Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: GUNAWAN STROKE
Pukul 10.00 pagi. Lobi Utama Vantec Tower.
Semua karyawan spontan noleh ke sumber keramaian.
Seorang pria tua umur sekitar enam puluh tahun masuk lobi di atas kursi roda, didorong perawat. Separuh wajahnya kaku miring karena strok ringan. Tangan kanannya yang gemetar genggam erat map cokelat.
Mantan Presdir Gunawan Mahardika.
Sejak imperium bisnis Mahardika Group runtuh total dan jatuh ke tangan Vantec, ia sempat strok dua pekan di RS Pondok Indah.
Hari ini, ia datang ke gedung itu.
Security mau maju halangi, tapi Hendra angkat tangan kasih isyarat. "Biar saja. Nyonya sudah tunggu di atas."
Lantai 88, ruang rapat utama direksi.
Alesha duduki kursi Presdir pakai dress CEO putih bersih, hamil dua bulan tiga minggu mulai kelihatan samar bentuknya. Vion berdiri di sisinya pakai jas hitam, didampingi sepuluh direksi baru.
Pintu berderit terbuka. Perawat dorong kursi roda Gunawan masuk ruangan.
Gunawan lihat Alesha duduk di singgasana yang dulu miliknya. Matanya merah basah.
"Alesha..." panggil pria tua itu parau.
Alesha diam tidak beranjak dari tempat duduknya. Sorot matanya dingin.
Gunawan buka map cokelat di pangkuannya dengan jari gemetar hebat. Di dalamnya ada surat kepemilikan dua puluh persen saham Mahardika Group yang kini sudah tidak ada nilainya.
"Alesha... aku... aku mau tukar surat saham ini... dua puluh persen... senilai sepuluh miliar... buat biaya berobat ku... dan buat sambung hidup Listia dan Clarissa..."
Sepuluh direksi baru tahan senyum geli. Lembaran saham kosong tanpa daya.
Alesha rengut map itu dari tangan Gunawan, lalu buka perlahan.
"Presdir Gunawan, apa Anda masih ingat kejadian tiga tahun lalu di ruangan ini? Apa yang Anda bilang ke saya?"
Gunawan tertunduk, memorinya tergerus dampak strok.
Alesha jentikkan jari sekali. Hendra segera nyalakan layar proyeksi LED raksasa di dinding ruangan.
Rekaman CCTV dari tiga tahun lalu diputar ulang.
Di layar, tampak Gunawan muda pakai jas mahal lagi banting map ke wajah Alesha, yang saat itu masih staf IT hamil satu bulan.
"Kau cuma staf IT melarat! Hamil anak dari entah berantah! Kau pikir perempuan kampung seperti mu pantas jadi menantu keluarga Mahardika?! Enyah dari perusahaan ku! Surat saham dua puluh persen? Kau tidak akan pernah punya satu lembar pun!"
Suara bentakan Gunawan gema arogan penuhi ruangan.
Direksi baru tertegun, tatap Gunawan di atas kursi roda dengan iba campur segan.
Dengar lagi rekaman cacian sendiri di masa lalu, Gunawan isak tersedu-sedu.
"Alesha... ampuni keangkuhan ku... aku sudah zalim... aku menyesal..."
Alesha tekan tombol stop rekaman.
"Presdir, tiga tahun lalu Anda bilang saya tidak akan pernah punya selembar pun saham Mahardika. Hari ini, saya pegang mutlak 100 persen Vantec dan 100 persen Mahardika Group. Dan kini Anda datang bawa lembaran saham kosong minta uang sepuluh miliar?"
Gunawan kehilangan kendali, tubuhnya merosot jatuh dari kursi roda hantam lantai ruang rapat yang dingin, tersungkur tidak berdaya dengan kondisi setengah lumpuh.
"Alesha... mohon... aku butuh dana buat berobat... Listia terpaksa kerja jadi pesuruh... Clarissa di ruang arsip... kami jatuh miskin..."
Alesha bangkit berdiri pelan sambil topang perutnya yang mulai membesar. Ia melangkah dekati Gunawan yang bersimpuh di lantai, lalu ikut jatuh berlutut sejajar, raih jari pria tua yang gemetar itu.
"Presdir, saya tidak akan kasih sepuluh miliar untuk lembaran saham kosong ini."
Tangisan Gunawan makin pecah histeris.
"Tapi," lanjut Alesha lembut, "saya akan kucurkan dana dua puluh miliar. Bukan buat beli surat saham ini. Tapi sebagai tanggungan biaya medis Anda sampai benar-benar pulih. Dan Anda tidak perlu serahkan surat saham itu ke saya. Bakar saja."
Direksi serentak belalakkan mata. Dua puluh miliar? Nominal jauh lebih besar dari permintaan awal pria tua itu.
Alesha ambil pemantik api di atas meja, lalu sulut map saham dua puluh persen itu di depan Gunawan.
Api lalap map cokelat itu sampai jadi abu di lantai ruang rapat.
"Saya bakar lembaran saham Anda, persis seperti cara Anda bakar harga diri saya tiga tahun lalu. Tapi abunya saya ganti dengan dana penyembuhan. Karena saya tidak mau Arka lahir ke dunia lihat kakeknya wafat karena tidak ada biaya medis. Walaupun kakeknya itu dulu pernah injak-injak martabat ibunya."
Gunawan hambur peluk kaki Alesha sambil meraung.
"Kau adalah ratu sesungguhnya... aku hanyalah sampah..."
Alesha dekap tubuh tua di depannya penuh ketulusan, disaksikan para direksi.
"Sudahlah, Presdir. Pulanglah. Jalani pengobatan. Listia dan Clarissa sudah saya naikkan gaji mereka, kini mereka mengabdi urus perusahaan saya. Jika Anda sudah sembuh, datang kembali. Bukan sebagai presdir yang angkuh. Tapi sebagai kakek dari anak ku."
Vion bisik pelan ke Hendra, "Kirim dua puluh miliar ke rekening RS Pondok Indah hari ini juga. Dan belikan kursi roda elektrik paling canggih buat Presdir Gunawan. Jangan biar dia didorong perawat lagi."
Hari itu, Gunawan tinggalkan gedung Vantec di atas kursi roda elektrik mewah berbekal tabungan dua puluh miliar buat pemulihannya, setelah lihat surat kepemilikan sahamnya musnah jadi abu.
Malam harinya di penthouse lantai 99, Alesha kembali mual ringan karena hamilnya.
"Arka, lihatlah. Mama sanggup tendang kakek mu yang lagi lumpuh itu keluar dari gedung ini begitu saja. Tapi Mama pilih kasih dia dua puluh miliar. Karena balas dendam paling elegan bukan biarin musuh mu mati kelaparan. Tapi bikin mereka berlutut ucap terima kasih dalam balutan malu seumur hidup."
Vion dengan cekatan seka sudut bibir Alesha pakai tisu.
"Itu adalah karma tingkat dewa, Ratuku."
Sementara itu, di petak kontrakan sempit di Tanjung Priok, Nyonya Listia dan Clarissa terima kabar via telepon dari rumah sakit bahwa semua tunggakan medis Gunawan sudah dilunasi sepenuhnya senilai dua puluh miliar oleh Nyonya Alesha Vion.
Kedua wanita itu saling peluk erat dan nangis sejadi-jadinya di atas lantai kontrakan, bersimpuh sebut nama Alesha penuh penyesalan.