NovelToon NovelToon
Aku Bukan Tawanan

Aku Bukan Tawanan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Badboy / Tamat
Popularitas:581.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Oryn HR

Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!

❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?

Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.

Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.

Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?


Please, dukungannya ya!...🙏😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Bertemu

Rhibie berias cukup lama di depan cerminannya. Entah apa yang di pikirkannya? Jelas sekali dia hanya akan sarapan di lantai bawah saja, bukan untuk pergi shopping ataupun ke kondangan mantan.

"Bie, lama banget dandannya? Jangan terlalu cantik, Entar yang ada Baghal sama Axelle naksir kamu!" Protes Eldanno seraya memeluk Rhibie dari belakang dan mengecup leher jenjangnya.

Eldanno protes, bukan berarti dia tak suka dengan penampilan Rhibie yang lebih sempurna. Hanya saja, rasa khawatir dan rasa cemburu mencekik perasaannya. Khawatir wanitanya di lirik pria lain. Terlebih, jika saingannya harus sahabatnya sendiri. No! No! No! No! Eldanno takkan membiarkan itu semua!

Kemarin-kemarin sebelum Rhibie memiliki skincare dan make-up saja, wajahnya sudah cukup membuat Axelle kagum. Bahkan Baghal sempat mengancamnya akan merebut Rhibie dari tangannya, andai dirinya lalai. Lalu apa kabar dengan pria-pria itu, jika sekarang Rhibie terlihat lebih cantik berkali-kali lipat.

Jangan di bayangkan! Itu hanya akan membuat hati Eldanno semakin panas terbakar.

Rhibie tersenyum pada dirinya sendiri lewat cermin. Dia tak mengindahkan protes dari mulut komentator. Rhibie melepaskan tangan Eldanno yang menjerat mesra di pinggangnya. Memutar-mutar tubuhnya sambil bercermin ria. Dia memang terlihat lebih cantik hari ini dengan short dress casual di atas lutut berwarna peach. Membuat Rhibie nampak lebih feminim dan sempurna.

"Udah siap?" Eldanno memberikan tangannya untuk pegangan Rhibie.

"Tunggu sebentar, El! Aku mau pakai sepatu dulu"

"Memangnya kita mau kemana, Bie? Kita cuma mau sarapan aja, di bawah!"

"Tapi, koleksi sandal dan sepatuku banyak. Sayang banget 'kan, kalau gak di pake?"

Rengekan dari Rhibie justru membuat tawa Eldanno menggema.

"Haha... Kamu pakai sendal yang simple aja! Nanti kalau kandungan kamu udah kuat, kita pergi jalan-jalan" Hibur Eldanno yang masih tertawa.

"Benarkah?? Jalan-jalannya kemana?" Sambut Rhibie antusias.

"Ke minimarket!"

Seketika Rhibie menekuk wajahnya, cemberut.

"Bercanda, Sayang! Kemana aja, kamu mau" Ucap Eldanno kemudian. Setelah melihat wajah Rhibie yang kecewa.

"Kamu gak bohong 'kan, El?" Wajah Rhibie kembali ceria. Dan mengambil salah satu koleksi sendalnya.

"Enggak, Sayang! Asalkan, bayi kita udah kuat"

Rhibie pun mengangguk dan bergelayut manja di lengan Eldanno. Namun baru saja langkahnya sampai di depan pintu, tiba-tiba kepala Rhibie merasa pusing disertai mual yang kembali menyerang perutnya saat melihat t-shirt yang di pakai Eldanno berwarna merah. Dengan cepat, dia berlari ke toilet. Menumpahkan isi perutnya yang sudah kosong. Disusul Eldanno yang mengekor setia di belakangnya.

"Bie, kamu baik-baik aja 'kan?" Eldanno memijit tengkuk Rhibie dengan lembut.

"Pergi dari hadapanku, El!" Teriak Rhibie di sela-sela muntahnya. Dan menepis tangan Eldanno dari tengkuknya.

"Gimana aku bisa pergi, kamunya muntah-muntah terus kayak gini, Bie?"

"Ganti bajumu, El! Aku gak mau liat kamu pake baju merah!" Seru Rhibie yang masih menahan mualnya.

"Memangnya kenapa dengan warna merah, Bie? Kemaren-kemaren, kamu baik-baik aja!" Bantah Eldanno, tak mengerti. Namun dia patuh dengan perintah Rhibie.

Dengan jengah, Eldanno melepas pakaiannya. Dan menaruhnya di keranjang pencucian.

Seketika Rhibie pun menghentikan muntahnya.

"Aku gak punya masalah dengan warna merah! Tapi anak kamu nih, yang rese!" Timpal Rhibie dan keluar dari kamar mandinya. Menyikut perut polos Eldanno yang berjaga di ambang pintu.

"Anak kita, Sayang! Bukan anakku aja!" Bisik Eldanno dan memeluk Rhibie, gemas.

"Enggak!! Anak kamu! 'Kan kamu yang pengen punya anak!"

