NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:629
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di tinggal pulang

Mobil sport milik Lucian melaju membelah jalanan malam kota yang mulai lengang. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer terasa begitu berat dan kaku. Celeste duduk merapat ke pintu mobil, memandangi luar jendela dengan tatapan gelisah. Sesekali ia melirik ponselnya, menatap nama 'Lucian' yang baru saja tersimpan di kontaknya dengan perasaan campur aduk.

Ia sedang menahan malu atas perkataan Lucian beberapa saat yang lalu. Ternyata pria itu mengenalnya, tapi masalahnya sampai sekarang pria itu tidak membahasnya lagi.

Bagaimana bisa aku menikah dengan pria asing ini? batin Celeste dalam hati. Pernikahan ini benar-benar gila.

Lampu merah menyala di sebuah persimpangan jalan yang sepi. Lucian menghentikan laju mobilnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kedua tangannya menggenggam kemudi erat-erat. Wajahnya yang tegas tampak tegang, menyembunyikan gejolak emosi yang sejak tadi ia tahan.

Tiba-tiba, ponsel Celeste di dalam tasnya bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Lucian.

Celeste mengerutkan dahi kebingungan. Dengan ragu, ia membuka aplikasi pesan tersebut. Namun, begitu matanya membaca deretan kalimat di layar kaca, seluruh darah di tubuh Celeste terasa membeku seketika.

[Lucian: Sampai kapan kamu mau berpura-pura bahwa kita baru pertama kali bertemu malam ini, Celeste?]

Deg!

Jantung Celeste melompat bagai mau copot. Lidahnya mendadak kelu, dadanya bergemuruh hebat. Tangannya gemetaran hingga ponsel di genggamannya hampir jatuh ke lantai mobil. Pria ini membahasnya lagi. Celeste perlahan memalingkan wajahnya, menatap Lucian yang duduk di sampingnya.

Pria itu kini memalingkan wajahnya, menatap Celeste lurus-lurus. Tidak ada senyum, hanya tatapan mata yang teramat tajam dan dalam, menuntut penjelasan dari kecanggungan yang tercipta di antara mereka.

[Lucian: Aku ingat aroma tubuhmu, dan aku ingat betul apa yang terjadi dua malam lalu di kamar hotel itu.]

Pesan kedua masuk, menyentak kesadaran Celeste sampai ke batas tertinggi.

"Ka-kamu..." suara Celeste tercekat di tenggorokan. Wajahnya yang semula pucat kini memerah padam akibat rasa malu, takut, dan syok yang menyatu.

Lucian tidak membalas dengan gerakan cepat. Pria itu mencondongkan tubuh tingginya sedikit ke arah Celeste. Tangan besar Lucian terulur canggung, jemarinya yang hangat menyibakkan rambut panjang Celeste di sisi leher, menyentuh pelan noda kemerahan yang ia tinggalkan di sana.

Celeste refleks menarik tubuhnya menjauh, menyandar ke pintu mobil dengan napas memburu. Ia begitu canggung dan ketakutan dipandangi sesedikit itu oleh pria yang telah merenggut keperawanannya.

[Lucian: Kenapa kamu lari dan memukulku pakai bantal di pagi hari? Kamu pikir aku begitu tidak bertanggung jawab?] ketik Lucian lagi, lalu menyodorkan layar ponselnya dengan raut wajah yang tampak terluka sekaligus bersalah.

"Aku... aku takut," bisik Celeste pelan, tidak sanggup menatap mata Lucian. Ia menunduk dalam-dalam, memeluk tasnya erat-erat. "Aku pikir kamu tidak sadar karena mabuk... Dan aku tidak tahu kalau pria itu adalah kamu."

Lucian menghela napas berat yang terdengar dari tenggorokannya. Pria itu menarik kembali tangannya, mengetik pesan balasan dengan lambat. Celeste bisa melihat layar ponsel itu.

[Lucian: Aku menerima perjodohan ini karena aku tahu wanita itu adalah kamu. Aku ingin bertanggung jawab. Tapi jika kamu merasa terpaksa...]

Celeste mendongak cepat, memotong tulisan Lucian. "Bukan! Bukan terpaksa... Aku hanya... aku bingung. Kita sama sekali tidak saling kenal, Lucian. Semuanya terjadi terlalu cepat."

Lucian menatap Celeste sebentar, lalu kembali memegang kemudi saat lampu berubah hijau. Ada tembok tak kasat mata yang tebal dan dingin membentang di antara mereka berdua.

Tak lama kemudian, mobil mereka membelok masuk ke sebuah kawasan privat yang terasing. Di sana berdiri sebuah studio gaun pengantin eksklusif milik desainer pribadi keluarga St. Claire yang disewa khusus untuk mereka malam ini.

