Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 - Destinasi 1
Bus nomor 666 itu perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti total dengan desisan rem angin yang tajam.
Di luar jendela, kabut tebal menyingkap sebuah pekarangan luas yang tak terurus. Dedaunan kering menumpuk setinggi mata kaki, memagari sebuah rumah dua lantai berarsitektur tahun 90-an yang tampak terbengkalai.
Cat dindingnya yang putih kini terkelupas melahirkan bercak-bercak hitam kelembapan, sementara gentingnya sebagian besar telah runtuh.
"Baiklah, Rekan-Rekan Arwah sekalian," suara Damar bergetar tipis saat mengumumkan lewat mikrofon. "Kita telah sampai di destinasi pertama kita malam ini: Rumah Tua Mangkrak Sektor 4. Tolong turun dengan tertib, dan pastikan tidak ada anggota tubuh yang tertinggal di bawah kursi."
Pintu bus bergerak terbuka. Satu per satu rombongan hantu melayang dan melangkah keluar, menyerap hawa dingin malam.
Damar menyapukan pandangannya ke kertas clipboard di tangannya, membaca instruksi khusus untuk tempat ini.
"Napak tilas destinasi pertama ini difokuskan untuk ... Pak Tejo," gumam Damar. Dia menoleh ke barisan depan dan melihat sosok hantu bapak-bapak berkumis tebal yang mengenakan kemeja batik koyak—pria yang tadi kepalanya sempat berputar 180 derajat.
Pak Tejo melangkah keluar bus dengan wajah yang mendadak berubah sangat muram. Matanya yang cekung menatap bangunan tua di hadapannya dengan tatapan penuh kepedihan dan penyesalan yang mendalam.
Madam Helga melangkah turun dari bus, tumit sepatu hak tingginya menepuk permukaan semen yang retak tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia merapikan syal bulunya, lalu melirik Damar yang mengekor di belakangnya dengan canggung.
"Kumpulkan mereka di halaman depan, Damar," perintah Madam Helga dingin. "Jelaskan sejarah tempat ini sesuai itinerary dan biarkan Pak Tejo melakukan ritual napak tilasnya. Ingat, emosi arwah di lokasi kematian atau kenangan masa hidupnya bisa bergejolak sepuluh kali lipat lebih stabil ... atau lebih destruktif."
Damar meneguk ludahnya yang pahit. Dia berdeham keras, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya di depan tiga puluh hantu yang kini berbaris mengelilinginya di pekarangan rumah tua itu.
"Ehem! Selamat datang di lokasi pertama," kata Damar, memegang clipboard seperti tameng dada. "Rumah ini ... adalah kediaman almarhum Pak Tejo sebelum beliau ... ehm, berpulang lima tahun lalu. Di tempat inilah beliau menghabiskan masa-masa terakhirnya, dan malam ini kita memberi kesempatan bagi Pak Tejo untuk melihat kembali tempat penuh kenangan ini demi menyelesaikan rasa ganjal di jiwanya. Dan ...."
Belum sempat Damar menyelesaikan kalimatnya, udara di pekarangan mendadak menjadi sangat pekat. Suara angin malam yang merintih mendadak hilang, digantikan oleh suara dengungan gaib yang memekakkan telinga.
Pak Tejo yang berdiri di tengah pekarangan mendadak memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Aura kebiruan yang lembut di sekeliling tubuhnya mendadak bergejolak hebat, berubah menjadi warna merah kehitaman yang membara.
"Rumahku ... rumahku ditinggalkan begitu saja?!" raung Pak Tejo. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia biasa, melainkan seperti gabungan jeritan puluhan orang yang kesakitan. "Anakku ... di mana anakku?! Kenapa rumah ini dibiarkan hancur seperti ini?!"
Rombongan hantu lainnya melangkah mundur dengan cemas.
"Waduh, Pak Tejo mulai kumat emosi gaibnya nih!" seru hantu kakek-kakek sambil makin erat memeluk kepalanya sendiri.
"A-Aura penyesalannya terlalu pekat! Dia bisa berubah jadi Arwah Anarki!" jerit hantu wanita bergaun putih ketakutan.
Damar membelalak panik. Dia melihat tubuh Pak Tejo mendadak membengkak dua kali lipat. Kuku-kukunya memanjang tajam seperti pisau berkarat, dan wajahnya yang semula sedih kini terdistorsi penuh amarah murni. Mata merah darahnya mengunci sosok Damar yang berdiri paling dekat darinya.
"Kamu ...!" bentak Pak Tejo histeris sambil menunjuk Damar. "Kamu pemandu tur gaib, 'kan?! Kamu janji tur ini bisa menyelesaikan penyesalanku! Tapi kenapa rumahku malah hancur begini?! Ini semua salahmu! Salah kalian semua!"
Brak!
