea-kecil yang bercita-cita sebagai dokter memilih benang fibrin sebagai Simathyst-nya setelah menemukan adanya kecocokan. Sama seperti Zeze, pengguna dýnami yang mendapatkan elemen tubuh makhluk hidup sebagai Simathyst merupakan fenomena langka. Tidak semua orang bisa cocok.
Sejumlah ilmuan berteori bahwa Simathyst merefleksikan inti terdalam seseorang sebagai manusia. Simathyst bisa memberitahumu siapa dirimu sebenarnya. Sejak kecil, Zeze terobsesi dengan kekuatan yang mampu menghancurkan dalam skala besar, tapi tanpa membuatnya merasa kerepotan. Kekacauan yang bisa menular sendiri. Api.
Rhea adalah antitesis dari Zeze. Dia selalu mendambakan perbaikan. Selalu menginginkan semua hal di sekitarnya menjadi lebih baik, dan hasrat itu termanifestasi melalui Simathyst-nya.
Dýnami Rhea yang begitu mengagumkan mampu mengendalikan benang fibrin miliknya maupun orang lain. Benang fibrin adalah protein yang terbentuk dari fibrinogen yang telah diubah oleh enzim trombin dalam darah. Protein tersebut berperan penting dalam koagulasi atau proses pembekuan darah. Jika seseorang terluka dan mengeluarkan darah, salah satu komponen yang ada di dalam darah, yaitu trombosit (keping darah), akan pecah dan membentuk serat-serat menyerupai tautan benang lalu menjaring darah yang keluar, sehingga darah itu terikat dan membeku, membentuk koreng yang berguna menutup luka.
Dengan bantuan Rhea, proses penyembuhan itu dipercepat dan diperkuat, sehingga benang-benang yang semula hanya sebesar serat, memperbesar ukuran dan berhasil menutup luka sebesar luka di perut Norofi.
"Kau ternyata punya bakat berakting," Rhea menyeringai pada Zeze.
Zeze menunduk dan bergumam, "Itu bukan akting."
Rhea menyiramnya dengan tatapan penuh tanya. Ada apa dengannya? Bukankah harusnya dia tenang lantaran ada aku di sini?
"Saat melihat orang itu, aku kembali teringat dengan apa yang menimpa Afrodi," suara Zeze melirih, dan dengan penjelasan itu, Rhea bisa memahami kegundahannya.
"Seandainya kau ada di sana pada saat tragedi itu terjadi, apakah... apakah menurutmu sekarang dia masih berada di dunia ini?" gumam Zeze, sepertinya dia mengucapkan itu tanpa sadar.
Ingatan Rhea berjalan mundur dan berhenti di bab pertemuan pertamanya dengan Zeze, tepatnya lima tahun silam. Anak perempuan secantik boneka yang selalu tampak murung, tak pernah berhenti melamun ke luar jendela. Jika gadis kecil itu tidak bergerak, Rhea pasti sudah menyangka dia adalah manekin.
Tak ada senyuman, tak ada tawa, padahal kakak-kakaknya yang peduli telah berusaha mengajaknya masuk ke dalam obrolan, ke dalam roda kehidupan yang terus berputar. Es krim, kue, mainan, semua yang mereka berikan tak berarti banyak untuknya.
Seiring berjalannya waktu, Rhea semakin dekat dengan boneka itu, tapi masih segan untuk mengulik alasan yang membuatnya bersedih. Rhea lalu diberitahu oleh Norofi bahwa dirinya bergabung tepat seminggu setelah orang yang paling dekat dengannya meninggal dunia. Orang itu bernama Afrodi, atau mereka biasa menyebutnya 'Hades-nya Énkavma'.
Hades dalam mitologi Yunani adalah penguasa dunia bawah, istilah lain dari "neraka". Bukan tanpa alasan Afrodi diberi julukan seekstrem itu. Bahkan seisi dunia pun tahu bahwa Hades adalah yang paling berbahaya di antara mereka.
Zeze selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Afrodi, padahal tak jarang kakak-kakaknya meyakinkannya bahwa semua itu bukan kesalahannya. Mereka pasti akan berbuat hal yang sama seperti yang Afrodi lakukan bila adik kecil mereka terancam bahaya.
Namun, tahun demi tahun tetap Zeze jalani dengan memikul beban penyesalan di pundaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Healernya Rhea ternyata 🧐
Oh ya, tentang benang fibrin, itu beneran ada lho. Iya ada, di tubuh kalian, di aliran darah kalian. Ternyata tubuh kita tuh hebat banget ya?
Ayo lanjut baca, scroll scroll 👇
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan