Bisa menjalani sebuah pernikahan yang bahagia, mungkin adalah dambaan bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namun apalah jadinya nasib dari sebuah pernikahan itu apabila sang suami sudah tak mempercayai istrinya?...
Maura Vinaya, seorang gadis yatim piatu yang berparas cantik. Sungguh memilukan nasib yang harus diterimanya. Di malam pertamanya, sang suami malah menuduhnya dengan tuduhan yang begitu sangat melukai hati dan juga harga dirinya.
Entah apa yang terjadi, laki - laki yang masih belum genap satu hari resmi menikahinya itu, malah dengan begitu teganya menuduh jika dirinya sudah tak suci lagi.
Sungguh memang nasib, akibat dari kesalahpahaman itu, membuat dirinya dan juga sang suami menjadi harus berpisah.
Namun sungguh sayang seribu kali sayang, disaat dirinya dan sang suami telah berpisah, dirinya malah dinodai oleh mantan suaminya sendiri.
Hingga dari kejadian yang begitu memilukan itu, telah mampu menghadirkan adanya malaikat kecil di dalam rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Tawa riang gembira nampak begitu sangat terpancar dari wajah tampan seorang bocah kecil yang saat ini sedang menikmati keseruannya dalam bermain di wahana bermain.
Dengan bergabung bersama anak - anak kecil yang seusianya, ia bermain perosotan dengan bercampur mandi bola - bola kecil yang tentunya hal itu begitu sangat menggembirakan.
Sesuai dengan yang telah dijanjikan oleh Tania jika hari ini dirinya akan mengajak Junior untuk pergi ke mall, alhasil seperti inilah jadinya, si kecil Junior sedang menikmati permainannya di wahana bermain yang ada di mall ini.
Dengan ditemani oleh sang kakak Audi, sepasang kakak beradik itu memperhatikan Junior yang sedang bermain, takut - takut jika terjadi hal yang tak diinginkan saat bermain, itulah mengapa keduanya begitu sangat memperhatikan Junior.
Tak ada Maura yang ikut menemani mereka di sini, karena hari ini Maura merasa sangat malas untuk keluar dari rumah, jadi yang pergi ke mall ini tentunya hanya Audi, adiknya Tania serta keponakan mereka si kecil Junior.
" Junior, hati - hati sayang, jangan terlalu cepat ". Seru Audi pada sang keponakan Junior.
" Iya uti Niol hati - hati tok ". Sahut si kecil Junior yang ternyata sudah siap kembali untuk meluncur.
" Tan, Junior sudah cukup mainnya, setelah ini kita akan makan dulu di resto sana, perut kakak sudah mulai lapar ini ". Ujar Audi pada sang adik.
" Iya kak, Tania juga sudah lapar, ya sudah kalau begitu kita suruh Junior berhenti saja mainnya, ini sudah satu jam lebih Junior main ". Sahut Tania.
Lalu Audi menatap pada keponakannya yang tampan itu, sangat nampak jelas jika Junior masih begitu menikmati permainannya, rasanya sangat kasihan jika tiba - tiba saja disuruh berhenti untuk bermain.
" Tidak jadi ya kak? ". Tania sudah melihat gelagat tak nyaman dari kakaknya.
" Iya Tan, kasihan kalau disuruh berhenti bermain, bocah itu masih asik - asiknya dengan teman - temannya yang lain ". Lirih nya.
Harus bagaimana lagi, untuk sejenak lebih baik mengalah dulu pada Junior, kasihan jika yang sedang asik - asiknya bermain tiba - tiba saja malah disuruh berhenti.
" Ya sudah Tan, sambil menunggu si Junior selesai bermain, kakak mau ke kamar kecil dulu, ingat, jaga Junior baik - baik jangan sampai kenapa - kenapa sama Junior ". Ujar Audi pada sang adik.
