Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu 2
"Apa selama ini aku sudah melakukan kesalahan besar? bagaimana bisa semuanya jadi seperti ini. Jika laki-laki difoto itu sudah lama mati, jadi?" Semua pertanyaan-pertanyaan yang sudah pasti jawabannya itu bergelayut dipikiran Reyhan dan berputar-putar di kepalanya.
"Boss, apa kau mendengarku?" ucap Alina menyadarkan Reyhan.
"Apa ... itu berarti dia benar-benar anakku?" tanya Reyhan ragu.
"Bagaimana jika semua itu benar, artinya aku sudah melakukan hal yang sangat bodoh selama ini."
"Eem ... tentang itu ... tergantung bagaimana kau mempercayainya!" jawab Alina sambil tersenyum simpul pada Reyhan.
"Maksud mu?" Reyhan mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Alina.
"Jika kau mempercayai bahwa ini anakmu, maka ini adalah anakmu, tapi jika kau tidak percaya maka ini bukan anakmu."
"Seperti yang pernah aku katakan dulu. Kau tidak perlu bertanggung jawab ataupun mengakui anak ini, karena sejak kau memintaku menggugurkannya sejak saat itu juga kau tidak memiliki hubungan apapun dengan anakku dan aku sudah berjanji akan membesarkannya sendiri."
"Dan seperti yang Pak Reyhan katakan, hubungan kita ada hanya karena perjanjian kita dengan mama Rani tidak akan lebih," ucap Alina yang sangat percaya diri dengan semua ucapannya.
"Aku ... aku minta maaf," ucap Reyhan lirih sambil menundukkan kepalanya.
Reyhan benar-benar tidak berani menatap Alina saat ini. Hatinya seperti teriris pisau tajam, sangat sakit tapi tak bisa diungkapkan. Sudah berapa banyak penderitaan yang dia berikan pada Alina selama ini, bahkan wanita ini sama sekali tidak membencinya.
"Aku sudah memaafkanmu setiap harinya, ayolah aku bukan orang yang akan menyimpan dendam terlalu lama," ucap Alina sambil menyenggol lengan Reyhan dengan sikunya.
"Apa kau benar-benar tidak marah dengan semua yang pernah aku lakukan?" tanya Reyhan tidak percaya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Pak Reyhan Wijaya, aku pernah mendengar kalimat seperti ini, 'memaafkan bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Tetapi menerima dan memaafkan merupakan kunci untuk membebaskan dirimu sendiri dari rasa kesal dan marah' dan menurutku itu benar."
Deg ...
Kata-kata Alina benar-benar sebuah skak mat untuk Reyhan. Dia berhasil menunjukkan semuanya pada Reyhan hari ini, dan Reyhan yang sudah mendapatkan pukulan telak itu tidak mampu berkutik. Bahkan dia tidak pernah menyadari betapa baiknya wanita yang berada disampingnya saat ini.
"Ayo kita pulang! ini sudah hampir malam, kau tau ini masih dekat dengan makam," ajak Alina yang langsung berdiri begitu saja.
"Aakh ...!" pekik Alina sambil memegangi perutnya.
"Ada apa?" tanya Reyhan panik dan langsung memegang bahu Alina.
"tidak, tidak ada apa-apa sepertinya perutku sedikit kram, ayo kita jalan!"
"Apa kau benar-benar tidak apa-apa? kau bisa berjalan? apa kita perlu ke dokter?" Alina diberondong pertanyaan oleh Reyhan karena rasa khawatirnya.
"Tidak. Ini hal biasa untuk ibu hamil, setelah istirahat juga akan hilang sakitnya?" ucap Alina meyakinkan Reyhan.
Reyhan berjalan pelan sambil memapah Alina, sepanjang perjalanan menuju apartemennya Reyhan hanya merutuki kebodohan yang selama ini dia lakukan pada Alina dan calon anaknya. Ya, Reyhan sekarang mengakui itu anaknya, jika dulu dia masih menolak dan mengabaikan karena kecurigaannya yang tak berdasar, tapi sekarang semua itu sudah ditepis oleh Alina. Dia merasa menjadi seorang laki-laki terbrengsek dan menjadi ayah yang paling jahat di dunia.
Bersambung ....
****************
Halloooo gaes...
masih tetep setia #Dirumahaja yaa
Jangan kemana-mana 'stay at home' sambil baca novel aku yang B aja ini buat ngilangin kebosanan kalian, lumayan ya kan.
Dukung terus karya author yaa, jangan sungkan-sungkan kasih saran dan kritik. Simi akan selalu menerima dengan senang hati masukan dari kalian para reader's setia Simi 🤗.
Jangan lupa
👍 Like
📝 Komen
⭐ bintang 5
❤️ Ikuti juga
Gimana ya kisah mereka selanjutnya? simak terus yaa, agar dapat notifikasi update cerita Simi, klik tombol ikuti dipojok kanan atas yaa.
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