NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Armand melangkah keluar dari kediaman dengan dikawal dua personel pengamanan internal berbadan tegap.

Sebelum menaiki mobil menuju tempat konveksi, ia memastikan seluruh sistem keamanan di rumah sudah aktif penuh untuk menjaga Nadya yang beristirahat di dalam.

Satu jam kemudian, mobil Armand tiba di area pabrik konveksi.

Suasana di dalam workshop tampak begitu hidup.

Suara deru mesin jahit bersahut-sahutan, menciptakan harmoni kerja yang dinamis.

Siska menyambut kedatangan Armand di depan pintu utama bersama kepala tim pengawas.

"Pak Armand, dua puluh penjahit baru sudah melewati verifikasi latar belakang dan langsung ditempatkan di lini produksi khusus seragam Pak Dermawan," lapor Siska sigap seraya menyerahkan papan jalan berisi daftar nama karyawan baru.

Armand mengangguk puas. Ia menyusuri barisan meja jahit, memperhatikan satu per satu hasil potongan kain dan kerapian setikan benang dari para pekerja baru tersebut.

Dengan keahliannya sebagai perancang busana, Armand memberikan arahan teknis dan standar kualitas tinggi agar tidak ada satu pun cacat produksi.

"Ingat, kualitas adalah nomor satu. Jahitan harus presisi dan rapi," tegas Armand ramah namun berwibawa di hadapan para pekerja, membuat suasana kerja terasa makin bersemangat.

Namun, di sudut area luar pabrik konveksi, sebuah mobil hitam bertutup kaca gelap tampak terparkir secara mencurigakan di balik deretan pohon tepi jalan.

Di dalam mobil tersebut, Rian menatap ke arah bangunan konveksi dengan pandangan tajam penuh dendam.

Di sampingnya, Sarah menggertakkan gigi melihat sosok Armand yang kini dihormati dan memegang kendali atas proyek besar.

"Lihat pria itu, dulu dia bukan siapa-siapa, Rian!" desis Sarah dengan napas memburu.

"Sekarang dia berlagak seperti pengusaha sukses hanya karena berlindung di balik ketiak Nadya."

Rian mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tenang, Sarah. Biarkan dia menikmati momen kesenangannya sebentar saja. Orang yang aku sewa sudah siap. Nanti malam, saat tempat ini sepi, kita akan culik dia."

*Menculik mas Armand? Bukankah kita akan membakar tempat ini?"

Rian menyunggingkan senyum licik yang penuh kepuasan terselubung.

Ia memutar tubuhnya menghadap Sarah, menatap mantan istri Armand itu dengan sorot mata dingin yang memperlihatkan rencana matangnya.

"Membakar tempat ini cuma akan merugikan harta Nadya, Sarah," desis Rian dengan suara rendah yang sarat akan niat jahat.

"Kalau tempat ini terbakar, mereka masih punya asuransi. Nadya masih punya uang melimpah untuk membangunnya lagi. Tapi kalau kita menculik Armand?"

Rian tertawa kecil—suara tawa yang garing dan membuat bulu kuduk berdiri.

"Armand itu jantung dari proyek ini sekaligus kelemahan terbesar Nadya saat ini," lanjut Rian seraya menunjuk ke arah bangunan konveksi.

"Tanpa Armand, pesanan seribu seragam Pak Dermawan tidak akan pernah selesai sesuai standar, dan reputasi Nadya di mata pengusaha kelas atas akan hancur lebur. Lebih dari itu, menculik Armand akan membuat Nadya hancur secara mental. Kita bisa memeras Nadya habis-habisan, memaksa wanita itu menyerahkan seluruh saham perusahaannya dan mencabut semua tuntutan hukum atas kita jika ingin suaminya selamat."

Sarah tertegun sejenak. Senyum tipis perlahan terukir di bibir merahnya saat menyadari betapa jahat namun efektifnya rencana Rian.

"Jadi, kita akan menembak dua burung dengan satu batu," gumam Sarah dengan mata berbinar penuh kebiadaban.

"Menghancurkan karier Armand, sekaligus memeras Nadya sampai dia tidak punya apa-apa lagi."

"Tepat," sahut Rian tegas.

"Memusnahkan tempat ini terlalu mudah untuk mereka. Aku ingin melihat Armand berlutut memohon ampun di hadapanku, dan melihat Nadya menangis darah karena kehilangan pria yang sangat dia banggakan itu."

Hari berganti malam, dan kesibukan di area pabrik konveksi perlahan surut.

Satu per satu dari dua puluh penjahit baru beserta karyawan lainnya telah berpamitan dan melangkah pulang.

Siska yang baru saja menyelesaikan rekapitulasi laporan produksi menghampiri Armand di ruang kerja lantai atas.

