Kehebatan ilmu bela diri serta kejeniusannya dalam bidang obat-obatan, mengantar Zhao Jun ke jurang maut mengerikan!
Zhao Jun dikhianati, dibunuh, dan semua hal termasuk gelar 'Tabib Jenius'-nya itu direnggut oleh sahabatnya.
Kematiannya yang tragis membuat Zhao Jun bersumpah pada langit, bahwa jika dia diberi kesempatan untuk hidup kembali, dia akan membalaskan dendam pengkhianatan ini berkali-kali lipat!
Dan ternyata, Dewa mengabulkannya. Zhao Jun terlahir kembali di tubuh seorang pemuda payah di pinggiran kota.
“Hmph! Aku akhirnya terlahir kembali! Dengan tubuh baruku ini, aku pastikan dendamku terbalaskan!”
Dengan ini, perjalanan Zhao Jun membalas dendam sebagai reinkarnasi Tabib Jenius pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shennaartha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meningkatkan Kekuatan, Datangnya Utusan
Zhao Jun menyunggingkan sudut bibirnya ke atas sampai membentuk senyuman miring yang khas.
“Kenapa? Kau merasa tersaingi olehku, Putri Baili?” tanyanya bercanda.
Dengan status yang tidak dibedakan saat berada di dalam kelas, Zhao Jun berbicara secara lebih santai dan informal. Dia tidak perlu menggunakan 'Anda' dan 'Saya' saat mereka berbincang seperti sekarang.
Baili Yan menyipit tajam dan mendengus dingin, sebelum akhirnya balik badan, pergi begitu saja meninggalkan Zhao Jun yang kini menggeleng tidak mengerti atas sikapnya.
***
‘SLASH! SLASH! SLASH!’
Suara tebasan pedang yang membelah udara malam hari ini menambah semangat Zhao Jun untuk berlatih sampai dini hari nanti.
Dengan kemajuannya yang semakin terlihat jelas, Zhao Jun tidak ingin menyia-nyiakan waktunya barang sedetik pun untuk bermalas-malasan.
Dia harus segera berlatih ilmu bela diri dan memulai kembali basis kultivasinya!
“HYA!”
Zhao Jun mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang mampu dia keluarkan ke arah pepohonan bambu di seberangnya.
‘SLASH!’
‘BOOMMM!’
Sebuah ledakan yang diikuti dengan tumbangnya belasan pohon bambu itu akhirnya terdengar.
Suaranya yang keras berhasil membuat banyak burung kecil yang sudah terlelap nyenyak dalam tidurnya, mendadak bangun dan terbang acak karena panik.
Melihat ini, Zhao Jun menarik nafas dalam-dalam dan kembali berdiri untuk mengatur kembali tenaga dalamnya.
“Fyuh!”
Begitu selesai, Zhao Jun lantas menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia ingin melihat apakah ada petugas patroli keamanan Akademi Istana Obat Ilahi yang datang karena suara gaduh barusan.
“Seharusnya aman,” gumamnya sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang.
Ngomong-ngomong, pedang Zhao Jun ini adalah pedang yang diberikan oleh Raja Obat Baili Cheng sore tadi setelah mereka selesai kelas pembuatan pil obat tingkat satu.
Hal ini lantaran Raja Obat Baili Cheng mendukung penuh pelatihan fisik dan ilmu bela diri Zhao Jun. Jadi dia memberikan salah satu pedang yang dulunya juga sempat menjadi pedang kesayangannya.
Zhao Jun tidak menolak sama sekali.
Dengan adanya pedang asli sebagai sarana pelatihan sekaligus senjata, pelatihannya jelas semakin sempurna. Dia memang sangat membutuhkan pedang asli, alih-alih hanya ranting untuk berlatih.
“Pondasi fisikku mulai kuat dan kokoh, tapi ini masih belum cukup. Tubuh ini masih belum mendapatkan lebih banyak tekanan dan pelatihan yang berat. Aku harus mencari cara lain,” gumam Zhao Jun sambil berpikir keras.
Pada dasarnya, sebelum memulai berkultivasi dan meningkatkan kekuatan spiritual dari dalam tubuhnya, setiap orang perlu menguatkan pondasi fisik mereka terlebih dahulu sebagai wadah dari kekuatan spiritual yang hendak mereka kembangkan nantinya.
Oleh karenanyalah latihan berat seperti pelatihan fisik yang intens, penambahan tekanan dan beban dalam kegiatan sehari-hari sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan kultivasi seseorang.
Zhao Jun pun demikian. Tubuh 'Zhao Jun' muda ini sangat payah dan lemah sejak awal. Butuh latihan fisik yang berat dalam jangka panjang untuk bisa melatih kekuatan spiritualnya.
Namun, setelah berpikir selama lebih dari 10 menit, dia tak kunjung mendapatkan ide yang cocok.
Selain karena dia kini terikat dengan aturan Akademi Istana Obat Ilahi yang membatasi pergerakannya selama seharian, penjagaan yang dilakukan di luar akademi bahkan lebih ketat lagi.
Satu-satunya waktu dan tempat yang bisa dia gunakan secara bebas mutlak untuk berlatih hanyalah saat malam hari di hutan bambu belakang akademi ini.
“Kalau begini, apa yang harus aku lakukan untuk menambah latihan fisikku?”
Zhao Jun mencoba mengingat-ingat semua jenis pekerjaan kasar yang dia lakukan seharian di akademi. Dan yang cukup menguras tenaga adalah memotong kayu bakar gelondongan.
