Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapur Berasap (Kaisar Kulkas Jadi Tukang Kipas Sate)
Malam itu, dapur belakang Paviliun Mawar Merah mendadak dijaga oleh barisan prajurit elit berbaju zirah lengkap. Kasim Wen berdiri di luar pintu dengan wajah cemas, berulang kali menyeka keringat dingin di dahinya.
Bagaimana tidak? Di dalam ruangan berasap itu, penguasa tertinggi Kekaisaran Ruelle sedang memegang sebuah kipas anyaman bambu butut di depan tungku arang yang membara.
"Lebih cepat kipasnya, Tuan Kai! Arangnya mulai redup nih, nanti madunya gak karamelisasi dengan sempurna!" teriak Alara dari balik meja talenan.
Kaisar Kaivan, yang malam ini hanya mengenakan kemeja kain linen hitam polos dengan lengan yang digulung sampai ke siku, mendengkus pelan namun tangannya tetap bergerak lincah mengipasi panggangan.
"Alara Villin, jika para jenderal perangku melihatku di posisi ini, reputasiku sebagai penakluk wilayah utara akan hancur dalam semalam."
"Halah, gengsi gede banget. Di depan ayam bakar madu truffle, semua orang itu sama derajatnya sama-sama kelaparan!" balas Alara santai sambil mengoleskan racikan bumbu rahasia ke atas permukaan ayam hutan yang sudah setengah matang.
Aroma gurih dari lemak ayam yang menetes ke atas bara api berpadu sempurna dengan keharuman mewah dari serutan jamur truffle dan manisnya madu hutan.
Wanginya yang luar biasa pekat bahkan sampai tercium ke luar jendela, membuat para pengawal istana diam-diam menelan ludah berjamaah.
Sambil menunggu ayamnya matang, Alara mulai sibuk membuat adonan roti pipih sebagai pendamping. Dia menuangkan tepung gandum ke dalam mangkuk besar dengan penuh semangat.
Namun, karena terlalu bersemangat saat membanting adonan, debu tepung putih halus mendadak terbang ke udara bagai ledakan bom mini.
"Uhuk-uhuk! Aduh, mata gue!" pekik Alara bersin-bersin.
Melihat kecerobohan gadis itu, Kaivan langsung meletakkan kipas bambunya dan melangkah mendekat. "Sudah kubilang pelan-pelan, Rubah Kecil. Kau ini selalu saja bertindak sebelum berpikir."
Kaivan meraih dagu ramping Alara, memaksanya untuk mendongak menatapnya. Jarak mereka seketika mengikis drastis.
Dengan menggunakan ibu jarinya yang besar dan hangat, Kaivan perlahan menyeka sisa tepung putih yang menempel di pipi kanan Alara dengan gerakan yang sangat lembut sangat kontras dengan reputasi dinginnya.
Napas Alara mendadak tercekat. Di bawah temaram cahaya api tungku, sepasang mata elang Kaivan tidak lagi memancarkan es, melainkan kilatan kehangatan posesif yang begitu pekat.
Wajah tampan sang Kaisar yang biasanya tanpa ekspresi kini terlihat begitu nyata dan dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibirnya.
Jantung Alara mendadak berdegup kencang secara aneh. 'Duh, ini kenapa hawanya jadi lebih panas dari tungku arang ya?' batinnya panik.
"Tuan Kai... ayamnya gosong nanti..." cicit Alara pelan, mencoba memecah mantra sihir yang mengikat mereka.
Kaivan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan mematikan ketampanannya. Alih-alih mundur, dia justru menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam.
*CUP.'
Bukan di bibir, melainkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan lama mendarat di pelipis Alara yang bersih dari tepung. Kecupan itu terasa begitu tulus, membuat seluruh tubuh Alara mendadak kaku bagai patung batu.
"Hadiah tambahan untuk pemenang kompetisi hari ini," bisik Kaivan tepat di samping telinga Alara, suaranya yang berat dan serak membuat bulu kuduk Alara meremang indah.
Sebelum Alara sempat memprotes atau melempar adonan gandum ke wajahnya, Kaivan sudah kembali berbalik ke arah tungku dengan wajah datar seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas negara biasa, meskipun ujung telinganya terlihat memerah alami.
Acara makan malam privat itu berlangsung sangat hangat dan intim, jauh dari protokol istana yang kaku. Mereka menghabiskan seluruh ayam bakar madu tanpa sisa.
Alara yang kekenyangan akhirnya tertidur di kursi rotan beranda paviliun, sementara Kaivan menyelimutinya dengan jubah naganya sebelum kembali ke paviliunnya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung lama bagi seluruh istana.
Keesokan paginya, saat Alara sedang asyik menyeduh teh pagi di taman dalam, dia mendadak dihadang oleh rombongan dayang berbaju merah tua.
Di tengah-tengah mereka, berdiri Putri Aurora yang hari ini mengenakan gaun formal kerajaan Khitan dengan ekspresi wajah yang sangat dingin dan serius.
"Selir Alara, ikut aku ke Aula Pengadilan Dalam sekarang juga," ucap Aurora tanpa basa-basi, nadanya terdengar seperti seorang jenderal yang sedang membacakan surat perintah eksekusi.
Alara mengerutkan keningnya, meletakkan cangkir tehnya. "Ada masalah apa ya, Mbak? Pagi-pagi begini kok sudah tegang banget. Mau minta diajarin resep ayam bakar juga?"
Putri Aurora tidak membalas candaan Alara. Dia melangkah selangkah lebih maju, sepasang mata safirnya menatap Alara dengan pandangan rumit. "Ini bukan lelucon.
Seseorang baru saja meracuni Ibu Suri tadi subuh menggunakan ramuan teh krisan... dan para pengawal menemukan sisa bubuk racun murni tersembunyi di dalam salah satu mesin tenun modern di gudang Paviliun Mawar Merah milikmu!"
*JDIAARRR!'
Lily yang berdiri di belakang Alara langsung lemas dan jatuh terduduk di atas rumput dengan wajah pucat pasi.
Alara tertegun sejenak, namun sedetik kemudian, sebuah senyuman dingin berkedip di bibirnya. Dia langsung tahu Uler lokal dan uler impor tampaknya sudah resmi bekerja sama untuk melakukan skenario jebakan tingkat dewa.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