Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 : Enough!
Paginya Aluna bangun, dalam pelukan pria yang sama. Wajah gadis itu berubah, jika biasanya dia bahagia berada dalam pelukan itu, kali ini wajahnya berubah datar, matanya menyorotkan kekecewaan yang begitu besar ketika bayangan kejadian semalam berputar dikepalanya.
Aluna bergerak tidak nyaman, pelan-pelan berusaha menjauhakan tubuhnya dari pelukan Gabriel.
Gerakan Aluna mengusik pria itu, manik itu mengerjap, menunduk menatap gadis yang bergerak tidak nyaman dalam pelukannya.
"Aluna." Gabriel merasakan tubuh gadis itu menegang. Gadis itu menundukan kepalanya, berhenti bergerak dalam pelukan Gabriel.
"Aku ingin pergi." sekarang tubuh Gabriel yang menegang. Pria itu mengerjap, semakin menarik tubuh Aluna. Dia tahu maksud Aluna, gadis itu pasti kecewa. Dia pasti ingin pergi, jauh dari Gabriel. Dari seseorang yang melukainya.
Gabriel tidak menjawab, menenggelamkan wajahnya diantara rambut tebal Aluna, hening. Tidak ada suara, Gabriel tidak tahu harus mulai dari mana.
Tubuh pria itu membeku merasakan getaran dalam pelukannya. Suara sesegukan terdengar, hati pria itu diremas kuat, sakit yang teramat sangat.
"Tidak, tidak Aluna. Kau tidak akan kemana-mana."
"Apa lagi yang kau inginkan!" Aluan berteriak, memberontak sekuat yang ia bisa, memaksa tubuhnya terlepas dari pelukan Gabriel.
Tubuh gadis itu jatuh, menghantam lantai meski tidak terlalu keras. Gabriel bangkit secepat yang ia bisa ikut turun kelantai.
Aluna mengangkat wajahnya, ada air mata disana, menggenang kemudian turun membasahi pipi gadis cantik itu.
"Cukup Gabriel! Cukup! Aku akan mati jika seperti ini terus!" Aluna berteriak, hatinya sakit. Rasa sakit akibat goresan dipunggungnya terasa begitu menyakitkan.
Tidak ada perempuan yang suka disakiti, terlebih oleh orang yang mereka cintai.
Gabriel mendekat, Aluan mundur dengan raut wajah ketakutan, satu goresan lagi tercipta didada pria itu. Matanya mengerjap, dadanya bergemuruh tidak terima, tatapan itu sudah lama tidak ia dapatkan, Alunanya takut kepadanya.
"Kau tidak akan mati, tidak akan, aku sendiri yang akan membunuh siapapun yang menyakitimu." Gabriel kalut, tubuhnya bergetar pikirannya kacau.
"Kau yang melukaiku Gabriel, kau yang menghancurkan aku! Kau, itu kau Gabriel!"
"Itu kerena kau bersamanya Aluna, kau bersama pria sialan itu! Demi Tuhan! Kenapa harus dia!" Gabriel menaikan sedikit suaranya, Demi Tuhan! Apapun yang berkaitan dengan Draco adalah hal tabu bagi Gabriel, trauma itu tidak pernah bisa hilang dari otaknya.
Gabriel sudah mengusahakan apapun, bahkan ia masuk rumah sakit jiwa selama 4 tahun.
Gabriel berubah untuk Aluna, dan Aluna juga yang membawa sisi yang hampir sepenuhnya berubah itu kembali. Gabriel tidak mau, dia tersiksa dengan semua bayangan penuh darah itu.
Dia tersiksa dengan jiwa pembunuh yang tertanam akibat traumanya.
"Kau tidak pernah bercerita apapun tentang semua itu Gabriel! Kau tidak pernah ingin membagi apapun denganku. Kau jauh! Kau gelap, dan aku buta tentang mu. Aku tidak bisa melihat apapun yang tutupi." Aluna menurunkan nadanya, nafasnya naik turun kelelahan, air matanya tidak berhenti jatuh.
"Aku takut, aku takut Aluna! Aku takut melakukan hal yang Draco lakukan kepada ibuku. Aku takut kau mati! Aku takut aku membunuhmu seperti aku Draco membunuh ibuku." Mereka sama-sama terduduk dilantai, dengan jarak yang cukup memisahkan. Nafas keduanya terengah, dengan sama-sama terluka, keduanya hancur.
