Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bisa Gila..
Seperti tersambar halilintar, Angkasa mematung mendengar ucapan kebencian yang Asmara lontarkan. Sorot matanya mulai keruh karena tergenang airmata yang mulai menampakkan hadirnya. Tatapannya menukik kearah perempuan yan sedang terisak dalam pelukan perempuan yang dianggap adik.
Raut wajah bingung juga tergambar jelas di wajah dua orang yang sedang berdiri diantara merka. Yang satu menatap iba dan yang satu menatap penuh tanda tanya, tapi mereka bingung apa yang akan mereka lakukan.
"Tuan, apa yang terjadi.? kenapa mba Mara bisa nangis begini.? perasaan tadi baik baik saja..?"
"Aku membencinya Rin hiks hiks hiks.." gumam Asmara dalam tangisnya namun Angkasa masih sangat jelas mendengarnya.
"Tuan, kalau tuan nggak mau jelaskan, saya mohon lebih baik tuan pulang dulu, nggak baik pagi pagi ribut begini.."
"Iya nak Angkasa, nggak enak sama tetanga, takut menjadi omongan. mending nak Angkasa pulang dulu ya.?"
Angkasa menatap kedua wanita yang memberi dia nasehat. mereka benar, kalau pembicaraan ini diteruskan yang ada Asmara hanya akan menangis dan emosi, terus masalah juga tak akan selesai.
Angkasa mengusap wajahnya, dia berdiri dengan kaki yang begitu terasa berat. matanya kembali menatap perempuan yang sangat dia rindukan. perlahan dia mendekat. Dan entah mendapat kekuatan darimana, dia mengulurkan tangan membelai rambut Asmara. dan yang lebih mengejutkan, dia membungkuk, mencium dan menghisap rambut Asmara. Ririn dan bu Lastri semakin dibuatnya tercengang. dalam keadaan membungkuk, Angkasa berkata lirih
"Maaf, aku mohon, jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, aku bisa gila jika kehilangamu dan anak anak. aku mohon. "
"Apa maksud tuan Angkasa ngomong kaya gitu.?" batin Ririn bersuara.
Angkasa berdiri. dia menatap bawahannya.
"Hari ini kamu nggak usah berangkat kerja, tolong jaga Asmara unntuk saya. "
"Ba baik tuan.." jawab Ririn gugup dan pasti juga sangat heran.
"Bu, titip Asmmara dan anak anak, saya pulang dulu, kalau ada apa apa tolong suruh Ririn hubungi saya.."
"Baik nak, kamu pulang dulu. nanti bicara lagi dengan kepala dingin ya."
"Baik bu, permisi, assalamu'alaikum.."
"wa'alaikum salam.."
Dengan langkah berat Angkasa beranjak meninggalkan rumah Asmara. hatinya terasa sesak. dia melajukan mobilnya dengan derai airmata.
Setelah Angkasa pergi meninggalkan rumah Asmara.
"Mba, sebenarnya ada masalah apa sih antara mba Mara dengan tuan Angkasa.? perasaan tadi baik baik saja.? apa tuan Angkasa menyinggung perasaan mba Mara.?" Asmara menunduk dan terdiam. tangisnya sudah mulai perlahan menyusut.
"Bu, apa ibu tahu sesuatu.? mba Mara nggak pernah begini loh saat ada laki laki yang hendak mendekatinya. dan sikap tuan juga sangat aneh.."
"Aneh gimana maksudmu Rin..?"
"Dia tuh tuan Angkasa loh bu, presdir kantor pusat Rajasa grup tempat Ririn bekerja.."
"Lah terus anehnya gimana.?"
"Ya aneh saja lah bu, Gini nih ya, sejak kemarin pagi dia kesini, trus seharian main sama Langit Biru, trus semala tidur disini, dan tadi pagi dia nyuapian anak anak dan barusan eh tau tau bertengkar sama mba Mara entah apa masalahnya."
"Ya nggak aneh lah .."
"Nggak aneh gimana sih bu..? ya aneh banget lah, emangnya dia udah resmi apa jadi ayahnya si kembar.? Baru kali ini loh bu, ada laki laki segitunya meraih hati mba Mara, sampe mau nyuapin anak anak.."
"Resmi ngga resmi, dia memang ayahnya si kembar.." mata Ririn langsung membulat, mulutnya ternganga sempurna.
"Apa bu.? Tuan Angkasa.....?"
