Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!
Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!
Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Dua Sosok
“Nona Nina. Aku sudah siap,” seru Dean di teras.
“Tunggu aku di samping kamar."
Dean berjalan ke sana, Nina segera ke gudang mengambil kebutuhan bercocok tanam. Segala peralatan dan bibit dibawanya semua keluar rumah. Cangkul, garpu tanah, sarung tangan, dan lain sebagainya diletakkannya di tanah, setibanya.
“Harusnya kau bilang, biar aku bantu," protes Dean.
“Sudah, kau jangan banyak omong. Ayo, kita mulai.”
Setelah mereka memakai sarung tangan, Nina menyerahkan cangkul ke karyawannya.
“Tolong uruk tanah sekitaran sini," unjuknya.
“Oke."
“Jangan sampai kena tanaman di sebelahnya ya."
“Oke.”
Srok... Srok... Srok...
Dean mencangkul. Seraya mengerjai, dia mengajak bicara.
“Kau mau tanam apa?”
“Tanaman berkhasiat.”
“Bukankah beberapa hari lagi kita akan petik sayur dan tanaman di sini? Kenapa tidak nanti saja menanamnya?”
“Karena tanaman yang mau aku tanam ini sangat mahal, dan langka. Susah cari bibitnya. Tumbuh dalam jangka 1 bulan. Jadi tanam sekarang saja dari pada rusak. Lagian kan bagus, pas bulan depan kapal pengangkut hasil Bumi datang, sudah bisa dipanen.”
"Oo... Begitu. Lantas, kalau tanaman yang sudah ada, beberapa lama tumbuhnya?”
“Ada yang hitungan hari, minggu, dan berbulan-bulan.”
“Berbulan-bulan?"
"Iya."
"Untuk itu, berarti kalau lagi tidak musim panennya, penghasilan kau dikit ya?”
“Nggak masalah. Seperti kemarin aku bilang, aku tinggal sendiri. Aku tidak banyak kebutuhan. Aku juga kan punya tabungan. Lagi pula, misalkan aku kelaparan, kan sudah kubilang aku bisa cari makan dengan memanfaatkan sumber alam di sini, ternak, dan ladangku."
“Oh ya, ngomong-ngomong sumber alam, bagaimana nanti sore kita mancing? Waktu itu kau hanya memberiku tulang dan kepala ikan saja.”
Mengerutkan dahi. “Kau sedang menyindirku?”
“Bukan... Kau jangan tersinggung. Aku hanya bicara apa adanya. Kan aku memang belum mencicipi ikan-ikan di sini. Selain itu, aku ingin main ke pantai bersama kau. Tempat aku terdampar."
“Yah... Baiklah.”
Tak lama Dean selesai. Nina menggunting plastik yang berisi bibit. Namun ditengah mengerjai, dia memekik kecil karena lupa sesuatu.
“Astaga! Aku lupa bawa kompos.”
“Ya sudah, biar aku saja yang ambil." Dean berinisiatif mengambil, lekas berjalan.
“Kau ambil di gudang ya, di rak khusus untuk perkakas.”
Menaikkan satu tangan. "Oke.”
Selagi Dean melangkah, Nina mencangkul. Karena dia merasa tanah yang diuruk Dean masih kurang.
Sementara itu, Dean setiba di sana, matanya menyapu sekitaran. Usai tahu tempatnya, dia mengambilnya. Namun sebelum pergi, ada yang menarik perhatiannya. Dari kemarin sejatinya dia sudah lihat, tapi mumpung lagi sendiri ingin sekali diketahuinya. Ada 2 koper besar di sudut ruangan.
Demi membuang rasa penasarannya, diletakkannya semua kompos di tangan ke bawah. Diambilnya koper-koper itu, dibongkarnya. Alangkah terkejutnya dia, rupanya isinya semua pakaian pria. Yang satu pakaian model tua, yang satu lagi seusianya. Untuk yang seusianya, bila diterka berupa pakaian-pakaian mahal. Hanya orang berkocek tebal yang dapat membelinya.
Kalau pakaian tua, apa itu milik Ayah Nina? Tapi yang satu lagi, siapa? Apa Nina sebenarnya anak orang kaya, dan itu pakaian milik kakaknya? Atau adiknya? Atau jangan-jangan itu milik, kekasih Nina? Jadi, apa Nina punya kekasih? Namun kenapa juga Nina tidak memberikan kepadanya? Soalnya jika dikasihnya, dan jika benar dugaannya kekasih Nina orang kaya, atau Nina sendiri orang kaya, itu bisa di beli lagi. Ah, entahlah... Wanita satu itu memang memiliki segudang misteri. Dia harus menyelidiki dulu.
Dia lekas merapihkan dan meletakkan kembali ke posisi semula. Lalu dia keluar. Sebelum tiba, matanya terbelalak lihat pujaannya mencangkul. Lekas dia berjalan cepat, meletakkan yang ada di tangan ke tanah, dan merampasnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Terkejut, menoleh. “Kau! Buat kaget saja.”
“Seharusnya kau tunggu aku. Biar aku yang mengerjakan.”
“Kenapa aku harus menunggu? Kalau aku mau garap, ya garap saja."
“Aku tahu, kau biasa mengerjakan hal begini. Tapi selama ada aku di sini. Semua pekerjaan kasar, biar aku yang kerjakan."
“Kenapa sekarang kau suka mengaturku?"
Rupanya terjadi perebutan lagi. Dua orang ini memang sama-sama keras kepala. Namun kali ini perang rampas-rampasan sukses membuat wanita itu benar-benar terpental.
Gedebug!
“Aduh..." Nina merintih.
“Astaga..." Dean lekas melepas cangkul yang berhasil dirampasnya, dan segera menolong.
“Tidak usah!” tepis Nina kasar.
Lagi-lagi, terjadi dorong-dorongan. Nina bersikeras ingin bangun sendiri, Dean bersikeras ingin menolong. Agar Nina kalah, akhirnya Dean jadi melakukan pergerakan yang membuat lawannya tidak berkutik. Diangkatnya tubuh pujaannya, dipanggulnya ke atas bahunya. Sontak yang diangkat mendadak tersebut terkejut.
“Hei, apa yang kau lakukan!" protes Nina, bersama kedua kaki melandai-landai.
“Diam!”
Nina melotot baru kali ini dihardik. Biar begitu dia tetap meronta-ronta. Ditambah lagi, memukul-mukul keras punggung.
“Turunkan aku! Turunkan aku...!!!"
Setiba di kamar, Dean merebahkan tubuh yang nggak bisa diam itu hati-hati di atas ranjang. Tetap nggak terima atas perlakuan yang didapatnya, sebaik di rebahkan, Nina bangkit. Namun nyeri di pantatnya nggak bisa diajak kompromi.
“Aduh....,” rintihnya, rebahan lagi.
“Makanya kau ini jangan melawan. Sakit, 'kan?”
“Ini semua gara-gara kau!” kecam Nina.
Dean membungkukkan badan, mendaratkan mukanya tepat ke si pemilik mata kucing. Seketika yang didekatinya membeku.
“Oh ya? Apa gunanya aku di sini, kalau kau selalu mau mengerjai sendiri? Mm?”
Membisu. "........"
“Apa kau lupa ada kehadiranku di sini?”
Tetap diam saja.
Beranjak, bicara sambil lalu. "Sebaiknya kau istirahat. Aku saja yang melanjutkan. Aku bisa bercocok tanam. Tadi kau menguruk lagi berarti masih ada yang kurang ya. Baiklah. Dan juga masalah domba, biar aku saja nanti yang menggembala."
Nina merab*-rab* detak jantungnya selepas orang yang membuatnya mematung hilang dari pandangan. Debaran apa ini? Kenapa kali ini kencang sekali?
Selesai mengerjakan, Dean ke peternakan melepas domba-domba dituntunnya semua keluar. Dibawanya ke jalur kemarin yang dilintasi mereka. Sepanjang jalan, dia merasakan sosok itu lagi. Tapi saat ini dia nggak bisa mengejar karena domba-domba itu takutnya berlarian kemana-mana akibat nggak ada yang memandu.
**********
“Kau sudah baikan?” tanya Dean.
Pagi sudah berlalu, siang terik pun sudah berlalu. Dean pergi menemui boss cantiknya. Yang ditemuinya sedang sibuk mengangkat jemuran.
"Ini, sudah sore. Bagaimana? Kau bisa memancing?" lanjutnya.
“Iya, aku sudah baikan. Ayo, kita pergi.”
Jala, kail, tombak, pancingan, kotak pendingin merupakan wadah menaruh ikan hasil pancingan, dan segala atribut yang menunjang memancing di bawa mereka. Mereka menyusuri pemukiman, dan terus berjalan hingga menuju pantai.
“Ayo, kita naik ke atas sana,” tutur Nina, setiba mereka dengan mengarahkan tangan ke bebatuan cadas di pinggir pantai.
(Gambar hanya ilustrasi)
“Oke.”
Semua barang lekas diletakkan mereka ke bawah setiba di atas. Dean mengail umpan, melempar tali pancing ke laut. Nina mengambil tombak dan jala, lalu bergegas turun ke bawah.
“Hei, kau mau kemana?” tegur Dean.
“Aku mau menombak.”
Mendelik. "Menombak?”
“Iya, kau di sini dulu. Nanti aku balik lagi.”
Mencegah. “Aku bisa mengerjai itu. Biar aku saja."
Menerangkan. "Tidak usah. Ini bukan karena aku tidak suka dibantu. Juga, bukan karena ini kerjaan laki-laki. Tapi aku suka yang namanya urusan menombak."
Dean pun jadi pasrah membiarkan Nina terus melangkah turun. Sesaat kemudian, dari atas batu, dia mengamati orang yang di bawah melakukan aksinya.
“Wow...”
“Ckckck...”
Maklum, baru kali ini seumur hidupnya lihat wanita menombak.
Sementara itu dari kejauhan, sosok itu kembali diam-diam memperhatikan. Sejatinya pria yang sedang memancing itu sudah merasakan. Tapi sekali lagi, dia tak bisa bergerak karena sedang bersama wanita pujaannya.
Namun... jauh dari sepengetahuannya, ada sosok lain yang sedang mengamati mereka juga. Dan hal itu diketahui oleh sosok yang sudah kita ketahui bersama seorang wanita. Saat wanita itu ingin pergi meninggalkan lokasi, dia melihat seorang pria yang merupakan tetangganya berdiri diantara pepohonan. Yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berada.
Jujur, dia sudah beberapa kali melihat. Apa yang dilakukan tetangganya itu? Kenapa sama sepertinya sering mengintip kegiatan Nina?
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah greget baca dewi dan mas kris