Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Kak Nicho,,,!"
Lagi - lagi suara panggilan Sisil kembali terdengar di parkiran kampus. Wanita itu pasti akan menagih makan bersama dengannya untuk ke 2 kalinya.
"Kakak kabur - kaburan mulu,,," Sisil menggerutu di samping Nicho. Nafasnya terlihat memburu karna barus saja berlari.
"Inget ya kak, selama 2 minggu kakak harus makan bareng sama aku. Ini baru sekali udah mau kabur lagi,,," Wajah cemberut Sisil membuat Nicho ingin menarik bibirnya yang terlihat semakin maju seperti bebek.
"Siapa yang kabur.?" Nicho menoyor kening Sisil dengan telunjuknya.
"Selama 2 minggu itu nggak harus setiap hari makan bareng.! Bisa kapan aja asal nantinya full selama 2 minggu.!" Nicho terlihat geram.
"Minggir,," Nicho menggeser tubuh Sisil yang menghalangi pintu mobilnya.
"Aku ada urusan lagi hari ini, jangan ganggu orang sibuk.!" Serunya datar. Nicho masuk kedalam mobilnya.
"Oke,,,! Okee,,,!! Manusia paling sibuk.!!" Ujar Sisil dengan intonasi pelan namun menekankan kalimatnya dan suaranya yang lantang.
Nicho melirik tajam sebelum menutup pintunya.
"Wleee,,,," Lirikan tajamnya mendapatkan ejekan dari Sisil dengan menjulurkan lidah dan mata yang membulat sempurna.
"Dasar bebek.!!" Seru Nicho yang langsung menutup pintu mobilnya.
Nicho sempat melihat Sisil yang menghentakkan kedua kakinya. Wanita itu terlihat sangat kesal padanya.
Nicho melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Siang ini dia di undang oleh Papa Alex ke kantor. Nicho bisa menebak ada hal penting yang akan di bicarakan oleh sang Papa karna sebelumnya Papa Alex tidak pernah menghubunginya sejak hubungan mereka renggang.
Tapi tiba - tiba tadi pagi dia mendapat pesan dari Papa Alex yang memintanya untuk datang ke kantor siang ini.
Nicho duduk di sofa dengan tatapan jengah. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Sesekali melirik sang Papa yang masih fokus dengan pekerjaannya. Sudah lebih dari 10 menit dia hanya duduk menunggu Papa Alex sampai selesai menyelesaikan pekerjaannya.
"Papa menyuruhku kesini cuma untuk membuatku menunggu seperti ini.?" Nicho sedikit menyindir meski cara bicaranya terdengar sopan dan pelan.
Papa Alex terlihat mengarah pandangannya pada Nicho. Sebelah sudut bibirnya terangkat.
Anak sulungnya itu memang keras kepala dan mudah tersulut emosi.
"Sudah lama kamu tidak bertemu Papa, sekali - kali menemani Papa bekerja,,," Papa Alex terlihat santai. Senyumnya yang berwibawa terlihat mengembang.
Nicho sedikit heran melihatnya. Sang Papa terlihat sangat senang, tidak seperti biasanya yang akan langsung mencecarnya tentang hubungannya dengan Fely.
"Bagaimana dengan kuliah kamu.? Papa dengar kamu sudah pindah ke sini,,," Papa Alex menutup laptopnya, dia beranjak dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri Nicho.
Nicho terlihat menarik nafas. Papa Alex pasti sudah tau semuanya dari Jeje.
"Baik, Papa tidak perlu repot - repot menanyakan hal yang tidak penting seperti itu,,," Sahutnya sinis.
Nicho masih saja menyimpan kekesalan pada sang Papa. Pertengkaran hebat yang terjadi waktu itu membuatnya sedikit membenci Papa Alex.
"Kamu masih marah sama Papa hanya karna membela wanita yang tidak jelas asal usulnya itu.?!" Papa Alex terlihat mulai jengkel karna Nicho terus saja bicara ketus padanya.
"Bukannya hubungan kalian juga sudah berakhir.? Lalu kenapa masih marah pada Papa.?" Kali ini Papa Alex mengulas senyum puas.
Mendengar kabar berakhirnya hubungan Nicho dan Fely, jadi kebahagiaan sendiri untuknya. Setidaknya dia tidak jadi kehilangan anak sulungnya itu. Karna jika hubungan Fely dan Nicho tetap berlanjut, Papa Alex tidak akan lagi menganggap Nicho sebagai bagian dari keluarganya.
"Jadi Papa memanggilku hanya untuk membahas masalah itu.? Atau Papa ingin menertawakanku.?!" Geram Nicho. Melihat Papa Alex mengulas senyum, membuat hatinya semakin panas. Entah kenapa Papa Alex tidak pernah menyukai hubungannya dengan Fely sejak tau asal usul Fely.
"Hahahaa,,,," Suara tawa Papa Alex menggema di ruangan kerjanya. Tawa yang terdengar sangat puas dan bahagia.
"Secinta itu kamu padanya.? Mata dan hatimu bahkan sudah tertutup. Kamu tidak bisa melihat wanita cantik yang sebanding denganmu di luaran sana." Cibiran itu membuat Nicho menggeram kesal.
