MOHON MAAF, INI NOVEL PERTAMA SAYA, ISINYA MASIH SANGAT BERANTAKAN.LEBIH-LEBIH ALURNYA JUGA LONCAT-LONCAT. BTW LANJUTAN DARI NOVEL INI LEBIH RAPI YA, JUDULNYA PETUALANGAN ZHANG XIUHAN. TRIMS DAN MAAF SEKALI LAGI...
Zhang Xiuhan merupakan pemuda biasa saja yang tak memiliki keahlian bela diri. Meski tak memiliki latar belakang kependekaran, kebaikan hatinya telah berhasil mematahkan Mantera pada Pedang Naga Emas yang kemudian memaksanya untuk masuk dan terlibat di dunia persilatan.
Tak hanya terlibat di dunia kependekaran, Zhang Xiuhan juga melibatkan dirinya dalam memerangi militer Kekaisaran Min yang telah melakukan penjajahan di banyak wilayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashirama Senju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 - Kemarahan Guru Fengying
Mendengar kegaduhan dari kejauhan Guru Fengying mengendap mendekat. Ia begitu kaget ketika melihat mayat-mayat bergeletakan sementara Li Jie hanya termangu sendirian.
"Apa-apan ini!" Guru Fengying datang mengenakan topeng. Ia menghardik Li Jie dan tak terima dengan ulah Li Jie yang membunuh banyak nyawa. Yang ia tahu, ia tak pernah mengajari muridnya menjadi pembunuh.
"Guru....
Li Jie berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya tetapi seolah gurunya sedang murka dan tak menerima alasan apa pun yang akan diberikan Li Jie.
"Siapa yang menyuruhmu membantai mereka? Siapa yang memintamu membunuh mereka?!" Guru Fengying menatap tajam ke mata Li Jie, membuat Li Jie merasa kebingungan dan khawatir.
"Guru.... Aku bisa jelaskan semuanya..."
Lagi-lagi penjelasn Li Jie segera dipotong oleh kemarahan guru Fengying.
"Kau begitu muda. Bagaimana bisa menghabisi nyawa orang dengan begitu mudahnya? Apa Kau dilahirkan dan dididik di sekte aliran hitam?!!"
Li Jie berusaha menceritakan apa yang telah terjadi pada Guru Fengying. Tetapi pria berusia tiga puluhan tahun itu tetap tak menerima alasan Li Jie.
Selain kaget mendapati muridnya yang masih muda tega membantai beberapa pendekar dan pasukan Kaisar, Guru Fengying juga khawatir bagaimana dia bisa mempertanggungjawabkan misinya pada Matriark Wang.
Misi harus dijalankan sesuai arahan. Arahan dari Matriark Wang hanyalah untuk merebut kembali sumberdaya berharga yang diminta paksa oleh pasukan Kaisar Zhao Bing. Matriark Wang tak pernah memberi instruksi untuk menghabisi nyawa pasukan Kaisar Zhao Bing.
Dengan terbunuhnya para pasukan penagih upeti berikut pengawalnya, tentu hal tersebut akan menyulut kemarahan pihak Kaisar Zhao Bing.
"Untuk menghilangkan jejak, kita harus membakar mereka semua guru. Atau mengubur mereka ke tempat yang jauh."
Li Jie berusaha memberi saran kepada gurunya yang masih murka. Guru Fengying nampak menggeleng-gelengkan kepala, tapi ia terpaksa setuju.
Pada akhirnya Guru Fengying dan Li Jie mengubur mayat-mayat itu di lembah Juizhaighou. Setelah menyemayamkan mayat-mayat itu, mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan saling diam.
Guru Fengying tak bersuara se kata pun. Begitu juga dengan Li Jie. Bahkan, Li Jie yang sebenarnya dalam keadaan terluka, ia tak berani mengeluh. Ia hanya sesekali merintih hampir tanpa suara.
Li Jie mengalami pendarahan yang lumayan berat. Tapi jika melihat perangai Guru Fengying yang masih murka, Li Jie menahan sebisa mungkin agar ia tetap hidup sampai mereka tiba di Sekte Kalajengking Merah.
"Mari mencari penginapan dan biar kuobati lukamu." Guru Fengying berkata datar. Ia tak tega juga saat melihat beberapa kali Li Jie menekan perutnya untuk menhurangi pendarahan. Guru Fengying tahu jika muridnya sedang terluka, tetapi ia masih marah sehingga tak begitu memedulikan keadaan Li Jie.
