Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: RIKO YANG BERUBAH
Dua hari setelah rapat mendadak itu, Bang Tua sengaja mengatur waktu untuk berpapasan dengan Riko di koridor kampus, bukan kebetulan seperti biasanya, tapi memang dia yang sengaja menunggu di dekat ruang kelas tempat Riko biasa mengikuti kuliah pilihan sore itu, semacam penyergapan halus yang dia rencanakan dengan gaya sesantai mungkin supaya tidak terlihat mencolok.
"Riko, kebetulan kali ya kita ketemu," sapanya begitu melihat mahasiswanya itu keluar dari ruang kelas, berusaha terdengar seakan tidak sengaja, meski dalam hati dia sendiri sadar betul kebohongan kecilnya itu, "kalau ternyata aku punya kekuatan bikin kebetulan jadi kenyataan, mestinya bisa juga dong bikin kebetulan ketemu mahasiswa sendiri tanpa perlu nunggu di depan kelas kayak satpam".
Riko menoleh, dan sejenak Bang Tua bisa melihat perubahan yang cukup jelas di wajah mahasiswanya itu, mata yang biasanya berbinar penuh semangat kini terlihat lebih redup, ada lingkar hitam tipis di bawah matanya, tanda kurang tidur yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya meski dia mencoba tersenyum sopan seperti biasa. "Eh, Pak Sahat. Iya, Pak, kebetulan," jawabnya singkat, jauh lebih singkat dari gaya bicaranya yang biasa ceria dan bersemangat bercerita macam macam.
"Kau ada waktu sebentar? Bapak mau ngobrol dikit, bukan bimbingan formal kok, santai aja," ajak Bang Tua, sengaja memilih kata "santai" supaya Riko tidak merasa sedang diinterogasi, sesuatu yang dia tahu betul bisa membuat mahasiswanya makin menutup diri kalau terasa seperti sidang dadakan.
Mereka berjalan bersama menuju kantin kampus yang saat itu cukup sepi karena bukan jam istirahat utama, duduk di meja pojok yang sama dengan tempat Riko dulu menunjukkan berita sindikat penipuan itu, sebuah kebetulan lokasi yang membuat Bang Tua diam diam merasa nostalgia sesaat, mengingat betapa jauh sudah perjalanan yang dia lalui sejak saat itu.
"Gimana skripsinya, lancar?" tanya Bang Tua, mencoba membuka obrolan dengan pertanyaan paling wajar, meski dia sudah tahu jawabannya tidak akan sesederhana itu.
Riko terdiam sejenak, mengaduk aduk es tehnya yang belum disentuh sama sekali sejak dipesan, sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang terdengar lelah, jauh dari semangat mahasiswa yang dulu antusias menunjukkan berita berita menarik ke dosennya. "Jujur aja Pak, lagi berat. Bu Marlina udah tiga minggu ini nggak bisa ditemui buat bimbingan. Katanya sibuk, katanya lagi ada urusan penelitian sendiri, tapi revisi saya yang udah saya kasih sejak sebulan lalu belum juga dibalas."
Bang Tua mengangguk, mencoba menahan diri untuk tidak langsung berkomentar keras, meski dalam hati sudah mulai muncul gerutuan khasnya, "tiga minggu itu udah bisa buat nyelesain novel setengah jadi, ini malah revisi mahasiswa aja belum disentuh". Tapi dia menahan diri, memilih mendengarkan dulu sebelum bereaksi, sebuah kebiasaan yang sudah lama dia latih.
"Terus, kau udah coba hubungi lewat WA atau email formal?" tanya Bang Tua lagi, mencoba mencari detail lebih jauh.
"Udah, Pak, berkali kali malah. Kadang dibales, kadang enggak. Pas dibales pun jawabannya singkat banget, kayak 'nanti ya, lagi sibuk', tanpa kejelasan kapan bisa bimbingan lagi. Saya udah coba sabar, Pak, tapi teman teman seangkatan saya yang bimbingan sama dosen lain udah pada mulai seminar hasil, saya masih mentok di revisi bab dua," jelas Riko, suaranya mulai bergetar sedikit, campuran antara frustrasi dan lelah yang sudah dipendam cukup lama.
