Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?
Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.
Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.
Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?
Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?
Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.
Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.
Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja Gombal
Fatih memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kacau, entah apa yang harus ia katakan pada ayahnya. Iya terus menyesali nasib dirinya, Fatih berkali-kali menepis pikiran negatifnya, tapi rasa kecewa pada dirinya sendiri semakin membuncah.
“Fat tunggu abang Fat!” Ahmad berteriak memanggil-manggil Fatih.
Fatih tak menggubrisnya iya terus melaju menembus kerumunan lalu lintas yang padat.
Merasa ada yang aneh Ahmad mengeluarkan jurus Rosie, ia mengebut dengan motor jagur nya membelokkan motornya ke kiri dan ke kanan, sesekali tubuhnya ikut bergeser menyeimbangi laju motor yang secepat kilat, tangannya melambai-lambai mencoba menghentikan Fatih.
Tapi Fatih seperti tidak sadar dalam membawa motornya, ia tidak melihat Ahmad yang terus melambai ke arahnya, Fatih hanya terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
“Fat berhenti dulu bisa celoko!” teriak Ahmad menghadang dari depan. Fatih langsung menarik rem nya sampai helm nya terbentur ke kaca motor.
“Bang ngapain, gimana kalau aku jatuh!” kata Fatih melotot.
“Turun-turun! wes turun dulu, ada yang gak bener ini!” kata Ahmad menghampiri motor Fatih.
Fatih menurut dan memarkirkan motornya, ia turun dan berdiri di trotoar.
“Duduk dulu sini, kita santai dulu sebentar,” Ahmad mengeluarkan rokok dari saku jaketnya.
Dengan wajah yang loyo Fatih ikut duduk di samping Ahmad.
“Kita jujur-jujuran aja sekarang mah ya, ada apa kamu bawa motor kaya orang kesetanan,” Ahmad membuka obrolan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Tadi gak jadi bang, aku ketakutan,” kata Fatih pelan.
“Hahahaha kamu takut sama nenek-nenek tua itu?” Ahmad berbalik dan memandang Fatih.
Fatih mengangguk.
“Fatih…Fatih kenapa kamu kaya anak kecil, sama nenek-nenek aja takut,” Ahmad tertawa lebar.
“Neneknya serem banget bang apalagi bayangin buat megang si anu, jantung udah mau copot duluan, kalau di terusin bukannya sembuh malah kena serangan jantung nanti,” senyum Fatih membuka barisan giginya.
“Terus kamu ngebut cuma gara-gara takut sama nenek itu?” tanya Ahmad lagi menyelidik.
“Bukan!” Fatih meluruskan kakinya.
“Terus kenapa kamu bawa motor kaya setan kesurupan? Eh emang ada ya setan yang kesurupan, kesurupan apaan coba?” Ahmad tertawa-tawa sendiri dengan kata-kata nya sambil mempermainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
“Benci aja sama diri sendiri bang!” Fatih menghela nafas berat.
“Sudah takdir tidak bisa di pungkir Fat, kamu pikir abang gak benci sama nasib abang jadi tukang ojeg miskin? Boro-boro punya keluarga kaya orang, cewek aja kabur semua tahu abang ga ada duitnya,” Ahmad menerawang jalanan yang padat dengan kendaraan, kebul asap sudah menjadi makanannya setiap hari.
Fatih kembali menghela nafasnya, benar yang di katakan Ahmad semua orang punya takdirnya masing-masing, tidak hanya dia seorang yang menderita di dunia ini bahkan banyak di luar sana yang lebih menderita dan nasibnya lebih buruk tapi mereka masih tetap bisa bertahan, kenapa ia begitu cepat mengeluh.
“Bang mau ngantar gak nyari tempat buat usaha?”
“Kemonlah abang mah siap wae, hidup bujangan mah kemana aja asal sukaaaaa,” jawab Ahmad berdiri dan membutulkan celana levis bututnya yang melorot ke bawah.
“Bang kayanya itu perut belum ada isinya, ampe celana melorot begitu?” Fatih memperhatikan perut Ahmad yang masih terlihat kempis.
“Tadi belum dapet duit buat makan Fat,” Ahmad mengusap perutnya yang sudah berbunyi.
“Kalau gitu kita cari warteg dulu aja bang, kasian tu cacing dalam perut bisa mati kalau gak dikasih makan.”
“Nasib….nasib...kamu lebih khawatir sama cacing abang dari pada sama abang sendiri Fat?”
“Haaa…gak gitu juga bang,” Fatih berjalan menuju motornya.
Mereka melaju dengan pelan di pinggiran jalan mencari tempat yang enak untuk makan.
Tak lama Fatih berhenti di sebuah warung makan pinggir jalan yang cukup ramai.
