Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.
Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.
Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.
~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan yang tak enak
"Aku antar kau pulang,"
"Tidak, aku bawa mobil sendiri,"
"Biar wanita ini yang membawa mobilmu,"
"Aku tidak bisa menyetir," sahutku santai, bersandar pada badan mobil Crishtie, sambil memakan kacang, menikmati perdebatan seru di antara Erdhan dan Crishtie.
"Kalau begitu tinggalkan mobilnya di sini, aku akan meminta Emilio untuk datang mengambilnya,"
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak mau pulang bersamamu, minggir," Crishtie mendorong-ke samping-badan Erdhan yang berdiri menghalanginya untuk masuk ke dalam mobil.
"Sudah kukatakan aku mengantarmu!" teriak Erdhan keras, menarik tangan Crishtie, hingga tubuh sahabatku itu menabrak keras dada Erdhan yang baru mulai terbentuk ototnya.
Sontak aku kaget, tidak menyangka jika di balik badan pria muda yang masih ABG itu menyimpan tenaga yang cukup kuat, dan,,,, kasar.
"Jangan kasar, Erdhan! Crishtie sedang hamil," peringatku yang tak lagi sesantai tadi.
"Kalau begitu jangan membantah, nurut, pulang bersamaku,"
Lihatlah, darah keluarga Dankar yang sangat kental, selalu ingin memerintah orang seenaknya, di bawah kuasanya.
"Tidak, sudah kukatakan jika aku tidak mau, memangnya siapa kau berani memerintahku?"
"Kau pacarku!"
"HANYA TEMAN RANJANG!" teriak Crishtie lebih keras, penuh penekanan, setetes air mata menitik membasahi pipinya saat ia mengatakan kalimat itu, sambil menatap tajam Erdhan dengan tatapan menantang, namun sendu.
Aku tahu, hati kecil Crishtie terluka, mungkin karena penolakan Erdhan waktu itu, bahkan ia sempat ingin kembali menghampiri hidupnya saat Erdhan menolak mengakui janin yang dikandungnya adalah anaknya, pasti Crishtie sangat kecewa.
Mereka terdiam, saling menatap dalam penuh arti yang sulit dimengerti, Crishtie memejamkan kedua matanya dengan hembusan nafas yang berat, membiarkan buliran-buliran bening yang menggenang di pelupuk mata sedari tadi itu berlinang berjatuhan, ia sedikit menunduk.
"Jangan memaksaku," lirihnya terdengar parau.
"Kau bukan siapa-siapa bagiku, begitupun aku, yang bukan siapa-siapa bagimu." lanjutnya.
Crishtie berjalan melewati Erdhan yang hanya diam, pria muda itu mematung tanpa ada pergerakan, aku tak dapat melihat bagaimana raut wajahnya karena dia berdiri membelakangiku.
"Ayo, Re!"
Crishtie masuk ke dalam mobil, duduk di jok kemudi, menutup pintu dengan kasar, kuhembuskan nafas kasar menetralisir ketegangan, berjalan memutar, membuka Pintu jok depan, duduk di sebelah Crishtie.
Mesin dinyalakan, gas diinjak dan mobil melaju, meninggalkan Erdhan yang berbalik menatap kami pergi dengan sorot matanya yang nanar.
Isak tangis Crishtie mengisi diamnya kami sepanjang jalan, aku tak memintanya untuk berhenti menangis, atau memintanya untuk tenang, hanya terus mengawasinya, mengawasi jarum speedometer.
Biarkan saja dia menangis, biarkan saja dia meraung, atau berteriak, atau memaki, juga memukul setir kemudi, biarkan dia meluapkan amarah dan sakit hatinya, agar hati kecil yang menyimpan luka itu tak sepenuhnya tersiksa.
"Ciiitt,,,," mobil berdecit, Crishtie menginjak rem secara tiba-tiba.
Ia langsung memelukku, meminta kekuatan, kupeluk tubuhnya yang bergetar, menangis penuh luka, aku tak sepenuhnya tahu bagaimana perasaannya, pasti sangat sulit untuk bisa dijelaskan dengan kata, sakit, kecewa, marah, terluka, hanya Crishtie dan orang-orang yang berada dalam posisi sama yang bisa merasakannya.