Selain itu, ada agenda yang sangat jarang dipasrahkan kepadanya. Yaitu, mencari kayu bakar dari hutan dan memburu hewan untuk dijadikan menu makan para murid akademi.
Rata-rata, pekerjaan kasar jenis ini akan dilakukan oleh para pekerja senior yang sudah sangat lama bekerja di akademi.
“Mereka bilang, risiko keluar dari zona aman akademi sangat tinggi. Tapi bukankah itu hanya alasan mereka supaya para pekerja baru ataupun murid akademi tidak keluar dari batas aman yang diberikan akademi?”
Senyuman samar muncul di bibir Zhao Jun. Dia akhirnya mendapat ide untuk pelatihannya kali ini. Yaitu mengumpulkan sebanyak mungkin kayu bakar dan melakukan perburuan hewan di hutan.
“Seharusnya tantangan fisik dari dua kegiatan ini jauh lebih membantuku dibanding segala macam kegiatan yang aku miliki sebelumnya.”
Dengan demikian, Zhao Jun pun memutuskan untuk memulai pelatihan ketika malam tiba keesokan harinya. Sebab sekarang, dia ingin melanjutkan kembali pelatihan ilmu pedangnya.
“HYA!”
***
Ketika ayam jantan berkokok dengan lantang keesokan paginya, Zhao Jun sudah berdiri di depan gerbang untuk meminta token keluar akademi.
“Pagi-pagi begini, apa yang ingin kau lakukan di luar akademi?” tanya salah seorang senior yang mencatat nama para murid akademi yang meminta token izin keluar.
Zhao Jun menundukkan kepalanya sedikit. “Aku ingin membeli beberapa bahan obat di pasar. Bukankah itu tidak masalah, Senior?”
Senior lain tertawa setelah mendengarnya. “Tentu saja tidak masalah. Kami hanya bertanya, untuk apa begitu cemas?”
“Ya. Ini tokenmu dan ingatlah bahwa batas jam keluar para murid akademi hanya sampai jam 12 siang! Kalau terlambat, kau pasti tidak akan dibolehkan keluar lagi dari akademi.”
Zhao Jun menerima token itu dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti. Setelahnya, dia langsung berlari keluar meninggalkan akademi secepat mungkin.
Tapi siapa yang menyangka kalau ada seseorang yang sudah mengawasi Zhao Jun sejak Zhao Jun keluar dari kamarnya pagi ini. Dan orang itu adalah Wang Li.
Dengan langkah minim suara, Wang Li kemudian pergi menghadap dua senior penjaga gerbang untuk meminta token keluar juga.
“Wang Li? Tumben sekali kau ingin minta token sendirian sepagi ini? Di mana teman-temanmu?”
Wang Li tersenyum kaku. “Aku sedang bosan dan ingin mencari alat tulis baru di pasar.”
“Oh begitu. Barusan, Xiao Jun juga keluar untuk pergi ke pasar.”
“Benarkah? Tumben sekali. Kenapa dia ingin pergi ke pasar?” tanya Wang Li, memancing informasi.
“Entahlah.” Senior itu mengedikkan bahu dan mengulurkan token pada Wang Li. “Sepertinya dia ingin membeli bahan obat.
“Mungkin, dia ingin membuat pil obat hari ini? Kudengar dia kemarin berhasil membuat pil obat tingkat satu dalam sekali percobaan dan mendapat apresiasi tinggi dari Raja Obat Baili Cheng?”
“Benar. Apalagi Raja Obat Baili Cheng sangat jarang mengapresiasi murid kecuali murid itu melampaui kualifikasinya. Seharusnya, Xiao Jun itu sangat berbakat bukan?” sahut senior lain, yang kemudian diangguki oleh senior yang pertama berbicara.
“Ya. Bocah itu seharusnya sangat berbakat.”
Mendengar pembicaraan dengan topik sensitif ini, warna wajah Wang Li berubah lagi.
Kali ini wajahnya menjadi merah padam. Dia benar-benar menahan amarah dan kebencian atas segala pujian yang diterima Zhao Jun atas keberhasilannya membuat pil obat kemarin!
“Huh! Apa yang hebat? Aku juga bisa!” serobot Wang Li sambil mengambil token keluar dari tangan senior itu dan bergegas pergi meninggalkan gerbang akademi.
Sedangkan dua senior yang semula masih asyik berbincang, kini menatap punggung Wang Li dengan tatapan heran.
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Biarkan saja. Paling-paling dia hanya iri dengan Xiao Jun."
“Oh?”
“Bagaimanapun juga, selama ini dialah yang mendapatkan popularitas dan segala macam pujian, termasuk pujian Raja Obat Baili Cheng. Kini, tiba-tiba saja seseorang datang mengambil alih popularitasnya, dia seharusnya tidak senang.”
“Picik sekali.”
Meski begitu, Zhao Jun yang sudah tiba di pasar ibukota Kekaisaran Bei sama sekali tidak tahu mengenai masalah ini. Dia justru sibuk mencari kios yang menjual bahan obat berkualitas dengan harga miring.
Namun, di tengah kesibukannya mencari kios yang sesuai preferensinya, dia justru dikejutkan dengan kegaduhan yang datang dari arah berlawanan.
“MINGGIR! CEPAT MINGGIR! UTUSAN KEKAISARAN NAN HENDAK LEWAT!”