NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Misteri / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bang Den

Karya ini adalah karya pertama saya. Karya ini saya ambil dengan tema kolosal dunia persilatan yang ada di daerah Nusantara.

Arga adalah seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya saat berusia delapan tahun. Arga memiliki adik bernama Ayu Ratih Permana. Arga dan Ayu berguru kepada guru dari kedua orangtuanya dan bertekad untuk membalas dendam kematian orang tuanya serta menjadi pendekar yang terkuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.


Karya ini hanyalah fiktif belaka, hasil khayalan dari penulis, bila ada nama/tempat/waktu yang sama itu hanyalah kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Den, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotaraja

Dewa Obat memilih untuk membuat ramuan obat, sedangkan Arga, Nilawati, Bedul, Ayu dan Jagad mengobrol di ruang tamu. Arga juga tidak lupa untuk memperkenalkan Nilawati dan Bedul kepada Ayu dan Jagad.

"Ini Bedul, dia bertemu dengan kakang dan Nila saat di hutan kematian."

"Ini Nilawati, dia adalah murid kakek-kakek yang pernah bertemu dengan kita dulu, Ayu."

"Oh jadi ini, Nilawati. Perkenalkan namaku Ayu, adik kandung dari kakang Arga. Kamu cantik sekali Nila, sangat serasi dengan kang Arga. Aku setuju kalau Nila menjadi istri kang Arga."

Nilawati yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum tipis dan melirik-lirik ke arah Arga. Pipinya memerah seperti tomat. Sedangkan Arga juga memperlihatkan hal yang sama.

"Aku juga senang bertemu denganmu, Ayu." Balas Nilawati.

"Ayu, Jagad apakah kalian langsung ingin melakukan upacara pernikahan?".

"Eh itu aku rasa nanti saja kang, Ayu juga tidak mau mendahului kakang." Ayu menjawab pertanyaan Arga.

"Itu benar Arga, lagian kami masih sangat muda. Kami akan menjalani masa muda dulu, tapi aku berjanji tidak akan pernah mengkhianati cinta Ayu." Jagad ikut menjawab pertanyaan dari Arga.

Arga berdiri, dia menepuk bahu Jagad dan berkata "Aku percaya padamu Jagad."

"Kakang sendiri apa belum mau melakukan upacara pernikahan dengan Nila, mungkin Nila tidak bisa menunggu lho." Ayu merayu Arga.

"Eh itu, aku juga tidak mau terburu-buru, kami juga harus meminta persetujuan dari guru." Nilawati menjawab perkataan Ayu dengan malu-malu.

"Weleh...weleh, jadi aku sendiri toh yang tidak punya pasangan." Bedul ikut masuk dalam percakapan itu.

"Ya makanya kamu cari dong." Arga dan Nilawati membalas perkataan Bedul dengan serempak sedangkan Ayu dan Jagad terkekeh-kekeh melihat hal tersebut.

Bedul memanyunkan bibirnya ke arah Arga dan Nilawati.

"Tapi rapopo, yang penting kasih aku makanan yang banyak, hehe."

"Dul...Dul kerjaanmu kalo gak makan ya tidur, itu...itu aja." Ucap Arga sambil memukul kepala Bedul.

"Hehe, biarin!".

Tidak lama setelah mereka berbincang-bincang, Dewa Obat keluar dari tempat meracik obat. Dia membawa 10 guci yang berbeda.

"Arga, paman ingin meminta bantuan kalian untuk memberikan 10 guci obat ini kepada yang mulia raja di Kotaraja. Biasanya setiap bulan ada utusan raja yang mengambil ini, tetapi 2 bulan terakhir ini tidak ada seorangpun yang mengambilnya."

Arga mengangguk dan besok mereka akan segera berangkat.

Keesokan harinya, Arga, Nilawati, Ayu, Jagad dan Bedul pamit kepada Dewa Obat. Mereka akan mengembara untuk mencari pengalaman dan sekaligus mengantarkan 10 guci obat yang sebelumnya Dewa Obat titipkan untuk di berikan kepada raja Kartikeyasinga, raja dari kerajaan Kalingga.

Selama dalam perjalanan tidak ada hal yang berarti untuk kelima pendekar muda itu, hanya gangguan kecil dari beberapa perampok yang hanya manusia biasa.

Setelah sekitar seminggu diperjalanan akhirnya mereka sampai di pintu gerbang Kotaraja.

Pintu gerbang itu dijaga oleh 4 prajurit yang memakai atribut lengkap.

"Berhenti kisanak, kami harus memeriksa kalian sebelum memasuki Kotaraja." 2 orang prajurit menghentikan perjalanan Arga dan yang lain dengan menyilangkan tombak.

Arga dan yang lainnya berhenti dan mempersilahkan para prajurit untuk memeriksa mereka.

Setelah prajurit memeriksa semuanya akhirnya mereka dipersilahkan untuk memasuki Kotaraja.

"Terima kasih kisanak." Arga membungkukkan badannya memberi hormat kepada para prajurit itu.

Akhirnya kelima pendekar muda itu memasuki Kotaraja. Kotaraja adalah ibukota dari kerajaan Kalingga. Kota ini sangat besar dan masyarakatnya pun hidup berdampingan dengan makmur dan sejahtera.

Akan tetapi walaupun demikian masih saja ada segelintir orang-orang yang suka merampok dan memeras.