Kuelus punggung Crishtie, kepalanya, rambutnya, hingga ia mulai tenang dan melepas pelukan kami dengan sendiri.
Isak tangisnya berubah menjadi sesenggukan yang terdengar menyesakkan dada. Kuusap wajah basahnya dengan tisu, Crishtie pun melakukan hal yang sama, lalu kuberikan sebotol air putih yang ada di dashboard.
"Apa aku sudah melakukan hal yang benar?" tanya Crishtie lirih usai minum.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kau hebat," jawabku.
Dalam sesenggukannya, Crishtie mencoba untuk mengulas senyum yang jelas nampak kaku.
"Apa aku salah?" tanyanya lagi kembali menangis.
"Tidak, kau sudah melakukan yang terbaik,"
Bukannya aku mendukung Crishtie untuk menjauhi Erdhan, tapi, di usia Erdhan yang masih sangat labil, Crishtie harus mengambil tindakan ini, sampai Erdhan sadar dan yakin, benarkah dia menginginkan Crishtie? Mencintainya, atau sekedar emosi sesaat karena has.rat anak muda?
Kami belum berniat melanjutkan perjalanan. Masih diam menikmati suasana jalanan malam kota London, yang sepi lengang.
"Bagaimana kalau kita bermalam di sini? Menyambut mentari pagi?" ide gila sahabatku.
"Tentu," jawabku singkat, aku setuju, meski ini gila.
"Sesekali kita memang harus melakukan sesuatu yang berbeda," ucapku yang ditanggapi tawa kaku dari Crishtie.
Terkadang, kita tak perlu banyak bicara pada seseorang yang memendam masalah, apalagi menghakiminya, mengatakan ini dan itu, kita tidak pernah tahu apa yang dirasakannya, yang perlu kita lakukan hanyalah menjadi pendengar yang baik untuknya. Karena yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah, hanya ingin didengarkan.
***
Kulangkahkan kakiku ke dalam mansion besar nan mewah Tuan Leonel Dankar, ada sebuah kado berpita biru di tangan kananku, dan sekotak coklat di tangan kiriku, hari ini, pria kecil kami berulang tahun, aku mengetahuinya dari story Sisil pagi tadi.
Senyumku terus mengembang, melewati lorong demi lorong mansion sebelah kiri, menuju ruang tengah untuk naik ke lantai atas, kamar Darren.
"Bisakah kau tetap tinggal malam ini? Aku membutuhkanmu, aku merindukanmu, dan aku menginginkanmu,"
langkahku terhenti kala mendapati pemandangan tak mengenakan yang terjadi di ruang tengah-bernuansa putih gading-dengan tangga berkarpet gold menuju lantai atas.
"Leon, mengertilah, aku harus terbang sekarang, besok pagi aku harus sudah ada di lokasi, acara ini sangat penting, beberapa petinggi dari dalam dan luar negri menghadiri acara itu," Nyonya Annora mengelus lembut wajah tampan Tuan Leonel yang dihiasi jambang tipis yang terawat.
"Sekali ini saja, Ann, kumohon, Aku membutuhkanmu,"
"Leon? Please?"
Nyonya Annora berbalik, berjalan menjauhi Tuan Leonel, aku menundukkan kepala saat Nyonya Annora mendekat.
"Bagaimana jika aku jatuh cinta pada gadis lain, Ann? Apa kau tidak akan menyesal, kehilangan diriku?"
Kalimat yang Tuan Leonel ucapkan membuat langkah Nyonya Annora terhenti, ia mengulas senyum manis, berbalik, kemudian berjalan kembali mendekat ke arah Tuan Leonel.
"Jangan bercanda seperti itu, Leon, aku tidak suka, aku tahu kau sangat mencintaiku, hanya aku, jadi, tidak mungkin kau akan jatuh cinta pada gadis lain, memangnya di mana ada wanita yang lebih baik dariku?" ucap Nyonya Annora, menautkan bibir mereka, berciuman di depanku.