" Ya ampun kak, memangnya aku mau kemana sih sampai tidak bisa jaga Junior, dari Junior masih bayi, aku kan selalu jadi aunty yang baik untuk Junior huh... ". Tania merasa tersinggung dengan pesan kakaknya.
" Iya kakak tahu, ya siapa tahu kamu nya teledor, kan Junior masih balita jadi harus benar-benar di jaga dengan baik ". Sahut Audi.
" Iya, sana pergi kalau mau ke belakang, dasar cerewet ". Gerutu Tania.
Audi melenggang pergi dari sana dengan meninggalkan sang adik yang berada dalam kekesalan karena ulahnya.
Seharusnya dari tadi dirinya pergi ke kamar kecil, namun karena merasa khawatir dengan si kecil Junior malah membuatnya memilih untuk menundanya, dan sekarang dirinya malah tak tahan sendiri karena ingin mengeluarkan sesuatu yang bergejolak yang ada di dalam perutnya.
" Uti - uti, uti Udi mau temana? ". Tanya Junior karena bocah itu melihat sang aunty Audi yang sedang pergi.
" Aunty Audi mau ke kamar kecil katanya, mungkin sakit perut ". Sahut Tania.
Si kecil Junior mengangguk paham, mengetahui sang aunty pergi ke kamar kecil mendadak membuat si kecil Junior jadi berhenti dari bermainnya, entah apa yang ingin dilakukan oleh bocah kecil itu.
" Loh, kenapa Junior, sudah mau berhenti mainnya? ". Seru Tania karena sang keponakan mendekat ke arahnya.
" Iya uti, Niol mau belhenti cada, Niol mau lihat - lihat badu, badu di cana baduc cetali ". Sahutnya pada sang aunty dengan menunjuk salah satu toko baju anak - anak yang ada di sebelah sana.
Tania menjadi tersenyum melihatnya, ternyata keponakannya ini ingin melihat baju atau bahkan mungkin ingin membelinya.
" Ya sudah ayo kita ke sana ". Putus Tania yang memilih untuk menuruti keinginan si Junior.
Tania menggandeng tangan mungil Junior untuk menuju ke toko baju anak - anak yang Junior inginkan.
Wajar saja jika Junior ingin masuk ke toko baju itu, karena baju - baju untuk anak - anak yang terpasang di sana benar-benar bagus dan terlihat sangat menarik.
" Selamat datang nona, tuan muda kecil selamat berbelanja di toko kami ". Seru ramah seorang pelayan wanita cantik yang menyambut kedatangan Tania dan juga si kecil Junior.
" Terima kasih kak ". Sahut Tania yang tak kalah ramahnya.
Junior sama sekali tak menanggapi sapaan ramah dari sang pelayan, semenjak dirinya berada di pintu masuk toko, pandangannya sudah mengarah pada jajaran baju - baju yang sudah terpajang.
Bahkan hingga berada di dalam toko sekalipun pandangan Junior masih tak juga lepas. Semua baju yang terpasang di toko ini benar-benar terlihat begitu sangat menarik, semuanya terasa begitu memanjakan indera penglihatannya.
" Junior, Junior langsung nemu baju yang disuka? ". Tanya Tania, pasalnya si kecil Junior masih tak henti - hentinya menatap baju - baju yang ada di depannya.
" Belum macih uti, Niol macih mau lihat - lihat baduna dulu ". Sahutnya dengan bola matanya yang tak lepas dari memandang baju - baju itu.
" Iya ya, kamu benar juga Junior, ya sudah lihat - lihat saja dulu, aunty juga mau lihat - lihat, siapa tahu ada yang cocok buat kamu ". Sahut Tania.
Seolah lupa dengan Audi yang saat ini masih berada di dalam kamar kecil, keduanya sudah mulai sibuk mencari baju, bahkan si kecil Junior sudah berada di tengah - tengah baju - baju yang di jajar rapi.
Sungguh Junior merasa bingung harus memilih yang mana karena semuanya benar-benar terlihat menarik.
