Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 HTA
"Halo ...!"
"Halo Moza, sayang! Daddy kangen nih, kamu kesini dong!"
"Hmm ... sekarang?"
"Boleh! Kalau kamu nggak sibuk."
"Oke Dadd! Tunggu Aku ya!"
Setelah Moza menutup ponselnya, Ia pun segera menghampiri Nurmala. "Sudahlah, Ma! Moza mohon sama Mama, Moza tidak ingin menikah dulu, biarkan Moza menentukan hidup Moza sendiri, Oke!"
Setelah mengatakan hal itu, Moza segera pergi meninggalkan Nurmala, gadis itu segera mengambil tasnya dan pergi menemui Arthur.
"Kamu mau kemana malam-malam begini, Moz?" tanya Nurmala khawatir, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Bukan urusan Mama!" jawabnya sembari terus berlalu meninggalkan Nurmala sendiri di rumah mewah itu.
"Moza tunggu! Jangan pergi, Nak! Ini sudah malam, lagipula siapa yang kamu temui, Mama khawatir sama kamu!" seru Nurmala sembari menahan tangan anak tirinya itu.
"Udah deh, Ma! Mama itu bukan Ibu kandung Aku, jadi Mama nggak usah ngatur-ngatur Aku, lebih Mama di rumah aja, ngga usah bawel deh!" sarkas Moza sembari melepaskan tangannya.
"Maafkan Mama! Mama tahu jika Mama bukan Ibu kandung mu, tapi Mama sudah berjanji kepada Almarhum Papa kamu untuk menjagamu, Moza! Jadi, tolong mengertilah! Mama cuma tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu, apalagi kamu anak gadis, jadi Mama sangat khawatir dengan keselamatan mu!"
"Udah ya, Ma! Moza bukan anak kecil lagi, Moza udah gede, Moza bisa jaga diri sendiri, Mama nggak usah khawatir lagi." mendengar penuturan dari sang anak tiri, Nurmala pun memberi tahukan jika Ia pernah melihat sang anak sedang jalan berdua dengan seorang pria dewasa yang layaknya ia anggap sebagai Ayahnya, tapi Moza terlihat begitu mesra saat jalan bersama pria yang diketahui bernama Arthur itu.
"Oke Mama ngerti kamu udah dewasa, kamu udah mandiri, hanya saja Mama mohon, jangan pergi bersama pria itu, kemarin Mama tidak sengaja melihat mu jalan bersama Arthur, kamu tahu Moz! Dari dulu Arthur itu musuh Almarhum Papa kamu, ya meskipun Mama tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi antara almarhum Papa dan Arthur, tapi Papa sangat membenci nya, bahkan sebelum Papa ngga ada, beliau selalu berpesan untuk menjauhkan keluarga nya dari pria itu, makanya itu Mama mohon jauhi pria itu dan menikahlah dengan pilihan Mama, Mama yakin kamu pasti suka!"
Moza yang sudah tidak peduli lagi dengan ucapan dari Ibu tirinya, Ia pun terus menyangkal jika Arthur adalah pria baik-baik.
"Dia itu pria baik-baik, Ma! Moza ngga bisa menjauhi dia, Moza udah jatuh cinta sama dia, dan Moza akan memberikan apapun yang Moza punya, jadi Mama nggak usah larang-larang Moza untuk bertemu dengannya!"
Setelah mengucapkan itu, Moza dengan segera pergi begitu saja meninggalkan Nurmala yang terlihat bersedih, Ia hanya bisa menatap sang anak tiri yang pergi sembari berlari menuju ke mobilnya.
"Moza! Aku tahu Aku bukanlah Mama mu, tapi kamu sudah Ku anggap seperti anakku sendiri, sama halnya dengan Nayla, Aku harus menjaga kalian, suatu hari nanti Mama akan membawa Nayla ke rumah ini, Pak Sudarsono dan Bu Lilis sudah tiada, tidak ada lagi yang menjaga Nayla, Aku harus membawanya pulang kembali, masih ada Aku Ibu kandungnya. Tapi, apakah Nayla masih mau menerimaku?" sejenak Nurmala membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya mengaku sebagai Ibu kandung dari Nayla, apakah Nayla bahagia atau justru tidak bisa menerima kehadiran nya.
