Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Jangan sok menakut-nakuti aku, Mahardika! Kamu cuma lelaki miskin dan sakit-sakitan! Pembeli tanah itu bukan orang sembarangan! Mereka punya kekuasaan dan uang yang bisa menghancurkanmu dalam sekejap!" seru Siska panik dan tetap menakuti Mahardika agar Mahardika mundur.
"Kalau begitu, suruh pembeli itu dan suaminya yang kaya raya untuk datang menyiksaku sendiri. Beritahu mereka, jika ada satu orang lagi yang berani menginjakkan kaki di pekarangan rumahku, aku tidak akan segan-segan mematahkan kedua kaki mereka. Katakan itu pada mereka, Siska!" potong Mahardika tajam.
Tuk!
Mahardika langsung mematikan sambungan telepon dan meremukkan ponsel di tangannya hingga hancur, plastik dan logam yang berserakan di tanah.
Pria tambun yang memimpin rombongan preman itu gemetar hebat, menatap pecahan ponsel di tanah lalu beralih menatap dua anak buahnya yang pingsan kaku serta dua lainnya yang terkapar di dekat jip yang kaca depannya hancur.
"Ambil anak buahmu dan angkat kaki dari sini. Sampaikan pesanku pada Siska dan bosmu. Jika kalian kembali... hukuman kalian tak akan sesederhana ini!" perintah Mahardika tanpa memandang pria itu.
"B-baik, Pak! Kami pergi! Kami ampun, Pak!" jerit pria tambun itu panik.
Dengan terbirit-birit, ia menyeret teman-temannya yang pingsan dan kesakitan masuk ke dalam mobil jip.
Dalam hitungan detik, rombongan preman itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Mahardika dengan kecepatan tinggi.
Pak RT yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik pohon mengusap dadanya yang berdegup kencang.
Ia melangkah keluar dengan mata terbelalak tak percaya.
"Dik... Dik Dika... Kamu... dari mana kamu belajar ilmu luar biasa seperti ini?" tanya Pak RT terbata-bata.
Mahardika berbalik menatap Pak RT dengan senyum hangat yang sopan. "Hanya sedikit ketahanan fisik dan ilmu kesehatan yang saya pelajari selama berobat di gunung, Pak RT. Jangan khawatir, tanah ini aman."
Pak RT mengangguk-angguk kagum meski masih terpana. "Luar biasa... Tapi kamu tetap harus waspada, Dik. Siska dan keluarga barunya itu sekarang berteman dekat dengan kalangan orang kaya di kota ini."
"Terima kasih atas peringatannya, Pak RT. Saya akan selalu siap," jawab Mahardika penuh kepastian.
Setelah Pak RT pamit pulang dengan rasa lega sekaligus takjub, Mahardika melangkah mendekati pintu rumah. Ia mengetuk pintu kayu itu pelan.
"Amel... ini Papa. Sudah aman, Sayang," panggil Mahardika lembut.
Pintu kayu perlahan terbuka. Amel mengintip sedikit, lalu begitu melihat ayahnya berdiri sendirian dengan senyum hangat, anak kecil itu langsung berlari keluar dan memeluk pinggang Mahardika.
"Papa nggak apa-apa?" tanya Amel cemas, matanya mendongak menatap ayahnya.
Mahardika berjongkok. Ia mengusap rambut Amel dengan lembut.
"Papa nggak apa-apa, Sayang. Orang-orang jahat tadi sudah pergi dan tak akan berani datang lagi. Mulai sekarang, rumah ini sepenuhnya milik kita. Tidak ada seorang pun yang bisa mengusir Amel dan Papa dari sini," ucap Mahardika tulus.
Amel tersenyum lebar, memeluk leher Mahardika dengan erat. "Makasih, Papa..."
Siska dan bekas istrinya mungkin merasa telah berada di atas angin dengan harta dan pasangan baru.
Tapi Mahardika bersumpah, ia akan memastikan mereka membayar setiap tetes air mata yang pernah dijatuhkan oleh putri kecilnya.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...