Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya sampingan!
Enam bulan lalu...
Pagi itu, area parkir kampus megah tersebut sudah dipenuhi deretan kendaraan mewah yang terparkir rapi.
Sinar matahari pagi yang hangat berusaha menembus hawa dingin sisa hujan semalam, menciptakan kilatan tipis di atas permukaan aspal yang masih basah.
Deru mesin yang menderu nyaring mendadak memecah ketenangan pelataran gedung kuliah. Sebuah SUV hitam milik Julian melaju kencang sebelum akhirnya memotong jalur dan berhenti sempurna di area parkir paling depan.
Pintu penumpang depan terbuka terlebih dahulu. Sabrina melangkah keluar dengan canggung, merapikan tali tas kain yang melingkar di bahunya.
Tak lama kemudian, Julian menyusul keluar dari pintu kemudi, menyampirkan jaketnya dengan gerakan santai yang terkesan tak acuh.
Belum sempat mereka melangkah menuju koridor, langkah keduanya terhenti. Dari arah parkiran, tiga sosok menghampiri Julian.
Rian, Fano, dan Adrian melangkah dengan gaya khas mereka, penuh percaya diri dan gestur tubuh yang meremehkan sekeliling.
Sabrina yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran para sahabat Julian itu lantas mundur satu langkah.
Tatapan Adrian yang tajam dan senyum miring Fano membuatnya makin gelisah.
"Aku duluan ya," pamit Sabrina pelan, menatap Julian sekilas tanpa berani menatap tiga orang di sampingnya.
Julian hanya menganggukkan kepala singkat tanpa membalas tatapannya.
"Hmm."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Sabrina berbalik dan melangkah cepat meninggalkan area parkir, membiarkan helai rambut panjangnya tersingkap angin pagi.
"Wiii... makin akrab aja nih sama tuh cewek," goda Fano seraya bersandar pada kap mobil SUV Julian. Tangannya melipat di dada, matanya memerhatikan punggung Sabrina yang semakin menjauh.
Rian tertawa terkekeh sembari menyenggol bahu Adrian.
"Benar-benar ganti selera dia sekarang. Biasanya nyari yang sepadan, sekarang malah betah nempel sama cewek beasiswa."
Adrian melangkah mendekat, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi.
"Gue kira lu cuma iseng semalam dua malam. Ternyata sampai dibela-belain jemput ke kosannya pagi-pagi begini?"
Julian merapikan kerah kemejanya, dan memasukkan tangannya di dalam saku celana.
Raut wajahnya mendadak berubah dingin dan datar, menutupi seluruh kehangatan yang sebenarnya baru saja ia rasakan di dalam mobil bersama Sabrina.
"Cuma sampingan. Nggak ada status apa-apa," ucap Julian berbohong tanpa mengedipkan mata.
Kata-kata itu meluncur begitu mudah dari bibirnya, dingin dan tanpa beban. Padahal, kenyataannya sudah dua minggu berjalan sejak Sabrina resmi menjadi kekasihnya.
Hubungan yang tumbuh di balik pintu tertutup, persis seperti syarat yang ia tekankan pada Sabrina sejak awal, tidak boleh ada satu orang pun di kampus ini yang tahu tentang mereka.
Adrian terkekeh pelan, menepuk bahu Julian dengan gaya seolah mengapresiasi jawaban itu.
"Bagus deh kalau gitu. Jangan sampai level lu turun cuma gara-gara cewek kaya dia. Lagian, cewek polos kaya gitu gampang banget, kan?"
Julian hanya menyunggingkan senyum setuju dengan ucapan itu.
"Setuju gue," Fano menimpali seraya menyulut sebatang rokok. Kepulan asap putih membubung ke udara pagi yang dingin.
"Sampingan mah bebas. Yang penting pinter-pinter lu aja nempatin posisinya. Jangan sampai kebawa perasaan."
Julian hanya diam, berpura-pura menikmati lelucon dangkal teman-temannya. Ia melirik sekilas ke arah lorong gedung perkuliahan tempat Sabrina baru saja menghilang.
