NovelToon NovelToon
NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama
Popularitas:509k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Nu Yayan

"Ningrat?? kok miskin?"

Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan orang- orang pada Ning, saat mereka tahu nama asli Ning . Akan tetapi karena keadaan nya yang tak sesuai dengan namanya, seringkali menjadikan namanya sebagai ejekan baginya.


Tak hanya itu, bahkan ia memiliki kebiasaan aneh yang lain dari yang lain.

Akankah Ning bertemu dengan kebahagiaannya dibawah bayang- bayang cemoohan orang?



Ning juga dihadapkan pada dua pilihan tersulit dalam hidupnya.

"Yang satu ku sayangi, yang satu kucintai ...."

Pada siapakah hati dan hidupnya akan ia serahkan ...?

Nantikan kisahnya dalam NINGRAT Antara Dia dan Duda ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangun Atau Aku Akan Mencium Mu ....

Ning … Ning ….” Athar terus memangil nama wanita yang selama beberapa hari ini dicarinya.

“Ning … Ning ….”

“Pak … Pak …. Bangun Pak ….” Sang asisten mengoyang- goyangkan lengan Athar yang terus merancau dengan mata terpejam.

“Ning!!” Athar berteriak dan seketika membuka matanya. Nafasnya terengah- engah seolah ia baru selesai lari marathon.

“Pak … tenang dulu Pak … tarik nafas … buang ….”

“Dimana ini?” tanya Athar masih dengan nafas terengah- engah dengan dahi yang berkeringat. Padahal di dalam mobil udara dari AC nya begitu dingin.

“Di pinggir jalan, Pak ….”

“Apa? Di pinggir jalan? Lalu Ning dimana?” ucapnya terkejut. Athar mengedarkan pandangannya.

“Ning? Maksudnya Ning yang sedang dicari detektif itu?” tanya asistennya.

“Iya … Tadi aku melihat Ning di gang … dan dia_____” Athar tak kuasa melanjutkan perkataannya dengan raut wajah ketakutan..

“Di gang mana Pak? Orang dari tadi Bapak tidur di sini ….”

“Apa? Aku tidur?” ucap Athar terkejut.

“Iya … mungkin Bapak mimpi kali.”

“Mimpi …. Jadi tadi aku hanya bermimpi?” tanya Athar memastikan.

“Iya Pak … Tadi tuh Bapak nyuruh saya berhenti tapi ternyata Bapak tidur … Mau lanjut lagi perjalanan, takut Bapak marah … Yasudah saya diam di sini saja nungguin Bapak yang tidur nyenyak … Saya sudah mengabiskan dua gelas kopi tahu gak.”

Athar akhirnya bisa bernafas lega, karena yang tadi dilihatnya hanyalah sebuah mimpi. Ia pun mulai terlihat tenang, meski wajahnya terlihat kacau.

“Nih Pak ….” sang asisten menyodorkan sesuatu.

“Apa ini?” tanya Athar dengan raut wajah bingung.

“Tentu saja kopi dingin kesukaan Bapak ….”

“Terimakasih ….” Athar menerimanya dan segera membuka tutup botolnya. Ia meneguk kopi itu sampai habis.

“Kayaknya Bapak habis mimpi lari maraton ya …” ucapnya tertawa.

“Diam kau!!!”

“Jadi, kita mau kemana ini? Tetap menemui peri kecil Bapak atau pulang ke apartement?”

“Aku harus menemui Nana dulu sebelum pulang ….”

“Yakin, ini sudah hampir setengah sembilan Pak … Nana pasti sudah tidur.”

“Cepat jalan!!”

“Baiklah ….”

“Oh … Syukurlah tadi itu hanya mimpi ….” Athar mengucap syukur dalam hatinya.

“Ning … kau dimana ? Semoga kau dalam keadaan baik- baik saja … Semoga hal dalam mimpi ku itu tidak terjadi,”gumamnya dalam hati.

Bukan hanya khawatir dan rasa bersalah yang dirasakannya, rasa takut pun kini menerpa dirinya. Ia semakin takut terjadi hal buruk pada Ning seperti dalam mimpinya. Ia tak bisa berhenti memikirkan Ning.

“Pak, kita sudah sampai ….”

Athar membuyarkan lamunannya, dengan segera ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman rumah yang ternyata Kinan menyambutnya di teras rumah.

“Kinan? Sedang apa kamu di luar malam- mlam begini?”

“Kakak ku akan pulang, tapi aku giliran dinas malam.”

“Baguslah, kakak mu itu pulang juga … Nana sudah tidur?” tanya Athar sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

“Belum ….” Kinanti mengikuti dari belakang.

“Tumben … ini sudah hampir jam sembilan malam.” Athar terus berjalan menuju kamar Nana.

“Kak, ke kamar sini ….” Panggil Kinanti dengan menunjuk pintu kamar.

“Loh, kamar Nana kan di sana?”

“Nana sedang di kamar ku.”

“Ngapain?” tanya Athar heran.

“Nungguin kakak peri nya.”

“Hah? Kakak peri?” Athar semakin heran.

“Iya … tadi abis magrib____”

Ceklek …

Athar membuka pintu kamar Kinanti dan segera masuk tanpa mendengar apa yang akan diucapkan Kinanti.

“Dady ….” Nana yang melihat kedatangan Athar langsung berlari menghampirinya.

“Peri kecil- ku ….” Athar berjongkok dengan melentangkan kedua tangannya untuk menyambut Nana. Ia memeluk peri kecil yang membawa boneka di tangannya, lalu ia melepaskannya perlahan dan mencim kening Nana.

“Peri kecil kenapa belum bobo?” tanya Athar.

“Nana gak mau bobo ….”

“Kenapa?”

“Kalau Nana bobo, nanti kakak peri pergi lagi pas Nana bangun.”

“Kakak peri?” tanya Athar heran.

“Iya … ayok ayok Dady ….” Nana menarik tangan Athar untuk membawanya menemui kakak peri- nya.

Athar tersenyum sembari memnggelengkan kepalanya. Ia mengikuti langkah sang peri kecil dengan terus memperhatikan anak itu. Setelah keduanya berdiri di samping tempat tidur, Nana menghentikan langkahnya begitu pun Athar.

“Ini kakak peri, Dady.” tunjuk Nana.

Athar pun mengarahkan pandangannya pada orang yang sedang berbaring di atas tempat tidur itu sembari tersenyum. Ia melihat mulai dari kaki hingga tertuju pada wajah orang yang terus dipanggil Kakak peri oleh Nana.

Betapa terkejutnya ia melihat wajah yang tak asing lagi baginya. Senyumnya seketika luntur, ia membelakan matanya dengan mulit ternganga.

“Ning ….” Lirihnya dengan perasaan masih tak percaya. Athar mengucek matanya karena ia takut jika ia sedang berhalsinasi. Dan saat ia kembali melihat wajah itu, masih tetap tak berubah.

“Peri kecil … tolong cubit tangan Dady ….” ucapnya pada Nana dengan pandangan tetap pada wanita yang masih memejamkan matanya itu.

“Hah?” Nana terkejut mendengar permintaan Athar.

“Ayok cubit, sayang ….” titahnya lagi.

Nana yang terlihat bingung pun mencubit tangan Athar dengan cubitan semut.

“Awww ….” Athar meringis kesakitan ia mengebaskan tangannya.

“Dady … Maaf Dady ….” Nana merasa bersalah dan mengusap-usap tangan Athar.

Athar menolehkan wajahnya pada Nana. Ia tersenyum sumringah.

“Gak apa- apa, peri kecil ….” Ia lalu kembali menatap wajah wanita itu lagi.

“Ini benar- benar nyata … Aku sedang tidak bermimpi … Dia benar- benar Ning ….”gumamnya dalam hati sembari tesenyum lebar.

Rasa bahagia tak tertara dan lega luar biasa kini dirasakannya. Ia terus mengucap syukur dalam hatinya, karena akahirnya wanita yang beberapa hari ini dicarinya sudah ditemukan dalam keadaan baik- baik saja.

Athar tak hentinya memandangi wajah Ning, layaknya seorang kekasih yang baru bertemu dengan pasangannya setelah sekian lama berpisah. Senyumnya semakin merekah bagai pria yang tengah berbunga- bunga melihat tambatan hati yang dirindukannya.

Tiba- tiba senyumnya luntur saat matanya melihat di tangan Ning tertancap sebuah jarum yang terhubung pada selang bening dan ternyata di samping kanan tempat tidur Ning berdiri sebuah tiang lengkap dengan sebotol cairang bening yang menggantung.