Bang Tua mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk, membiarkan Riko mengeluarkan semua uneg unegnya tanpa terburu buru dipotong. Di sela sela cerita itu, sempat juga terselip cerita ringan yang membuat Bang Tua tanpa sadar tersenyum, saat Riko bercerita betapa dia sempat mencoba berbagai cara "menyenangkan" dosen pembimbingnya, termasuk membawakan oleh oleh kue dari kampung halamannya, yang ternyata hanya diterima dengan ucapan terima kasih singkat tanpa perubahan sikap sama sekali.
"Yah, minimal kuenya nggak sia sia, Pak, dimakan juga sama Bu Marlina kayaknya, soalnya minggu depannya dia nanya lagi kapan saya pulang kampung," canda Riko sendiri, sedikit tertawa getir, dan Bang Tua ikut tertawa kecil mendengarnya, dalam hati berkomentar, "itu bukan taktik pendekatan mahasiswa namanya, itu taktik pengiriman logistik doang, hasilnya nol besar".
Setelah obrolan itu, Bang Tua menepuk pundak Riko pelan, mencoba memberikan semangat seadanya tanpa menjanjikan sesuatu yang belum pasti bisa dia lakukan. "Bapak nggak janji bisa langsung selesaikan masalahmu ya, tapi bapak akan coba cari tahu dan bantu semampu bapak. Kau jangan menyerah dulu."
Riko mengangguk, matanya terlihat sedikit lebih cerah dari sebelumnya, meski masih menyisakan kelelahan yang jelas terlihat. "Makasih ya, Pak. Seenggaknya ada yang mau dengerin."
"Sama sama. Oh iya, lain kali kalau mau bawa oleh oleh lagi, bawa aja buat bapak, daripada mubazir dikasih ke orang yang nggak apresiasi," canda Bang Tua sambil bangkit dari kursinya, berhasil memancing tawa kecil dari Riko yang sejak tadi terlihat begitu tegang.
Sepulang dari kantin, Bang Tua berjalan sendirian menuju ruang dosen, pikirannya penuh dengan apa yang baru saja dia dengar. Ini bukan lagi sekadar masalah administratif sepele seperti yang dia bayangkan sebelumnya, ini soal seorang mahasiswa yang sudah berusaha maksimal, tapi terhambat oleh dosen yang seharusnya membimbing malah menghilang begitu saja. Dalam hati dia sempat berkomentar getir, "kalau dosen kayak gini kena gerutuan aku, jangan jangan besok dia malah dapat proyek penelitian baru yang lebih sibuk lagi, bukannya kena batunya", sebuah lelucon pahit yang mengingatkannya bahwa kekuatannya, sehebat apa pun itu, tetap tidak sesederhana tombol ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan sekali gerutu.
Di ruang dosen, dia mendapati mejanya masih berantakan dengan tumpukan berkas yang belum sempat dia rapikan sejak pagi. Dia duduk, mencoba fokus menyiapkan materi kuliah untuk esok hari, tapi pikirannya terus melayang kembali ke cerita Riko, terutama soal Dr. Marlina yang terus menghindar tanpa penjelasan jelas. Dia penasaran, apakah ini murni soal kesibukan pribadi seperti yang selama ini diakui Dr. Marlina, atau ada sesuatu yang lain, sesuatu yang mungkin berhubungan dengan apa yang dibicarakan setengah hati di rapat mendadak kemarin.
Menjelang sore, sebelum benar benar pulang, dia sempat singgah sebentar ke ruang tata usaha jurusan, berpura pura menanyakan soal jadwal ujian tengah semester, padahal sebenarnya dia ingin melihat lihat papan pengumuman progres bimbingan yang biasa ditempel di sana. Matanya menangkap nama Riko di antara daftar mahasiswa yang statusnya masih tertulis "dalam proses bimbingan", tanpa keterangan lebih lanjut, seolah kata kata sederhana itu menyembunyikan cerita yang jauh lebih rumit di baliknya. Dia berjalan pulang sore itu dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya, pikirannya penuh dengan rencana rencana kecil yang belum sepenuhnya jelas, tapi satu hal yang dia yakini, dia tidak akan tinggal diam membiarkan mahasiswanya sendiri berjuang tanpa bantuan.