Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Justin lalu turun dari mobil membukakan gerbang sendiri dan kembali memasukan mobilnya kedalam garasi. Ketika Justin hendak membuka pintu rumahnya, ia di kejutkan oleh sebuah taksi yang berhenti di depan gerbang rumahnya. Seorang wanita keluar dari taksi itu setelah membayar argo. Taksi itu kembali melaju. Pandangan Justin masih samar-samar kepada wanita yang berjalan masuk kerumahnya. Ternyata wanita itu adalah Cici. Dengan dandanan anggun memakai hijab, Cici menghampiri sambil memegang rantang makanan untuk Justin
"Assalamualaikum, Justin!"
Justin terkejut atas kedatangan cici yang secara mendadak, namun ia tetap menghargai tamunya.
"Wa'alaikumussalam, Cici? Ada apa kamu datang malam-malam gini?"
"Maaf kalo aku ganggu, aku cuma mau nganterin makanan ini buat kamu, pasti kamu capek dan belum makan kan habis lembur tadi?"
"Oh, aku udah makan lewat pesan online. Kamu gak usah repot-repot bawain makanan buat aku!"
"Ach, gapapa kok Jus. Aku cuma pengin bantuin kamu. Jihan kan lagi gak ada, pasti rumah kamu gak ada yang ngurus. Aku kan sodara kamu, jadi wajarlah kalo aku bantuin membereskan rumah kamu!"
"Ach gak usah, Ci. Biar aku aja, kamu kan juga capek habis pulang kerja ... "
"Gapapa kok Justin aku malah senang bantuin kamu!"
Cici lalu memberikan rantang makanannya kepada Justin, kemudia Cici langsung nyelonong masuk kedalam rumah. Tanpa disuruh ia langsung beres-beres ruangan. Justin merasa tidak enak hati, ia hanya tercengang melihat Cici yang begitu sigap membereskan rumahnya.
"Justin, kenapa kamu masih berdiri disitu? Ayo makan! Kamu curiga aku taruhin racun yah?" Ucap Cici sedikit nyeletuk.
"Oh ... iya deh! Aku percaya kok sama kamu. Makasih yah, Ci. Tapi kamu gak nginep disini kan?"
Cici tersenyum berdiri menatap Justin, menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Iya lah kalo udah selesai aku pulang kok, kita kan bukan mukhrim! Tenang aja, nanti aku pesan taksi online!"
"Oh, gitu. Baik banget kamu Ci sama aku!"
Cici kembali tersenyum, memasang wajah lembut.
"Kamu juga udah baik sama aku, Justin. Biarin aku membalas kebaikan kamu, kalo bukan kamu yang kasih kerjaan sama aku, siapa lagi? Aku bisa jadi gembel di Jakarta ini!"
Justin memahami perkataan Cici. Justin masuk kamar mengganti baju dan kembali keluar ke ruangan meja makan. Ia membuka rantang-rantang makanan itu. Cici memasak yang spesial untuk Justin berupa opor ayam, tumis tahu dan sayur bayam serta nasi yang siap di makan untuk Justin. Cici memandangi Justin dengan senang karena Justin memakan masakannya dengan lahap. Cici terus melakukan pekerjaannya dari mulai beres-beres, mencuci piring, menyapu lantai sampai merapikan kamar.
"Justin, maaf yah aku masuk kamar kamu, mau merapikan tempat tidur aja kok!"
"Oh, iya silahkan Ci."
Cici merapikan tempat tidur Justin dan menyemprot ruangan agar wangi. Sekilas ia melihat foto Justin dan Jihan yang sedang bermesraan. Tersentak hatinya terbakar.
"Jihan! Beruntung sekali lo, sampai kapanpun gue gak rela Justin sama lo. Liatin aja gue bakal bisa ngerebut Justin dari lo!" Batin Cici bergumam.
Setelah selesai membereskan kamar Cici lalu kembali keluar menuju ruang tamu. Justin sedang duduk santai di sofa. Cici hendak berpamitan pulang.
"Semua udah selesai, aku pulang dulu ya Jus. Besok aku akan kesini lagi, kamu pokoknya gak usah mikirin rumah, biar aku yang ngurus selama Jihan gak ada. Dan kamu jangan punya pikiran macam-macam sama aku, anggap aja ini sebagai tanda bukti terima kasih aku sama kamu," ucap Cici.