Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 ( Anton )
“Eh pada tau gak? Ada mahasiswa baru di kampus kita, katanya pindahan dari Surabaya.”
“Gak tau Gue. Denger dari mana Lu?”
“Ada deh, Dia katanya satu jurusan sama kita. Pasti bentaran lagi masuk kelas ini kek nya.”
“Cewek atau cowok?”
“Cowok, orangnya ganteng. Tadi Gue liat.”
Perbincangan temen-temen cewek dalam kelas.
Tidak menunggu waktu lama. Akhirnya perkataan Miss gosip ada benarnya. Terbukti, Dosen yang mau mengajar di kelas kami menyuruh pemuda itu untuk memperkenalkan diri.
Akhirnya ia memperkenalkan diri. Namanya Anton Pahlevy ia pindahan dari salah satu Universitas di Surabaya.
Anton mempunyai paras yang tampan. Wajarlah kalau tadi Miss gosip menceritakan tentang Anton.
Anton mempunyai wajah yang tampan, berkulit putih, hidung yang mancung. Tapi agak kurang tinggi dari postur tubuhnya.
Etapi, kenapa nama belakangnya sama kek Gue? Kenzo Pahlevy. Ah ... itu hanya kebetulan saja kalik ya? Secara banyak banget nama Pahlevi di dunia ini. Pekik dalam hati.
Anton pun di suruh duduk oleh pak dosen karena jam pelajaran akan segera dimulai. Anton menghampiri bangku kosong yang berada tepat di samping bangkunya Nada.
“Hai ....” Anton menyapa Nada.
Terlihat Nada tersenyum.
“Namamu siapa?” Anton menjulurkan tangannya.
“Nada.”
Mereka pun bersalaman.
Sesekali, Nada melirik ke arahku dan tersenyum. Mungkin ia kasih sinyal kepadaku agar jangan salah paham.
Aku pun membalas senyumannya walau dalam hati ada rasa jengkel karena Nada di dekati laki-laki lain.
.
“Ken, mau ke mana?” tanya Nada.
“Mau kencing. Mau ikut?” jawabku.
“Ish! Aku tunggu di sini ya?” ucap Nada.
Aku ngeloyor tanpa berbasa basi pada anak baru. Dari penampilannya, Anton seperti anak orang kaya. Tapi sikapnya seperti milih-milih teman.
Aku kembali dari toilet. Anton masih bersama Nada, entah apa yang mereka obrolkan?
“Balik yuk, Nad,” ajakku.
Tanpa banyak bicara Nada beranjak dari kursi yang ia duduki. Beranjak pergi mengekor di belakangku.
“Bye,” terlihat Anton melambaikan tangan sambil tersenyum pada Nada.
Nada membalas dengan senyuman.
Aku berjalan cepat menuju parkiran. Entah apa yang ku rasa saat ini? Sepertinya ada rasa panas dalam jiwa ini. Apakah karena melihat Nada ngobrol sama cowok lain? Entahlah.
“Ken, tunggu!” Nada menarik ujung jaketku seperti biasa.
“Kenapa sih? Kok cemberut terus?” tanya Nada yang berjalan cepat mengikutiku.
“Enggak. Siapa lagi yang cemberut?” Aku masih berjalan cepat.
Nada menarik jaketku hingga langkahku terhenti.
“Aku tau loh Kamu lagi ngambek, Ken,” ucap Nada menyelidik.
“so tau!” ucapku yang tak memandang wajahnya.
Hening.
Kami masih mematung dalam koridor kampus.
“Aku enggak punya perasaan apa-apa sama Anton, Ken!” ucap Nada tiba-tiba.
“Iya, Gue tau. Tapi bagaimana dengan Anton? Sepertinya Dia suka sama Kamu, Nad.”
Nada tersenyum.
“Itu kan urusannya Dia. Yang jelas, Aku gak suka sama Dia. Rasa sayang Aku hanya untuk Kamu, Ken,” ucap Nada yang terdengar menenangkan jiwaku.
Langkahku kini ku ayunkan ke parkiran kampus. Dengan hati yang masih sedikit kesal aku mencoba untuk tidak memperlihatkan pada Nada.
.
Akhirnya Nada turun dari jok motorku. Ia masuk ke dalam rumah setelah berpamitan padaku.
Terlihat Ibu sedang berada di depan mesin jahitnya. Aku perhatikan ibu sedang memegang gawai di tangannya. Terlihat, ada air bening di sudut matanya.
Aku menghampiri ibu. Aku perhatikan, begitu seriusnya ibu memandangi layar gawainya. Hingga, aku berdiri di sampingnya pun ibu tidak tahu.
