[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta dan Dusta
"Ternyata Pak Wira berhasil melacak lokasi kita," ujar Om Lian, saat kami kembali ke kamar hotel dan menemukan sebuah bingkisan di depan pintu, "sebuah kiriman pakaian yang harus kamu kenakan untuk menemui Pak Hans besok siang," tambahnya.
"Bahkan sampai pakaian pun dia yang tentukan?" tanyaku spontan.
"Ya. Memang begini cara mainnya."
"Sebenarnya Pak Wira itu pengusaha atau mucikari, sih? Aku bahkan nggak yakin dress yang dipilihnya bahkan sanggup menutupi seperempat pahaku." Aku mulai mondar-mandir di tempat. Antara bingung dan kesal menghadapi kenyataan yang ada.
"Tenang, Lea. Kamu nggak harus memakainya. Sekarang masuk duluan! Aku keluar dulu sebentar." Om Lian meletakkan sebelah tangannya di punggungku, lalu mendorongnya ke dalam setelah menggesek kartu untuk membuka pintu.
Lelaki itu tersenyum kecil sebelum meraih bingkisan tersebut dan menghilang setelah pintu lift tertutup.
Kuhela napas panjang, kemudian merobohkan diri ke ranjang, setelah melepas sepasang sepatu. Kuraih ponsel di dalam tas, lalu memeriksa pesan yang tak kunjung mendapat jawaban.
Kevin menyebalkan ... mau sampai kapan kamu marah dan mengabaikan pesan dan panggilanku!
Tak mau menyerah terlalu dini, kucoba menghubunginya lagi.
Tut.
Tut.
Tu ...
Sontak aku bangkit dari posisi berbaring, saat sampai di dering ketiga dan panggilan akhirnya terhubung.
"Hal--"
"Kampret kepencet."
Tut, tut, tut ....
Dan panggilan pun kembali terputus setelah sebuah makian terdengar.
Aku mendesah lelah, dan memilih beranjak. Melempar ponsel ke atas ranjang, kemudian berjalan menuju balkon.
Cuaca terlihat bersahabat malam hari ini. Angin bertiup sedang menggoyangkan dedauan di sekitar. Tampak di langit yang pekat bulan bersinar terang ditemani taburan bintang.
Aku menyisir pandangan, menatap bangunan-bangunan yang terlihat padat di hadapan, kendaraan yag hilir-mudik, serta orang-orang yang lalu lalang. Hingga tatapanku terpaku pada satu orang. Om Lian yang baru keluar dari lobi hotel.
Di depan pelataran Om Lian terlihat menoleh ke kanan dan kiri, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bak sampah dan melempar bingkisan yang diberikan Pak Wira ke dalamnya.
Aku terkejut, sekaligus takjub. Dia berani membuang pakaian merk terkenal yang bisa kuperkirakan berharga belasan juta, hanya untuk melindungi kehormatan yang bahkan sudah kutanggalkan sejak lama.
Seandainya kamu datang lebih awal, Om. Mungkin aku masih bisa menjaganya sampai sekarang.
Beberapa menit memerhatikan, kudapati Om Lian masih terjaga dengan posisi yang sama, sesekali dia bahkan menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tak lama seseorang datang menghampirinya dan memberikan sebuah totebag bermerk sama dengan yang baru saja dibuangnya. Entah apa yang tengah mereka bicarakan di sana, Om Lian pun masuk kembali ke hotel.
Bergegas aku kembali ke posisi semula, menutup teralis kaca yang menyekat balkon dan ruang kamar. Kemudian duduk bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponsel meskipun tak jelas apa yang kulihat di balik layar.
Beberapa saat kemudian suara pintu yang terbuka terdengar. Om Lian kembali dengan totebag yang kulihat tadi. Dia berjalan menghampiri, lalu menyodorkan benda tersebut padaku.
"Cobalah! Setidaknya ini lebih elegant daripada yang tadi."
Aku tertegun menatap barang yang Om Lian sodorkan. Tiba-tiba perasaanku menghangat dibuatnya.
Diluar dugaan ternyata Om Lian sudah lebih dulu mempersiapkannya.
"Te-Terima kasih."
***
"Sempurna." Kupejamkan mata saat merasakan deru napas hangat berbau mint yang menyapu daun telinga.
"Kecantikan yang sesungguhnya tak selalu terpancar dari pakaian yang terbuka. Karena kehormatan wanita
tak diliat dari mana dia berasal ataupun pangkat yang berderet di belakang namanya. Melainkan bagaimana cara dia bersikap dan berpenampilan."
Kutatap pantulan diri dalam cermin yang berbalut pakaian kasual yang tertutup. Entah sengaja atau tidak Om Lian bahkan mengenakan setelan berwarna senada. Sebelah tangannya sudah melingkar di pinggangku. Dengan posisi seperti ini, kami terlihat seperti pasangan yang sedang melakukan pemotretan.
"Wanita terhormat mana yang rela menanggalkan harga dirinya hanya demi sebuah dendam?" Aku tertunduk sembari menurunkan tangan Om Lian.
"Setiap perbuatan selalu ada alasannya. Kenapa harus menyesali hal yang sudah terjadi? Di dunia ini tak ada satu pun cara untuk memperbaiki masa lalu, yang perlu kita lakukan sekarang adalah menata masa depan agar hal sama tak terulang." Aku kembali mengangkat kepala saat merasakan pelukan di pinggang terasa semakin erat, karena kini Om Lian melakukannya dengan kedua tangan.
