Jayamantingan adalah seorang pengembara muda miskin yang tetap melanjutkan pengembaraannya meski tidak memiliki tujuan sama sekali. Dirinya terasing akibat penampilannya yang sangat buruk. Ia lebih mirip pengemis tanpa kasta ketimbang pengembara.
Namun, segalanya berubah setelah perjumpaannya dengan seorang wanita aneh yang membuat dirinya harus menemukan sebuah bunga ajaib bernama Kembangmas. Kendati bunga tersebut hanya ada di kisah dongeng semata, Jayamantingan tetap menerimanya mengingat dirinya tidak lagi memiliki tujuan hidup.
Pengembaraan mencari kemustahilan itu lambat-laun menuntunnya menemui takdir menjadi salah satu Pemangku Langit, pendekar terkuat di atas segala pendekar yang menguasai dunia persilatan.
Mampukah Jayamantingan membawakan Kembangmas kepada Kenanga? Ataukah justru kematian menjemputnya terlebih dahulu di belantara persilatan, yang jumlah kematiannya bagaikan guguran daun diterpa angin badai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WestReversed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan ke Kanoman
Berkemah di malam hari bukanlah tanpa tanggungan bahaya, tetapi berjalan di malam hari jauh lebih besar tanggungan bahayanya. Terlebih saat ini mereka tidak membawa senjata apa pun yang dapat melindungi diri, maka mereka berdua bisa menjadi santapan empuk bagi para perampok.
Walau mereka membangun tenda agak jauh ke dalam hutan, tetap saja itu bukan tidak berbahaya. Maka dari itu, demi keamanan bersama, Mantingan merancangkan ganti jaga. Mereka akan berjaga secara bergantian, Mantingan yang akan berjaga lebih dulu.
Dan untuk tidak menarik perhatian, Mantingan memilih untuk tidak menyalakan api barang setitik pun jika tidak diperlukan, meski itu dapat mengundang hewan buas datang. Mantingan bisa saja menghadapi hewan buas, ia sering bertarung dengan hewan saat dirinya berjalan di hutan dahulu kala, bukankah Kenanga tidak melarangnya bertindak kasar kepada hewan yang menyerang?
Maka dengan sebatang tongkat panjang miliknya, Mantingan duduk bersila di depan tenda beralaskan daun pisang lebar. Suasana malam terasa sunyi walau jangkrik bersuara keras. Mantingan telah terbiasa dengan situasi malam di hutan seperti ini. Tetapi tidak dengan Rara, dia menutup tendanya rapat-rapat, dan menutupi diri dengan selimut sambil meringkuk ketakutan.
Jika yang Rara takutkan di tempat itu justru lebih condong akan kemungkinan keberadaan makhluk halus, maka Mantingan lebih takut akan keberadaan binatang buas atau perampok yang merupakan bahaya nyata. Mata Mantingan liar meneliti semak belukar dan barisan pepohonan, waspada penuh hingga dirinya sama sekali tidak merasakan kantuk.
Malam semakin larut, waktu berjalan begitu cepat. Mantingan mulai merasakan kantuk, dan ia bisa saja tidur sekarang juga atau bisa saja tetap terbangun. Seharusnya Mantingan membangunkan Rara untuk ganti jaga, tetapi dirinya tahu bahwa Rara sangat ketakutan dan tidak terbiasa dengan hutan di tengah malam seperti ini. Mantingan akhirnya meneruskan penjagaannya tanpa terpaksa.
***
Saat hari mulai memasuki terang tanah, Rara terbangun dan segera sadar bahwa dirinya tidak menggantikan Mantingan berjaga tadi malam. Lekas ia menyibak tirai tenda dan menemukan Mantingan masih berada dalam posisi yang sama seperti tadi malam, duduk bersila di atas selembar daun pisang lebar di depan tendanya.
Mantingan menoleh ke arah Rara yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah, Mantingan menunjukkan senyumnya dan berkata bahwa semuanya berjalan aman tadi malam.
“Mantingan, sekali lagi maafkan aku.” Rara masih memelas, memohon ampunan maaf dari Mantingan yang entah harus berapa kali diberikan.
“Tidak apa, tidak apa, aku menikmati suasana tadi malam.” Mantingan tersenyum canggung.
“Apa sekarang kau mengantuk atau kelelahan?”
“Tidak sama sekali.”
“Jangan berbohong, Mantingan.”
“Sungguhan, aku sudah terbiasa tidak tidur bahkan sampai l dua malam. Tidak tidur satu malam saja bukanlah masalah besar.”
“Tapi apakah malam tadi kau tidak merasa takut?”
Dahi Mantingan sedikit mengerut sebelum tertawa kecil. “Aku sedikit takut pada hewan buas dan perampok, tapi bukan makhluk halus.”
Rara terlihat kesal, jelas dirinya merasa tersindir. Namun, rasa kesalnya itu tidak bisa bertahan lama, Mantingan keburu menyuruhnya untuk melipat tenda sedangkan dirinya akan menyiapkan makanan. Rara menolak hal itu, ia berkata bahwa dirinya lebih baik yang mengambil tugas memasak sedangkan Mantingan yang melipat tenda.