“Bu.”
Ibu terlihat terperanjat. Mungkin ibu melamun.
“Ibu melamun, ya?” tanyaku.
“Enggak, Nak,” ucap ibu yang langsung mengendalikan mesin jahitnya.
“Jangan bohong.”
“Iya, Ibu enggak bohong. Makan dulu gih, nanti Ken pergi nyanyikan?” pungkas ibu.
Tak banyak tanya aku langsung menaiki anak tangga. Aku ambil handuk yang ada di balik pintu kamarku, lalu kembali menuruni anak tangga.
Handuk masih melingkar di pundakku. Aku ke dapur untuk mengisi perut yang sudah lapar.
Aku lanjut mandi dan kembali menaiki anak tangga. Seperti biasa, aku memakai kaos yang ku double dengan kemeja. Memakai celana jeans beserta sepatu kets. Tak lupa aku mengenakan gelang, jam tangan dan topi yang selalu ku kenakan ketika perform.
“Aku berangkat, Bu.”
“Iya. Hati-hati, Nak.”
Aku menstater motor namun terdengar suara Nada memanggil.
“Ken!”
Aku menoleh. Terlihat Nada menghampiriku yang sedang berada di motor matic ku. Aku mengangkat alis.
“Aku ikut,” ucap Nada.
“Nanti bosen, cuma liatin Gue perform?”
“Aku takut sendirian. Kan, Babe udah berangkat ke rumah Encang.”
“Ya udah, ayok.”
“Sebentar, Aku mau ambil tas,” ucap Nada yang segera memasuki rumahnya.
Aku menunggu hingga beberapa menit. Kalau cewek ngomongnya ngambil tas doang, biasanya lebih dari sepuluh menit.
Benar saja. Sudah lima belas menit aku menunggu, Nada belum juga keluar rumah. Entah apa yang merasukimu, Nad? Pekik dalam hati.
Motor yang telah ku stater dari tadi akhirnya ku matikan. Karena Nada terlalu lama dalam kamar. Pingsan gitu? Tanya dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ke rumahnya. Baru saja aku mau mengetuk pintu, pintu sudah tertarik dari dalam rumah.
“Hai ... Maaf nunggu lama,” ucap Nada sambil mengunci pintu rumahnya.
Wangi semerbak yang fres perpaduan jeruk bergamot, berry dan peach yang menjadi satu telah menusuk panca indraku. Gaya Feminim namun terkesan santai selalu jadi andalan. Serta makeup natural yang menyempurnakan penampilannya.
“Ayok, berangkat,” ucap Nada yang sudah naik di atas jok motorku.
Tangan yang melingkar di pinggangku membuat detak jantung kembali berpacu dengan sangat kencang.
Aku menikmati perjalanan, hingga tak terasa sudah sampai di tempat kerja. Aku persilahkan Nada duduk ketika menunggu aku perform di atas panggung.
“Ciee ... sekarang pakai bodyguard?” ucap mba Rere meledek.
“Iya. Mba. Mau ikut katanya,” ucapku.
“Lah ... Nanti pacarnya marah loh ....” mba Rere masih meledekku.
“Ya enggak lah, pacarnya aja sekarang Gue,” ucapku.
“What?” mata mba Rere terbelalak.
Aku tersenyum.
“Kok bisa?” tanya mba Rere dengan ekspresi heran.
“Bisa lah!” ucapku sambil memegang topi dan menaikan alis, sok kecakepan.
Mata mba Rere menyelidik.
“Ken, nanti datang ke pernikahan Mba, ya?” ucap mba Rere.
“Kapan?” tanyaku.
“Semingguan lagi, besok Mba gak masuk kerja sekitar dua minggu,” ucap mba Rere sambil tersenyu.
“Wah ... Selamat ya Mba, ikut seneng Gue.”
“Oh iya ... Kalian udah jadian?” tanya mba Rere lagi.
“Idih ... kepo! Udah ah, Gue udah mau perform,” ucapku sambil ngeloyor pergi meninggalkan mba Rere.
Aku naik ke atas panggung. Terlihat Nada tersenyum. Lagu demi lagu mulai teralun dari bibirku. Hingga tak terasa waktu telah usai.
“Mba, Gue balik duluan, ya?” ucapku berpamitan pada mba Rere.
“Em ... yang udah punya pacar. Bawaannya mau pulang terus,” mba Rere terkekeh.
Aku tersenyum dengan segala ledekannya, dan berjalan menghampiri Nada.
“Makan dulu yuk, Nad.” Aku mengajak Nada.
“Boleh,” ucap Nada.
