Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kemajuan yang Pesat
Semalaman Aina kelimpungan tak bisa tidur dengan nyenyak. Saat ia mulai memejamkan mata dan masuk ke dalam mimpi, bayangan-bayangan sebelumnya tiba-tiba saja melintas dan membuatnya membuka mata kembali, dan terjaga hingga pukul dua pagi.
Seakan tiada kantuk yang mendera, Aina beranjak dan mengaitkan tali baju tidurnya yang tadi terlepas. Ia membuka pintu kamarnya hendak ke dapur. Rasa haus dan sedikit lapar membuatnya ingin mencari sesuatu di dalam lemari pendingin. Kue mungkin cocok untuk mengganjal laparnya dan segelas teh hangat, hmmm membayangkannya saja sudah membuat Aina menelan ludah.
Langkahnya terhenti tatkala ia melihat pintu kamar Davian terbuka.
"Apa dia belum tidur jam segini?" tanyanya dalam hati.
Hatinya menuntun langkah kecil Aina mendekati kamar Davian dan mengintip nya. Mungkin saja pria itu membutuhkan bantuan dirinya.
Mata Aina terbuka saat ia melihat Davian sedang duduk di atas tempat tidur dengan ber selonjoran kaki memangku laptop yang sedang menyala.
"Kau belum tidur?" tanya Aina dengan tangan terlipat di depan dada dan bersandar di ambang pintu.
Pandangan Davian teralihkan pada Aina. Ia melepaskan kacamata bening yang bertengger di matanya, dan mengulas senyum indah pada istri yang dicintainya itu.
"Belum. Masuklah!"
Aina memutar matanya menatap setiap penjuru kamar Davian." Hmmm, aku akan buat teh hangat dulu di dapur. Apa kau ingin aku bawakan sesuatu?"
"Teh hangat juga."
"Baiklah!"
Kembali Aina berjalan menuju ke dapur untuk membuat dua gelas teh hangat dan beberapa potong kue di atas piring. Mungkin saja Davian juga lapar, pikir Aina.
Di saat dirinya mengaduk teh dalam gelas, ia teringat akan perkataan Davian bahwa pria itu mencintai dirinya. Apa itu mungkin?
Mengingat apa yang selalu Aina lakukan pada Dav, rasanya jika pria itu mencintai Aina, benar-benar jauh dari perkiraannya. Apa mungkin dia hanya kasihan saja? Atau bisa jadi rasa cinta itu masih berusaha Davian buat untuk dirinya?
Mungkin saja Davian hanya ingin membuat Aina tenang. Dan itulah dugaan kuat yang ditanamkan Aina dalam hatinya.
Dua gelas teh hangat sudah siap ditemani sepiring kue. Aina membawa nampan itu ke atas dan masuk ke dalam kamar Davian setelah pria itu mengizinkannya.
Melihat Aina duduk dan menyesap minumannya di sofa, dia pun menaruh laptop di atas nakas dan mendekati wanita itu.
Ia menyeruput teh buatan Aina dan mendesah lega, seakan rasa haus di tenggorokannya menghilang seketika.
"Thanks," ucapnya kemudian menaruh gelas di atas meja kembali.
"Makanlah kuenya. Mungkin kau lapar!"
"Aku tidak lapar. Kenapa kau belum tidur?" tanya Dav dan menghadapkan tubuhnya pada Aina.
"Aku tidak bisa tidur. Rasanya ada yang tidak enak mengganjal di hati!"
"Apa itu?"
Dengan bibir melengkung Aina mengedikkan bahunya membuat Davian ingin menyekapnya saja dalam kamarnya sekarang.
"Apa karena ucapanku tadi? Percayalah, aku tidak bohong soal itu!" Davian menyesap minumannya kembali.
"A-apa. Aku tidak memikirkan itu!" dengan gugup Aina mengalihkan pandangannya, tak ingin Dav tahu bahwa salah satunya memang itu yang di pikirkan Aina.
Tapi sepertinya ia salah perhitungan, dia lupa bahwa suaminya adalah orang berpendidikan dengan kepintaran soal matematika yang luar biasa, tak di pungkiri mata dan hatinya juga ikut pintar saat melihat gelagat Aina yang... aneh.
"Dasar, masih saja tidak mau mengaku!" Davian berdiri dan memaksa Aina untuk menerima tangan Dav yang melingkari tubuhnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Aina terkesiap dan melingkarkan tangannya di leher Davian, berusaha menjaga keseimbangan karena saat ini Dav menggendongnya ala pengantin baru.
