Kisah seorang gadis desa yang harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal, hanya karena dia pernah menolong ibu dari pria tersebut.
Devan Pratama dan Hanum Umaizah ialah dua anak manusia yang tidak pernah bertemu sebelumnya, kini mereka berdua di persatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Akan kah, mereka berdua dapat melewati kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka berdua??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 27
Setelah semuanya duduk, pak Aldi yang mewakili pihak keluarga Hanum memulai acara tersebut.
" Assalamualaikum warahmatullahi, perkenalkan saya Aldi saya ini masih bersaudara dengan orang tua nya nak Hanum" ucap pak Aldi.
" Tadi saya mendengar dari pak Wildan, jika keluarga pak Airlangga bermaksud ingin melamar anak kami yaitu Hanum, apakah benar itu pak?" lanjut pak Aldi.
" Jadi begini pak Aldi, memang benar kedatangan kami sekeluarga ingin melamar putri bapak yaitu Hanum " ucap pak Airlangga.
" Lebih tepatnya, seminggu yang lalu kami sekeluarga datang ke rumah putra bapak dan ibu yang bernama Juna, putra kami sudah menyampaikan niat nya untuk mempersunting putri bapak yaitu Hanum, mungkin putri bapak dan ibu sudah bercerita tentang hal ini" ucap pak Airlangga.
" Tetapi nak Hanum belum bisa memberikan jawaban atas lamaran putra saya Devan, kata nya dia belum memberitahu kedua orang tua nya. Jadi, dia meminta waktu" lanjut pak Airlangga.
" Iya memang benar, beberapa hari lalu Hanum mengatakan jika ada seorang laki-laki yang melamar nya, dan dia juga berkata dia belum memberikan jawaban atas lamaran nak Devan" kata pak Wildan.
" Jadi, maksud kedatangan kami sekeluarga ingin mendengarkan jawaban atas lamaran Devan" ujar pak Airlangga.
" Apa boleh kak Aldi bertanya, apa benar nak Devan pernah menyampaikan niat nya untuk melamar kamu Num?" tanya pak Aldi.
" Iya benar kak, waktu aku itu mas Devan dan keluarga nya datang ke rumah kak Juna dan mas Devan melamar aku kak" jawab Hanum.
" Lalu apa kamu sekarang sudah memiliki jawaban atas lamaran mas Devan, Num?" tanya pak Aldi.
" Aduh! Kenapa aku malah merasa kurang yakin dengan jawaban yang akan aku sampaikan ya?!" batin Hanum.
" Tapi, jika aku menolak lamaran mereka, pasti bukan hanya keluarga nya saja yang merasa malu tetapi bapak dan mama juga akan menerima sindiran dan celaan dari para tetangga" ucap Hanum dalam hati.
" Jadi, aku harus bagaimana ya Allah" ucap Hanum dalam hati.
" Bagaimana Num, apa kamu sudah memiliki jawaban atas lamaran mas Devan?" tanya pak Aldi lagi.
" Iya, sudah kak" jawab Hanum.
" Bismillahirrahmanirrahim, semoga jawaban ku ini adalah salah satu jalan terbaik, meskipun aku belum tahu mas Devan setuju atau tidak " ucap Hanum dalam hati.
Hanum menarik napas dalam-dalam lalu dia berkata " Bismillahirrahmanirrahim, iya aku menerima lamaran mas Devan ".
Devan terkejut mendengar jawaban Hanum.
" Apa!! Dia mau menerima lamaran ku!!" ucap Devan dalam hati.
" Alhamdulillah" ucap semua orang.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar, dan kedua keluarga sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan dua minggu lagi.
Setelah acara selesai, Hanum menemani Devan berkeliling di sekitar rumah nya.
Selama perjalanan tidak ada satu kata pun terucap dari bibir Devan dan Hanum, mereka berdua sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kini mereka sampai di persawahan dekat rumah sepupu Hanum.
Mereka masih sama-sama diam, hingga ada seseorang yang baru pulang dari kebun bertanya kepada Hanum " Lagi apa Num?".
" Ini lagi lihat-lihat nya orang mbak, ternyata sudah mau masuk musim panen" jawab Hanum.
" Iya Num, mungkin satu minggu lagi masuk musim panen Num " jawab seseorang tersebut.
" Kalau mbak Yuli dari mana?" tanya Hanum.
" Dari kebun Num" jawab Yuli.
" Ini siapa kamu num?" tanya Yuli.
" Insya Allah, calon mbak" jawab Hanum.
" Oh! Berarti sebentar lagi bakal menyusul Via dong" kata Yuli.
" Amin" jawab Hanum sambil tersenyum.
" Yasudah! Kalau begitu mbak pulang dulu ya" kata Yuli.
" Iya mbak, hati-hati " jawab Hanum.
