Cinta adalah samudera kehidupan menuju puncak kebahagiaan. Mencintai dan di cintai adalah suatu kebutuhan hakiki setiap manusia begitu pun yang dirasakan oleh Bella dan Brian.
Berawal dari pertemuan tak sengajanya siapa sangka mereka jadi terbiasa bersama dan menjalin bahtera yang bahagia sebagai pasangan suami istri. Tapi siapa sangka suatu ketika kebahagiannya pupus karena suatu keadaan yang menguji Rumah tangganya yang telah terjalin beberapa tahun.
"Bella apa aku bisa untuk setia di saat keadaan memaksaku untuk berpaling, aku butuh perhatian dari seseorang tapi aku masih mencintai dan menyayangi mu maafkan aku sayang" ucap Brian di sela kesedihan melihat istri tercintanya yang lemah tak berdaya.
"Maafkan aku sayang, aku bukan selingkuh tapi hanya butuh" ucap nya lagi.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Brian dan Bella, akan kah mereka bisa bahagia setelah nanti sang istri kembali lagi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafasya Alfindra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Malam ini, Bella akan bertemu dengan calon tunangannya. Bella sedang mempersiapkan dirinya untuk hadir ke acara makan malam antar keluarga, antara keluarganya dan juga keluarga teman Papanya.
Bella begitu enggan untuk hadir ke acara tersebut, namun karena bujukan Mamanya lah ia mau menghadiri acara tersebut.
"Bella ....," teriak Mama yang berada dilantai bawah memanggil Bella yang masih saja belum keluar kamarnya.
Bella begitu enggan untuk meninggalkan kamarnya sekarang, kalau saja yang di jodohkan Papanya adalah Brian, pastinya Bella akan menyambut dengan sangat bahagia. Namun ini berbeda, calon tunangan ini merupakan orang yang belum ia kenal sebelumnya.
"Iya Ma, sebentar," jawab Bella lalu berdiri dari tempat duduknya yang ditempatinya sekarang.
Bella melangkahkan kakinya keluar kamar dengan langkah gontai dan kurang semangat, namun ia tetap memaksakan untuk selalu tersenyum demi keinginan kedua orang tuanya.
"Wah udah cantik anak Papa," ucap Papa memuji Bella yang baru saja turun dari lantai atas.
Bella hanya diam tanpa menjawab ucapan Papanya, bukan karena ia kesal dengan pujian Papanya saat ini. Namun Bella hanya kesal akan dirinya, yang tidak mampu menolak keinginan orang tuanya.
Mereka pun berjalan beriringan dan mulai memasuki mobil Papa yang sedang terparkir di depan halaman rumahnya.
Mama Bella sangat paham, tentang apa yang dirasakan anak gadisnya saat ini. Namun Mama hanya bisa diam tanpa berniat membantu anaknya. Karena menurutnya, mungkin inilah saatnya anak gadisnya bisa merasakan kasih sayang dari kedua keluarga. Baik dari keluarganya dan keluarga calon suami anaknya nantinya. Apalagi mereka sudah kenal dekat bahkan ia sudah menyelidiki sebelumnya mengenai bagaimana sifat dan tingkah laku dari calon suami anaknya nantinya, jauh sebelum ia memberi tahu Bella mengenai rencana pertunangannya
"Masuk Nak," ucap Mama saat Bella yang tidak kunjung memasuki mobil Papanya dan malahan berjalan kearah mobil Bella yang terparkir yang tidak jauh dari mobil Papanya berada.
"Ma ....," rengek Bella karena ia tidak ingin ikut masuk mobil Papanya saat ini.
"Jangan macam - macam Bel," ucap Mama memperingati anaknya yang tidak mau menuruti permintaannya.
"Iya," jawab Bella yang sedikit kesal melihat sikap Mamanya yang seolah tidak mengerti apa keinginannya saat ini.
Bella berjalan menghampiri mobil Papanya dan langsung masuk tanpa bicara sepatah kata pun. Karena bagi Bella, diam adalah cara yang terbaik saat ini.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka telah sampai di tempat dimana ia akan mengadakan pertemuan keluarga.
"Ayo turun," ajak Mama saat melihat Bella yang tidak juga kunjung keluar dari mobil.
"Iya Ma," ucap Bella yang hanya pasrah dengan apapun yang terjadi kepadanya saat ini.
Mereka pun melangkahkan kakinya menuju meja dimana mereka akan mengadakan pertemuan saat ini.
"Bella, kamu cobalah untuk tersenyum Nak. Jangan sampai kamu memasang wajah jutek seperti itu kepada calon besan Mama nantinya," ucap Mama menasehati Bella yang mulai cemberut saat mereka akan masuk kedalam pintu kafe.