*
*
*
*
Sementara di kediaman keluarga Adams, Nayla yang saat itu terus digandeng Gerald, tanpa sadar mereka melewati kamar Nayla, dengan cepat Nayla menarik tangan nya dan berhenti. Tentu saja itu membuat Gerald spontan menoleh ke arah Nayla.
"Ada apa?"
"Abang mau bawa Aku ke mana? Ini kamarku." jawab Nayla sembari menunjuk ke arah kamar tidurnya. Sejenak Gerald tersenyum dan mendekati istrinya.
"Abang mau bawa kamu ke kamar Abang!" jawabnya sembari meletakkan satu tangannya bersandar pada pintu kamar Nayla, sementara Nayla berdiri di depan pintu kamarnya mereka saling berhadapan.
"Ke kamar Abang? Abang gila!" Nayla tampak tersipu malu.
"Ya nggak apa-apa dong! Kamu kan istriku, sah-sah saja jika kita tidur dalam satu kamar!" balas Gerald dengan tatapan nakal nya.
"Diihh ... yang ada Nay ngga bakalan bisa tidur." Nayla berkata sembari menatap bola mata yang selalu menatap mesra itu.
"Kata siapa? Di kamar Abang ngga ada nyamuknya kok! Kamu bisa tidur dengan nyenyak dalam pelukan Abang, dengan begitu Abang tidak perlu mengendap-endap lagi masuk ke dalam kamar mu." seketika Nayla membulatkan matanya saat Gerald mengakui jika dirinya pernah mengendap-endap masuk ke dalam kamar Nayla.
"Apa? Jadi Abang pernah masuk secara diam-diam ke kamar Adik kamu ini? Dasar Abang gila!" spontan Gerald tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang istri.
"Bagaimana Abang tidak gila, Nay! Abang harus menahan rasa itu lama sekali, bertahun-tahun sejak Abang menikahi mu, coba bayangkan di rumah ada isteri sementara Abang harus menahan untuk menyentuhnya, padahal Abang udah pingin banget bersamanya, iya dulu kamu masih SMP saat Abang nikahi, Abang biarkan dulu, sabarlah hati Abang menunggu kamu dewasa, Abang melihat mu tumbuh semakin dewasa setiap hari, dan saat itu perasaan Abang semakin membara, Abang ingin sekali menyentuhmu dan mengatakan jika Abang adalah suamimu. Tapi, sekarang kamu sudah mengetahui semuanya, jadi apa salahnya jika Abang ingin selalu berdua dengan istri Abang." ungkapan perasaan Gerald dimana dirinya harus menahan hasrat itu bertahun-tahun.
"Hmm ... Nay tahu, tapi bagaimana dengan Oma, Bang? Bagaimana reaksi Oma saat tahu jika kita adalah suami istri, Oma pasti akan terus berusaha memisahkan kita."
"Percaya deh sama Abang! Oma pasti akan memberikan restu untuk kita berdua dan untuk membuktikan kepada semua orang jika kamu bukanlah Adik kandung Abang, Abang akan melalukan tes DNA, biar semua orang percaya jika kamu bukanlah Adik kandung Abang, sehingga mereka akan tahu jika kita bukan lah pasangan sedarah."
Nayla tersenyum melihat kesungguhan Gerald, Ia pun memeluk suaminya dengan mesra, pun sama Gerald pun mencium kening sang Adik, "Abang sangat mencintai mu, Nay!"
Di saat mereka tengah berpelukan, tiba-tiba Hera datang dan berteriak kepada keduanya.
"Gerald, Nayla! Apa-apaan ini, memalukan!"
...BERSAMBUNG...
Mampir thor,Kayaknya seru nih...