Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26.
Askana berdiri secara perlahan, walaupun tubuhnya sangat terasa lemas, kepalanya terasa pusing, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat ceria di hadapan ibu-nya karena Askana tidak mau membuat ibu-nya sakit kembali.
Askana masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka-nya, dia mengoleskan sedikit cream ke wajah-nya supaya tidak terlihat kalau dia habis menangis.
Dengan segera dia membuka pintu kamar-nya memasang wajah yang ceria.
"Maaf ya, Bu? Sudah membuat ibu khawatir."
Tapi kamu gak apa-apa kan? Dari tadi pagi kamu nggak keluar kamar, ibu sangat khawatir. Apakah kamu sehat?" ujar Bu Assyifa sambil memegang kening Askana.
"Ana sehat, Bu!"
"Ibu mendengar ada suara tangisan! Apakah kamu menangis?"
"Tadi Ana lagi menonton drama di-ponsel, Bu! Dan ceritanya sangat sedih banget! Makanya Ana jadi ikutan nangis," elak Ana pada ibu-nya.
"Maaf ya Bu? Hari ini Ana jadi malas-malasan, tidak membantu pekerjaan ibu yang seharusnya dilakukan oleh Ana."
"Apa ibu belum makan?"
"Ibu nungguin kamu, Nak! Ibu sangat khawatir kamu tidak keluar kamar dari tadi pagi."
Askana sangat menyesali perbuatannya itu, karena telah membuat ibu-nya menjadi susah, sampai belum sempat makan.
Askana menahan tangisnya, padahal hati-nya begitu sesak ingin sekali ia menangis di pelukan ibu-nya. "Askana! Mulai hari ini kamu harus kuat, harus tegar, masalah yang lalu biarlah berlalu, demi ibu kamu harus tetap semangat," gerutu Askana dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Askana mengajak ibu-nya untuk makan, mereka pun duduk bersama di meja makan, namun belum sempat Ana menyantap makanannya dia kembali merasakan mual.
"Kenapa rasa mual ini selalu ada! Dan tak pernah hilang setiap kali aku mencium aroma makanan, apa yang terjadi kepada-ku sebenarnya, apa jangan-jangan aku beneran hamil? "Ah, tidak mungkin! Aku tidak boleh berpikir kesana."
"Kenapa malah bengong, Nak! Ayo makan? Ibu sudah buatkan makanan kesukaan kamu."
Askana mencoba untuk memakan makanan yang sudah dibuatkan oleh ibu-nya, walau ia tak mampu untuk memakan-nya karena rasa mual yang sangat kuat ia rasakan, namun tidak mau membuat ibu-nya kecewa.
Baru dua sendok yang Askana makan ia sudah merasa tidak kuat, rasa mual dan ingin muntah-nya semakin kuat ia rasakan, Askana menyudahi makan-nya.
"Kok sedikit makan-nya, Nak?"
"Maaf Bu! Perut Ana sudah sangat kenyang, Ana mau permisi dulu kekamar mandi, Bu."
Askana berlari tergopoh-gopoh menuju kekamar mandi, ia sudah tidak tahan lagi ingin memuntahkan makanan yang baru saja ia makan, karena merasa penasaran dengan keadaannya yang selalu muntah iapun mengambil tes-pek yang sudah ia beli dari dalam tasnya, segera ia kembali kekamar mandi untuk mencobanya, dengan hati yang berdebar-debar ia mencelupkan tes-pek pada urine yang sudah ia siapkan di wadah kecil, Askana memejamkan matanya tak berani dengan hasil yang akan ia dapati. Terlalu lama Askana menutup matanya, iapun mencoba membuka matan dan melihat hasilnya.
"Alhamdulillah! Ternyata hasilnya negatif." Askana merasa lega dengan hasilnya, segera ia membuang tes-peknya supaya tidak terlihat oleh ibu-nya.
"Ada apa sebenarnya dengan putri-ku, akhir-akhir ini perilaku-nya sangat berbeda, tidak seperti biasanya. Apakah dia menyembunyikan sesuatu dari ibu-nya sendiri?" batin Bu Assyifa penuh dengan tanda tanya.
Bu Assyifa kembali memegangi dadanya, dan iapun terduduk lemas dikursi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Safira duduk di bangku kantin sambil melamun. "Askana gak masuk kuliah rasanya sangat sepi, aku sudah gak sabar ingin segera menuju kerumah-nya."
"Kenapa Safira duduk sendirian! Kemana Askana? Sejak tadi pagi gue tidak melihat Askana bersama Safira, gue harus cari tahu!"
Tiba-tiba saja Alex menghampiri Fira.
"Tumben sendirian, Fir? Kemana si cantik?" ujar Alex sambil duduk bersebelahan dengan Safira.
"Siapa yang nyuruh kakak duduk disini? Sudah deh kak! Jangan gangguin Askana lagi, Askana itu sudah punya pacar."
"Oh, ya! Tapi selama ini gue nggak pernah lihat cowok yang berdekatan dengan Askana. "Sudahlah Fir! Lo itu nggak usah jutek-jutek sama gue, yang ada lo itu suka lagi sama gue."
"Lebih baik Kakak pergi deh dari sini! Jangan sampai pacar kakak si Sofia itu mencari gara-gara, kakak urus saja pacar kakak yang sok cakep itu!" ujar Safira sambil beranjak pergi meninggalkan Alex.
"Ternyata Safira juga susah banget untuk gue deketin, gue butuh informasi tentang Askana. Ah sial! Ngapain juga gue nanya Safira, tinggal kerumah-nya saja, kemarin malam-kan gue yang nganterin Askana pulang, bodoh banget gue!"
Sofia menatap Alex dari kejauhan dengan penuh curiga.
"Ngapain Alex deketin Safira! Awas aja ya lo, kalau berani macam-macam."