"Lea ...." Jantungku mulai berdebar kencang saat mendengar suara Om Lian semakin dalam. Aku bahkan tak ingat sudah jam berapa sekarang. "Saat itu aku sudah pernah mengatakan hanya takut untuk memulai." Aku menelan ludah. "Dan dua hari kamu sudah memulainya, sekarang biarkan aku yang melanjutkan."
Deg!
"Kutarik kata-kata tentang suami-istri yang cuma status untuk kita. Sekarang aku benar-benar ingin membangun sebuah rumah tangga
seutuhnya denganmu."
Sontak aku memutar tubuh dan menatap lekat mata pekatnya untuk mencari kebohongan di sana.
Namun, nihil. Yang kutemukan hanya manik mata berkaca-kaca yang memancarkan sebuah ketulusan di sana.
Om Lian merendahkan tubuhnya, hingga bisa kurasakan napas hangat itu membelai permukaan wajah. dengan jarak sedekat ini aku bahkan bisa melihat bagaimana keringat sebesar biji jagung mulai berguguran dari pelipisnya.
Saat hidung kami bersentuhan, bisa kurasakan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku mulai gemetar. Tatapan kami saling mengunci untuk beberapa saat, sampai akhirnya Om Lian menarik tubuhku semakin rapat. Dia memejamkan mata, lalu melabuhkan bibirnya di tempat yang seharusnya.
Dengan bibir yang masih berpangutan, dia menutunku menuju ranjang. Entah sejak kapan pakaian bahkan sudah kami tanggalkan.
Di tengah penyatuan aku mendapati sebuah tatapan lain yang Om Lian tunjukkan. Keringat yang membasahi seluruh permukaan wajahnya sama sekali tak bisa menutupi apa yang baru saja kusaksikan, saat menyadari cairan hangat yang terjatuh tepat di pipiku--ternyata berasal dari kedua bola matanya.
Kenapa Om Lian menangis di saat dia berhasil mengatasi gangguan neurosis yang selama ini menyiksanya?
***
Aku terbangun saat merasakan cahaya mentari mengintip di sela-sela ventilasi. Kudapati diri dengan kondisi berselimut tebal di atas pembaringan yang berantakan.
Semua gorden masih tertutup sempurna, lampu bahkan dalam keadaan padam.
Perlahan aku menuruni ranjang dengan selimut yang membalut. Mengendap di antara ruangan pekat untuk mencari saklar lampu.
"Om."
"Om Lian!"
"Om di mana?"
Berulang kali aku memanggil sosok yang baru semalam berjanji untuk memulai membangun sebuah rumah tangga yang sesungguhnya.
Namun, setelah lampu dinyalakan. Aku sama sekali tak bisa menemukan keberadaannya.
Secarik kertas yang diletakkan di atas laptop meja kerjanya sontak mencuri perhatianku.
Perasaanku bahkan sudah tak enak sebelum mulai membaca tulisan tangan yang dibubuhkan atas nama Lian Fahlevi.
...Lea ... sebelumnya aku minta maaf karena pergi tanpa pamit. Mau bagaimana lagi semua yang terjadi benar-benar di luar kuasaku. ...
...Aku tak bisa mengatakan bahwa surat ini adalah sebuah ungkapan selamat tinggal, tapi aku juga tak bisa menjanjikan kapan akan kembali. ...
...Maaf karena meninggalkanmu seperti pengecut seperti ini, maaf karena membiarkanmu berjuang sendiri....
...Ada satu fakta yang masih kusembunyikan darimu selama ini. Sebenarnya sebagian harta yang dimiliki keluarga Fahlevi adalah milik keluargamu. Dua puluh lima tahun lalu Pak Wira menjebak kakekmu dalam pesta yang sebelumnya diadakan untuk mengikat kerja sama. Aku ada di sana saat itu, ditugaskan untuk menyalakan pematik dan membakar semua anggota keluargamu hingga hanya menyisakan Sarah dan Nita....
...Semua file tentang kebusukan Fahlevi's Entertanment sudah kurangkum dalam laptop. Aku juga sudah membeli sebuah apartemen dan kendaraan atas namamu. Kumohon tetap jalankan rencana yang sudah kita buat di awal, karena hanya itu satu-satunya cara untuk menggulingkan Pak Wira, Adrian, dan semua antek-anteknya....
...Semoga kehadiran Kevin cukup untuk membantumu. Untuk saat ini hanya dia satu-satunya orang yang tulus padamu....
...Sekali lagi maaf karena aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan dan mengatakan semua kebenarannya di hadapanmu....
...Percayalah selama ini aku hanya tak sanggup melihat tatapan kebencian dari wanita yang kucinta....
^^^Lian Fahlevi. ^^^
Tubuhku ambruk seketika. Kehilangan daya untuk sekadar merutuki takdir yang terasa benar-benar menyiksa. Pada akhirnya hanya tangis histerislah yang mewakili segalanya.
Suara derap langkah lebar terdengar dari luar, bisa kurasakan seseorang berdiri di ambang pintu
memerhatikan betapa malang nasib yang kuterima.
"Lea ...."
Kuangkat kepala dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Menatap Kevin yang berlari menghampiri, lalu memeluk erat tubuh ini.
"Vin ... bagaimana caranya mati tanpa rasa sakit?"
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