Seorang wanita paruh baya bernama Nyonya Sofia menyambut kedatangan mereka di pintu depan dengan senyum hangat.

"Selamat malam, Tuan Lucian, Nona Celeste," sapa Sofia ramah. "Nyonya Eleanor sudah mengatur semuanya. Studio ini sudah kami kosongkan khusus untuk Nona."

Celeste hanya mengangguk kaku, tidak berani bersuara banyak.

"Mari, Nona Celeste, kita ke ruang ganti privat," ajak Sofia menuntunnya.

Sebelum melangkah, Celeste melirik kaku ke arah Lucian. Pria itu berjalan menuju sofa beludru hitam di ruang tunggu, mendudukkan tubuhnya dengan kaku tanpa memandang Celeste balik. Wajah tampannya terlihat begitu dingin dan menjaga jarak, membuat dada Celeste terasa makin berhimpit oleh canggung.

Di dalam ruang ganti, Sofia dengan telaten membantu Celeste mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading dengan potongan off-shoulder berenda halus. Kain sutranya jatuh meliuk indah membingkai tubuh ramping Celeste.

Saat tirai besar disingkap, Celeste melangkah keluar dengan perlahan dan ragu-ragu. Sepatu hak tingginya menapak pelan di atas marmer.

Lucian yang duduk di sofa refleks mendongakkan kepala.

Pria itu membeku di tempatnya. Pandangannya mengunci sosok Celeste yang berdiri kaku di bawah sinar lampu studio. Rambut panjang Celeste terurai indah, kulit pucatnya tampak kontras dengan gaun putih, dan sepasang mata hazel-nya menatap lantai dengan ekspresi penuh rasa canggung dan cemas.

Lucian berdiri perlahan, lalu melangkah mendekati Celeste. Setiap langkahnya terasa berat.

"Bagaimana, Tuan Lucian? Apakah gaunnya sudah pas?" tanya Sofia lembut.

Lucian tidak mengetik di ponselnya. Pria itu berdiri tepat di hadapan Celeste, memandangi gadis itu dengan tatapan yang begitu rumit.

Lucian perlahan mengulurkan tangannya ke arah tangan Celeste. Celeste sempat bersiap menarik tangannya karena kaget, namun Lucian dengan lembut hanya menyentuh ujung jemari Celeste, menyalurkan rasa hormatnya tanpa berani bersikap lancang lagi. Lucian menatap mata hazel Celeste, lalu mengangguk pelan pada Sofia sebagai tanda setuju.

Tiba-tiba, ponsel milik Lucian di dalam saku jasnya bergetar hebat. Lucian menarik tangannya kembali dan mengangkat panggilan tersebut.

"Tuan Lucian! Darurat!" suara bariton seorang pria berbisik panik dari seberang telepon. "Ada penyerangan mendadak di markas klan barat! Anak buah musuh menerobos barisan pertahanan utama!"

Deg!

Seketika, bulu kuduk Celeste berdiri tegak. Seluruh tubuhnya meremang. Markas klan barat?! Penyerangan?! Maksudnya apa... apa pria di depanku ini seorang mafia?! batin Celeste heboh setengah mati. Wajahnya yang semula canggung kini dipenuhi raut ketakutan yang teramat sangat. Matanya membelalak menatap Lucian seolah melihat sosok monster yang berbahaya.

Lucian langsung menyadari perubahan raut wajah Celeste. Ia melihat ketakutan yang nyata di sepasang mata hazel calon istrinya. Rahang Lucian mengeras, tatapannya mendadak membeku dan jauh lebih dingin.

Dengan cepat, Lucian mematikan panggilan telepon itu. Ia melirik Nathan, lalu memberi instruksi lewat bahasa isyarat lincah kepada asisten pribadinya yang baru saja masuk ke studio.

Nathan mengangguk paham dan mendekati Celeste. "Nona Celeste, Tuan Lucian ada urusan yang sangat mendesak. Beliau mengutus sopir pribadi keluarga untuk mengantar Nona pulang dengan selamat sampai ke rumah."

Tanpa memberi penjelasan sepatah kata pun, Lucian berbalik arah. Langkah kakinya begitu cepat dan terburu-buru meninggalkan studio, menghilang di balik kegelapan malam tanpa menoleh lagi ke belakang.

Celeste mematung di tempatnya, menatap pintu studio yang tertutup rapat. Rasa canggung, panik, dan jengkel menyatu di dadanya.

"Ish... Sekarang giliran dia yang meninggalkanku," gumam Celeste pelan seraya melipat tangan di dada dengan perasaan campur aduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!