Dengan kecepatan luar biasa yang tak masuk akal, Pak Tejo melayang menerjang ke arah Damar. Tangannya yang membesar dan berkuku tajam terangkat tinggi di udara, siap menghantam dan meremukkan kepala Damar dalam satu kali pukulan!
"M-Mati gue!" jerit Damar histeris.
Otaknya membeku total. Dia menutup matanya rapat-rapat, mengangkat clipboard kayu murahnya ke atas kepala untuk menahan hantaman mematikan tersebut.
Keheningan mencengkeram. Angin kencang yang menebas wajah Damar mendadak terhenti begitu saja.
Satu detik ... dua detik ... tidak ada rasa sakit yang menghantam tubuhnya.
Damar mengintip pelan dari balik clipboard-nya dengan satu mata.
Tepat beberapa sentimeter di atas kepalanya, tinju raksasa Pak Tejo terhenti kaku di udara. Sosok hantu berkumis yang mengamuk itu kini terikat penuh oleh benang-benang pendar cahaya keemasan yang melilit ketat dari leher hingga kakinya, membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.
Di sebelah Damar, Madam Helga berdiri dengan sangat tenang. Lengan kirinya terangkat santai di udara, dengan ibu jari dan jari tengahnya yang masih dalam posisi mengapit.
Ctik!
Madam Helga baru saja menjentikkan jarinya.
Hanya dengan satu jentikan sederhana itu, aura merah membara yang menyelimuti Pak Tejo seketika padam bagaikan disiram air es.
Benang-benang cahaya keemasan itu menyerap energi anarki Pak Tejo hingga wujud hantu bapak-bapak itu menyusut kembali ke ukuran normalnya, terkulai lemas melayang di udara.
Madam Helga menatap Pak Tejo dengan pandangan dingin yang teramat merendahkan, seolah makhluk gaib di hadapannya tak lebih dari seekor lalat yang mengganggu tatanan gaun mewahnya.
"Hilangkan amarah konyolmu itu, Tejo," ucap Madam Helga dengan suara tenang namun berdaya ledak luar biasa. " Last Trip Express memandumu untuk mencari kedamaian, bukan untuk meluapkan amarah seperti binatang liar. Sekali lagi kamu mengancam keselamatan stafku ... aku sendiri yang akan melempar jiwamu ke dasar Neraka Aberasi tanpa tiket pulang."
Pak Tejo gemetaran hebat di dalam lilitan benang gaib tersebut. Matanya yang tadi menyala merah kini meredup kembali, digantikan oleh tangisan histeris yang penuh kepiluan.
"M-Maafkan saya, Madam ... maafkan saya." Tangis Pak Tejo pecah, suaranya terdengar seperti bapak-bapak tua yang sangat tidak berdaya. "Saya cuma ... saya cuma merasa bersalah pada anak saya. Saya meninggal tiba-tiba sebelum sempat memberi tau dia soal tabungan rahasia dan kunci brankas. Karena itulah dia tidak punya uang untuk merawat rumah ini dan harus pindah."
Madam Helga menurunkan tangannya. Benang-benang cahaya keemasan itu lenyap seketika. Pak Tejo jatuh terduduk di atas rumput liar, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak-isak pelan.
Damar terduduk lemas di tanah, napasnya memburu cepat bagaikan habis berlari maraton sepuluh kilometer. Jantungnya berdegup begitu kencang di balik dadanya.
Dia menatap Madam Helga dengan mata melebar, benar-benar syok sekaligus takjub melihat kekuatan luar biasa yang baru saja ditunjukkan wanita itu.
Madam Helga memutar tubuhnya, melirik Damar yang masih gemetaran di atas tanah. Udara di sekitarnya kembali dipenuhi wangi bunga sedap malam yang menenangkan.
"Berdiri, Damar," kata Madam Helga datar, tidak menunjukkan rasa lelah sedikit pun. "Tugasmu belum selesai. Dengarkan keluhan pelangganmu, dan cari tau bagaimana cara kita menyelesaikan penyesalannya."
Damar mengedipkan mata, mencoba menata detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Dia melihat ke arah Pak Tejo yang menangis tersedu-sedu di pekarangan, lalu melirik Madam Helga yang kembali bersedekap anggun.
Rasa takut yang tadinya menguasai diri Damar perlahan bergeser. Untuk pertama kalinya sejak dia menandatangani kontrak ajaib itu, Damar menyadari satu hal: di balik ketegasan dan watak judesnya yang mematikan, Madam Helga tidak akan membiarkannya mati konyol di tangan para arwah.
Dengan kaki yang masih sedikit gemetar, Damar bangkit berdiri. Dia membersihkan debu di celananya, merapikan kemejanya, lalu melangkah mendekati Pak Tejo yang masih menangis.
"Pak Tejo ...," panggil Damar pelan, suaranya kini jauh lebih tenang dan penuh simpati. "Bisa cerita ke saya ... di mana Bapak menyimpan kunci brankas itu?"
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt