Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi
Happy reading ....
*
Hari mulai gelap, tapi Arjuna belum juga pulang ke rumah. Natasha merasa kekesalannya sudah ada di ubun-ubun mengingat sikap Arjuna yang seenaknya.
Kemana pria itu? Apa dia meninggalkan Natasha setelah mendapatkan keinginannya?
Semakin lama, Natasha semakin geram. Tadi, Arjuna juga hanya menitipkan salep yang dibelinya pada pelayan. Dan sampai saat ini, dia belum datang.
Tok ... tok.
Natasha terperanjat dan bergegas menuju pintu. Natasha sudah bersiap akan memaki tapi urung karena yang membuka pintu adalah Adipura.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Aku tidak apa-apa, Pa. Terima kasih," sahut Natasha datar.
"Kalau begitu, besok bekerjalah. Asistenmu itu tidak bisa diandalkan," tandas Adipura kemudian berlalu begitu saja.
Natasha menatap nanar ayahnya sambil menutup pintu kamarnya kembali. Pikirnya, lalu apa gunanya Kania? Saat hendak berbalik, samar-samar terdengar suara Adipura yang membentak seseorang. Apakah itu Arjuna? Natasha pun kembali membuka pintu dan keluar untuk melihat siapa itu.
Benar saja, Adipura dan Arjuna berpapasan di tangga.
"Kalau kau bahkan tidak berguna sebagai suami, tahu dirilah dan berpisah dengan Natasha. Kau tidak akan mendapat apapun dengan bertahan di rumah ini. Haruskah aku membayarmu agar mau meninggalkan putriku?" tanya Adipura sinis.
"Aku tidak mengharapkan apapun, Ayah Mertua. Aku hanya ingin bersama Tasha. Akan kuberikan apapun agar bisa tetap bersamanya," sahut Arjuna datar.
"Heh, apapun? Memangnya apa yang kau punya? Bahkan harga diri pun kau sudah tidak punya. Kau hanya memberi malu pada keluarga ini," decih Adipura yang berlalu dari hadapan Arjuna.
Arjuna menghela napasnya dan melanjutkan langkah. Namun, saat menyadari ada yang sedang menatapnya, Arjuna pun melihat ke arahnya. Di ujung tangga, Natasha menatap nyalang dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
Arjuna mempercepat langkahnya dan mengikuti langkah Natasha menuju kamar mereka. Setelah menutup pintu, Arjuna mengerutkan dahi melihat Natasha yang mengarah ke lemari pakaiannya.
"Tasha, apa yang kau lakukan?" tanya Arjuna heran saat Natasha mengeluarkan pakaiannya yang dilempar ke lantai.
"Pergi! Keluar dari kamarku! Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, bukan? Jangan berkilah lagi. Aku tidak pernah menyangka kau selicik itu, Arjuna. Sekarang aku ingat semuanya. Dan aku tidak mungkin seperti itu jika kau tidak menjebakku," ujar Natasha berang.
Arjuna tertunduk menerima kesalahnnya. Ia memaklumi amarah Natasha, karena memang itu salah. Tapi ....
"Oh, aku mengerti sekarang. Kau menginginkannya sebelum kita berpisah walaupun itu hanya satu kali, kan? Apa itu artinya kau ingin kita berpisah sekarang juga?" tanya Natasha sinis.
"Tidak, Tasha. Bukan itu yang kuinginkan," sanggah Arjuna cepat.
"Lalu apa? Kau pikir apa namanya yang sudah kau lakukan padaku, hah? Tuan Pemerk*sa."
Arjuna tersentak. Ia menatap pada Natasha yang memalingkan wajah.
"Tasha, aku terima kesalahanku. Tapi jangan menyebutku seperti itu. Aku ini suamimu. Aku-."
"Kau suami yang menjijikkan. Caramu benar-benar keterlaluan, Arjuna. Pergi dari hidupku. Aku tidak sudi bersama pria licik sepertimu," geram Natasha dengan suara yang bergetar.
Arjuna menatap datar wajah Natasha. Dibalik ekpresi penuh amarah itu, Arjuna terpaku melihat kedua manik istrinya yang berkaca-kaca. Apakah Natasha benar-benar terluka dengan jalan pintas yang sudah ia ambil?
"Tasha, Sayang ... dengarkan aku," pinta Arjuna sembari meraih tangan Natasha yang membalikkan badannya.
