NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

 

Bab 16: Kabar Bahagia yang Mengubah Segalanya

Beberapa hari setelah makan malam yang penuh perubahan di rumah orang tua Dika, suasana di rumah kecil mereka terasa jauh lebih ringan dan hangat. Beban berat yang selama ini menindih dada Raina perlahan terangkat, digantikan oleh rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap sudut rumah itu kini terasa penuh dengan harapan dan kasih sayang yang tulus.

Pagi itu, sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela kamar, menyinari wajah Raina yang terbangun dengan perasaan aneh namun menyenangkan. Ia bangun bukan karena terganggu atau karena harus terburu-buru melakukan sesuatu, melainkan karena tubuhnya terasa segar, seolah ada tenaga baru yang mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Raina duduk perlahan di tepi tempat tidur, menatap kedua tangannya sendiri dengan perasaan bingung namun senang. Selama beberapa hari terakhir, ada perubahan kecil yang ia rasakan pada dirinya sendiri. Rasa lelah yang biasanya muncul setelah beraktivitas sedikit kini tidak lagi terasa. Nafsu makannya yang dulu sering naik turun, kini tiba-tiba menjadi sangat kuat. Dan yang paling aneh, setiap kali Dika berada di dekatnya, hatinya berdegup jauh lebih lembut dan lebih cepat dari biasanya.

Tanpa sadar, tangan Raina bergerak perlahan menyentuh perutnya yang masih rata. Ada getaran halus yang tidak bisa ia jelaskan, seolah ada kehidupan kecil yang sedang berbisik lembut dari dalam sana.

"Kau sudah bangun, Sayang?"

Suara lembut Dika terdengar dari ambang pintu. Pria itu masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepotong roti panggang yang masih mengepulkan uap. Wajahnya tampak segar dan tersenyum manis saat melihat istrinya sudah terjaga.

Raina menoleh dan tersenyum balik. "Iya, aku sudah bangun. Entah kenapa pagi ini rasanya aku sangat segar sekali."

Dika mendekat dan meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. Ia lalu duduk di sebelah Raina, menyentuh kening istrinya dengan lembut.

"Itu kabar yang sangat menyenangkan," ucap Dika lembut. "Beberapa hari ini aku juga melihat kau terlihat lebih bercahaya. Wajahmu tidak lagi tampak lelah seperti dulu."

Raina tertawa kecil, namun tawa itu terhenti saat ia merasakan sedikit rasa mual yang tiba-tiba menyelinap. Ia menutup mulutnya sejenak, mengerutkan kening sedikit.

"Kau kenapa?" tanya Dika segera dengan wajah cemas.

"Tidak apa-apa..." jawab Raina pelan sambil menggelengkan kepala. "Hanya sedikit rasa mual saja. Mungkin hanya perutku yang kosong."

Namun di dalam hatinya, sebuah dugaan mulai muncul perlahan. Sebuah harapan yang selama ini ia kubur dalam-dalam karena takut kecewa.

Sepanjang hari itu, perasaan itu semakin kuat. Saat sedang menyiapkan makan siang, aroma masakan yang biasanya sangat ia sukai tiba-tiba membuatnya ingin muntah. Sebaliknya, ia justru menginginkan makanan yang biasanya tidak terlalu ia sukai.

Sore harinya, saat Dika sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang tengah, Raina diam-diam pergi ke apotek terdekat. Jantungnya berdegup kencang sepanjang jalan, campuran antara rasa takut dan harapan yang meluap-luap.

Saat kembali ke rumah, ia menyembunyikan bungkusan kecil itu di dalam tasnya, lalu duduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah.

Malam itu, setelah makan malam selesai dan mereka berdua bersantai di ruang keluarga, Raina menggenggam tangan Dika dengan erat.

"Dik..." panggilnya pelan dengan suara sedikit bergetar. "Ada sesuatu yang ingin aku coba periksa."

Dika langsung menatapnya dengan perhatian penuh. "Apa itu, Sayang? Apakah ada yang sakit?"

"Bukan sakit," jawab Raina sambil menelan ludah. "Aku... aku rasa ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam perutku."

Mata Dika seketika membelalak kaget. Ia terdiam beberapa saat seolah tidak percaya mendengar kata-kata itu.

"Maksudmu..." suaranya tercekat di tenggorokan.

Raina mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak yakin sepenuhnya. Jadi aku beli alat tesnya. Bolehkah kita coba sekarang?"

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Dika hanya mampu mengangguk dengan cepat. Matanya mulai berkaca-kaca, dan tangannya yang memegang tangan Raina mulai terasa sedikit gemetar.

Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi bersama. Waktu terasa berjalan begitu lambat saat Raina melakukan prosedur sederhana itu. Mereka duduk berdampingan di tepi bak mandi, menatap benda kecil yang diletakkan di atas meja dengan napas yang tertahan.

Satu menit terasa seperti satu jam penuh.

Lalu perlahan, garis samar muncul. Dua garis yang jelas dan tegas.

