NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Tanpa Kabar

Pagi menjelang, namun sosok Mawar tak kunjung kembali. Udara pagi yang biasanya segar beraroma rumput basah kali ini terasa berat, dingin, dan mencekam, seolah langit pun ikut merasakan kegelisahan yang mulai menyelimuti rumah itu. Bu Gendis, yang semalam terlelap lebih awal setelah pertengkaran hebat yang memecah keheningan rumahnya, baru menyadari sesuatu yang tidak beres saat melangkah melewati pintu kamar putri bungsunya yang terbuka lebar.

"Mawar? Kau sudah bangun?" panggil Bu Gendis, namun tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambut. Langkahnya masuk perlahan, dan hatinya mencelos seketika saat melihat tempat tidur itu rapi tak tersentuh, selimut terlipat rapi di ujung kasur, seolah pemiliknya tidak pernah kembali ke sana semalam.

Bu Gendis berbalik cepat, berjalan tergesa menuju ruang tengah. Napasnya tertahan di tenggorokan, kakinya terasa berat seolah tertanam di lantai. Di dekat pintu belakang, terlihat noda merah tua yang mengering di lantai keramik yang bersih. Jejak itu berlanjut, menuju ambang pintu yang terbuka lebar, berderet samar di tanah yang lembap, menghilang perlahan menuju arah hutan lebat yang diselimuti kabut pagi.

"Mawar... Mawar!!" Jeritan Bu Gendis membelah kesunyian pagi, bergema di antara pepohonan di halaman, membawa kepanikan yang seketika membangunkan penghuni rumah lainnya.

Pintu kamar terbuka. Jingga dan Bima berlari keluar, wajah mereka masing-masing memancarkan kegelisahan yang berbeda, Jingga pucat pasi, matanya melirik ke arah noda darah lalu memalingkan wajah dengan cepat, sementara Bima berusaha menyusun ekspresi bingung yang dibuat-buat, namun tangannya mengepal erat di samping tubuh.

"Di mana dia? Ke mana Mawar pergi? Kenapa ada darah di sini?!" Bu Gendis menatap mereka bergantian, mata tuanya yang keriput menyiratkan ketakutan yang luar biasa, seakan ia sudah melihat bayangan nasib buruk yang menimpa sang putri bungsu.

"Bu... semalam... kami bertengkar..." Jingga mencoba menjelaskan, suaranya pecah, kata-katanya tertahan di tenggorokan di bawah tatapan tajam sang ibu. Ia ingin berkata jujur, ingin mengaku, namun rasa takut dan malu mengunci mulutnya rapat-rapat.

"Pergi! Kalian semua segera cari Mawar! Sekarang juga!" Bu Gendis gemetar hebat, tubuhnya terhuyung hampir jatuh, ia menahan diri dengan mencengkeram kusen pintu.

"Mawar sedang mengandung... dia juga berdarah... kalau sampai terjadi apa-apa padanya..." Kalimat itu terputus oleh isak tangis yang tertahan, tak sanggup melanjutkan, namun ancaman di baliknya terasa begitu nyata.

 ***

Pencarian dimulai sejak matahari baru saja mengintip di ufuk timur. Puluhan warga desa ikut turun ke hutan, memanggil nama Mawar di antara pepohonan raksasa yang dahannya saling bertaut, menciptakan kegelapan yang abadi di siang hari. Suara panggilan itu memantul di balik batang-batang kayu besar, tersangkut di dahan-dahan rendah, lalu hilang ditelan gemerisik daun yang ditiup angin.

Namun hutan itu begitu luas, begitu dalam, seolah menelan gadis itu utuh tanpa menyisakan jejak apa pun. Hari berganti malam, lampu-lampu senter berkelap-kelip di kejauhan seperti bintang yang jatuh ke bumi, namun tak ada kabar. Malam berganti pagi lagi, kabut tebal menutupi jejak-jejak yang tersisa, menyembunyikan setiap kemungkinan. Mawar bagaikan menghilang ditelan bumi, tak ada tanda pakaian tersangkut di semak, tak ada jejak kaki yang tercetak jelas di tanah lunak, tak ada suara yang menjawab panggilan mereka.

Hari-hari berlalu, dan harapan perlahan memudar seperti kabut yang terserap panas matahari.

Bu Gendis tak pernah bangkit lagi dari tempat tidurnya sejak hari itu. Tubuhnya yang sudah renta perlahan layu bagaikan bunga yang kekeringan, kekuatannya terkuras habis oleh cemas dan rindu yang tak bertepi. Setiap pagi, matanya menatap kosong ke arah pintu depan, berharap sosok putri bungsunya akan muncul di sana, tersenyum malu sambil mengusap ujung rambutnya yang berantakan seperti biasa.

"Mawar pasti tersesat... dia pasti takut sendirian di luar sana... dia pasti lapar dan kedinginan..." gumam Bu Gendis berulang-ulang, air mata terus mengalir tanpa henti hingga matanya bengkak, merah, dan sayu. Di bawah bantalnya tersimpan jubah tidur kesayangan Mawar yang masih berbau sabun dan wangi bunga, ia menciumnya setiap kali merasa rindu itu tak sanggup lagi ditahan.