" Cemuana baduc - baduc, atu binun mau ambil yan mana? ".
Dengan masih dilanda oleh kebingungan nya, sepasang tangan mungilnya itu masih terus mencari - cari kira - kira baju mana yang akan di ambilnya.
Junior terus melangkah dan bergeser sampai bocah kecil itu tak menyadari jika posisinya saat ini sudah mulai jauh dari Aunty Tania nya, dan Tania sendiri yang terlalu sibuk dalam mencari baju untuk Junior juga tak menyadari akan hal itu. Tania tak menyadari jika Junior sudah tak lagi berada di dekatnya.
" Atu binun mau ambil yan mana, baduna baduc cemuana ".
Kebingungan ini masih terus melanda pikiran Junior, banyaknya pilihan serta model yang begitu sangat menarik membuatnya sangat bingung harus memilih yang mana.
Junior terus memandang ke hampir semua jajaran baju yang dilihatnya, dan ternyata ada satu setelan baju yang ada di dekat pintu keluar, merasa begitu sangat tertarik dengan setelan baju itu, Junior pun melangkah lebih jauh untuk mendekati setelan baju itu.
" Wah, badu yan ini baduc cetali, tok tadi atu dak lihat ya ". Gumamnya kagum dengan memegangi baju itu.
Baju yang dipegangnya ini sangatlah bagus, dalam pandangannya model bajunya sangatlah unik berbeda dengan model baju yang lainnya.
Junior memanglah Junior, seorang bocah kecil yang daya fokusnya bisa berubah kapan saja karena pengaruh dari keadaan sekitar.
Itulah yang terjadi pada Junior sekarang. Awalnya bocah itu memang begitu sangat fokus pada baju yang dipegangnya, namun siapa sangka jika sekarang pandangan Junior malah tertuju pada sebuah toko mainan yang ada di seberang sana.
Junior yang masih seorang balita tentu saja tergoda dengan mainan - mainan itu, namanya juga masih seorang anak kecil, membuat Junior tak bisa berpikir panjang lagi untuk pergi ke toko mainan itu.
" Atu mau minan itu, atu mau minan itu ". Serunya dengan berlarian.
Junior berlari dari toko baju itu tanpa sepengetahuan dari Tania. Bocah itu terus berlari dan berlari menerobos orang - orang dewasa yang ada di mall itu hingga posisinya sudah sangat jauh.
" Minan tundu atu mau beli tamu ".
Brukk...
" Aaaaa... ".
" Aduuuh catit ". Pekik Junior yang telah ambruk.
" Haduuuh apa sih ini bocah kecil, ganggu jalanku saja ". Kesal Rendra.
" Tuan, anda tidak apa - apa tuan? ". Firman sangat terkejut karena tuannya mengalami peristiwa seperti ini.
" Ini bocah kecil ganggu jalanku saja, giliran sudah jatuh mengatakan sakit, heran, di mana sih orang tuanya, punya anak kok dibiarkan berkeliaran tidak jelas di mall ". Sungguh Rendra sangat kesal karena disaat dirinya menikmati kemewahan mall sahabatnya ini malah ditabrak oleh sesosok anak kecil yang sama sekali tak dirinya kenal.
" Aduuuh tati tu catit ". Junior memegangi salah satu kakinya yang kesakitan.
Sungguh nahas, niatnya yang ingin melihat banyaknya mainan menarik di toko mainan malah berakhir dengan menabrak seseorang yang tak dikenalnya. Junior si bocah kecil itu tak menyangka jika dirinya akan mengalami peristiwa ini.
" Adik kecil, kamu baik - baik saja kan? ". Sang asisten Firman mencoba mendekati Junior.
" Aduh catit om, tati tu catit ". Junior masih kesakitan dengan memegangi sebelah kakinya.
" Ya sudah ayo coba berdiri, om akan membantumu ". Dengan lembut Firman pun mencoba menegakkan tubuh mungil Junior.
Rendra yang menyaksikannya hanya diam dengan acuh. Rendra sama sekali tak peduli dengan bocah kecil yang kesakitan itu, menurutnya apa yang terjadi sama sekali bukan kesalahannya.
" Nah, ini dia kamu nya bisa berdiri, kenapa kamu sendirian memangnya kemana orang... ".
Dan seketika itu Firman pun tak melanjutkan kalimatnya. Firman begitu sangat tertegun kala dirinya sudah melihat dengan jelas akan wajah dari anak kecil ini. Wajah ini, benar - benar sangat mirip dengan wajah tuannya, benar - benar sangat mirip bahkan kemiripan wajah keduanya bagaikan pinang dibelah dua.
" Ya sudah Fir, kita tinggalkan saja bocah ini di sini, biarkan saja orang tuanya yang mencarinya sendiri, punya anak kok dibiarkan keluyuran ".
Lagi, Rendra bersikap begitu sangat tak peduli pada bocah kecil yang sudah menabraknya, bahkan dirinya sedikitpun tak menoleh.
" Kamu masih ingin menemani bocah kecil ini Fir?, ya sudah kalau begitu aku akan pergi ".
" Tu-tuan tunggu tuan, lihatlah anak kecil ini, pasti anda akan sangat terkejut tuan ". Sahut Firman agar tuannya tak jadi pergi.
" Haaah sudahlah Firman, kenapa juga aku harus mempedulikan bocah itu, biarkan saja orang tuanya yang mengurus, sudah aku pergi dulu ". Dan Rendra pun benar melangkah pergi dari dekat mereka.
" Tuan, tunggu dulu tuan, lihatlah anak ini meski hanya sebentar, anak ini sangat mirip dengan anda tuan, wajahnya seperti wajah anda tuan Rendra ".
Dan benar saja, seketika itu Rendra pun jadi menghentikan langkahnya. Apa maksud dari asistennya, anak kecil yang telah menabraknya begitu sangat mirip dengannya, tapi bagaimana bisa, hingga pada akhirnya Rendra pun benar memutuskan untuk membalikkan tubuhnya.
" Lihatlah tuan, anak kecil ini sangat mirip dengan tuan, benar - benar sangat mirip ".
Sungguh ini memang benar nyata adanya. Tubuh Rendra serasa membeku dibuatnya, bagaimana tidak, sosok bocah kecil yang ada di depannya ini benar-benar membuatnya bingung dan tak percaya.
Apakah dirinya tak salah melihat, bagaimana bisa di dunia ada seseorang yang begitu sangat mirip dengannya, dan yang membedakan mungkin sosok yang begitu mirip dengannya memiliki ukuran yang lebih kecil.
" Tidak, ini tidak mungkin, bagaimana bisa ada anak kecil yang begitu mirip denganku ". Batin Rendra.
Apa yang ada pada diri bocah kecil yang ada di depannya semuanya nyaris sama dengan yang ada pada dirinya. Bentuk dan warna matanya, hidung dan bibirnya, bentuk kepalanya bahkan warna kulitnya pun juga putih bersih sama seperti warna kulitnya.
Jika memang benar ini adalah sebuah kebetulan, tapi bagaimana bisa sampai semirip ini.
Entah mengapa ada rasa yang berbeda dalam hati Rendra. Rasa kesal yang awalnya begitu memenuhi relung hatinya, kini seolah menghilang dan berganti dengan rasa sayang.
Rendra tak paham dengan apa yang dirasakannya, entah mengapa dirinya seperti merasakan ada ikatan batin dengan sosok mungil yang ada di depannya, padahal ini adalah kali pertama dirinya bertemu dengan sosok mungil ini.
Melihat sosok mungil yang ada di depannya ini entah mengapa membuat Rendra seperti melihat dirinya sendiri.
Bersambung..........
🙏🙏🙏🙏🙏
❤❤❤❤❤