Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Gaib di Penghujung Malam
Beberapa minggu setelah suasana kehidupan akademi kembali normal, hari-hari berjalan tenang bagi para murid Akademi Grandoria. Rutin harian dipenuhi oleh kelas teori sihir, latihan ketangkasan di alun-alun, dan obrolan santai di kantin saat sore hari. Namun, ketenangan itu perlahan mulai terusik oleh sebuah fenomena aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh para pengajar akademi sekalipun.
Malam itu, jam dinding besar di Menara Utama baru saja berdentang dua kali, menandakan waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Seluruh kompleks akademi diselimuti keheningan yang pekat. Kabut tipis merayap pelan di atas pelataran batu, sementara angin malam berembus perlahan membelai dedaunan pohon jarum emas.
Di dalam kamarnya di Menara Utama, Monica terbangun dari tidurnya.
Ia duduk di tepi ranjang, merapikan kuncir kuda rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Sepasang mata birunya yang bening menatap bingkai jendela yang terbuka separuh.
Bukan karena suara langkah kaki penjaga malam atau kepakan kanopi burung sihir yang membuatnya terjaga, melainkan sebuah gema getaran halus yang bertiup masuk bersama angin malam.
"Huoooo... Huoooo..."
Suara itu mengalun sangat lembut, bergema dalam nada panjang yang teratur dan penuh kepedihan yang mendalam. Suaranya tidak terdengar keras, namun entah bagaimana, getaran nadanya seolah menembus langsung ke dalam dada, membuat getaran mana di dalam tubuh Monica berdesir pelan.
Monica segera bangkit, meraih tongkat safirnya yang tersandar di samping tempat tidur. Ia melangkah mendekati balkon kamar dan melempar pandangannya ke seluruh penjuru akademi.
Alun-alun tampak sepi, Menara Penyihir berdiri tenang di kegelapan, dan benteng perbatasan tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Tidak ada pergerakan Miasma, tidak ada aura sihir hitam yang memancar, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran musuh. Tetapi nada itu terus berdenyut konstan di udara.
"Huoooo... Huoooo..."
"Suara apa itu...?" gumam Monica pelan seraya mengepalkan jemarinya di gagang tongkat safirnya.
Pintu kamarnya mendadak diketuk dari luar. Ketika Monica memutar gagang pintu, ia mendapati Kazuma dan Danis sudah berdiri di koridor dengan wajah penuh rasa ingin tahu dan waspada.
"Monica, kau mendengarnya juga?" tanya Kazuma cepat seraya membetulkan kuncir jubah tidurnya dan memegang perkamen pendeteksi mana di tangannya.
"Suara gema nada 'Huoooo...' itu?" balaskan Monica.
Danis mengangguk pelan dari balik jubah malamnya. "Suara itu mulai terdengar sekitar sepuluh menit yang lalu. Awalnya aku mengira itu hanya gesekan angin gurun yang melintasi tebing luar, tetapi pola frekuensinya terlalu teratur untuk menjadi sekadar fenomena alam."
Tidak lama kemudian, Reno dan Elena ikut menyusul ke koridor.
Reno menggosok-gosok matanya yang masih agak sembab, sementara Elena memegang busur Celestial-nya dengan raut wajah bingung.
"Kalian juga tidak bisa tidur karena suara melodi aneh itu?" celetuk Reno seraya menguap pelan. "Aku sudah mencoba menutupi telingaku dengan bantal tebal, tapi nadanya tetap bergema di dalam kepala!"
"Artinya getaran suara ini menyebar melalui aliran mana subterranean, bukan hanya lewat gelombang udara biasa," analisis Kazuma seraya membentangkan perkamen pendeteksinya di atas meja koridor.
Namun, hal paling membingungkan terjadi saat Kazuma mengaktifkan runa pelacak arah suara. Jarum kompas sihir di atas kertas perkamen itu terus berputar liar tanpa menunjuk ke satu titik koordinat pun.
"Jarumnya berputar tanpa arah!" seru Elena heran seraya mencondongkan tubuhnya melongok kertas peta Kazuma. "Bagaimana mungkin sihir pelacak akademi tidak bisa menemukan sumbernya?"
"Suara ini seperti berasal dari mana-mana... sekaligus tidak berada di mana-mana," bisik Danis seraya menatap ke luar jendela koridor.
Kelima anggota Tim Vanguard melangkah menuju pelataran luar Menara Utama.
Beberapa murid dan penjaga malam akademi tampak berkumpul di alun-alun, saling berbisik dan menunjuk ke arah langit malam yang bersih bertabur bintang. Seluruh warga akademi yang terbangun merasakan hal yang sama: ada suara nada misterius yang berayun lembut di udara, tetapi tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan dari mana asal letak suara tersebut.
Monica berdiri di tengah alun-alun, mengangkat tongkat safirnya dan melancarkan gelombang Celestial Pulse ringan untuk menyapu area akademi. Cahaya emas merekah melingkupi alun-alun, namun nada gema "Huoooo..." itu tetap mengalun santai, seolah-olah berada di dimensi yang berbeda dari ruang tempat mereka berdiri.
Gema nada misterius itu terus berbunyi konsisten hingga fajar menyingsing di Ujung Timur Kerajaan Grandoria, meninggalkan teka-teki besar dan rasa penasaran yang mendalam bagi mereka.