"Tapi dia hasil keringat kita berdua 'kan?" Goda Eldanno seraya mengelus perut Rhibie. Dan mengecup pipinya.

"Tau, ah! Cepetan pake baju! Aku udah laper banget, nih!"

Eldanno pun melepaskan pelukannya. Dan berlalu untuk berganti pakaian.

"Jangan pake yang itu! Pake-nya yang warna putih!"

Eldanno menarik nafasnya, dan menghempaskannya jengah. Lalu menaruh kembali t-shirt warna hijau neon-nya. Dan menggantinya dengan warna yang sesuai dengan keinginan Rhibie. Mereka pun segera keluar dengan bergandengan tangan.

Ini pertama kalinya Rhibie keluar kamar. Dia menatap seluruh ruangan di rumah itu sambil terus berjalan menyusuri tangga. Menatap ruang tengah, ruang tamu yang hanya terlihat sebagian saja, juga menatap arah pintu keluar. Dia masih ingat betul ketika dirinya pertama kali masuk ke rumah ini. Dia diseret-seret oleh Eldanno yang sedang mabuk. Hatinya begitu kacau tak karuan karena takut saat itu.

Tapi kini, dia keluar dari kamar itu dengan hati yang damai.

Apa?? Tunggu sebentar! Apa benar, dia merasa damai bersama Eldanno? Tidak! Bukan! Bukan damai! Perasaan ini datang hanya karena terbiasa.

Rhibie menatap Eldanno sejenak yang sedang tersenyum hangat padanya. Dan kembali melemparkan tatapannya pada ruangan tadi, mengumpulkan kembali memorinya waktu itu. Dia tidak menyadari, jika dari ruang mini bar ada empat orang yang tengah memperhatikannya dengan penantian.

Jessie dan Joanna terperangah menatap Rhibie yang begitu bersinar. Mereka takjub dengan penampilan berbeda dari sang Maha Dewi yang dirindukannya.

"Rhibie..." Gumam Jessie dan hendak berteriak memanggil Rhibie yang masih menyusuri tangga. Namun tangan Axelle lebih cepat membungkam mulutnya.

"Jangan berteriak! Tunggu Rhibie sampai di bawah. Khawatir dia berlari kemari, dan melupakan keselamatannya" Bisik Axelle di telinga Jessie.

"Kak Axelle, kenapa Rhibie nampak seperti nyonya di rumah ini?" Bisik Joanna yang menangkap aura berbeda pada Rhibie. Jessie lupa mengatakan jika mereka sudah menikah. Dia hanya fokus memperingatkan Joanna untuk tak mengatakan apapun tentang Sandra.

"Bie, perhatikan jalanmu!" Hardik Eldanno terkejut saat Rhibie meremas genggamannya tiba-tiba, karena langkanya sedikit terseok.

"Maaf, El!" Ucap Rhibie.

Karena khawatir, Eldanno langsung menggendong Rhibie dan membawanya ke bawah.

"El, turunkan aku!"

"Diam, nanti kita jatuh!"

Rhibie pun pasrah. Dia hanya bisa memeluk pundak Eldanno yang fokus berjalan menuruni tangga.

"Rhibie!!!" Teriak Jessie dan Joanna kompak. Mereka sudah tak tahan untuk terus diam, sementara perasaan di hatinya semakin bergejolak ketika jarak diantara mereka hanya tinggal menghitung langkah.

Rhibie yang sedang memeluk Eldanno, sontak menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia dengan apa yang ada di depan matanya. Benarkah itu Joanna dan Jessie, sahabatnya?

Rhibie menatap Eldanno. Dan kembali menatap dua sahabatnya.

"Turunkan aku!!" Teriak Rhibie seraya mengguncang kedua kakinya.

Eldanno pun menurunkan gadis itu, karena mereka memang sudah sampai ke tujuan. Dengan cepat, Rhibie menghambur ke arah sahabatnya yang disambut pelukan penuh rindu dari mereka.

Ketiga gadis itu berpelukan sambil menangis. Menumpahkan rasa yang menyesakkan hati mereka selama ini. Pencarian dan penantian panjang itu, kini telah tiba pada puncak harapannya. Jessie dan Joanna tak henti-hentinya menciumi wajah Rhibie yang sudah membuatnya khawatir setengah mati.

Axelle menepuk pundak Eldanno yang sedang menatap haru pada adegan di hadapannya. Entah kenapa? Perasaan was-was terhadap Rhibie tiba-tiba hilang, terangkat dari pundaknya. Hatinya justru merasa lega, saat tangis bahagia Rhibie tumpah karena bisa bertemu dengan sahabatnya.

Ketiga gadis itu mulai melonggarkan pelukannya. Dan mulai saling tanya jawab kesana-kemari, melupakan perut kosongnya yang belum terisi. Saling menceritakan apa yang di laluinya selama mereka berpisah. Hingga mengundang gelak tawa dari ketiganya. Namun terkadang, tawa itu tiba-tiba berubah tangis. Dan kembali mereka tertawa secara bersamaan.