"Iya, dia ayah kandung si kembar.." Ririn sontak menutup mulut yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.
"Nggak, ngak mungkin bu, ibu pasti bohong, ibu bohong kan mba.?"
"Perhatikan tuh wajah si kembar mirip siapa.? ibu saja sekali lihat langsung tahu.."
Ririn menatap foto foto yang bertebaran di dinding belakang televisi dan dahinya mengernyit. Dia menatap foto itu tajam sambil berpikir. tak lama kemudian matanya lagi lagi membelalak.
"Jadi di pria brengsek itu.? Ah sialan. aku kecolongan. mba Mara kenapa nggak bilang dari kemarin pas di nikahannya Zia.? ntar dulu, berarti tuan Angkasa sepupunyya Zia dong. wah jangan jangan Zia sebenarnya tau sesuatu.? ah sial Zia, kenapa nggak ngasih tahu aku. aku harus tanya sama Zia.."
"Tanya baik baik, jangan bikin tambah masalah.."
"Tenang saja bu.." Ririn pun beranjak ke kamarnya dan kini bu Lastri yang menghampiri Wsmara.
"Bu.."
"Kenapa.? sudah lega.?"
"Aku harus bagaimana.?"
"Ya bagaimmana lagi nok, yang namanya masalah ya harus dihadapi toh.."
"Tapi aku.."
"Membenci ya secukupnya saja, jangan sampai karena kebencianmu yang berlebih, nanti kamu menyesal. lihat nak Angkasa. mungkin dia dulu juga seperti kamu, membenci banget, namun ketika hidayah menghampiri, dia kelihatan banget kan menyesalnya.? malah mengejar ngejar kamu.."
"tapi aku takut bu."
"Takut apa lagi.?
"Aku takut akan dipisahkan dengan anak anak. mereka anak anakku, bukan anak dia.."
"Mereka anak anak kalian, bukan anak dia saja, atau anak anakmu saja. Masalahnya jangan dibuat terlalu rumit Asmara. Hadapi saja, entah nanti berujung manis atau pahit, yang penting kamu sudah berusaha. Kamu tadi dengarkan pesan dia sama ibu. itu berarti dia mau kamu baik baik saja."
"Bu.." Asmara memluk erat perempuan di depannya. " Aku beruntung banget bisa bertemu dengan ibu. Ibu selalu menenangkan. Karena ucapan ucapan ibu, aku bisa kuat sampe sekarang.."
"Karena ibu juga pernah mengalami masalah berat nok. Selain legowo dan menerima, kita nggak bisa apa apa lagi kan.?."
"Bu.." ucap Asmara dengan manjanya..
"Manja amat sih ni ibu muda. ingat buntut udah ada dua.."
"Biarin.." Dan mereka pun tersenyum
Beberapa saat kemudian, Sesampainya Angkasa di Villa yang dia tinggali.
"Angkasa.? kamu kenapa nak.?" Ranti kaget mendapati angkasa nampak begitu kacau, bahkan mata Qngkasa terlihat sembab.
"Apa yang terjadi nak.? Kamu nginep dimana semalam.? Kenapa ponsel kamu susah dihubungi.?"
Angkasa menatap sendu wajah ibunya. dan tiba tiba badannya merosot dan bersimpuh. tangisnya kembali pecah
"Angkasa, ya ampun nak.? apa yan terjadi..? Ngomong sama ibu nak.?"
"Aku harus bagaimana mah.? Angkasa harus bagaimana.? Asmara membenciku mah hiks hiks hiks.."
"Apa? Coba jelaskan sama mamah..?"
"Aku benci sama kakak mah, aku benci sama kakak, dia berhasil menghancurkan hidupku mah hhwahahaa, huwawwahha.."
"Yang sabar nak, yang sabar. nanti kita cari jalan sama sama ya.?"
"Aku ingin bersama Asmara mah, aku ingin sama anak anak, aku ingin sama mereka, hwaahawaha hwahwahha.."
"Iya, iya mamah ngerti, mamah ngerti nak, kita cari jalan sama sama yah.."
dan angkasa pun terus menangis meluapkan segala sesak di dadanya dalam dekapan sang mamah. Ranti pun tak kuasa menahan airmatanya melihat kesedihan anaknya. dan dia bertekad dalam hatinya.
"Aku harus bertindak, sudah saatnya Angkasa harus bahagia.. aku harus bertindak.."
@@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...