Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intaian di Balik Kegelapan
Aroma cairan antiseptik menyengat tipis di dalam ruangan ruko ketika Shevi meneteskan obat luka ke atas tangan kirinya. Kulitnya yang melepuh bekas pengelasan sasis tempo hari tampak memerah, perih menyengat hingga ke tulang saat dibalut ulang dengan kassa bersih. Dika yang baru selesai membersihkan ceceran oli di lantai hidrolik melangkah mendekat membawa dua gelas kopi hitam hangat.
"Shev, tanganmu makin parah itu," ujar Dika dengan raut khawatir. "Besok gelombang kedua sepuluh unit motor kurir Mbak Gita masuk lagi. Kalau kamu paksakan bongkar mesin terus, lukamu bisa infeksi."
Shevi menerima gelas kopi dengan tangan kanan, menyerap kehangatannya. "Tidak apa-apa, Dik. Ini cuma luka luar. Yang penting ritme kerja dan standar kepuasan Mbak Gita tetap terjaga."
Namun, di balik ketenangan sikapnya, naluri Shevi yang tajam menangkap sesuatu yang janggal dari arah luar ruko. Sejak proses pengerjaan sepuluh unit motor sore tadi selesai, Shevi menyadari ada sosok pria bertopi kusam yang terus berdiri di balik tiang listrik jalan raya, berpura-pura bermain ponsel sambil mengamati setiap sudut Bengkel Keberkahan.
Shevi menyiagakan kewaspadaannya. Pengalaman merintis tempat usaha dari bawah mengajarkannya bahwa kesuksesan yang melesat cepat selalu memicu dengki dari pesaing yang tersingkir.
"Dik," panggil Shevi dengan suara pelan dan teratur. "Kamu perhatikan pria bertopi hitam di dekat tiang listrik seberang?"
Dika mengerutkan dahi, melirik sekilas melalui celah rak tempat oli. "Iya, Shev. Dari jam lima sore tadi orang itu bolak-balik di situ. Kayaknya saya pernah lihat wajahnya... Itu kan Yudi, montir seniornya Asep Babi!"
"Jangan dipandangi," tegas Shevi lembut, menghentikan gerakan Dika. "Asep Babi memang sudah mundur secara legal dan moral kemarin. Tapi montir-montirnya yang terdesak kebutuhan ekonomi bisa saja bertindak nekat di luar kendali Asep."
Shevi berjalan tenang menuju meja kasir, berpura-pura merapikan buku manifes dan kuitansi belanja grosir Cengkareng. Dari balik pantulan kaca spion di sudut kasir, Shevi terus memantau pergerakan Yudi. Pria itu tampak memotret deretan drum oli, rak sparepart baru, serta papan nama Bengkel Keberkahan sebelum akhirnya menghilang ke dalam gang gelap Daan Mogot.
Shevi tidak membiarkan kecurigaan itu menjadi kepanikan. Sebagai pemimpin, dia langsung menyusun langkah taktis mitigasi risiko.
"Malam ini kita kunci rapat rolling door, gembok ganda rantai hidrolik, dan pindahkan seluruh stok sparepart mahal ke gudang dalam," instruksi Shevi. "Kita tidak boleh memberi celah sekecil apa pun untuk aksi sabotase atau pencurian."
Dika mengangguk tegas, menyadari keseriusan situasi. "Siap, Shev! Saya tidur di ruko malam ini buat jaga-jaga!"
"Tidak perlu, Dik," balas Shevi. "Kamu pulang, istirahat. Tubuhmu butuh stamina penuh buat menghadapi sepuluh unit armada besok pagi. Saya yang akan tidur di lantai dua ruko."
Setelah Dika pamit pulang pukul delapan malam, Shevi sendirian membongkar dan memeriksa ulang seluruh gembok serta sistem kelistrikan ruko. Tangan kirinya yang terluka berdenyut perih saat menarik gerendel besi seng rolling door, namun Shevi memastikan semuanya terkunci sempurna dari dalam.
Pukul sebelas malam, ketika riuh lalu lintas Daan Mogot mulai memelan, Shevi terduduk di atas balai-balai kayu lantai dua ruko. Di bawah pendar lampu neon yang temaram, dia merogoh ponselnya untuk mengecek catatan keuangan bisnisnya.
Mendadak, sebuah suara halus dari arah pintu besi belakang ruko di lantai bawah memecah keheningan malam.
Krek... Krek...
Suara itu bukan hembusan angin. Itu adalah bunyi gesekan kawat penyungkil yang mencoba membobol gembok pintu belakang ruko.
Mata Shevi seketika mengeras. Tanpa membuat suara, Shevi berdiri, menyambar tongkat besi pembuka roda dari balik meja, lalu turun melangkah perlahan meniti anak tangga kegelapan ruko!