Di dalam benaknya, terngiang kembali percakapan mereka di dalam mobil beberapa menit yang lalu, tentang janji Sabrina untuk menyembunyikan hubungan ini, dan tatapan matanya yang penuh kepatuhan sekaligus kepasrahan.
Sabrina menerima syarat itu bukan karena ia tak punya harga diri, melainkan karena rasa cintanya yang begitu besar pada Julian.
Namun pagi ini, demi menjaga gengsi di hadapan lingkaran kekuasaannya, Julian baru saja menginjak-injak perasaan itu tanpa ragu.
"Lagian, kalau lu udah bosen," suara Adrian kembali memecah lamunan Julian. Langkah kaki Adrian maju mendekat, menyejajarkan posisinya tepat di samping Julian.
"Kasih tahu gue. Muka lugu kaya Sabrina, lumayan juga buat mainan baru."
Seketika, rahang Julian mengeras. Otot-otot di tubuhnya menegang mendengar ucapan Adrian yang begitu enteng merendahkan kekasihnya.
Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk mencengkeram kerah baju Adrian dan menghantamkan tinjunya ke wajah angkuh itu.
Namun, Julian menahannya. Topeng kemewahan dan gengsi yang ia pakai terlalu berat untuk dilepaskan begitu saja.
"Jangan ngaco lu, Yan," sahut Julian dengan nada sesantai mungkin, berusaha menutupi getaran amarah yang membakar dadanya.
"Gue tahu batas."
Rian tertawa menyemburkan napas dari hidungnya.
"Ya udah lah, yuk masuk! Kelas Pak Bambang sebentar lagi mulai. Malas gue dengerin tuh dosen penceramah."
Ketiganya mulai melangkah meninggalkan area parkir menuju gedung fakultas.
Keempatnya melangkah masuk menuju gedung perkuliahan. Kehadiran Julian dan kelompoknya seperti biasa langsung menarik perhatian para mahasiswa.
Beberapa menyapa dengan nada segan. Saat melintasi area selasar Fakultas kelas Sabrina, langkah Julian sempat melambat.
Dari balik dinding kaca transparan sebuah ruang kelas semester awal, mata Julian secara refleks menyapu isi ruangan. Ia menemukan sosok yang dicarinya.
Sebagai mahasiswi tingkat pertama, gadis itu duduk tenang di baris kedua dekat jendela. Sabrina sedang menunduk, menata buku catatannya dengan rapi sebelum dosen masuk.
Saat mendengar riuh derap langkah di koridor luar, Sabrina perlahan mengadahkan kepala.
Mata mereka bertabrakan melintasi sekat kaca.
Ada binar kecil di manik mata Sabrina, sebuah kehangatan yang diam-diam berharap senior sekaligus kekasih rahasianya itu memberi sedikit sinyal.
Meski hanya senyum tipis atau anggukan tersembunyi, sebagai penegas bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Namun, Julian memutus kontak mata itu secara sepihak. Ia memalingkan wajah dengan dingin, berpura-pura sibuk mendengar celotehan Fano, lalu melanjutkan langkahnya menuju ujung koridor.
Dari dalam kelas, bahu Sabrina tampak sedikit merosot. Jemarinya mencengkeram pulpen agak erat sebelum akhirnya kembali menunduk, menatap kosong halaman bukunya yang masih bersih.
"Lu ngeliatin ruang kelas anak baru terus dari tadi?" bisik Adrian pelan, sengaja memancing.
"Jangan bilang anak junior lugu kaya Sabrina beneran bikin lu kepikiran?"
"Gue cuma liat jalan, Yan," sahut Julian datar, berusaha keras menutupi riak emosi di suaranya.
"Gak usah lebay." Sambung Julian.
"Bagus deh kalau gitu," timpal Adrian, melemparkan pandangan sekilas ke arah kelas Sabrina yang sudah tertinggal di belakang mereka.