"Kalau tidak ada hal penting yang ingin Papa bicarakan, sebaiknya aku pergi sekarang,,,!" Nicho beranjak dari duduknya dengan aura ke marahan yang memancar dari wajahnya.
"Kamu akan terus membuang - buang waktumu yang berharga hanya untuk memikirkan wanita itu.?"
"Papa tunggu sampai 2 minggu, datang ke rumah dan bawa wanita baru yang sebanding dengan mu atau Papa akan menutup semua usaha kamu tanpa kecuali. Termasuk yang ada di New York.!!"
Nicho menghentikan langkahnya begitu mendengar ancaman yang keluar dari mulut sang Papa. Nicho berbalik badan dan menatap Papa Alex dengan tatapan tajam penuh amarah.
Dia merasa kesal karna Papa Alex melibatkan usaha yang sejak dulu dia rintis sendiri.
"Papa tidak main - main Nich.! Dan berhenti jadi orang bodoh hanya karna wanita itu.!" Tambahnya lagi. Nicho tidak memperdulikannya dan keluar begitu saja dari ruangan Papa Alex.
"Brengs*k.!" Nicho memukul stir mobil.
Membahas masalah itu hanya membuatnya semakin kacau. Dia jadi teringat kembali pada Fely dan semua kejadian yang sudah membuat hatinya hancur.
Nicho melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya yang kacau harus segara di alihkan pada kegiatan yang akan membuat hati dan pikirannya lebih baik. Dia mengarahkan mobilnya ke kafe miliknya. Lebih baik fokus untuk mengurus kafe dan kuliahnya saat ini.
Saat masuk kedalam kafe, Nicho di sambut oleh tawa Sisil dan Alvin yang terlihat renyah dari kejauhan. Memilih tidak peduli, Nicho bergegas untuk pergi ke ruang kerjanya. Namun suara Sisil menghentikan langkah Nicho.
"Kak Nicho.! Sini makan bareng,,," Tawar Sisil.
"Ngapain ngajakin dia, udah biarin aja. Dia bisa makan sendiri sepuasnya,,," Celetuk Alvin cepat.
Nicho melirik malas, tapi kemudian menghampiri keduanya.
"Kalian ngapain makan disini.?" Tanya Nicho sinis.
"Makan gratis tidak berlaku untuknya,,," Nicho menunjuk wajah Alvin.
"Yaelah pelit banget lu, nggak pantes lu jadi pemilik kafe,,," Cibir Alvin kesal.
"Lagian Sisil yang bayarin gue.!" Seru Alvin bangga.
"Kamu bayarin si brengs*k ini.?" Tanya Nicho sinis.
"Mulut lu tuh minta di hajar apa gimana.?!" Alvin protes karna tidak terima di sebut brengs*k.
"Aku yang ngajakin kak Alvin makan bareng disini, jadi ya sekalian aja aku bayarin. Daripada makan sendirian,,," Tutur Sisil acuh.
"Lagian kakak kenapa nggak bilang kalau cuma pergi sebentar, kalau gitu kan kita bisa makan siang bareng,,," Ujarnya penuh sesal karna tidak bisa makan siang dengan Nicho.
"Kakak belum makan kan.? Disini aja makannya," Sisil menepuk kursi kosong disebelahnya.
"Ah gue lupa mau ngomong sama elu,,," Tiba tiba Alvin menyeletuk, dia langsung berdiri dan mendorong Nicho untuk menjauh.
"Bentar ya, aku bicara dulu sama Nicho," Ujarnya Alvin lembut.
"Mending lu ke dalem aja deh, jangan gangguin gue sama Sisil. Lagi pdkt nih, lumayan kan kalo di terima." Ujar Alvin dengan suara pelan.
"Badannya masih seger banget, cocok di jadiin mangsa,,," Bisiknya lalu semakin mendorong Nicho untuk menjauh.
"Nggak masalah kalo lu mau makan di dalem,,!" Seru Alvin yang kemudian kembali ke duduk. Dari kejauhan Nicho melotot menatap Alvin, tapi kemudian bergegas pergi ke dapur.
"Kenapa kak Nicho nggak bisa makan disini.?" Tanya Sisil. Alvin tersenyum lebar.
"Katanya banyak kerjaan, jadi mau makan di dalem sekalian kelarin kerjaannya,,," Sahut Alvin cepat.
Sisil hanya mengangguk saja, tapi wajahnya terlihat kecewa. Keduanya melanjutkan makan siang tanpa bersuara. Sisil hanya fokus pada makanannya, dan Alvin terus fokus pada bibir Sisil.
"Minggir.!!" Nicho menggeser piring Alvin dan meletakan piring di sana kemudian duduk di samping Sisil.
"Loh.?? Katanya kakak banyak kerjaan.?" Sisil bengong menatap Nicho yang tiba - tiba bergabung dengan membawa makanan sendiri.
"Si brengs*k yang bilang, bukan aku.!" Sahutnya ketus. Nicho langsung menyantap makanannya tanpa memperdulikan tatapan tajam Alvin yang merasa terganggu dengan kehadirannya.
...****...
...Votenya kok dikit? ...
...Yuk vote buat yang belum, ☺...
Biar mikir jg laki model bgtu. Ribet bgt soal anak merid jg blm ada setaun