"Pak Armand, seluruh laporan target hari ini sudah selesai. Tim pengamanan shift malam juga sudah mengambil alih pos depan," ujar Siska seraya merapikan dokumen di mejanya.

"Terima kasih, Siska. Kamu pulanglah lebih dulu, sudah malam," sahut Armand ramah, mematikan laptopnya dan mengambil kunci mobil dari atas meja.

"Saya akan memeriksa kunci area gudang bahan sebentar sebelum menyusul pulang."

"Baik, Pak. Hati-hati di jalan. Saya pamit duluan," pamit Siska sebelum melangkah menuju area parkir dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang.

Setelah memastikan seluruh pintu workshop tertutup rapat dan mengunci gudang penyimpanan bahan seragam Pak Dermawan, Armand berjalan sendirian menyusuri koridor samping yang remang-remang menuju area parkir khusus pimpinan.

Suasana malam terasa begitu sunyi, hanya diiringi hembusan angin malam yang dingin.

Saat Armand merogoh saku jasnya untuk mengambil kunci mobil, tiba-tiba dua sosok pria berbadan kekar berseragam hitam melompat keluar dari balik pilar bangunan.

Sebelum Armand sempat bereaksi atau berteriak meminta tolong kepada pos pengamanan depan, salah satu pria menyergapnya dari belakang dan mengunci kedua lengannya, sementara pria lainnya membekap mulut dan hidungnya menggunakan kain yang sudah dibasahi cairan penghilang kesadaran.

"Mmph--!"

Armand memberontak sekuat tenaga. Ia mencoba menyiku perut pria yang memegangnya dan menendang ke belakang, namun uap kimia yang terhirup dengan cepat menggerogoti kesadarannya.

Pandit penglihatannya perlahan mengabur, lututnya lemas, dan pandangannya berubah menjadi gelap gulita.

Dua orang suruhan Rian itu dengan sigap menyeret tubuh Armand yang sudah tak berdaya menuju mobil van hitam bermaca gelap yang meng Mengendap-endap mendekat.

Pintu geser van terbuka lebar, memperlihatkan Rian dan Sarah yang menyaksikan proses penculikan itu dengan senyum kemenangan.

"Bagus. Lempar dia ke belakang!" perintah Rian dingin.

Tubuh Armand dijatuhkan begitu saja di lantai van yang dingin.

Rian mengikat kedua tangan dan kaki Armand menggunakan tali tambang tebal, sementara Sarah menatap mantan suaminya yang terkulai tak sadarkan diri dengan tatapan puas yang dipenuhi rasa dengki.

"Kerja bagus," desis Sarah seraya membelai rahang Armand yang tak berkutik.

"Sekarang mari kita lihat sejauh mana Nadya akan berlutut untuk menyelamatkan suami tercintanya ini."

Pintu van ditutup rapat dengan dentuman keras. Mobil hitam itu melaju kencang meninggalkan area konveksi, menghilang ditelan kegelapan malam, membawa Armand menuju lokasi penyekapan yang terisolasi.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah yang megah itu terasa begitu sepi dan mencekam.

Nadya gelisah di dalam kamar utama. Ia berjalan bolak-balik di dekat jendela, sesekali melihat ke arah jalan depan rumah yang lengang.

Tidak ada tanda-tanda deru mobil suaminya mendekat.

"Kenapa sampai jam sebelas Mas Armand belum pulang?" bisik Nadya pada dirinya sendiri.

Rasa cemas yang teramat sangat mendadak menyeruak, melapisi dadanya dengan firasat buruk.

Ia segera meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor sekretarisnya.

Di tempat lain, Siska yang sudah tertidur pulas terbangun kaget mendengar dering ponselnya.

Dengan mata yang masih berat, ia mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Selamat malam, Bu Nadya?"

"Siska! Mas Armand di mana? Kenapa dia belum pulang juga sampai jam segini?" suara Nadya terdengar gemetar dan penuh kepanikan.

Siska seketika tersadar sepenuhnya. Ia mengucek matanya dan berusaha mengingat kejadian tadi malam di konveksi.

"Lho, Pak Armand sudah pulang, Bu, setelah saya pulang. Beliau bilang mau mengecek kunci gudang bahan sebentar lalu menyusul pulang."

Deg!

Jantung Nadya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Ponsel di genggamannya terasa semakin berat.

"Lalu, kemana Mas Armand?" gumam Nadya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Darahnya berdesir dingin. Bayangan wajah Rian dan Sarah yang penuh dendam langsung berkelebat di pikirannya.

Armand tidak pernah terlambat tanpa mengabarinya, apalagi di situasi penuh ancaman seperti sekarang.

Kesadaran bahaya yang mengintai suaminya menghantam Nadya dengan telak, mengubah kepanikannya menjadi kebulatan tekad untuk bertindak.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!