"Bie, udah dulu ngobrolnya! Kita sarapan dulu, ya! Apalagi, kamu harus minum vitaminmu 'kan?" Eldanno memperingatkannya sehalus mungkin. Khawatir mengganggu moodnya Rhibie.

Ketiga gadis itu mengangguk serempak, tanpa penolakan. Sambil saling terus bicara, mereka pun berkerumun di meja mini bar. Bergabung dengan tiga pria yang sudah nangkring disana.

"Tumben lo Ghal, makan pagi-pagi?" Tanya Eldanno pada Baghal yang sedang lahap menyantap masakan yang dibuat Joanna.

"Mumpung ada" Sahutnya enteng.

"Apa ini buat gue?" Tanya Rhibie antusias pada Joanna yang sedang menyodorkan sayur bayam buatannya. Meskipun sudah di sodok Baghal duluan.

Joanna pun mengangguk sambil tersenyum. Dengan antusias, Rhibie segera memindahkan sebagian sayur asem itu pada mangkuknya. Dan langsung melahapnya, lezat.

Namun entah baru berapa suapan sayur itu masuk ke mulut Rhibie, tiba-tiba rasa mual kembali menyerangnya. Membuat Rhibie berlari ke toilet terdekat dan memuntahkan isi perutnya.

Setelah merasa baikan, Rhibie bersama Eldanno yang selalu siaga menguntit di belakangnya, kembali bergabung untuk melanjutkan sarapannya.

"Joan, Maaf!" Ucap Rhibie tak enak hati.

"Gak apa-apa, Bie! Santai aja!" Sahut Joanna.

"Tapi gue gak ngehargain banget, padahal lo udah capek-capek masak buat gue" Keluh Rhibie.

"Tenang aja! Sayurnya gak mubazir, kok. Tuh, udah ada kambing yang lahap memakannya!" Sindir Joanna pada Baghal yang sedang menambah sayur bayam di piringnya.

Seketika, Baghal pun melotot geram ke arah Joanna.

"Biasa aja kali, matanya!" Ledek Joanna yang kini sudah tak lagi memiliki rasa takut pada Baghal.

Bagaimana dia bisa takut? Jika sang Maha Dewi sudah ada bersamanya.

1
Qaisaa Nazarudin
Kalo emang anak konglomerat,10J itu gak ada apa2 nya,hanya hujung kuku nya doang, gak perlu nguras uang tanungan 🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Udah ku duga, Bhagal gak mungkin sekahat itu ke calon istrinya, Dia ngerjain Joanna doang..👏🏻🤣
Qaisaa Nazarudin
Benar banget tuh,Harusnya dr wangi dan perilakunya aja Bhagal udah tau itu bukan Joanna, Setiap cewek bau parfumnya gak sama..
Qaisaa Nazarudin
Eldanno sama Axell mana?? Bhagal juga kok diam aja..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️😡😡
Qaisaa Nazarudin
Rhibi ceroboh banget..
Qaisaa Nazarudin
Duh harusnya Rhibi menyambut ULTAH El dengan kejutan makan bareng keluarga,Nah saat itu Rhibi ngasih hadia kado nuat El, yg isi nya testpack, gitu lho..😁
Qaisaa Nazarudin
Duuhh Rhibi..Kamu gak lupa kan lg hamil muda, Ntar nyesel lg lho kalo sesuatu terjadi kejanin mu, El kan gak tau kamu lg hamil 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Pastinya Rhibi hamil lagi nih..👏🏻👏🏻👍🏻
Qaisaa Nazarudin
Akhir nenek sihir ini ketangkap juga..👏🏻👏🏻👏🏻
Qaisaa Nazarudin
Nih kan,Ku bilang juga apa 🤣🤣🤣😜
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang kalo yg di jodohin itu Bhag..😂
Qaisaa Nazarudin
Nah gitu dong, Dasar jalang gak sadar diri..
Qaisaa Nazarudin
wkwkwk apa dia pikir Papa Dimas bodoh, jgn bilang kalo papa Dimas divonis gak bisa lagi ngasi turunan karena sesuatu hal, mampos kamu Retha, Dasar Jalang..Cerain aja wanita kek gini, ngapain di lertahanin lg,ogeb..
Qaisaa Nazarudin
Noh kan kamu,Untung aja belum di cerain..
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah Akhirnya papa Dimas juga udah tau sekarang kebenarannya,Semoga papa Dimas bisa menjelaskan nya ke El sebelum terlambat..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya jgn pergi,,Tanya dulu kebenarannya, Ntar nyesel lho udah marah2, Keputusan yg di ambil saat marah itu tdk bagus..
Qaisaa Nazarudin
Jgn sampai El salah paham akan situasi ini ya..
Qaisaa Nazarudin
Tuh kan..Semoga aja cocok ya..👏🏻👏🏻
Qaisaa Nazarudin
Mungkin Baghal kakaknya Rhibi kali ya??🤫🤫
Qaisaa Nazarudin
Udah Terlambat,Mimpi aja kamu bisa bebas wkwkwk…
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!