Bella hanya diam tanpa membalas sedikitpun nasehat yang di berikan Mama kepadanya, karena yang ada di pikirannya saat ini, hanyalah bayangan akan wajah Brian yang terlintas di pikirannya saat ini.
Mama berhenti sejenak memperhatikan wajah anaknya yang masih saja cemberut.
"Papa temui teman Papa dulu, Mama mau ke toilet sebentar bersama Bella," ucap Mama memberi alasan agar suaminya bisa pergi menemui calon besannya terlebih dahulu.
"Ya sudah Papa duluan ya, ingat jangan lama - lama," ucap Papa mengingatkan istrinya yang mempunyai kebiasaan berlama - lama apabila didalam toilet.
Setelah Papa menjauh, Mama Bella menarik pergelangan tangan anaknya ke arah tempat yang agak sepi pengunjung. Mama Bella ingin menasehati anaknya agar ia bisa paham akan pilihan terbaik untuk anaknya saat ini.
"Duduk," perintah Mama kepada Bella.
Bella hanya bisa pasrah akan keinginan orang tuanya saat ini. Ia menuruti perintah Mamanya untuk duduk di kursi di sebelah pojok kafe yang saat itu masih sepi pengunjung berdatangan.
"Kamu masih menghargai Mama sebagai Mama yang telah membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang, bukan?" tanya Mama yang sedikit kesal karena sedari awal berangkat dari rumah, Bella yang masih saja memasang wajah jutek sehingga itu yang membuat Mama Bella mengajaknya untuk berbicara empat mata dengan Bella.
"Mama bicara apa sih Ma?" tanya Bella yang tidak juga kunjung paham akan sikap Mamanya yang sedikit egois saat ini.
"Harusnya Mama yang tanya seperti itu kepadamu Nak," jawab Mama yang sudah meredakan sedikit emosinya, agar Bella mengerti akan maksudnya membawa Bella untuk berbicara disini.
"Tapi Ma, sebelumnya Bella sudah memberi tahu Mama bahwa Bella tidak akan mau menerima perjodohan ini," ucap Bella yang masih bersikeras menolak keinginan Mamanya.
Mama menghela nafas yang cukup berat, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya saat ini. Padahal Mama dan Papanya melakukan ini semua adalah demi semata - mata untuk mebahagiakan anak gadisnya agar tidak terjerumus ke hal yang salah dan pilihan calon suami yang tidak tepat.
"Mama tidak mau tahu, pokoknya sekarang kita temui Papa kamu dan tampilkan wajah sebaik dan seramah mungkin nantinya," ucap Mama yang tidak ingin di bantah lagi ucapannya.
Mama pun melangkahkan kakinya menuju meja yang telah ia boking sebelumnya untuk pertemuannya dengan Bella yang berada di belakang yang mengikuti langkah kaki Mamanya.
"Mama kemana aja, kok lama betul ke toiletnya?" tanya Papa menyelidiki istrinya yang sedikit aneh saat ini melihat dari tatapan wajahnya.
"Maaf tadi Mama ke belet mau BAB, jadi agak lama. Iya kan Bel," jawab Mama Bella beralasan.
"Ya sudah duduk dulu," ujar Papa lagi.
Mama, Papa dan Bella duduk sambil menunggu calon besannya yang sedikit datang terlambat.
"Pa, jadi datang atau tidak mereka Pa," tanya Bella yang sudah mulai bosan duduk menunggu orang yang tidak kunjung datang menemuinya saat ini.
"Ingat Bel, apa yang Mama bilang tadi sama kamu," ucap Mama kepada Bella.
Bella menghela napasnya saat Mamanya yang sudah memperingatkannya seperti itu. Bella seakan tidak bisa berkutik lagi dan hanya diam tanpa bertanya lagi.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya yang ditunggu barulah datang. Bella masih betah duduk tanpa melihat siapa yang datang yang menemuinya saat ini, sedangkan lelaki yang akan di jodohkan dengan Bella yang baru saja datang tersenyum bahagia saat melihat yang di jodohkan oleh Papanya adalah orang yang di cintainya saat ini.
"Bella," panggil Mama saat melihat anaknya yang tidak peduli akan kedatangan calonnya.
Bella yang merasa terpanggil pun segera menoleh menatap Mamanya dan pada saat itu lah Bella seakan terkejut menatap orang yang tepat berada di hadapannya saat ini adalah orang yang ia kenal sebelumnya
...........
Jangan lupa like dan komennya all