Rasa khawatir dan takut kembali dirasakannya saat ia teringat dengan mimpi buruknya tadi. Ia menoleh pada Nana yang masih berdiri di sebelahnya.

“Peri kecil … apa kakak ini sakit?” tanyanya khawatir.

“Kami menemukannya pingsan di pinggir jalan,” ucap Kinan yang sejak tadi berdiri dibelakan Nana dan Athar.

Deg …

Athar kembali terkejut mendengar ucapan Kinanti.

“Apa? Pingsan?” tanyanya menoleh pada Kinanti.

Kinanti pun melangkah dan berdiri di sebelah Athar.

“Iya, Kak… Tadi sore aku dan Nana pergi mengantar Ibu untuk kontrol ke dokter spesialis dalam. Dan kami pulang setelah magrib. Saat di perjalanan______”

Flashback …

“Onty kenapa mobilnya berhenti di tengah jalan?” tanya Nana heran saat ia melihat di sekelilingnya banyak mobil berhenti juga.

“Coba Nana lihat … lampu lalu lintas itu yang menyalanya warna merah … Itu artinya semua kendaraan harus berhenti,” ucap Kinanti menunjuk lampu lalu lintas.

“Oh, jadi kita akan bobo di sini?” tanya Nana dengan polosnya.

“Enggak Nana … berhentinya hanya sebentar … Nanti lampu kuningnya akan menyala sebagai tanda kendaraan kita harus bersiap untuk maju lagi. Dan setelah lampu hijau menyala, barulah kendaraannya bisa maju lagi.” Kinanti kembali memberi pemahaman.

“Oh….” ucapnya baru mengerti.

Nana lalu melihat ke depan karena mobilnya berhenti tepat di depan garis putih yang berupakan batas untuk menghentikan kendaraan di lampu merah tersebut. Tiba- tiba ia meihat seseorang yang ia kenali berjalan menyeberangi jalan.

“Kakak peri … Kakak peri ….” panggil Nana dari dalam mobil.

“Onty itu kakak peri … itu kakak peri ….” Teriak Nana menunjuk ke arah wanita yang meyebrang tadi, dan ia sudah tiba di pinggir jalan. Kinanti pun melihat kemana arah wanita itu melangkah.

“Itu kakak peri sama si onta … Nana mau ke kakak peri … Nana mau ke kakak peri ….” Nana merengek minta turun.

“Nana, sayang kita gak bisa turun di sini … Lihat, mobil ini berada di tengah jalan.”

“Nana mau ke kakak peri … Nana mau ke kakak peri ….” Ia terus merengek dengan pandangan yang tertuju pada wanita yang sedang berjalan di trotoar. Ia bahkan tak menghiraukan ucapan Kinanti.

“Nana sayang, kamu kenapa?” tanya Bu Asri heran mendengar Nana yang duduk di depan berteriak- teriak.

“Nana mau ke kaka peri ... Itu kakak peri … huaaaaaaaaa … huaaaaaaa.” Nana akhirnya menangis kencang karena permintaannya tak digubris.

“Iya iya iya …. Nanti setelah lampunya hijau, Onty akan memutar arah untuk ke jalan itu.” Kinanti tak punya pilihan lain, karena Nana terus menangis.

Lampu hijau pun menyala dan Kianti mengambil arah yang berlawanan dengan jalan pulang untuk kembali ke jalan yang sebelumnya telah ia lewati. Nana terus menangis sembari mencari keberadaan kakak perinya.

Setelah mengambil jalan yang memutar, Kiannti pun kembali menyususri jalan yag tadi di lewati. Namun ia tak bisa menemukan keberadaan wanita yang tadi ditunjukkan oleh Nana.

“Huaaaaaaa …. Huaaaaaaa … Nana mau kakak peri … Onty jahat Onty jahat ….” Nana menangis semakin kencang.

“Nana sayang, sudah janagn menangis lagi ….” Bujuk sang nenek yang duduk di jok belakang.

Kinanti pun menghentikan mobilnya dan menepi ke pinggir jalan saat melihat ada beberapa orang berkerumun di depan.

“Sebentar ya, Onty tanya dulu sama orang- orang itu.” Kinanti pun keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri kerumunan. Tak disangka, Nana pun turun dan berlari ke arah nya. Ia justru melewati Kinanti dan lebih dulu masuk ke dalam kerumunan.

“Kakak peri … kakak peri ….” Teriak Nana saat melihat orang yang sedang dikerumuni itu.

Kinanti pun menyelinap masuk ke dalam kerumunan karena mengejar Nana.

”Permisi permisi ….” ucapnya dan benar saja ia melihat keponakannya tengah duduk menangisi seseorang yang tergeletak tak sadarkan diri.

“Kakak peri bangun … kakak peri bangun, huaaaaaaa ….” Nana menggoyang goyangkan lengan orang yang pingsan itu.

“Nana ….” Pangil Kinanti yangkini berdiri di belakang Nana, ia pun berjongkok.

“Kasihan sekali ya wanita itu ….” ucap salah seorang.

“Ia, dia tiba- tiba pingsan … mana sendirian lagi,” orang yang lainnya pun berkomentar.

“Nana, sayang ….” Kinanti mengusap lembut kepala Nana.

“Onty tolong bangunin kakak peri … huaaaaaa ….”

“Mbak kenal dengan wanita ini?” tanya seseorang pada Kinan.

“Hah? Iy iya … Eng, bapa- bapak tolong bantu saya membawa dia ke mobil saya … Itu ada di sana mobilnya, dekat kok .”

“Oh iya Mbak … Ayok ayok ….” ucap bapak- bapak.

“Kakak peri mau dibawa kemana? Huaaaaaaaa.”

“Nana sayang .. kita bawa pulang ke rumah kakak nya ya … Tapi Nana harus berhenti menangis.”

Nana pun langsung berhenti menangis. Ia menuruti perkataan Kainanti.

“Mbak itu barang- barang nya bawa sekalian,” ucap seorang wanita.

“Iy iya Bu ….” Kinanti membawa tas pakaian sedangkan Nana membawa boneka kesayangan kakak peri nya. Orang- orang yang berkerumun pun bubar.

“Terimakasih banyak bapak- bapak ….” ucap Kinanti pada dua orang pria yang sudah membantunya membawa Ning dan memasukannya ke dalam mobil. Ning di baringkan di jok belakang sementara ibunya Kinanti duduk di depan menggendong Nana di pangkuannya.

“Kinan itu siapa? Kenapa kamu membawa sembarang orang?” tanya Bu Asri.

“Itu Kakak peri, nenek ….” Nana menjawab dengan cepat.

“Oh, jadi dia yang tadi Nana panggil kakak peri itu dan yang sering Nana bicarakan?”

“Iya, nenek ….”

“Kinan, apa kita akan membawanya ke rumah sakit?”

“Enggak, Bu … Kita bawa ke rumah saja, kalau ke rumah sakit nanti berabe … Pasti Nana ingin terus bersama orang itu.”

“Tapi kan kita gak kenal sama dia….”

“Nenek, kakak peri itu orang baik,” ucap Nana dengan lantang.

“Iya, baiklah Nana cantik.”

Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai Kinanti sampai di depan rumah mereka. Beruntung ada dua orang penjaga keamanan komplek perumahan itu sedang berpatroli keliling. Kinanti pun meminta tolong meka untuk membantu membawakan Ning yang masih tak sadarkan diri masuk ke dalam rumah.

“Terimakasih Pak Edi, Pak Yoyo atas bantuannya,” ucap Kinanti pada kedua penjaga keamanan itu.

“Sama- sama Mbak Kinanti … Kami permisi.” Kedua orang itu pun pamit undur diri.

“Iya, Pak … Terimkasih ….” ucap Bu Asri.

Flashback Off

“Lalu bagaimana dia bisa sampai pingsan?” tanya Athar setelah mendengar kronologi Ning yang bisa sampai berada di rumah itu.

“Dia mengalami dehidrasi, sepertinya karena kelelahan dan kurang asupan makanan ….”

“Apa?” Athar kembali terkejut.

“Iya, Kak … makanya setelah aku periksa, aku memberinya infusan dan tadi juga sudah disuntik vitamin … Satu jam yang lalu ia sempat sadar dan aku membantunya berganti pakaian. Setelah makan beerapa suap dan minum susu hangat, ia tidur lagi ….”

“Kasihan dia … selama berhari- hari luntang lantung di jalanan ….” Lirih Athar dalam hati.

“Terimakasih Kinan, kamu sudah menolong dan merawatnya ….” ucapnya.

“Hah? Memangnya Kakak kenal sama orang ini?” tanya Kinanti heran.

“Iya … Dia pengasuh anaknya kak Rosmala … Tapi sudah hampir dua minggu dia pergi tanpa kabar dan kami sudah mencarinya kemana- mana. Namun sayang kami tak bisa menemukannya… Syukurlah sekarang dia sudah ditemukan.”

“Oh, pantesan … Makanya dari tadi aku heran, kok Kakak sepertinya tidak merasa asing dengan orang itu … Bahkan tidak memarahi ku karena membawa orang asing ke rumah ini.”

Athar tersenyum dengan mata yang tak hentinya menatap wajah Ning. Kini ia benar- benar merasa lega.

“Emh … dingin … dingin ….” Ning yang masih memejamkan matanya tiba- tiba bersuara.

“Ning ….” Athar langsung menghampiri Ning dan duduk di sisi tempat tidur.

Kinan mendekat dan menyentuh dahi dan leher Ning.

“Sepertinya dia demam, Kak ….” ucapnya lalu mengambil stetoskop dan thermometer. Ia menyalakan thermometer digitalnya lalu di selipkan pada ketiak Ning. Kemudian memeriksanya menggunakan stetoskop.

Kinan mengambil thermometer yang sudah mengeluarkan suara. Ia lalu melihat hasilnya. “ 37,8 kak….” Ucapnya memberitahukan hasilnya.

“Ayok kita bawa dia ke rumah sakit ….” Athar yang kembali cemas mengusulkan.

“Jangan bawa pergi kakak peri ….” Nana langsung mencegah, karena takut diringgal pergi lagi oleh Ning.

“Gak perlu, kak … kebetulan aku masih punya stok beberapa obat. Sebentar aku ambil dulu sekalian ngambil kompresan.”

Kinanti pun beranjak pergi, sementara Athar menungu di dalam bersama Nana yang sudah beberapa kali menguap.

“Peri kecil bobo dulu ya … tuh udah nguap terus,” bujuknya yang sejak tadi memperhatikan Nana.

“Gak mau … Nanti kaka peri pergi lagi ….” Nana masih menolak.

“Enggak sayang … Kakak peri nya kan lagi sakit, tuh tangannya aja diinfus jadi gak akan bisa pergi.”

“Nana mau di sini aja sama kakak peri ….”

“Kakak peri kan sudah dirawat sama onty Kinan … Nanti kalau peri kecil sakit, pasti kakak peri sedih … Ayok Dady temani peri kecil sampai bobo.”

Nana pun berhasil dibujuk dan akhirnya menuruti ucapan Athar yang kemudian menggendongnya untuk membawa Nana ke kamarnya.

Tak disangka dalam waktu sekejap ternyata Nana tidur dalam gendongan Athar. Ia pun dibaringkan di atas tempat tidurnya.

“Dasar peri kecil yang menggemaskan … Digendong saja dari kamar depan ke sini langsung tidur pulas,” ucapnya tersenyum. Ia pun menyelimuti Nana dan pergi setelah mencium kening peri kecilnya itu.

**

Malam yang panjang kini telah berganti pagi yang ditandai dengan ayam berkokok serta suara azan subuh berkumandang. Ning pun terbangun dari tidur panjang nya. Perlahan ia membuka matanya.

“Panasnya sudah reda dan kondisinya sudah membaik … Aku pergi dulu, Bu … Mau istirahat.” ucap seorang pria yang berbicara dengan Bu Asri.

“Iya, tidurlah … kamu pasti sangat lelah … Tapi jangan lupa shalat dulu.”

“Iya, Bu….” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan kamar.

“Siapa orang itu? sepertinya aku pernah melihatnya?” gumam Ning dalam hati saat kesadarannya mulai terkumpul.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah bangun ….” Bu Asri menghampiri Ning dan duduk di sisi tempat tidur. Ning pun bangkit dan duduk di tempat tidur.

“Iya, Bu … terimakasih banyak sudah menolong dan mengizinkan saya menginap di sini,” ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Eng, yang tadi itu siapa, Bu?” tanya Ning penasaran.