Tanpa peduli tatapan Aina yang kesal, Dav menjatuhkan tubuh wanita itu di kasur dengan kasar, kemudian disusul tubuhnya sendiri yang jatuh tepat di sebelah Aina.
"Apa-apaan ini?" ujar Aina menatap Dav.
"Bukan apa-apa, aku tahu kau memerlukan diriku di sampingmu untuk tidur bukan?" tanpa peduli tatapan Aina, Davian memiringkan tubuh Aina dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Aroma wangi yang ditebarkan rambut Aina menari indah di hidung Dav, membuatnya ingin memainkan jarinya di mahkota Aina itu.
"Vi, kau...." Jantung Aina seakan ingin meloncat pada tempatnya. Degupannya tak seperti biasa, bahkan lebih kencang dan cepat. Apa-apaan ini.
"Cobalah rasakan kedekatan ini. Setidaknya dengan ini bisa memperbaiki hubungan kita, Na. Percayalah bahwa aku mulai nyaman dengan keadaan ini!" satu kecupan mendarat di rambut Aina membuat wanita itu sejenak memejamkan matanya.
"Lalu bagaimana dengan para wanita yang selalu dekat denganmu!"
"Hubungan kami tidak lebih dari rekan kerja. Lalu apa yang membuatmu berpikir aku punya hubungan lebih dari itu dengan mereka?"
Aina sedikit beringsut menatap mata Davian yang membuat pria itu juga menatapnya sekarang.
"Sivani?"
Setidaknya pertanyaan Aina yang singkat ini melegakan hati Davian, terlihat jelas Aina cemburu dengan para wanita yang cukup dekat dengan Davian, termasuk Sivani.
"Kenapa dengan Sivani? Kau cemburu padanya?"
Beberapa kali Aina mengedipkan matanya dan mengalihkan pandangannya, tingkahnya sangat lucu membuat Dav ingin tertawa saja.
"Tidurlah! Aku akan ada di sampingmu!" pelukan Dav semakin erat dan membuat Aina merasa begitu nyaman. Semakin lama ada sebuah rasa yang begitu lega dan hangat di dada Aina, ia memegang tangan Dav dan mulai memejamkan mata dengan senyum indah di wajahnya.
**
Terdengar suara sayup adzan subuh berkumandang menghiasi telinga Davian yang selalu peka akan suara indah itu.
Ia melirik Aina yang masih tidur nyenyak dalam pelukannya. Wajahnya tersenyum dan kembali ia mendaratkan kecupan nya di rambut Aina.
"Wajahnya teduh sekali." Gumamnya.
Tangannya menggurat lembut garis wajah Aina hingga terhenti pada bibir mungil milik istri itu. Dimainkannya sebentar dengan jarinya hingga Aina merasakan risih kemudian membuka mata perlahan. Ia ingin memundurkan tubuhnya namun Dav menahannya dengan tatapan usil.
"Aku tahu aku bisa menidurkanmu dengan nyenyak bayi imut ku. Maka dari itu biasakan seperti ini mulai nanti malam, jika tidak,"
"Kau mengancamku?" sela Aina dengan wajah datar.
"Iya, mau bagaimana lagi?" Dav memagut bibir lembut istrinya tanpa perlawanan dari wanita itu." Jadilah istri yang penurut!" ucapnya kemudian sebelum melepas pelukannya.
"Aku akan mandi, bagaimana kalau,"
"Tidak!" seru Aina sembari menurunkan kakinya dari ranjang kemudian berdiri." Aku akan mandi di kamarku sendiri,"
Dav menahan tawanya dan menghentikan langkah kaki Aina." Kembalilah ke sini setelah kau mandi, ambil air wudhu dan kita akan berjamaah. Aku akan menunggumu di sini!"
Tanpa menjawab Aina berlalu pergi dari kamar Davian dan kembali ke dalam kamarnya sendiri. Irama jantungnya yang begitu cepat nyatanya membuat Aina menjadi salah tingkah. Bahkan dia melewati Bi Inah yang menatapnya, tapi dia tidak tahu bahwa ada Bi Inah di luar kamar Davian.
"Kemajuan yang sangat pesat!" gumam Bi Inah menutup mulutnya menahan tawa.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..