Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Yang Aini pikirkan memang terjadi, sejak bangun pagi tadi bayi perempuan itu terus saja menangis mencari keberadaan sang ibu
Hal yang jelas membuat Andra kewalahan, bahkan pria itu sampai tidak pergi bekerja
"Aduuuh mas, kamu tuh bisa gak sih tenangin anak kamu! Kepala aku pusing denger dia nangis mulu"
Kesal hati Sarah, saat dirinya masih ingin tidur suara tangisan putri Aini ini tidak berhenti
"Apa kamu gak bisa bantu aku? Katanya kamu mau jadi ibu tiri yang baik" Andra ikut kesal karena istrinya hanya bisa bicara saja
"Ini juga salah kamu! Harusnya kamu biarin Aini bawa anaknya, ngapain kamu tahan-tahan" Sarah beringsut bangun dengan wajah kesal
"Kasih ini anak aku, aku yang akan merawatnya"
"Terserah kamu aja deh mas! Yang penting kamu bikin anak kamu ini diam! Kepala aku pusing" Setelah mengatakan itu, Sarah berlalu keluar dari kamar
"Kamu diam dong nak! Disini kan udah ada ayah"
Walaupun bersama sang ayah, bayi satu tahun itu tetap saja mencari keberadaan sang ibu
"Ini semua karena kamu, Aini. Tega banget kamu ninggalin anak kita seperti ini" Andra membawa putrinya turun
Kekesalannya bertambah saat melihat meja makan yang kosong sementara Sarah sibuk dengan ponselnya
"Kamu gak masak?" Tanya Andra
"Aku pesen gofood" Jawabnya dengan santainya
"Apa kamu gak bisa masak yang sederhana? Kalau ada Aini pasti..."
"Aini lagi, Aini lagi. Aku bosen dengernya!" Sarah bangkit dengan perasaan kesal "Aku Sarah, mas. Bukan Aini"
Niat hati ingin menenangkan diri dengan keluar dari kamar, malah ia semakin kesal karena suaminya menyusul dan selalu menyebut nama wanita lain
"Kamu diam dong nak! Jangan nangis terus! Ayah pusing" Andra masih berusaha menenangkan putrinya yang rewel
***
Aini benar-benar serius dengan keputusannya, bahkan wanita itu tidak mengunjungi kediaman Andra walaupun hanya sekedar menjenguk putrinya
Cukup sudah dengan patah hatinya, Aini memutuskan untuk mencari pekerjaan dan segera melayangkan gugatan cerai dan mendapatkan hak asuh atas putrinya
"Kamu yakin baik-baik aja nak? Kalau kamu belum sanggup sebaiknya istirahat dulu" Ujar Ratih saat melihat putrinya telah siap dengan map ditangan
"Aini gak apa-apa kok Bu. Aini mau secepatnya dapet kerja, biar bisa sewa pengacara"
Dedi dan Ratih hanya bisa setuju, apapun keputusan Aini maka mereka akan mendukung
"Kamu gak mau ketemu Kasih?" Tanya Ratih
Aini terlihat sedih, sebagai seorang ibu jelas ia sangat merindukan putrinya. Entah bagaimana keadaan putri kecilnya disana
Mungkin Kasih akan terus mencari nya. Aini sendiri tidak bisa melakukan apapun. Jika ia lemah maka Andra akan melakukan hal seenaknya
"Akan ada waktunya Aini puas sama Kasih" Wanita cantik itu berusaha mengulas senyumnya "Ya udah kalau gitu, Aini berangkat dulu"
Jika Aini berangkat dengan tenang, maka berbeda dengan Andra yang harus menyiapkan sarapan serta menenangkan putrinya yang rewel
Kasih demam, mungkin karena tiga hari ini dihabiskan dengan menangis, Sarah sendiri benar-benar dibuat muak dengan suaminya yang masih enggan menceraikan istri pertamanya
"Kasih mau makan yaa? Sebentar yaa nak" Andra menyiapkan makanan pendamping ASI yang biasa Aini siapkan, rasanya tidak sama dan bayi kecil itu menolaknya
"Aduuh mas, anak kamu gak bisa diem yaa? Dari kemarin nangis mulu" Sarah benar-benar muak mendengar suara tangisan putri Aini ini, jika bukan karena Andra mungkin mulut kecilnya susah ia tekan dengan bantal
"Kamu kalau gak bisa bantu mending diem aja, Sarah" Andra semakin frustasi mendengar istrinya terus saja marah-marah
"Sekarang kamu jagain Kasih dulu! Aku harus kekantor, kalau aku dipecat kita gak akan bisa makan"
Sarah memutar matanya malas, menghadapi bayi rewel ini sendirian. Astaga, membayangkannya saja sudah membuatnya lelah
"Ya udah, tapi kamu harus pulang cepet! Aku ini lagi hamil" Sarah meraih bayi perempuan itu namun Kasih menolak dan malah memeluk leher sang ajah
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Kasih berhasil berpindah tangan. Tangisannya semakin menjadi saat mobil yang dikendarai sang ayah meninggalkan rumah
"DIAM" Mendengar suara bentakan membuat tangis bayi kecil itu semakin keras
Ditempat berbeda, lebih tepatnya di trotoar jalan, seorang wanita tengah membawa langkahnya sambil memeluk map coklat
"Ternyata nyari kerja sesusah ini" Keluh Aini sambil membawa langkahnya
"COPET"
Aini melihat dari depan seorang pria tengah berlari cepat, dibelakangnya beberapa orang tengah mengejar
Tanpa pikir panjang, Aini melayangkan Tote bag nya hingga pria yang tengah berlari itu kehilangan keseimbangan
"Copet kamu yaa! Dasar" Pria itu mengaduh saat tubuhnya dipukuli dengan tas, ia melindungi wajahnya lalu Aini mengambil tas hitam yang ia bawa
Dua orang pria memegangi pencopet itu, saat hendak memukuli Aini mencegah
"Jangan main hakim sendiri, mas! Bawa kekantor polisi aja!"
"Iya mbak, makasih yaa mbak" Aini mengangguk lalu pencopet itu dibawa
"Nak" Seorang wanita paruh baya menegur Aini "Kamu yang nyelamatin tas saya?"
"Oh iya Bu! Maaf, ini tasnya!" Aini menyerahkan tas mahal itu kembali kepada pemiliknya
"Sebentar" Aini mengerutkan keningnya saat ibu-ibu itu menyentuh pipinya "Kamu mirip sekali dengan mendiang menantu saya"
"Huh? Maksud ibu apa yaa?"
Wanita paruh baya itu tersadar "Ahh, maafkan saya. Terima kasih untuk bantuan kamu" Ia lalu merogoh sesuatu dari dalam tas mewah itu "Ini untuk kamu"
Melihat lembaran uang itu Aini tersenyum lalu menolaknya "Gak perlu Bu! Saya cuma gak sengaja lewat terus denger orang teriak copet"
Wanita paruh baya itu tidak memaksa, lembaran berharga itu kembali ia masukkan kedalam tasnya
"Kamu mencari pekerjaan?" Tanyanya karena melihat Aini yang memeluk map coklat
"Iya, saya baru aja dari perusahaan yang deket sini" Aini tersenyum
"Background pendidikan kamu apa?"
"Saya S1 ilmu pendidikan" Jawab Aini
"Itu bagus, kebetulan saya punya yayasan pendidikan. Kalau kamu mau kamu bisa menjadi salah satu tenaga pengajar disana" Kata wanita paruh baya itu
Mendengar itu membuat Aini tersenyum, kesempatan seperti ini tidak akan ia lewatkan
"Saya mau Bu" Ujarnya dengan penuh semangat
Wanita berpenampilan mahal itu kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu
"Ini kartu nama saya, besok kamu datang saja ke sekolah" Ucapnya
Aini mengucapkan banyak terima kasih, ditengah kesulitannya dalam mencari pekerjaan, ada orang baik yang datang
"Terima kasih, Bu. Besok saya akan datang"
"Saya tunggu yaa!" Wanita paruh baya itu mengusap lengan Aini sebelum masuk ke mobilnya
"Alhamdulillah" Aini memeluk kartu nama itu, setelah berkeliling dibawah terik matahari, ia akhirnya mendapat pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita nya
Aini kembali kerumah dengan perasaan gembira, dirumah sudah ada Ratih dan Dedi
"Gimana nak? Udah dapet kerjanya?" Tanya Dedi saat sang putri duduk disampingnya
"Udah pak, Alhamdulillah. Aini kerja di yayasan punya orang kaya" Aini menjelaskan saat ia menyelamatkan seorang wanita dari pencopet lalu mendapatkan pekerjaan
"Alhamdulillah"
"Ya udah, Aini kekamar dulu. Mau istirahat" Aini bangun dari duduknya, melangkah menuju kamar lalu beristirahat sejenak
Jika seperti ini, maka Aini jadi merindukan putrinya. Rasanya begitu sakit, ia ingin memeluk bayi kecil itu dengan erat
"Kamu sabar sebentar lagi yaa sayang"
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.