Rasa bersalah menghantui Jingga setiap detik dalam hidupnya. Setiap kali menatap wajah pucat sang ibu, ia teringat bagaimana kakinya melayang, menendang perut adiknya sendiri berulang kali. Setiap kali mencium bau tanah basah setelah hujan, ia teringat jejak darah di pintu belakang, menjauh, semakin menjauh, hingga lenyap di kegelapan. Ia berdoa, berusaha meyakinkan diri bahwa Mawar selamat, bahwa gadis itu hanya pergi sementara dan akan pulang, namun suara di kepalanya terus berbisik lantang.

"Kau yang menyakiti Mawar. Kau yang mendorongnya ke mulut bahaya. Kau kakak yang kejam."

Bima sendiri mulai gelisah. Awalnya ia berpikir Mawar hanya pergi untuk menenangkan diri, menunggu amarah mereda sebelum kembali. Namun hari berganti minggu tanpa kabar apa pun, ketakutan mulai merayap di hatinya, ketakutan yang bukan sekadar rasa bersalah, melainkan ketakutan akan kehilangan.

Gosip pun berkembang di seluruh penjuru desa, menyebar cepat seperti api di musim kemarau. Bisik-bisik terdengar di setiap jalan setapak, di setiap warung, di setiap teras rumah warga.

"Kau dengar? Anak perempuan Bu Gendis hamil di luar nikah, lalu kabur ke hutan karena takut dimarahi..."

"Kasihan sekali gadis itu, terpaksa lari ke hutan yang angker itu... katanya tak ada yang berani masuk ke sana lebih dari setengah jam..."

"Sudah seminggu lebih hilang, pasti sudah tersesat atau dimakan binatang buas..."

"Keluarga itu sudah tercemar nama baiknya... pantas saja Bu Gendis jatuh sakit..."

Setiap bisikan itu menusuk telinga Bu Gendis bagai jarum-jarum panas, merobek sisa-sisa kekuatannya yang tersisa.

Di dalam rumah yang kini sunyi dan dingin, namun pertengkaran tak kunjung reda.

"Seandainya kau tidak mengusulkan hal konyol itu, mengambil anak Mawar dan menjadikannya anak kita, semuanya tidak akan berakhir begini!" Jingga mulai berani membentak Bima, amarah yang selama ini dipendam kini meluap tak terbendung.

"Dan seandainya kau tidak kehilangan kendali dan menendangnya sampai berdarah, mungkin dia masih ada di sini!" balas Bima tak mau kalah, rasa bersalahnya berubah menjadi amarah yang dialihkan kepada sang istri.

"Kau tidak tahu malu, Mas! Kau tak tahu betapa hancurnya hatiku saat mendengar pembicaraan kalian! Kau yang merusaknya dulu! Semua ini bermula darimu!" pekik Jingga, air mata menetes deras di pipinya yang pucat.

Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi kehangatan. Meja makan yang dulu tempat mereka berbagi cerita kini terasa sepi, setiap orang menunduk, menatap piring tanpa nafsu makan. Rumah itu berubah menjadi makam sunyi yang dihuni orang-orang yang saling membenci namun tak berani berpisah, terperangkap bersama dalam duka dan rasa bersalah yang tak terucap.

Dan di tengah badai itu, kondisi Bu Gendis semakin menurun. Wanita tua itu tak lagi banyak bicara, matanya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menghadap ke jalan setapak, jalan yang biasanya dilewati Mawar pulang ke rumah. Tangannya yang mulai keriput terus memegang pakaian kesayangan putrinya, mengelusnya lembut seolah sedang mengelus rambut hitam Mawar.

"Ibu... Ibu mohon... Temukan adikmu... bawa dia pulang..." suara Bu Gendis lemah, napasnya tersengal-sengal, tangan keriputnya gemetar meraih tangan Jingga. "Ibu ingin melihatnya sekali lagi... Ibu ingin memeluknya..."

"Iya, Bu... kami akan berusaha... kami berjanji..." Jingga menangis tersedu-sedu, mencium punggung tangan sang ibu yang dingin dan kurus, rasa bersalahnya semakin menyesakkan dada.

"Jangan biarkan Mawar sendirian di luar sana..." Bu Gendis tersenyum tipis, senyum yang penuh kerinduan, lalu perlahan matanya terpejam. Napas terakhirnya berhembus pelan, membawa serta harapan terakhirnya untuk bisa bertemu kembali dengan putri bungsunya.

Tangis Jingga meledak seketika, memenuhi seisi rumah. Bima berdiri terpaku di ambang pintu, tak mampu melangkah mendekat, menyadari bahwa salah satu korban pertama dari kebohongan mereka telah pergi. Namun jauh di dalam hutan yang gelap dan dingin, nasib Mawar masih tergantung samar, tak diketahui siapa pun, apakah ia masih hidup, atau sudah menyatu dengan kegelapan yang ia cari sebagai tempat berlindung.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!