"Biarkan aku pergi!" Aluan berujar memohon, nafasnya mulai tenang. Keheningan mengisi kamar Gabriel.
"Tidak akan pernah Aluna," ujar Gabriel dengan mata terluka, sebesit kilat kemarahan terpancar disana. Gabriel bangkit dengan wajah datar dan aura dingin.
"Kalau begitu, bersiaplah bertemu mayatku."
🕸🕸🕸🕸🕸🏵🕸🕸🕸🕸🕸
Suasana tegang menyelimuti kediaman Gabriel, dengan suasana buruk dihatinya Gabriel tidak berangkat bekerja, memutuskan untuk diam dirumah dan mengawasi Aluna.
Gadis itu belum turun juga, Gabriel melirik jam dinding, sudah pukul 10.45 pagi. Rasa cemas menghantui pria itu.
Gabriel bangkit, melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, kamar itu kosong, dengan panik Gabriel melangkah masuk, mengecek seluruh isi ruangan, kemudian berhenti didepan kamar mandi.
Terkunci, Aluna ada didalam.
"Aluna." Gabriel memanggil, tidak ada sahutan dari dalam. Bahkan suara air yang mengalirpun tidak terdengar.
"Aluna jawab aku!" suara panggilan semakin keras, namun sama sekali tidak ada sahutan. Gabriel panik menedang-nendang pintu dengan keras. Kemudian mendobrak pintu kamar mandi.
Tubuh Gabriel menegang, matanya bembelalak menatap sosok yang tenggelam dalam bak mandi. Gabriel melangkah cepat, mengangkat tubuh dingin itu keluar dari air. Nafas Aluna terdengar keras, bibirnya bergetar berubah warna, masih dengan kalian lengkap.
Aluna berusaha bunuh diri?
Gabriel menggendong gadis itu keluar, membaringkan tubuh lemah itu keatas tempat tidur.
Aluna membuka matanya, melirik Gabriel yang tampak jangan diam, matanya menajam. Membantu Aluna mengganti pakaiannya yang basah dalam hening.
Pria itu marah.
"Apa yang kau pikirkan?" Setelah selesai mengganti pakaian Aluna Gabriel duduk diatas tempat tidur, menatap gadis yang mengalihkan pandangan dari pria itu dengan enggan.
"Aku sudah mengatakannya padamu, kau akan bertemu mayatku." suara Aluna lemas namun tajam. Menatap balik Gabriel dengan kilat marah yang kentara.
"Apa yang kau dapat jika melakukan itu!" Gabriel hampir berteriak frustasi, apa yang akan didapatkan dari membunuh diri sendiri! Apa yang gadis itu pikirkan, apa yang Gadis itu bayangkan akan terjadi? Apa yang sebenarnya terbesit dalam kepala cantik itu.
"Kehancuranmu." Gabriel menegang, menatap Aluna dengan dengan mata meredup.
Gabriel menghela nafas, meraih tangan Aluna merasakan kulit dingin itu.
"Kau benar, kau akan mendapatkan kehancuran ku." Gabriel tersenyum pahit. Aluna membencinya kah?
"Kau boleh pergi." Aluan mengangkat wajahnya tidak percaya. Gabriel mengatakan apa?
"Besok aku sendiri yang akan mengantarkan kau ke tempat barumu." Gabriel menunduk, tidak ada yang dapat ia lakukan sekarang. Kepercayaan Aluna sudah hancur.
"Tidak, aku akan pergi sendiri." Aluna menolak, menarik nafasnya mengumpulkan keberanian.
"Aku tidak ingin apa-apa lagi darimu."
"Kau akan pergi dan aku yang akan mengantarmu, kau akan membawa semua yang aku berikan untukmu, termasuk toko baju itu. Dengar Aluna, biarkan aku melakukan ini. Kau tahu aku bisa saja mengubah pemikiranku jika kau menolak." Aluna terdiam, menatap Gabriel dengan dalam diamnya.
"Kau hanya perlu membawa semua itu, dan aku akan berusaha menghilang dari hidupmu."
Leave comment guys, kalian bener bener bikin aku semangat
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy