Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PESTA KOLAM RENANG DAN NIAT LICIK DIAS
Keesokan harinya, suasana sebuah kafe berdesain estetis di sudut kota terasa begitu hangat oleh aroma kopi yang menyengat. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca besar, memantul di atas meja kayu tempat Kamilah dan Elisa duduk berhadapan.
Namun, pikiran Kamilah sama sekali tidak berada di tempat itu. Jemari tangannya sibuk mengaduk cangkir kopi yang sudah dingin, sementara tatapannya menerawang kosong menatap jalanan di luar kafe.
Pria itu... setelah mengucapkan kata-kata yang membuat hatiku gundah dan resah setengah mati kemarin malam, dia malah mendadak menghilang tanpa kabar sedikit pun! batin Kamilah kesal.
Bayangan wajah tegap Rizky Syah, sentuhan hangat jemarinya, hingga bisikan bergetar yang membongkar rahasia tergelapnya di koridor restoran kemarin terus berputar-putar tanpa henti di kepala Kamilah.
"Hai Kamilah! Nanti saat kita belanja, kamu harus bantu pilihkan aku bikini yang paling seksi, ya!" seru Elisa antusias sambil memoles lipstik di bibirnya.
Kamilah sama sekali tidak mendengarkan omongan Elisa barusan. Ia tetap bergeming, tenggelam dalam lamunannya sendiri dengan raut wajah yang merona tipis tanpa ia sadari.
"Hei! Kamilah!" panggil Elisa kencang sambil menepuk meja. "Kamu mendengarku tidak, sih?!"
Kamilah tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan sendok kecil di tangannya. "A-apa? Kenapa, Elisa?"
Elisa mendengus gemas, merapikan cermin kecilnya. "Kamu ini melamun terus dari tadi! Aku bilang, kakakmu—Kak Roya Ye—sudah resmi pulang ke Indonesia hari ini! Syahril bahkan sudah menyebarkan undangan ke semua orang untuk mengadakan pesta kolam renang besar-besaran nanti sore demi menyambut kepulangan kakakmu itu. Kali ini... aku harus berhasil mendapatkan hati kakakmu!"
Kamilah terpaku kaku di tempat duduknya. "Kakakku... sudah pulang hari ini?"
Jadi... alibi Rizky menghilang dan tidak menghubungiku sejak tadi pagi juga karena kepulangan Kak Roya? Dia pasti sibuk menyambut wanita yang disukainya itu... desah Kamilah pilu di dalam hatinya, merasakan ada selipan rasa sesak yang aneh di dadanya.
"Hah? Kamu ini adiknya, masa kamu sampai tidak tahu kalau kakakmu sendiri sudah pulang hari ini?" tanya Elisa heran sambil menatap Kamilah curiga.
Dengan tergesa-gesa, Kamilah merogoh tas tangannya dan mengambil ponsel mewahnya untuk memeriksa kabar terbaru. Begitu layar ponsel menyala, mata Kamilah membelalak lebar melihat deretan notifikasi yang menumpuk.
Ada belasan panggilan tak terjawab dari kontak bertuliskan Roya Ye, lengkap dengan rentetan pesan singkat yang belum sempat ia buka sejak semalam.
Kamilah menyunggingkan senyum pepsodent canggung sambil menyengir lebar ke arah Elisa. "Hehehe... Kakakku ternyata sudah menelponku berkali-kali dari tadi pagi, dia juga kirim banyak pesan... tapi aku sama sekali tidak membacanya."
Elisa yang memperhatikan setiap gerak-gerik sahabatnya itu mengerutkan dahi, merasa ada yang sangat tidak beres dengan tingkah laku Kamilah hari ini.
"Kamu ini aneh sekali tahu tidak?" selidik Elisa sambil mendekatkan wajahnya. "Pipi merah merona, melamun terus dari tadi, tersenyum-senyum sendiri... Jangan-jangan kamu sedang diam-diam pacaran, ya?!"
Kamilah tersentak panik, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Mana ada waktu untuk pacaran! Kamu kan tahu sendiri aku sedang sibuk ikut proses perjodohan keluarga!"
"Bener juga sih..." gumam Elisa sambil mengangguk-angguk kecil. Namun, tak lama kemudian mata Elisa menyipit penuh kejahilan. "Tapi... Ikram Pratama kan jelas-jelas bukan tipemu. Jadi sebenarnya... siapa pria misterius yang berhasil membuat putri cantik dan dingin sepertimu ini begitu gelisah, hah?"
Mendengar Elisa mengucapkan kalimat tebakan itu dengan suara yang cukup keras hingga memicu perhatian beberapa pengunjung kafe lain, Kamilah langsung bergerak cepat. Tanpa berpikir panjang, Kamilah memajukan tubuhnya dan menutup rapat mulut Elisa dengan telapak tangannya!
TAK!