Raina menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia langsung mengalir deras membasahi pipinya.

"Itu..." Dika tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menatap benda itu berkali-kali seolah takut salah lihat. "Itu benar kan, Raina? Kita... kita akan punya anak?"

Raina mengangguk kuat sambil menangis bahagia. "Iya, Dik. Kita akan punya anak."

Detik itu juga, Dika langsung menarik Raina masuk ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya kebahagiaan ini akan hilang begitu saja. Ia mencium puncak kepala istrinya berkali-kali, air mata bahagia menetes di rambut istrinya.

"Terima kasih..." bisik Dika berulang-ulang dengan suara serak karena terharu. "Terima kasih, Raina. Terima kasih telah memberikan hal terindah di dunia ini kepadaku."

Malam itu menjadi malam yang paling indah dalam hidup mereka berdua. Mereka duduk berjam-jam di tepi tempat tidur, memegang tangan satu sama lain dan menatap perut Raina dengan senyum tak lepas dari wajah. Mereka membayangkan wajah anak itu nanti, apakah akan mirip Dika atau mirip Raina. Mereka membayangkan suara tawa kecil yang akan segera memenuhi rumah kecil mereka.

Namun kebahagiaan besar itu perlahan membawa perubahan pada diri Dika. Sejak hari itu, pria itu berubah menjadi sangat protektif.

Keesokan paginya, saat Raina hendak bangun dari tempat tidur untuk menyapu lantai, Dika langsung mencegahnya dengan cepat.

"Jangan, Sayang," cegah Dika lembut namun tegas. "Biarkan aku saja yang mengerjakannya. Kau harus banyak istirahat."

"Tapi aku baik-baik saja, Dik," tolak Raina pelan sambil tersenyum. "Aku tidak lemah begini kok."

"Bagiku, kau dan anak kita adalah hal paling berharga di dunia ini," jawab Dika sambil membelai lembut pipi istrinya. "Aku tidak mau mengambil risiko sedikit pun. Biarkan aku yang melakukan semuanya."

Sejak saat itu, Dika melakukan segala hal sendiri. Ia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan yang bergizi. Ia membersihkan seluruh rumah dengan teliti. Ia bahkan tidak membiarkan Raina mengangkat benda yang sedikit pun berat.

Saat Raina ingin membantu mencuci piring setelah makan, Dika akan langsung memintanya duduk santai di ruang tengah.

"Kau duduk saja di sana sambil menonton televisi atau membaca buku," kata Dika sambil tersenyum manis. "Pekerjaan rumah adalah tugasku sekarang."

Hari-hari berlalu dengan penuh kasih sayang yang luar biasa. Dika selalu memperhatikan setiap keinginan Raina. Jika Raina tiba-tiba menginginkan makanan tertentu di tengah malam, Dika akan segera bangun dan membelikannya tanpa banyak tanya atau mengeluh sedikit pun.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di beranda menikmati angin sepoi-sepoi, Raina menatap wajah suaminya yang tampak sedikit lelah namun tetap tersenyum bahagia.

"Kau tidak merasa lelah, Dik?" tanya Raina pelan sambil menggenggam tangan suaminya. "Kau bekerja seharian, lalu pulang masih mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Aku jadi merasa tidak enak hati."

Dika menoleh dan menatap istrinya dengan pandangan penuh cinta yang tak terhingga.

"Raina, dengar aku," ucapnya lembut. "Merawatmu dan merawat anak kita adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Lelah yang kurasakan ini bukan lelah yang membuatku sakit, melainkan lelah yang membuatku bahagia. Aku merasa sangat berguna dan sangat berharga bisa menjaga dua orang yang paling kucintai di dunia ini."

Ia meletakkan tangan besarnya di atas perut Raina yang mulai sedikit membuncit.

"Kalian adalah masa depanku. Apa pun akan kulakukan demi kebahagiaan kalian berdua."

Raina tersenyum haru, matanya kembali berkaca-kaca. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, merasakan ketenangan yang luar biasa.

Di saat itulah Raina sadar, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain dicintai sepenuh hati oleh seseorang yang siap melakukan apa saja demi dirimu dan buah hati kalian.

Kabar bahagia itu pun segera disampaikan kepada orang tua Dika. Reaksi mereka jauh di luar dugaan. Ibu Dika langsung datang membawa banyak sekali makanan bergizi dan pakaian bayi yang sudah disiapkannya sejak lama. Ayah Dika yang biasanya kaku, tampak tersenyum lebar dan langsung memberikan banyak sekali perlengkapan untuk cucunya yang belum lahir.

Mereka semua menyadari bahwa kehadiran Raina bukanlah kesalahan, melainkan anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan untuk melengkapi kebahagiaan keluarga besar mereka.

Malam itu, saat Dika memeluk Raina tidur dengan sangat hati-hati, mereka berdua tahu bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Sebuah bab baru yang penuh keajaiban telah dimulai, dan mereka siap menghadapi segala hal bersama-sama.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!