NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Keputusan untuk meninggalkan fasilitas riset Sektor Utara diambil dalam keheningan yang mencekam. Di bawah naungan langit fajar yang remang, Hayden memasukkan barang-barang esensial ke dalam bagasi kendaraan lapis baja. Tak ada selebrasi atas kelahiran Hayra. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang ketakutan baru yang mengintai dari balik garis darah mereka sendiri.

Tujuan mereka hanya satu: kembali ke villa terisolasi di pinggir hutan cemara—tempat awal perjuangan Hayden dan Fiora saat wabah pertama kali pecah. Sebuah tempat yang tersembunyi dari peta taktis, dikelilingi benteng perbukitan alami, dan jauh dari jangkauan sisa-sisa faksi Aegis maupun para penyintas yang kini mulai membangun kembali peradaban.

Perjalanan menempuh jalanan berbatu yang sepi memakan waktu dua hari penuh. Sepanjang jalan, Fiora memangku Hayra dengan penuh kasih sayang, tak menyadari tatapan penuh beban yang kerap dilemparkan Hayden dan Dr. Helena dari balik kaca spion. Leo dan Maya duduk diam di kursi belakang, merasakan perubahan atmosfer yang mendadak dingin dan penuh rahasia.

Begitu gerbang kayu tebal villa tua itu terbuka dengan derit berat, kenangan masa lalu menyeruak. Rumah dua lantai berbahan kayu dan batu alam itu masih berdiri kokoh. Tanaman liar menyelimuti dinding luar, namun sistem pertahanan mandiri yang dulu dibangun Hayden masih berfungsi dengan baik.

"Kita aman di sini," gumam Dion seraya menurunkan suplai logistik dan peralatan laboratorium portabel Dr. Helena ke ruang bawah tanah villa.

Malam harinya, setelah Leo dan Maya tertidur lelap di kamar lantai atas karena kelelahan, dan Hayra terbuai tenang di dalam keranjang bayi, Hayden melangkah turun ke ruang kerja tua di lantai dasar. Dr. Helena sudah menunggu di sana dengan beberapa lembar hasil cetak analisis biometrik dan layar hologram portabel yang menyala redup.

"Kita tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi, Hayden," bisik Dr. Helena, wajahnya tampak amat letih dengan lingkaran hitam di bawah mata. "Fiora harus tahu kenapa kita mengisolasinya di sini. Dia berhak tahu kondisi darah anaknya."

Hayden mematung di dekat perapian yang menyala. Sebelum ia sempat menjawab, langkah kaki halus terdengar dari arah tangga kayu.

Fiora berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gaun tidur panjang berbalut mantel tebal, matanya memancarkan kecurigaan yang telah ia tahan sejak mereka meninggalkan fasilitas Sektor Utara.

"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" suara Fiora memecah keheningan malam, dingin dan gemetar.

Hayden menatap istrinya dengan kepedihan mendalam. "Fiora... masuklah. Duduk dulu."

"Tidak! Jangan suruh aku duduk seolah aku orang asing di antara kalian!" Fiora melangkah maju, dadanya naik turun menahan emosi. Matanya beralih dari Hayden ke Helena, lalu menatap layar hologram yang menampilkan rantai DNA berwana merah keemasan. "Sejak Hayra lahir, kalian berbisik-bisik di belakangku. Kita melarikan diri ke villa tua ini bukan untuk berlibur, kan? Apa yang terjadi pada bayiku, Helena?!"

Dr. Helena menunduk, tak sanggup mengunci pandangan dengan Fiora. Dengan tangan gemetar, ia menggeser dokumen analisis genetik ke atas meja.

"Fiora... ini tentang sampel darah tali pusar Hayra," ujar Helena, suaranya parau. "Katalis dalam rahimmu saat hamil... tidak menghancurkan *Virus Genesis-X* dari tubuh Hayden. Virus itu... berevolusi."

Fiora membeku. "Berevolusi? Apa maksudmu?"

"Virus itu menyerap kekebalan tubuhmu, merekayasa kodenya sendiri, dan berpindah secara permanen..." Helena menelan ludah dengan bersusah payah, "ke dalam darah Hayra. Hayra membawa varian mutasi laten *Genesis-X* terbaru di dalam sistem sarafnya."

Kata-kata itu menghantam Fiora bagaikan petir di siang bolong. Kakinya lemas, tubuhnya hampir rubuh jika Hayden tidak dengan sigap menangkap dan menopangnya.

"Tidak... tidak! Kamu bohong!" jerit Fiora histeris. Ia menepis tangan Hayden dengan kekuatan yang tak terduga, melangkah mundur dengan mata membelalak penuh horor. "Kamu bohong, Helena! Aku yang membawa vaksin itu! Darahku memiliki antibodi murni! Anakku sehat! Dia menangis, dia menyusu, dia bayiku yang suci!"

"Fiora, tenanglah, tolong..." bisik Hayden dengan mata memerah, mencoba merengkuh istrinya kembali.

"JANGAN SENTUH AKU!" raung Fiora. Suara jeritannya pecah, bergema ke seluruh sudut ruangan villa tua itu. Air mata meledak dari matanya, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Tangannya memukul dada tegap Hayden berulang kali dalam keputusasaan yang murni.

"Kenapa, Hayden?! Kenapa harus anak kita?! Kenapa racun terkutuk itu harus menyentuh bayiku yang tak berdosa?!" jerit Fiora di antara isak tangisnya yang membumbung tinggi. Tubuhnya bergetar hebat, tercekik oleh rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa. "Kita sudah mengorbankan segalanya! Kita kehilangan Oase! Aku kehilangan calon anak kita yang pertama! Kita bertaruh nyawa demi vaksin itu... tapi kenapa Tuhan memberikan racun ini pada Hayra?!"

Fiora merosot ke lantai kayu yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara tangisannya melengking, penuh dengan duka yang menyayat hati—sebuah histeria dari seorang ibu yang mendapati harapan tertingginya hancur berkeping-keping.

Hayden berlutut di hadapan istrinya, menarik Fiora yang menangis kebalau ke dalam pelukan eratnya. Ia membiarkan Fiora mencengkeram bajunya, membiarkan istrinya meluapkan seluruh histeria dan rasa frustrasinya. Hayden memejamkan mata rapat-rapat, menahan air matanya sendiri agar tidak pecah, meski dadanya terasa teremas hebat.

"Darahnya bukan cuma membawa virus itu, Fiora..." bisik Helena lirik, air matanya sendiri kini menetes ke atas meja. "Varian dalam tubuh Hayra adalah patogen hidup yang sempurna. Jika racun itu terpicu dan menyebar saat dia dewasa, Vaksin Genesis yang ada di seluruh dunia tidak akan mampu menahannya. Hayra... adalah kunci sekaligus ancaman terbesar bagi dunia ini."

Jeritan Fiora perlahan berubah menjadi tangisan parau yang pilu di dalam dekapan Hayden. "Dia cuma bayi kecil, Hayden... Dia tidak bersalah... Bagaimana jika orang-orang tahu? Bagaimana jika mereka datang untuk membunuhnya?!"

Hayden memegang kedua pipi Fiora, memaksa istrinya menatap matanya yang memancarkan tekad sekeras baja.

"Dengar aku, Fiora. Dengar!" tegas Hayden dengan suara berat dan dalam. "Tidak ada seorang pun yang akan menyentuh Hayra. Tidak Aegis, tidak para penyintas, tidak siapa pun di dunia ini! Aku membiarkan tubuhku terinfeksi demi melindungimu, dan aku akan meratakan dunia ini menjadi abu sebelum membiarkan siapa pun menyakiti putri kita!"

Fiora menatap mata Hayden, mencari kepastian di tengah badai keputusasaan yang melahap jiwanya. Ia menyandarkan dahinya di dada Hayden, mencengkeram lengan suaminya seraya terisak pelan.

Dari lantai atas, suara tangisan bayi mendadak terdengar dari dalam keranjang—seolah Hayra merasakan kepedihan dan histeria sang ibu di bawah.

Fiora menyapu air matanya dengan cepat. Mendorong tubuhnya sendiri untuk berdiri meski kakinya masih gemetar, naluri seorang ibu langsung mengalahkan rasa syoknya. Dengan langkah terburu-buru, Fiora berlari menaiki tangga kayu menuju kamar atas, diikuti Hayden dari belakang.

Fiora merengkuh Hayra dari keranjang, memeluk bayi kecil itu rapat-rapat ke dadanya. Ia menciumi kening, pipi, dan jemari mungil Hayra dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti, membisikkan doa-doa perlindungan di antara napasnya yang memburu.

Hayden berdiri di ambang pintu kamar, mengawasi istri dan anak kandungnya, sementara dari sudut kegelapan lorong, Leo dan Maya memperhatikan dengan mata bulat mereka yang penuh rasa cemas.

Di villa tua tempat segalanya bermula, masa depan yang bahagia kini berganti menjadi benteng pertahanan terakhir. Mereka telah memenangkan perang melawan wabah zombie dunia, tetapi perjuangan terbesar Hayden dan Fiora baru saja dimulai: melindungi putri kecil mereka dari takdir kelam yang mengalir di dalam darahnya sendiri.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!