Fatih dan Ahmad mengambil makanan di etalase warung.
“Bang kenapa cuma sama telur dan tempe doang?” tanya Fatih melongo ke arah piring Ahmad.
“Ini juga udah 10 ribueun Fat,” jawab Ahmad yang sudah melahap makanannya.
Fatih berdiri dan mengambil piring kosong kemudian dia memasukkan daging, ikan, dan beberapa tumisan.
“Habisin bang, aku udah bayar sayang kalau gak habis,” kata Fatih sambil menyodorkan piring.
Ahmad berhenti dari menyuap dan matanya melihat Fatih, “Abang udah biasa makan begini Fat, tapi kalau ada ya embaaaat,” Ahmad langsung mengambil piring itu dengan tertawa.
Fatih tersenyum kecil sambil menggeleng-geleng kepala.
Selesai makan mereka segera menuju tempat yang sudah diperkirakan ramai untuk tempat usaha, Fatih bolak-balik mencari tempat kosong yang di sewakan, ia memilih tempat di pinggir minimarket yang di apit kanan kiri oleh sekolah dan Universitas, dan hanya beberapa meter dari situ ada Mall yang cukup besar dan pasar tumpah yang selalu ramai oleh pengunjung.
Warungnya memang kecil tapi lokasinya cukup bagus Fatih mantap memilih tempat itu, ia pun bertanya pada pemiliknya, bernegosiasi dan mengobrol dengan serius, berbeda dengan pemandangan di pinggirnya.
“Neng, tahu gak bedanya pahlawan yang pakai baju besi sama abang?” Ahmad mendekati seorang perempuan yang sedang mampir di sebuah warung kopi.
“Gak tau bang,” jawab perempuan berambut pendek itu tersenyum.
“Bedanya, mereka takut tertusuk, kalau abang rela tertusuk cinta kamu,” Ahmad tertawa cekikikan, perempuan itu pun ikut tertawa.
“Kalau pahlawan di kenang, kamu mah abang jamin gak bakal jadi kenangan neng,” Ahmad meluncurkan mata genitnya.
“Ya salam bang,” Fatih yang sudah selesai dengan urusannya menarik jaket Ahmad sampai ia terjungkir dari kursi panjang yang didudukinya.
“Neng..neng nomer teleponnya neng,” Ahmad berusaha berdiri dan kembali duduk di kursi.
Perempuan itu hanya senyum-senyum melihat tingkah konyol Ahmad.
Fatih kembali menarik jaket Ahmad yang masih mencoba menggoda perempuan itu, “Beda operator nggak apa-apa deh, asal nanti nama kamu sama abang ada di Kartu Keluarga yang sama…wkwkwk,” Ahmad masih meneriakkan kata-kata gombalannya meski sudah di tarik paksa oleh Fatih untuk berjalan.
Ahmad berjalan mundur sambil melancarkan kiss bye dengan tekhnik-tekhnik yang membuat perempuan itu tertawa-tawa.
Duk!
“Awas bang!” perempuan itu berteriak melihat Ahmad terbentur.
Ahmad menubruk motor yang di parkirkannya sendiri dan kakinya terbentur standar motor, meski terasa sakit tapi Ahmad masih bersikap biasa dan terus melambai-lambaikan tangannya seolah tidak ada yang terjadi.
“Bang kakinya kenapa berdarah?” tanya Fatih saat melihat kaki Ahmad mengucurkan darah.
“Mana?” jawab Ahmad sambil melihat kakinya.
“Awww Fatih darah…darah…itu darah Fat, abang terluka,” Ahmad meloncat-loncat melihat darahnya sendiri.
“Bang, takut darah bang?” Fatih tertawa cekikikan melihat Ahmad kaya cacing kepanasan.
“Sini duduk aku obatin,” Fatih mengajak Ahmad duduk di emperan toko setelah mengambil kotak kecil dari jok motornya.
Fatih membuka boxs yang berisi peralatan P3K. Ia mengambil kapas dan alkohol, membersihkan lukanya pelan.
“Aww!” teriak Ahmad sambil menutup mulutnya.
“Moso raja gombal takut sama yang kaya gini malu lah kalau di lihat ceweknya,” kata Fatih yang kemudian memberikan Hansaplast besar pada lukanya.
“Kecelakaan bang?” kata perempuan perambut pendek itu tertawa kecil saat lewat di depan mereka dengan mengapit tangan seorang laki-laki.
“Hahahaha Nasib mu baaaaaang….” Fatih tertawa lepas melihat Ahmad yang memegangi kepalanya.
*
Teman-teman beri tanda saya kalau membaca dan suka ya, seperti like terutama komen, soalnya terkadang saya bertanya-tanya apakah teman-teman suka atau tidak.
Terimakasih🥰