Kamilah menengok cemas ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka. "Ssstt! Suaramu keras sekali, Elisa!" ancam Kamilah dengan wajah memerah padam. "Sudahlah! Kalau kamu masih terus menggodaku seperti ini, aku tidak akan mau menemanimu membeli baju renang sekarang!"
Elisa yang mulutnya dibungkap hanya bisa mengangguk-angguk pasrah sambil menyengir tanpa dosa di balik jemari Kamilah. "Oke, oke, oke! Aku janji diam!"
Kamilah menghela napas lega, melepaskan tangannya dari mulut Elisa lalu berdiri dari kursi. "Ayo berangkat sekarang sebelum tokonya makin ramai!"
Beberapa jam kemudian, suasana berubah meriah di area pelataran vila megah tempat berlangsungnya pesta kolam renang menyambut kepulangan Roya Ye. Dentuman musik DJ yang energik bergema menembus udara sore, berpadu dengan gelak tawa para pemuda-pemudi dari kalangan elite yang hadir dengan pakaian renang modis mereka.
Elisa yang baru saja tiba bersama Kamilah mendadak menghentikan langkahnya di tepi kolam. Matanya berbinar terang saat melihat sosok tegap yang berdiri di seberang kolam.
"Eh! Sepertinya aku melihat kakakmu di sebelah sana!" seru Elisa antusias. Ia memalingkan wajahnya pada Kamilah dengan raut wajah bergelora. "Sayangku Kamilah... kamu main sendiri dulu ya di sini! Aku mau mengejar kebahagiaanku dulu!"
Tanpa menunggu balasan dari Kamilah, Elisa langsung berlari melintasi kerumunan tamu demi menghampiri pria yang ia duga sebagai Roya Ye.
"Eh, Elisa! Tunggu dulu—" kata Kamilah terputus. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sahabatnya itu sudah hilang di telan kerumunan.
Kamilah menghela napas pasrah, membetulkan posisi gaun kasual tebal berbahan kain rapat yang dikenakannya. Di antara para tamu wanita yang memakai bikini seksi, penampilan Kamilah memang terlihat paling tertutup dan kontras.
Tiba-tiba, sebuah jari mendarat kasar di bahu belakangnya, menowel tubuh Kamilah dari belakang.
TOWEL!
Kamilah terkejut dan refleks berbalik badan. Di hadapannya berdiri seorang pria muda berwajah tampan namun memancarkan aura licik dan angkuh, memegang segelas minuman beralkohol di tangannya.
"Hai, Kamilah!" sapa pria itu dengan senyum miring yang terkesan merendahkan. "Ini kan pesta kolam renang... kenapa kamu masih pakai baju setebal dan sebanyak ini, sih?"
Kamilah menyipitkan matanya dingin, mengenali sosok di depannya. "Kamu mau apa, Dias?"
Dias—Tuan Muda dari keluarga kaya Lin, sekaligus teman akrab dari kakak Kamilah—tertawa pelan sambil mengambil satu langkah makin mengikis jarak di antara mereka.
"Kamu... takut aku melakukan apa padamu?" bisik Dias dengan nada menggoda yang sangat menjijikkan.
Dias memiringkan kepalanya, menatap Kamilah dari atas ke bawah dengan pandangan lapar. "Adik kandungku, Sanum Lin, kan satu kelompok sanggar tari denganmu. Kita semua ini teman dekat, Kamilah... Ayo, ikut berenang denganku di kolam. Biarkan aku melihat apa yang kamu pakai di balik baju tebalmu ini."
Dias makin berani mendekatkan tubuhnya, mengulurkan tangannya berniat menyentuh pinggang Kamilah secara lancang.
Rasa jijik dan amarah seketika membakar dada Kamilah. Tanpa ragu sedikit pun, Kamilah menyambar gelas minuman dingin yang dipegangnya, lalu menyiramkan seluruh isi minuman tersebut tepat ke wajah Dias!
SPLASH!
Cairan manis bercampur es batu itu basah kuyup membasahi wajah dan kemeja mewah Dias. Pria itu tersentak kaget setengah mati, matanya terpejam rapat saat rasa perih mengenai matanya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kamilah membalikkan badannya dan berlari sekencang-kencangnya menembus kerumunan pesta untuk menyelamatkan diri!
"Sialan kamu, Kamilah!" raung Dias murka sambil menyeka wajahnya yang basah dengan kasar.
Mata Dias menyipit tajam, menatap punggung Kamilah yang makin menjauh dengan kilat obsesi yang gelap dan berbahaya.
"Kalau kamu tidak nurut padaku... Kakakmu tidak akan pernah menyukaimu lagi!" gumam Dias dengan napas memburu dan senyum gila. "Awas saja kalau kamu sampai tertangkap olehku nanti... lihat bagaimana aku akan menghukummu habis-habisan!"