“Itu anak ibu, kakaknya Kinanti … Dia tadi sudah memeriksa keadaan mu sekalian mengganti cairan infusan dengan yang baru … Sepertinya dia sangat lelah dan mau istirahat dulu katanya.”

“Oh gitu ya Bu … Dia juga seorang perawat seperti Mbak Kinan?”

“Dia seorang dokter ….”

“Oh, gitu ya , Bu ….”

“Syukurlah kamu sudah tidak demam lagi … Semalaman Daniel di sini merawat mu, karena Kinan harus ke rumah sakit untuk dinas malam.”

“Daniel … jadi pria tadi itu namanya Daniel ….” gumam Ning dalam hati.

Ting nong …

Terdengar suara bunyi bel pintu.

“Itu sepertinya Bi Sumi sudah datang … Ibu permisi dulu, ya.” Bu Asri pun beranjak pergi.

“Iya, Bu ….”

Ning kemudian senyam senyum sendiri mengingat wajah orang yang tadi dilihatnya saat bangun tidur.

“Jadi orang itu yang merawat ku semalaman … Tapi kenapa semalam aku seperti mendengar suara tuan Om … Arhhh, untuk apa aku mengingat- ingat dia … Mana ada dia peduli dengan ku,” ucap Ning lalu kembali berbaring.

Udara dingin membuat Ning semakin betah dalam selimut dan membuatnya kembali tertidur.

**

“Hei, bangun ….” Seseorang menepuk pelan lengan Ning untuk membangunkannya.

“Emh … aku masih ngantuk … Jangan ganggu aku ….” ucap Ning dengan masih mata terpejam.

“Ayok bangun … makan dulu, nanti tidur lagi.”

“Aku tidak mau makan, aku masih ingin tidur berlama- lama di kasur empuk ini.” Ning masih enggan bangun.

“Bangun atau aku akan mencium mu!!” orang itu pun mengeluarkan ancaman.

Ning dengan seketika membelakan matanya.

“Suara itu … sepertinya aku kenal dengan suara itu,” gumam Ning dalam hati. Ia membalikan tubuhnya ke kiri yang sebelumnya ia berbaring miring ke kanan.

Betapa terkejutnya ia melihat pria yang duduk di sisi tempat tidur dengan senyuman merekah di bibirnya. Ia mengucek beberapa kali matanya, berpikir ia sedang bermimpi.

Orang itu memencet hidung Ning dengan kedua jarinya.

“Awww … sakit tahu ….” ucap Ning ketus sembari mengusap hidungnya yang terasa sakit.

“Kau sedang tidak bermimpi ….” ucapnya tersenyum gemas, sedangkan Ning malah memberinya tatapan kesal dengan mengerucutkan bibirnya.

“Jangan melihat ku seperti itu … Ya ampun itu bibir mu monyong begitu ... Apa kau ingin aku benar- benar mencium mu?” pria itu malah menggoda Ning.

Ning mencebikkan bibirnya lalu membuang muka dan ia kembali berbaring miring ke kanan membelakangi orang itu. Ia menarik selimut hinga menutupi tubuh hinga kepalanya.

“Pergi sana … aku tidak ingin bertemu dengan mu!!” ucap Ning dengan nada ketus dari dalam selimut.

---------------- TBC ------------

*********************

Happy reading …..

1
Chintya
1 tahun lebih gada kelanjutanya sayg bgt
Chintya
kpn endingnya
ziya
udah 2024 Thor
N_ariya
galau" tuh si ning
anjurna
Ketawa
N_ariya
Mimi peri pake baju daun kelapa,,,,,😂😂😂
Sebastian Clements
lanjut thor
Sebastian Clements
Lanjut thor
Sebastian Clements
lanjut thor
Asngadah Baruharjo
patah hati Ning 😀
Asngadah Baruharjo
om tamvan 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
hadeehhhhhhh,bikin sakit perut 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
ngakak paraahhh
Asngadah Baruharjo
asyiiikk asyik
Asngadah Baruharjo
sakit perut kebanyakan ngakak
Asngadah Baruharjo
ningrat kok miskin wa ha ha 🤣🤣🤣🤣, ngakak paraahhh 😀
Asngadah Baruharjo
Ning sabar ya
Asngadah Baruharjo
aduh Ning Ning
Asngadah Baruharjo
semangat thoorrr 🌹🌹🌹
Asngadah Baruharjo
hoalah Ning Ning apes temen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!