"Jangan mencari penginapan, Guru. Kita sedang dalam misi. Beri Li Jie beberapa waktu untuk memulihkan keadaan Li Jie."
Li Jie mengingatkan gurunya bahwa mereka masih dalam misi. Li Jie pun meminta gurunya menungguinya duduk bersila di atas pohon.
Li Jie mengatur pernapasan dan mengeluarkan aura hangat yang membuat Guru Fengying terpana. Ia baru tahu jika Li Jie memiliki kekuatan untuk memulihkan luka dengan begitu hebat.
Tetapi, guru Fengying juga tersentak kaget saat melihat ada anak panah yang menancap di perut kiri Li Jie. Sejak kapan anak panah itu ada di sana? Mengapa aku tidak mengetahuinya? Guru Fengying membatin kaget.
Pakaian Li Jie yang serba hitam membuatnya mengira Li Jie hanya tergores pedang. Anak panah hitam yang telah dipotong separuh oleh Li Jie tak tertangkap di mata Guru Fengying.
"Bocah! Kenapa tak bilang pada guru jika Kau terkena panah!" Guru Fengying segera mengecek kulit perut Li Jie, takut-takut kalau anak panah itu mengandung racun.
Benar saja, kulit di perut Li Jie yang terluka menghitam dan darah yang keluar sebagian juga berwarna hitam. Jelas sekali jika anak panah tersebut mengandung racun.
"Biar kucabut anak panahnya." Guru Fengying mendekati Li Jie dan tangannya menyentuh potongan anak panah yang berada di perut kiri Li Jie.
"Guru JANGAN!!!" Li Jie segera menghentikan langkah gurunya. Ia berteriak terlalu keras dan membuat lukanya terasa semakin sakit. Ia pun menjerit tertahan.
"Mengapa? Jika tak lekas dicabut, racunnya bisa menyebar di tubuhmu." Guru Fengying heran mengapa Li Jie tak memperbolehkannya untuk mencabut anak panah tersebut.
Li Jie menjelaskan bahwa anak panah yang menancap di perut kirinya itu bukan anak panah biasa. Ujung anak panah itu berisi belati yang langsung mengembang membelah dua begitu menembus kulit.
Artinya, jika anak panah itu dicabut, belati yang membelah menjadi dua sisi itu akan semakin mengoyak isi perutnya. Jalan satu-satunya hanya pembedahan. Dan hanya tabib yang boleh melakukannya.
Itulah mengapa Li Jie tak segera mencabut atau mendorongnya keluar. Ia merasakan belati itu telah mengoyak dagingnya. Beruntung belati itu tak sampai melukai usus atau lambungnya sehingga ia masih bisa bertahan meski terluka parah.
Guru Fengying bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Li Jie. Ia memang pernah mendengar jenis anak panah yang seperti itu. Tapi guru Fengying tak pernah menduga jika ternyata muridnya yang harus menjadi korban keganasan jenis anak panah tersebut.
Li Jie merasa ia sudah lebih baik keadaannya dan mengajak guru Fengying untuk segera melanjutkan perjalanan. Ia juga berharap jika sisa perjalanannya akan berjalan lancar tanpa ada hambatan, sebab sepertinya ia sudah tidak mampu lagi untuk bertarung.
Guru Fengying merasa iba melihat keadaan muridnya. Ia merasa sedikit bersalah telah begitu keras pada anak remaja yang masih begitu muda, tetapi sudah didera dengan luka-luka yang mengancam nyawa.
"Li Jie, maafkan guru. Guru tadi terlalu keras padamu." Guru Fengying memegangi pundak muridnya.
"Guru jangan begitu, murid yang salah. Murid pantas menerima hukuma." Li Jie memberi hormat.
"Baiklah mari segera pulang. Sumberdaya ini sekarang sudah ada di tangan kita. Kau akan pulih dengan ajaib. Sebaiknya kita harus bergegas agar kau segera mendapat perawatan."
Guru Fengying menghibur Li Jie sambil menepuk-nepuk peti hitam yang ia bawa. Peti hitam itu berisi sumber daya yang saat mereka sampai di Sekte Kalajengking Merah membuat Li Jie hampir mati karena terkejut dengan isinya.
semangat Thor