Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Kebenaran yang Mengguncang
Raven menatap pria tua di hadapannya tanpa berkedip.
Rantai besi yang mengikat kedua tangannya berderit saat ia mencoba melepaskan diri.
"Kau berbohong."
Black King tetap tersenyum tenang.
"Kalau aku ingin berbohong, aku tidak perlu menculikmu."
"Ayahku sudah meninggal."
Black King menggeleng pelan.
"Aku tidak sedang membicarakan Matteo Alvaro."
Raven membeku.
"Matteo bukan ayah kandungmu."
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Seumur hidupnya Raven menganggap Matteo sebagai ayah. Meski tahu dirinya diadopsi, ia tidak pernah mencari tahu siapa orang tua kandungnya.
"Siapa ayah kandungku?" tanya Raven dengan suara rendah.
Black King berjalan menuju rak tua di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah map kulit yang tampak telah dimakan usia.
"Dua puluh sembilan tahun yang lalu, kota ini dikuasai oleh empat keluarga besar."
Ia membuka map itu dan mengeluarkan sebuah foto.
Di dalam foto tampak empat pria muda berdiri berdampingan sambil tersenyum.
Raven langsung mengenali dua di antaranya.
Matteo Alvaro.
Vittorio De Luca.
Dua wajah lainnya belum pernah ia lihat.
"Pria di sebelah Matteo adalah ayah kandungmu."
Black King menunjuk seorang pria berambut hitam dengan tatapan tajam.
"Namanya Adrian Valerio."
Raven menatap foto itu lama.
Ada sesuatu pada wajah Adrian yang sangat mirip dengannya.
Bentuk rahang.
Sorot mata.
Bahkan cara berdirinya.
"Siapa dia sebenarnya?"
"Pemimpin keluarga Valerio."
"Kenapa aku tidak pernah mendengar nama itu?"
Black King menutup map tersebut.
"Karena keluarga Valerio telah dimusnahkan."
Raven mengepalkan tangan.
"Siapa yang melakukannya?"
Black King menatap lurus ke matanya.
"Empat keluarga besar saling mengkhianati."
"Tidak ada yang benar-benar suci."
Raven menggeleng.
"Matteo tidak mungkin melakukan itu."
"Kau masih terlalu percaya kepadanya."
Kalimat itu membuat amarah Raven memuncak.
Ia menarik rantainya sekuat tenaga hingga salah satu baut di kursi mulai longgar.
Black King sama sekali tidak tampak takut.
"Tenanglah."
"Kau belum mendengar bagian yang paling menyakitkan."
Di sisi lain kota, Aurora terus mencari keberadaan Raven.
Sudah tiga hari berlalu sejak ledakan di Gudang Nomor 9.
Namun tidak ada satu pun petunjuk.
Leo memasuki ruang kerja dengan wajah lelah.
"Kami memeriksa semua rumah sakit, pelabuhan, hingga gudang-gudang kosong."
"Hasilnya?" tanya Aurora penuh harap.
Leo menggeleng.
"Tidak ada."
Aurora memejamkan mata.
Ia menolak percaya Raven telah meninggal.
"Kalau begitu kita cari lagi."
Leo menatap Aurora.
"Nona sudah tiga hari tidak tidur."
"Aku tidak akan berhenti sebelum menemukannya."
Melihat tekad Aurora, Leo akhirnya mengangguk.
"Baik."
Sementara itu, Elena mulai memeriksa kembali barang-barang peninggalan Matteo.
Di dalam ruang kerja lama Raven, ia menemukan sebuah buku yang terselip di balik rak.
Buku itu tampak biasa.
Namun saat dibuka, salah satu halamannya ternyata berlubang.
Di dalam lubang kecil itu tersembunyi sebuah kunci USB.
Elena segera membawanya kepada Leo.
"Apa ini?"
Leo langsung menghubungkannya ke komputer.
Beberapa file muncul di layar.
Salah satunya adalah dokumen berjudul Proyek Phoenix.
Aurora yang ikut melihat mengernyit.
"Phoenix?"
Leo membuka dokumen tersebut.
Isinya hanya satu kalimat.
"Jika Raven mengetahui Proyek Phoenix, berarti semuanya sudah terlambat."
Belum sempat mereka membuka file berikutnya, layar komputer tiba-tiba berkedip.
Semua data menghilang.
"Apa yang terjadi?" seru Elena.
Leo mencoba memulihkannya, tetapi terlambat.
Seseorang telah meretas sistem mereka dari jarak jauh.
Di layar monitor muncul simbol mahkota hitam.
Disusul sebuah pesan singkat.
"Berhentilah mencari Raven."
"Kalau tidak, Aurora akan menjadi korban berikutnya."
Ruangan mendadak hening.
Aurora menatap layar itu tanpa rasa takut.
Sebaliknya, tekadnya justru semakin kuat.
"Aku tidak akan berhenti."
"Aku akan menemukan Raven..."
"...apa pun risikonya."
Sementara itu, di markas rahasia Black King, Raven masih menatap foto lama ayah kandungnya.
Black King berdiri di dekat jendela sambil memandang hujan yang turun di luar.
"Besok..."
"...aku akan menunjukkan tempat di mana ayahmu benar-benar mati."
Raven mengangkat kepalanya perlahan.
Tatapannya dipenuhi kemarahan.
"Dan setelah itu..."
"Aku akan membunuhmu."
Black King hanya tersenyum tipis.
"Aku menunggu hari itu, Raven."
"Tapi sebelum bisa membunuhku..."
"...kau harus sanggup menerima kenyataan tentang darah yang mengalir di tubuhmu."