Setelah berpamitan, Yuli pergi meninggalkan Hanum dan Devan.
Dan keheningan kembali terjadi.
"Ehem!! Kamu kenapa mau menerima lamaran saya?" tanya Devan mengakhiri keheningan di antara mereka.
Bukan nya menjawab pertanyaan Devan, Hanum malah bertanya kepada Devan " Kenapa mas Devan tanya seperti itu?".
" Iya, karena saya ingin tahu alasan kamu menerima lamaran saya, padahal kamu belum tahu siapa saya dan apakah saya memiliki kekasih atau tidak "jawab Devan.
Hanum hanya tersenyum mendengar jawaban Devan.
" Kenapa kamu malah tersenyum?" tanya Devan heran melihat reaksi Hanum.
" Memang tidak boleh ya kalau saya tersenyum, bukan nya senyum itu ibadah?!" ujar Hanum.
" Iya boleh, tapi kan yang saya butuhkan itu jawaban kamu bukan hanya senyuman kamu saja!" ujar Devan.
" Yang di katakan mas Devan memang benar, saya belum tahu siapa mas Devan sebenarnya dan saya juga tidak tahu mas Devan mempunyai kekasih atau tidak " kata Hanum.
" Dan alasan kenapa saya menerima lamaran mas Devan itu karena saya yakin kalau mas Devan adalah laki-laki yang di pilih Allah untuk saya" lanjut Hanum.
" Meskipun aku tahu seperti nya mas Devan berharap agar aku menolak lamaran nya" batin Hanum.
Devan tercengang dengan jawaban Hanum.
" Terus, kalau memang saya memiliki kekasih, apa kamu bersedia untuk membatalkan pernikahan ini?" kata Devan.
" Karena saya sangat menyayangi kekasih saya dan saya tidak ingin berpisah dengan nya" imbuh nya.
Deg!!!
Jantung Hanum seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan Devan.
Hanum berusaha untuk tetap tenang, agar Devan tidak mengetahui isi hati nya saat ini.
" Kalau memang mas Devan sudah memiliki kekasih, kenapa mas Devan tidak mengatakan nya saat ibu nya mas Devan melamar saya di rumah kak Juna. Jadi saya bisa langsung menolak nya, tidak seperti sekarang?!" ucap Hanum.
" Itu saya lakukan karena saya tahu bagaimana sifat mama, kalau beliau menginginkan, pasti beliau akan melakukan semua cara agar keinginan nya tercapai " jawab Devan.
" Dan juga aku tidak mau mamaku sakit nya kambuh lagi, jadi aku terpaksa menerima nya" imbuh nya.
Hati Hanum saat ini benar-benar hancur, karena laki-laki di depan nya ternyata telah berbohong kepada dirinya hanya.
" Jadi, apakah kamu mau membatalkan pernikahan ini setelah kamu mengetahui semua nya?" tanya Devan menatap Hanum lekat.
" Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jawaban apa yang akan katakan, aku bingung" ucap Hanum dalam hati.
Hanum tidak tahu jawaban apa yang harus dia katakan kepada Devan, jika dia tiba-tiba menolak dan membatalkan pernikahan ini dia khawatir orang tua nya akan sangat terpukul tapi, jika dia tetap menikah dengan Devan yang ada dia akan menyakiti hati sepasang kekasih yang saling mencintai.
Huft!!!
Hanum menghela napas dalam-dalam, lalu dia berkata " Maaf mas, tapi saya tidak bisa membatalkan pernikahan ini mas".
" Kenapa? Kan kamu tinggal mengatakan bahwa kamu tidak mau menikah dengan saya. Gampang kan?!" ujar Devan.
" Iya mas memang bicara seperti itu" jawab Hanum.
" Kalau memang gampang terus, kenapa kamu tidak bisa?!" kata Devan.
" Karena saya memikirkan dampak negatif jika saya membatalkan lamaran ini mas" jawab Hanum.
" Memang apa dampak negatif nya? Paling hanya menjadi bahan ghibah oleh tetangga kan? Dan itu paling lama hanya dua atau tiga hari saja, setelah itu akan redam dengan sendirinya kan?!" ujar Devan.
" Yang dikatakan mas Devan memang benar, tetapi ini di kampung bukan di kota. Kalau di kampung akan menjadi bahan omongan dengan waktu yang lama mas" jawab Hanum.
" Bahkan jika orang tersebut sudah tidak ada, mereka masih akan tetap membicarakan nya" imbuh nya.
" Apalagi orang tua saya sudah sepuh, saya tidak mau di masa tua beliau, beliau mendengar gosip tentang saya yang tiba-tiba membatalkan lamaran mas Devan" kata Hanum.
Devan terkejut saat mendengar jawaban Hanum.
lanjuuuuit