Rara tidak memberikan alasan yang sebenarnya bahwa dia tidak tahu cara melipat tenda. Mantingan setuju dan mengeluarkan peralatan-peralatan masak serta bahan-bahannya. Ia juga membuat kubangan kecil di tanah dan meletakkan kayu kering di sana yang kemudian dijadikan api, panci masak ditaruh di atasnya.
Dengan cepat Mantingan melipat tendanya dan tenda Rara, tetapi Rara terlihat terlalu bersungguh-sungguh dengan masakannya sehingga makanan masih belum matang sampai sekarang.
“Tidak perlu terlalu enak, Rara, cukup untuk mengenyangkan saja.” Mantingan mengingatkan, tetapi Rara seakan tidak pernah mendengar ucapan itu. Mantingan memilih duduk dan memperhatikan cara Rara memasak makanan.
Nyatanya Rara hanya memakai sedikit bahan makanan yang Mantingan berikan. Dia lebih banyak memakai bahan yang dibawa sendiri dan yang entah dia dapatkan dari mana. Ada banyak kentang yang Rara potong-potong membentuk persegi, dan wortel yang Rara iris tipis-tipis, semua itu ia masukkan ke dalam air mendidih. Rara tambahkan sedikit garam kasar yang ia gerus terlebih dahulu, lalu beberapa dedaunan penambah cita rasa seperti daun bawang dan beberapa lainnya.
Setelah cukup lama direbus di dalam air yang mendidih, masakan itu diangkat dan dihidangkan pada dua mangkuk batok kelapa. Baru saat itu Rara seperti keluar dari lamunannya.
“Dari mana kaudapatkan semua bahan-bahan ini?” Bertanyalah heran Mantingan.
“Aku mendapatkannya dari dapur penginapan, tapi tidak semuanya aku ambil.”
Mantingan tersedak napasnya sendiri. Tidak seharusnya barang-barang dari penginapan boleh dibawa keluar. Jika ketahuan, itu dapat dianggap sebagai pencurian yang mesti dilaporkan pada pihak desa.
Tetapi biarlah. Ia mulai mencicipi masakan Rara sedikit. Awalnya ia peduli dengan panasnya makanan sehingga dirinya hanya mencicipi sedikit saja, tetapi setelah mengetahui bahwa hidangan itu sangat lezat, Mantingan seolah melupakan bahwa itu baru saja diangkat dari panci. Bibir dan lidah Mantingan sudah kebal, sehingga ditenggak hidangan itu sampai habis dalam waktu yang sangat singkat.
Rara memandangi Mantingan dengan tatapan yang sulit diartikan. Mantingan tahu bahwa cara makannya itu sangat tidak menghargai Rara yang telah susah payah memasaknya. Tentu hidangan nikmat itu juga membutuhkan waktu untuk membuatnya, tetapi Mantingan menghabiskannya hanya dalam beberapa kejap mata saja.
“Lain kali, jika ada waktu yang lebih luang, buatlah masakan seperti ini dan aku akan lebih menikmatinya lebih lama lagi.”
Rara menahan tawanya dan menggeleng pelan, itu sama saja pujian besar untuknya. Giliran Rara yang menyantap hidangan. Berbeda dengan Mantingan, Rara jauh lebih lambat untuk menghabiskan hidangannya. Bukan dikarenakan ia ingin menikmati hidangan, tentu Rara tahu bahwa di situasi saat ini mereka tak bisa berlama-lama berdiam diri, tetapi hidangan begitu panas.
Selepas Rara menyelesaikan makanannya, Mantingan dengan sigap menutup bekas bakaran dengan dedaunan basah yang kemudian ditutupi lagi dengan tanah agar tidak menimbulkan kebakaran hutan di musim kemarau ini. Mereka kembali berkemas dan meneruskan perjalanan.
***
Perjalanan kedua muda-mudi itu tidak mengalami rintangan yang terlalu besar, gapura di gerbang Kota Kanoman sudah mulai terlihat dari kejauhan setelah menempuh dua hari perjalanan. Rara seperti melihat surga dari kejauhan, ia tak tahan berlama-lama berada di dalam hutan dan badannya telah amat sangat merindu air mandi.
Rara bergegas mendahului Mantingan yang masih berjalan santai, Mantingan hanya tertawa kecil membiarkan Rara yang memang antusiasnya tidak bisa dibendung itu.
Lalu Mantingan berpikir sebentar.
Berapakah banyak uang yang nanti ia keluarkan di dalam kota? Bagaimana jika uang itu habis dan dirinya kembali pada situasi seperti dahulu lagi? Jika ia hanya membawa dirinya sendiri, kemiskinan bukanlah masalah besar sebab dirinya telah terbiasa, tetapi kini ia membawa Rara yang tak mungkin ia ajak miskin pula.
Mungkin Mantingan bisa berhemat mulai dari sekarang dengan sedikit tidak memanjakan Rara. Ataukah dirinya mesti menetap sebentar di Kanoman untuk memperoleh uang sebelum kembali melanjutkan perjalanan sebab betapa pun Kembangmas mesti ditemukan?