Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Sadar
Hingga sampai saat ini, saat Habibah dan Aby telah sampai di rumah. Bertemu dengan
Sang Ibu. Melepas kerinduan. Aby masih belum mampu percayai apa yang Habibah katakan.
Apa yang Habibah cintai. Dia masih tak berpikir akan hal itu. Telah lama dia hampir lupakan
tentangnya dulu saat masih bersama-sama dengan grup sholawat Al-banjarinya.
Namun tepat saat Habibah sebutkan nama kawan lamanya, dia benar-benar tak mampu
lupakan semua bayang-bayang masa lalunya.
Dia perhatikan terus foto-fotonya yang masih tersisa di dompetnya 3 buah. Bersama Ahmad dia foto bareng. Dan dua sisanya bersama grup
sholawat Al-banjarinya.
Malam yang semakin larut seolah semakin menemani dan menyingkapkan segala
bayangan masa lalunya, terlebih saat sebelum kecelakaan itu menghancurkan segala masa
lalu bersama grupnya.
Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar olehnya, dia pun menoleh ke arah pintu. Dia tak
ada keinginan sedikitpun untuk membukakan pintu, bangun dari tidurnya pun tak ingin
dilakukan, dia tak ingin di ganggu.
“Siapa?!”
“Aku kak…” terdengar berbisik Habibah menjawabnya di balik pintu.
“Masuklah, dek…” ucap Aby kemudian.
Pintu pun perlahan dia buka, dia menyembulkan hanya kepalanya saja, “Kakak tidur?”
tanyanya kemudian, saat dia dapati kakaknya sedang tiduran.
Dan Aby menggeleng, sembari mengisyaratkan Habibah untuk masuk ke dalam. Habibah
tetap ragu, “Apa aku tak mengganggu…?” tak enak rasa dia datang pada saat kakaknya
terlihat tiduran.
Kembali Aby menggeleng, akhirnya Habibah pun masuk dan dekati kakaknya. “Aku
hanya melihat foto-foto saat bersama-sama dengan kawanku…”
Habibah yang duduk di bawah, sedangkan Aby tiduran di atas ranjang pun terlihat kesulitan melihat-lihat foto yang di tunjukkan Aby.
Akhirnya Aby pun menoleh,
“Duduklah di sampingku…” ucap Aby.
Dengan segenap rasa sungkan, dia berpindah duduknya dengan perlahan-lahan. Aby
dapat merasakannya pula, dia pun langsung berkata,
“Tak usah ada rasa sungkan atau apapun, adikku… kita saudara…”
Langsung berdesir lah Habibah mendengarnya, ada rasa malu dalam hatinya bila Sang kakak sampai mengingatkan kembali bahwa tak perlu ada rasa sungkan sesama saudara. Ya,
dia benar-benar sungkan. Dia wanita yang tak biasa dengan perlakuan istimewa. Perasaannya
berkata lain, di setiap Sang kakak melakukan hal-hal aneh baginya. Perasaannya pun juga
berkata, Sang kakak seolah memperlakukannya bukan sebagai seorang adik saudara kembar,
tapi seolah sebagai seorang kekasih. Dia sadari hal itu takkan mungkin. Dia tak tahu, kedua
bersaudara itu pun tak tahu. Bahwa keduanya memang kini sedang merasakan hal yang sama.
Karena Aby pun kini juga semakin merasa bahwa dia terlalu memperlakukan adiknya
layaknya seorang kekasih.
Namun Aby mencoba biasa, dan usir segera perasaan itu, begitu pula dengan Habibah.
Lalu Aby pun mulai mengalihkan pikirannya,
“Ini foto-fotoku dulu sebelum kecelakaan…” ucap Aby, sembari menyodorkan fotofotonya pada Habibah.
Habibah meraihnya, dan perlahan setelah dia lihati dan dia teliti. Dia pun langsung bertanya dengan nada terkejut, “Bukankah ini Ahmad?!” dan seketika itu pula pikirannya begitu pula perasaannya langsung beralih pada satu sosok yang di tangkap sorot kedua matanya. Ahmad.
“He’em… dia Ahmad. Dia kawanku.” Jawab Aby.
Dan seketika itu pula langsung di tataplah Sang kakak dengan kedua matanya yang
membelalak. Saat itu pula Aby yang pandangi ekspresi Habibah pun langsung tersenyum.
“Kenapa harus terkejut seperti itu?” tanyanya kemudian.
Sedangkan Habibah yang baru menyadari akan akan hal itu pun, langsung tersipu malu.
Dan di pukul manjalah Aby olehnya,
“Ah kakak…” ucapnya.
“Apa kau masih ingin merahasiakan semuanya padaku?” ucap Aby. Tetap sembari tersenyum.
Perlahan Habibah menggeleng. “Lalu…? Tak inginkah kau bercerita sedikitpun?” Aby
semakin memancing.
Habibah masih terdiam. Aby tersenyum akan hal itu, dia tahu apa yang harus dilakukannya.
“Baiklah, aku ada cerita, maukah kau mendengarnya,” Aby menawarkan.
Dengan semangat Habibah pun mengangguk,
“Selagi sebelum jam dua belas malam.”
Ucapnya kemudian.
“Baiklah… dengarkan ya…” Aby tarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya
pelan. Dia pun bercerita.
“Waktu itu, saat pertama kali aku mengikuti grup sholawat Al-banjari, tepatnya saat
pertamanya aku miliki sebuah grup. Aku sangat bahagia, karena sumber utama penghasilanku
ya dari usaha kita menampilkan grup kita di acara-acara sampai di perlombaan. Grup kita
menang berkali-kali meski belum pernah menempati sebagai juara satu. Dan saat pertama kalinya kita mendapat juara satu, kita mendapat hadiah sepuluh juta rupiah. Aku dan grupku masih belum puas akan hal itu, waktu itu sorenya kita semangat latihan untuk festival banjari satu bulan yang akan datang. Saat itulah aku kecelakaan, sebelumnya aku telah merasakan ada hal yang berbeda, entah saja tiba-tiba aku berkata pada grupku bahwa aku tak berstamina. Mereka tak menggubrisku, karena jelas tak akan percaya padaku. Terutama Ahmad, dan yang lain. Berkata padaku bahwa pasti aku, juga grup kita pasti bisa! Sejak saat itu aku sangat rindukan lagi mereka…” Aby mengakhiri ceritanya.
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk