“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu yang Lebih Penting
Diapartemen Rafa, Aluna tampak sibuk mengeluarkan satu persatu bahan yang tadi ia beli.
Rafa sendiri sedang memasukkan beberapa buah dan minuman yang ia beli tadi ke dalam kulkas.
"Yakin mau belajar masak?." Tanya Rafa untuk kesekian kalinya memastikan.
"Yakin." Jawab Aluna singkat
"Mau dibantuin?."
Rafa pun menawarkan dirinya walau ia sama saja seperti Aluna yang sama sekali tidak tau memasak.
"Gak usah kamu keluar aja biar aku yang masak sendiri." Kata Aluna mengusir Rafa keluar dari dapur.
"Hati-hati loh pisaunya tajam, kompornya juga jaga-jaga biar apinya gak naik terus..."
Aluna merasa muak dan langsung mengatupkan bibir Rafa dengan jarinya.
"Stop, udah kamu keluar aja. Aku tau kok apa yang mau aku lakukan, jadi stop ingetin aku ini itu dan kamu keluar aja." ucapnya kemudian sudah emosi duluan.
Rafa pun menuruti Aluna dan keluar dari dapur meninggalkan Aluna yang sudah antusias ingin belajar memasak, ponselnya pun tidak pernah jauh darinya karena ia akan mengikuti tutorial dari video YouTube yang ia dapat tadi.
***
"Rafaaaaaa minyak nya luber tolongggg."
Baru beberapa menit Rafa keluar dari dapur, ia sudah mendengar jeritan Aluna dari dalam sana.
Dengan cepat ia berlari masuk ke dapur dengan perasaan khawatir
"Matikan kompornya." Perintahnya yang juga ikut panik karena kondisi dapur mulai berasap
"Gak mau aku takut." Tolak Aluna yang takut mendekat ke arah kompor.
Dengan cepat Rafa maju dan mematikan kompornya, asap yang tadinya banyak perlahan berangsur menghilang.
Kini tersisa potongan daging yang sudah hangus di atas pan serta potongan kentang yang sudah berenang diminyak yang tadinya sangat panas.
"Kan aku bilang juga apa, gak usah Aluna."
Nada suara Rafa sedikit meninggi karena rasa khawatirnya.
"Yang mana yang sakit? Ada yang kena minyak gak tangannya?."
Ia lalu mengecek Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk mencari tau sekiranya ada bagian tubuh Aluna yang terluka.
"Gak ada." Jawab Aluna tertunduk merasa bersalah.
"Ayo keluar dulu." Ajak Rafa kemudian.
Rafa menarik Aluna keluar dari dapur menuju ke sofa didepan TV, ia lalu mendudukkan Aluna di sofa sementara dirinya langsung berlutut didepan Aluna untuk mencari tau apakah Aluna kena percikan minyak atau api tadi didalam.
"Maaf, aku hampir bakar apartemen kamu." Ucap Aluna yang baru menyesal karena keras kepalanya.
"Kamu marah yah?."
Tanyanya karena ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Rafa.
"Rafa!." Serunya kesal karena Rafa tidak menggubrisnya.
Lelaki itu tengah sibuk menelusuri tangan Aluna kalau saja ada percikan minyak yang tidak ia sadari.
"Iya iya aku salah, aku udah ngotot sampai buat dapur kamu berantakan, dapur kamu juga hampir kebakar gara-gara aku."
Akhirnya Aluna pasrah dan kembali meminta maaf atas perbuatannya.
"Benda-benda didalam itu gak penting Al, kamu yang lebih penting." Ucap Rafa
Suaranya yang tadi meninggi karena khawatir pun sudah mulai melunak kembali
"Maaf." Ucap Aluna lagi untuk kesekian kalinya.
Rasa bersalahnya semakin bertambah saat melihat perhatian Rafa padanya.
"Lain kali gak ada belajar masak sendiri seperti tadi!. Kalau kamu mau belajar masak, mending ikut kelas." Kata Rafa dengan tegas
Ia sangat takut jika terjadi apa-apa pada Aluna.
"Iya." Jawab Aluna mengerti.
"Perih gak ini?." Tanyanya saat mendapati ada bekas percikan minyak di lengan kanannya.
"Ya ampun ternyata kena minyak." Aluna sendiri sudah terkejut karena ada jejak minyak panas di lengan kanannya.
"Bentar aku ambil salep dulu."
Rafa kemudian berdiri dan berajalan ke kamarnya untuk mengambil kotak obat.
"Rafa kalau marah gitu serem juga." Gumam Aluna yang nyalinya ciut melihat Rafa marah untuk pertama kalinya.
Tidak lama kemudian Rafa sudah kembali dengan kotak obat ditangannya, ia lalu kembali berlutut didepan Aluna
"Sini tangannya."
Ia meraih tangan Aluna dan mulai mengoleskan salep dibekas percikan minyak panas dilengan Aluna.
"Makasih yah, sekali lagi maaf." Ucap Aluna masih merasa bersalah.
"Udah gak apa-apa, yang penting kamu aman." Jawab Rafa sudah kembali seperti biasa
"Tapi aku udah lapar, seharian ini cuma makan ice cream sama roti yang dibeli tadi."
Rafa menghela napasnya, ia kesal sendiri karena dari tadi ia menyarankan untuk memesan makanan saja, tapi rasa kesalnya itu tidak bisa ia tunjukkan pada Aluna.
"Bentar aku gofood dulu." Ia lalu mengambil ponselnya dan membuka aplikasi gofood
"Masih mau makan steak sama potato wedges?." Tanyanya karena ia yakin Aluna sudah sangat berekspektasi tinggi dengan makanan yang mau ia masak hari ini.
"Mau hehe." Jawab Aluna tersenyum canggung.
***
Selesai makan siang, Aluna mengambil buku novel yang ada di rak buku milik Rafa. Ia tau Rafa memang sangat senang membaca, bahkan novel sekalipun.
Ia lalu mencari spot nyaman didepan TV di sofa panjang yang menyatu dengan sofa panjang lainnya.
Aluna bersandar dengan nyaman di sandaran sofa dan kakinya dibiarkan berselonjor diatas sana dan mulai membaca buku novelnya.
Selang beberapa menit, Rafa yang baru saja kembali dari dapur menghampiri Aluna dengan membawa beberapa jenis buah didalam satu piring, ia bahkan sudah memotongnya dengan rapi agar Aluna tinggal makan saja.
"Makan buah Al."
"Nanti aja aku lagi serius baca."
Rafa memperhatikan novel yang dibaca oleh Aluna. Melihat kaki Aluna yang berselonjor nyaman diatas sofa, membuat Rafa ingin bersantai juga rasanya.
Ia lalu naik ke atas sofa dan berbaring di sofa lainnya yang terhubung dengan sofa Aluna, paha Aluna ia jadikan sebagai bantalnya.
Aluna sendiri tidak merasa risih sama sekali, ia hanya terus membaca novelnya.
Sedangkan Rafa yang sudah menemukan titik nyamannya langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai menggulir layarnya.
Setelah lama diposisi seperti ini, Aluna pun mulai merasakan kakinya sudah berat.
"Rafa berat." Keluh Aluna
"Seberat apa sih? Pelit banget."
"Tuh bantal sofa banyak tuh."
"Tapi lebih nyaman kek gini."
"Iya kamu yang nyaman, akunya yang keberatan kepala kamu nih."
Aluna terus mengomel namun Rafa tidak berniat untuk memindahkan kepalanya sama sekali.
"Al.." Panggilnya
Aluna pun menutup novelnya dan menatapnya dari atas
"Apa?." Tanyanya
Mata mereka bertemu dengan posisi Rafa menatap Aluna dari bawah, desiran darah Rafa entah kenapa langsung terasa lebih cepat, begitu pula dengan detak jantungnya.
"Gak jadi deh, nanti aja aku pindahnya soalnya udah nyaman banget ini." Ucapnya dan langsung kembali sibuk dengan ponselnya.
"Dasar." Cibir Aluna kesal sedikit
***
Aluna mulai bosan dengan apa yang ia baca ditangannya, ia lalu menutup novel tersbeut dan meletakkannya di sampingnya.
"Rafa kakiku udah mau ker...am. Lah tidur dia, nyaman bener Pak." Aluna berusaha membangunkan Rafa namun tidak ada hasil.
Ia pun lebih memilih memandangi wajah Rafa yang sedang lelap tidurnya di pahanya yang dijadikan bantal.
"Nih anak kalau tidur gini anteng banget kelihatannya, damai gitu tidurnya." gumamnya
"Kali ini aja yah kaki aku kram karena kamu, lain kali gak boleh."
Rasa kantuk pun menyerang Aluna, beberapa saat kemudian ia pun terlelap juga.
***
Saking nyamannya Rafa tidak sadar ia sampai tertidur dengan menjadikan paha Aluna sebagai bantalnya.
Lelaki itu segera bangun dan mendapati Aluna juga sedang tidur lelap. Rasanya Rafa tidak mau mengubah posisinya atau sekedar bangun dari tidurnya.
Ia melihat Aluna dari bawah, wajah cantik Aluna terlihat begitu teduh saat sedang terlelap.
"Gak bisa nih, kasihan dia pasti kakinya kram."
Dengan cepat Rafa bangun dari tidurnya dan segera mengangkat Aluna ke dalam kamarnya agar Aluna bisa tidur dengan nyaman dikasur.