Natasha menepis kasar tangan Arjuna. Ia berjalan ke tempat tidur dengan langkah yang cepat. Tak hanya mematikan lampu kamar dengan remot kontrol, ia juga mematikan lampu tidur yang berada di atas nakasnya. Natasha hanya menyisakan lampu tidur di nakas Arjuna, kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya.
Arjuna menatap sendu pada ranjang itu, lalu memunguti baju-bajunya dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Arjuna juga mengeluarkan alas tidur yang dulu selalu ia pakai. Dengan hati yang berkecamuk, Arjuna berbaring di lantai.
Suasan kamar itu seketika hening. Namun, tidak dengan hati Arjuna.
Arjuna sudah menduga amarah Natasha jika istrinya itu menyadari apa yang telah terjadi. Dan dirinya sudah siap menerima amarah Natasha apapun itu bentuknya. Tapi mata itu ... Natasha mencoba menahan air matanya agar tak terlihat lemah. Arjuna merutuki dirinya yang telah membuat istrinya bersedih.
Malam semakin larut. Arjuna belum juga bisa memejamkan mata. Sedari tadi, ia menikmati dengkuran halus Natasha.
Arjuna bangun dan berjalan mendekati Natasha. Ia terduduk di tepi tempat tidur sambil menatap lekat wajah Natasha. Disingkapnya dengan lembut helaian rambut yang menghalangi wajah Natasha. Dalam keremangan, wajah cantik itu terlihat tenang. Tapi kemudian Arjuna tersentak melihat sisa air mata yang tergenang di salah satu ujung mata Natasha. Jadi benar, dalam diamnya Natasha menangis?
Arjuna merasakan hatinya gusar. Ia bisa tahan dengan semua hinaan, tapi tidak dengan air mata Natasha.
"Aku sangat mencintaimu, Tasha. Tapi jika cinta ini menyakitimu, aku tidak punya alasan lagi untuk tetap bersamamu," batin Arjuna.
Arjuna mengusap lembut rahang Natasha dengan tatapan mendamba. Arjuna mendekatkan wajahnya, lalu mencium pipi Natasha. Kemudian ia beranjak dan berjalan menuju meja kerja.
Diambilnya secarik kertas, dan menuliskan pesan untuk Natasha. Setelahnya, Arjuna membereskan alas tidurnya dan menyimpan lagi di dalam lemari.
Sekali lagi, Arjuna menatap pada Natasha yang membelakanginya. Arjuna tertunduk, lalu melangkah meninggalkan kamar tersebut.
***
Sinar mentari yang memantul dari sela ventilasi, menyilaukan mata Natasha yang baru saja terbuka. Natasha terduduk, kemudian meregangkan otot-ototnya.
Natasha menoleh ke samping. Keningnya berkerut melihat bagian kosong di sampingnya itu rapi, seperti tidak ditempati.
"Kemana Arjuna sepagi ini? Apa dia sedang membuatkan teh untukku?" gumamnya.
Natasha menghela napasnya sambil bersandar. Semalam, melihat tatapan dingin ayahnya membuat Natasha teringat pada mendiang ibunya. Selalu seperti itu. Tidak pernah ia melihat tatapan cinta di mata pria paruh baya itu. Tidak untuk dirinya, apalagi untuk ibunya.
Natasha memang kesal karena Arjuna belum pulang juga. Tapi ia berniat akan bersikap bodoh dan pura-pura tidak mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka. Akan tetapi, entah apa yang merasukinya, Natasha justru memuntahkan segalanya pada Arjuna yang tidak tahu apa-apa.
Natasha beranjak turun dari tempat tidur. Sambil melangkah ke kamar mandi, Natasha memanggil nama suaminya.
"Arjuna!" pekiknya.
Setelah selesai membersihkan wajah, Natasha keluar dari kamar mandi dan ingin menikmati teh buatan Arjuna. Akan tetapi keningnya berkerut saat tidak melihat cangkir teh dimanapun juga. Tidak di meja kerja, ataupun di meja dekat sofa.
"Ck, menyebalkan. Apa yang dia lakukan di dapur? Jangan bilang dia sedang memggoda seorang pelayan." Gerutunya.
Natasha berniat meminta pelayan memanggilkan Arjuna melalui telepon rumah yang ada di meja kerjanya. Semenjak ada Arjuna, ia tidak pernah lagi menggunakan telepon itu untuk memanggil pelayan ke kamarnya.
Kening Natasha berkerut melihat secarik kertas dengan pena di atasnya. Ia merasa heran karena goresan tinta itu bukanlah tulisan tangannya.
"Apa ini, sebuah surat?"