Segera aku berjalan cepat, menghindari pemandangan menyakitkan yang mereka suguhkan.
Ada bongkahan besar yang tiba-tiba menumbuk dadaku, menghantam sangat keras di sini, di dalam sini, sakit sekali.
Waktu serasa melambat, begitupun dengan langkah kaki yang tiba-tiba terasa berat, kala aku berjalan sejajar tepat dengan posisi mereka berdiri, entah hanya perasaanku atau memang iya, Tuan Leonel melirikku, tipis.
***
Aku banyak melamun selama menemani Darren belajar, pria kecilku sampai harus memukulku pelan beberapa kali untuk sekedar mengajakku bicara.
"Kau kenapa? Kau terlihat murung, apa kau sedih?" tanya Darren menatapku dengan binar cantik dari kedua matanya yang polos.
Kuulas senyum semanis mungkin.
"Tidak, aku hanya lelah."
"Lelah? Apa kau bekerja keras hari ini?"
"Iya, tapi tidak juga, terkadang, saat kita sudah mulai dewasa, ada hal-hal yang membuat kita lelah, bukan hanya tentang bekerja, tapi juga karena hati dan pikiran," jelasku sambil menunjuk dada dan pelipis Darren.
"Aku tidak mengerti," jawab Darren polos.
"Karena kau belum dewasa, sayang!"
Kupeluk Darren, ia sungguh malaikat kecil yang menggemaskan, binar matanya yang polos mampu menjadi obat yang sedikit mengurangi hatiku yang telah patah.
"Terimakasih, hadiahnya, aku menyukainya," ucap Darren membahas kado ulang tahun yang tadi kubawa.
"Sama-sama,"
"Klak!" pintu kamar Darren dibuka, Tuan Leonel. Ia melangkah masuk dengan gaya santai, namun tetap terlihat anggun di mataku.
Bagaimana cinta ini bisa tumbuh begitu besar? Apapun yang ada pada dirinya semua terlihat indah dan sempurna di mataku. Menyebalkan.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini? Hem? Apa kau kesulitan?" tanya Tuan Leonel pada Darren, ia duduk di tepian ranjang. Sedangkan aku dan Darren seperti biasa, belajar di atas ranjang yang empuk, harum dan besar.
"Sedikit sulit, Re tidak menjelaskan dengan benar, dia terlalu banyak melamun," adu Darren membuatku kaget. Tidak kusangka pria kecil ini akan bersikap cepu.
"Oh, ya?"
"E em," angguk Darren.
Aku malu, benar-benar malu.
"Ada apa?" tanya Tuan Leonel padaku, dengan nada bicaranya yang, dingin.
"Re bilang dia sedang lelah. Tapi bukan karena bekerja, Re lelah karena hati dan_ emmpphh!"
Kubungkam mulut Darren yang blong.
"Darren, diam!" peringatku, di balik tanganku yang membungkam mulutnya, Darren mencoba mengulas senyum, terlihat dari sudut kedua matanya yang menyipit.
"Selesaikan tugasmu, aku tunggu di kamar," tukas Tuan Leonel.
Ia berdiri, melangkah keluar dari kamar Darren, meninggalkan kami tanpa bertanya lagi.
Tawa Darren terdengar renyah kala kulepas tanganku yang membungkam mulutnya, tapi aku malah larut dalam pikiranku sendiri.
Haruskah aku benar-benar datang ke kamarnya, untuk belajar menyelesaikan tugas kuliah?
***
*Jangan datang, woy,,,, nanti yang ada malah tugas-tugas lain di luar tugas kuliah. 😭
Buat sahabat Readers semuanya, jika suka sama cerita ini, mohon dukungannya, ya!
Dengan cara klik favorite, like, kalau punya bunga juga mau, 😅
Karena setiap karya ada penilaian dari sistem NT. Dan seorang penulis bukanlah apa-apa tanpa dukungan readersnya, jadi, terimakasih ya, semuanya, cinta kalian banyak-banyak. 🥰🥰🥰🙏🙏🙏😘😘*
emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model