Aku tancap gas meninggalkan tempat kerjaku. Aku mencari rumah makan yang ada di pinggir jalan. Namun, Nada minta berhenti ketika melewati lesehan.
“Ngapain minta berenti di sini, Nad?” tanyaku heran.
“Aku mau makan di sini aja, Ken,” Nada menunjuk tempat makan lesehan pinggir jalan.
Akhirnya pilihan Nada jatuh pada sate kambing. Sepertinya Nada pecinta masakan daging kambing, pekik dalam hati.
Aku memarkirkan motor dan masuk dalam lesehan. Sambil menunggu pesanan datang. Aku membuka satu gelang yang berinisial huruf K. Aku memberikannya pada Nada.
Ia meraih dan menatap lekat pada gelang yang aku berikan.
“Maaf, Nad. Gue belum bisa memberikan gelang yang bagus buat Kamu,” ucapku sambil nyengir.
Nada meraih tanganku dan memberikan gelang itu padaku.
“Pakaikanlah ....” Nada menjulurkan tangannya padaku.
Aku memakaikan gelang pada tangan kirinya. Nada menggenggam tanganku dan mencium gelang pemberianku.
“Makasih, sayang.”
.
Selesai makan, aku membeli martabak manis buat ibu. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
***
Kampus again guys!
Hari ini ketika mau ke berangkat ke kampus. Hujan turun sangat lebat. Aku memutuskan untuk menunda perjalanan karena jam kuliah pun masih lama.
Hingga akhirnya hujan reda namun masih menyisakan gerimis yang masih melanda. Aku memutuskan berangkat ke kampus walau gerimis masih melanda.
.
Kami berjalan memasuki koridor kampus.
Masih belum banyak orang. Kami memutuskan masuk dalam kelas. Ternyata, Anton sudah ada di kelas. Ia menatap ke arah kami dan tersenyum pada Nada.
Aku duduk di samping kanan Nada sedangkan Anton di sebelah kirinya.
“Ken, Aku mau duduk di situ dong,” ucap Nada meminta tukeran tempat duduk. Mungkin ia tidak nyaman? Entahlah.
“Kenapa?” aku berbisik pada Nada.
“Aku gak mau Kamu cemburu,” jawab Nada berbisik padaku.
“Gak usah, Gue percaya sama Kamu, Nad,” ucapku sambil tersenyum.
Aku berusaha berpikir positif pada Nada. Aku takut kalau aku terlalu cemburuan, Nada malah tidak nyaman padaku. Aku ini pacarnya yang ingin melindunginya. Bukan pacar yang terkesan ingin membelenggunya.
***
“Abang!” gadis itu berlari mendekatiku.
“Intan?”
“Aku mau Abang jadi pacar Aku,” ucap Intan yang terlalu maksa dan polos.
“Emang jadi pacar itu segampang beli permen, Tan?”
“Maksudnya?” tanya Intan.
“Pacaran itu mesti punya rasa sayang dari kedua belah pihak,” ucapku.
“Kan Aku sayang sama Abang. Abang juga sayang sama Aku, walau sayang Abang masih seperti sama adeknya. Kan nanti juga bisa sayang sebagai pacar,” ucap Intan yang sotoy.
“Gak bisa Ntan, Gue udah punya pacar. Lu cari yang seumuran dengan usia Lu. Jagan Gue ya?” aku jelas-jelas menolaknya.
“Hai ....” ucap Nada menyapa.
Aku terkejut.
Intan mendelik seperti sedang memperhatikan cewek yang di depannya.
“Ini siapa?” tanya Nada.
“Aku Intan,” Intan menyodorkan tangannya tanpa aku meminta.
“Hai ... Intan, Kamu cantik ya?” ucap Nada.
Intan tersenyum. Namun seperti senyuman terhadap lawannya. Mungkin ia merasa kalau Nada itu saingannya.
“Ya udah, Aku pulang ya, Bang,” ucap Intan seraya ngeloyor melewati kami.
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan keadaan tersebut. Hanya bisa berharap Nada gak marah.
Nada terlihat tersenyum kepadaku setelah Intan berlalu pergi.
“Intan itu siapa?” tanya Nada menyelidik.
‘Mampus, Gue!’ pekik dalam hati.
“Intan itu ....” kataku terpotong.
Aku tengah sibuk mencari jawaban agar Nada tidak salah paham terhadapku.
“Ken?” ucap Nada lagi.
“Intan itu ....”
Krik ... Krik ... Krik ....
Hening.
Aku masih belum bisa menjawabnya. Ya Allah, tolong hamba-mu ini, pekik dalam hati.