Arga dan yang lainnya tiba di pasar tradisional Kotaraja, saat mereka sedang melihat-lihat disekelilingnya, tiba-tiba ada keributan disana.

Terlihat seseorang yang sudah tua sedang berlutut dihadapan 3 orang yang membawa golok di tangan mereka.

Arga dan yang lainnya bertanya kepada pedagang yang ada disekitarnya dan mencari tahu permasalahannya.

"Ki, itu ada apa ribut-ribut disana?" Arga bertanya kepada seorang pedagang tua yang menjual sayuran.

"Itu Den, mereka adalah pemeras pedagang, mereka meminta bayaran setiap hari kepada kami. Kalau tidak di kasih maka tubuh kami bahkan nyawa yang menjadi bayarannya." Jawab pedagang sayur itu.

Arga mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar hal tersebut.

"Kalian tunggu disini, aku akan membereskannya." Ucap Arga kepada Ayu, Nila, Jagad dan Bedul.

"Baik kang." Balas Ayu.

"Hati-hati Arga." Ucap Nilawati.

Sedangkan Jagad dan Bedul hanya menganggukkan kepala mereka.

Arga mulai berjalan mendekati keributan itu, setelah sampai disana dia bertanya kepada orang yang ada disana.

"Ada apa ini kisanak." Arga bertanya kepada salah satu pemeras pedagang.

"Bukan urusanmu bocah, mendingan kau pergi saja dari sini."

"Maaf kisanak, saya hanya bertanya dan saya memerlukan jawaban sebelum saya pergi."

"Ada apa ini Ki?" Arga bertanya kepada pedagang daging yang sedang berlutut ketakutan.

"Kami harus membayar uang keamanan kisanak, setiap hari kami harus menyetorkan sejumlah uang kepada mereka. Tapi saat ini daganganku belum ada satupun yang laku, jadi aku belum punya uang untuk disetorkan kepada mereka."

"Oh jadi hanya itu permasalahannya." Arga mengeluarkan sekantong uang koin dari balik bajunya, kemudian ia lemparkan kepada slah satu pemeras itu.

"Ambil itu dan pergi dari sini, jangan lagi melakukan pemerasan kepada pedagang disini." Ucap Arga kepada ketiga pemeras itu.

Melihat Arga yang dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk membantu orang yang tidak dikenal membuat ketiga pemeras itu menjadi kehilangan akalnya. Mereka bertiga menjadi serakah dan menginginkan semua harta yang dimiliki Arga.

"Anak muda, kau serahkan semua hartamu kepada kami, baru kami akan mengampuni nyawanya. Kalau tidak, tinggalkan saja satu tanganmu disini sebagai penebus kelancanganmu kepada kami." Ucap salah satu pemeras itu yang sepertinya adalah pemimpin dari pemeras.

"Maaf kisanak aku tidak bisa melakukannya."

"Oh berarti kau menantang kami, apakah kau tidak tahu siapa kami."

"Aku tidak tahu siapa kalian karena aku baru memasuki tempat ini, dan aku juga tidak mau tau itu." Arga menjawab dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun.

"Raden, sebaiknya Anda menuruti perintah mereka, karena mereka adalah anak buah Werku Alit, dia adalah orang yang berkuasa disini sekaligus pemimpin mereka." Ucap pedagang daging tadi.

"Kau sudah mendengar identitas kami, sebaiknya kau meminta maaf dan menuruti perintah kami." Ucap pemeras itu.

"Oh begitu ya, tetapi aku masih tidak bisa menuruti perintah kalian."

"Berarti kau cari mati bocah laknat." Ketiga pemeras itu maju menyerang Arga.

Arga masih bersikap tenang, dia mehadapi ketiga pemeras itu dengan santai. Dia menghindari serangan-serangan dari mereka.

Setelah beberapa menit pertarungan berlangsung, akhirnya Arga berhasil membuat ketiga pemeras itu terpental.

"Sebaiknya kalian kembalikan hasil rampasan kalian, sebelum aku bertindak lebih jauh."

Ketiga pemeras yang menyadari bahwa mereka bukanlah tandingan Arga akhirnya meminta maaf dan berjanji akan memberikan hasil rampasan yang mereka ambil sebelumnya.

"Kami akan mengembalikannya pendekar, tolong ampuni nyawa kami."

Arga mengangguk dan membiarkan mereka pergi.

1
Nurul Huda
Luar biasa
Edy Sulaiman
jadi pendekar jgn tanggung sama bandit gol hitam, bunuh dan bunuh biar dikemudian tdk jadi duri.
Herry Susanto
Cerita silat yang bagus dan bermutu.
Kai Urip
cerita nya baik asyik ,tp terlalu banyak komenx
Khalil Shabron
lanjut thir smoga sukses amin
Mohammad Kasim
istri ke 2
Mohammad Kasim
pangilanya kok masih pake nama padahal udah uhuk uhuk coba di ganti kakang atau mas gitu
Mohammad Kasim
onyen onyen takye
Mohammad Kasim
rawa gak ada yg bening Thor biasanya becek 😂😂😂
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya sudah lumayan bagus, 👍👍
Isro Fil
N
Syamsu Alam
bedul makan tidur aja
nina hariah
terimakasih atas karyanya author
Harman LokeST
laaaaaaaaaaaaaajjjjjjjjuuuuuuuuuuuutttttt
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan thor
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!